Bang Duda

Bang Duda
112. Kejutan Kecil



Pada kangen gak sama Bang Duda?


Mon maap 2 hari kemarin gak up dikarenakan review naskahnya sangat luama. Makanya aku malas up😁


Hari ini up 2bab ya, semoga rindu kalian terobati ...


...****************...


Hari-hari Riza terasa sangat amat bahagia bersama Echa. Meskipun dia juga sadar, Echa hanya ingin membahagiakannya di sisa-sisa hidupnya. Itu tidak masalah baginya, cinta tak terbalas memang menyakitkan. Akan tetapi, melewati hari-hari bersama gadis yang disayangi akan menghapuskan rasa sakit itu sedikit demi sedikit.


"Kenapa sih liatin guanya gitu?" tanya Echa.


"Kok gua sih. Aku atuh, gak ada romantis-romantisnya ih," keluh Riza.


Mima dan Sasa yang berada di depan mereka hanya tertawa geli mendengar ucapan Riza. Di mata Mima dan Sasa dua sejoli ini tetaplah sahabatan karena tidak ada yang berbeda dari hubungan mereka sebelumnya. Si cowok bar-bar si cewek cuek. Begitulah Riza dan Echa di mata Mima dan Sasa.


"Si kembar kapan dibawa ke Jakarta?" tanya Mima.


"Gak tau, nunggu izin dari Kakek dulu kayaknya. Papa juga masih sibuk dengan perusahannya di Singapura."


"Enak ya, punya Papa sambung dan ibu sambung yang sangat sayang sama lu," ucap Sasa.


"Ditambah Papa sambungnya anak Sultan dan ayahnya juga holang kaya," timpal Mima.


Echa hanya tertawa, dia sangat bersyukur memiliki ayah dan mamah yang luar biasa. Meskipun telah berpisah kasih sayangnya tidak berubah malah semakin bertambah karena kehadiran Papa dan bundanya.


"Papa tiri kamu kayak gimana sih?" tanya Riza.


"Kok gua geli ya lu bilang aku-akuan," ledek Sasa. Mima dan Echa hanya tertawa.


Echa mengambil ponselnya, menunjukkan foto Papanya.


"Ini oppa-oppa korea?" tanya Riza.


"Aslinya lebih ganteng dari oppa Korea loh," sahut Mima.


"Serius?" Riza benar-benar tak percaya.


Mima dan Sasa menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Dan Echa hanya terkekeh geli melihat tingkah dua sahabatnya yang mengidolakan papa sambungnya.


"Nanti deh aku kenalin ke Papa. Mungkin bulan depan Mama dan Papa baru ke Jakarta."


"Apa umurku akan sampai bulan depan?" tanya Riza.


Mima dan Sasa hanya saling pandang mendengar ucapan Riza. Sedangkan Echa memegang tangan Riza dengan sangat lembut dan tersenyum hangat ke arahnya.


"Aku bukan Tuhan yang tahu usia kamu. Yang jelas, sebelum kamu pergi aku ingin mengenalkan mu kepada Papa dan Mamaku jika kamu adalah sahabat rasa pacarku," ujar Echa.


Riza pun membalas senyum hangat Echa dan dia yang sekarang menggenggam tangan Echa.


"Temani aku hingga waktu ku untuk kembali kepadaNya tiba," pinta Riza.


Mendengar ucapan seperti itu membuat dada Echa terasa sesak. Akankah dia sanggup menerima kepergian Riza?


Dengan mata yang nanar Echa menganggukkan kepalanya. Mima dan Sasa menatap Echa dengan hati yang sama hancurnya. Dibalik tingkah konyol Riza menyimpan rahasia besar akan sakitnya.


"Jangan pernah ada air mata yang tumpah ketika gua pergi. Kalian tetap sahabat gua," ujar Riza kepada Mima dan Sasa.


Echa merebahkan kepalanya di bahu Riza dan berkata, "aku gak suka kalo kamu bahas ini."


Riza mengusap lembut ujung kepala Echa. "Maaf." Itulah yang dia ucapkan.


Setibanya Echa di rumah wajah murung Echa nampak terlihat jelas. Amanda menghampiri Echa yang sedang duduk di gazebo seorang diri dan dia pun mengusap lembut rambut putrinya.


"Bun, kenapa hati Echa sakit ya kalo Riza membahas tentang kepergiannya," lirihnya.


"Karena kamu gak mau kehilangan dia, Nak."


Hanya helaan napas yang sekarang menjadi sahutan dari ucapan bundanya. "Bun, mungkinkah dari sahabat bisa jadi cinta?"


Amanda tersenyum lalu membelai rambut Echa. "Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang. Jika kamu mencintai Riza jujurlah pada Riza setidaknya dia tahu jika cintanya juga terbalas."


Echa hanya terdiam mendengar ucapan dari bundanya. Akankah rasanya akan berubah seiring kebersamaannya bersama Riza.


"Maaf, Bu. Ada temen non Echa di luar," ucap Mbak Ina.


"Siapa?" tanya Echa.


"Cowok, Non."


Echa menatap bundanya hanya seulas senyum yang Amanda berikan. "Temuilah," ucap Amanda.


"Tapi Bun ...."


"Ngapain kesini?" sarkas Echa.


"Galak amat sih." Riza langsung mencubit pipi Echa.


"Nanti Ayah ...."


"Aku udah izin kok sama Om Rion. Makanya aku berani ke sini," potong Riza.


Akhirnya Echa menghembuskan napas lega. "Ya udah, masuk yuk. Di luar dingin kamu kan masih sakit," ajak Echa.


"Perhatian banget sih pacar aku ini," goda Riza. Echa hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


Amanda memperhatikan Riza dan Echa yang kini sedang berada di gazebo. Hatinya merasa bahagia melihat Echa yang tertawa lepas bersama Riza. Hingga pelukan dipinggangnya membuat Amanda sedikit terkejut.


"Ngagetin aja sih," ujar Amanda.


Rion terus mengeratkan tangannya di pinggang istrinya. "Beresin kamar tamu," bisik Rion.


Amanda menatap suaminya tak mengerti. "Si kembar sudah terbang dari Singapura," ucap Rion.


"Serius?" Wajah Amanda pun terlihat sangat berbinar.


"Jangan bilang ke Echa, ini kejutan kecil untuknya." Amanda pun menganggukkan kepalanya dan bergegas membereskan kamar tamu dibantu Mbak Ina.


Rion melihat ke arah putrinya yang sedang tertawa lepas. Tawa yang sangat jarang Rion lihat.


Tetaplah tertawa dan bahagia seperti itu, Dek. Meskipun Riza akan pergi Ayah harap tawa dan ceriamu tidak akan pernah hilang.


Amanda dan Rion sedang menyiapkan makan malam sedangkan Riza dan juga Echa masih betah di gazebo. Suara ketukan pintu terdengar. Dengan sangat bersemangat Amanda membuka pintu.


"Mbak Sayang." Amanda pun langsung memeluk tubuh Ayanda. Dan langsung mendorong kereta bayi masuk ke dalam rumah.


"Gi mana Dek?" tanya Gio setelah melepaskan pelukannya terhadap Ayanda.


"Langsung meeting Mas," jawab Ayanda.


"Si kembar Ayah udah gede, ya." Rion mengajak bicara salah satu bayi yang sedang terjaga. Gathan pun merespon ucapan Rion dengan senyuman.


"Lucu banget sih." Rion langsung mengangkat tubuh Gathan dan menggendongnya.


Hati Amanda sangat bahagia melihat suaminya menggendong si Abang. Ingin sekali rasanya memiliki keluarga yang lengkap seperti ini. Begitulah batin Amanda.


"Echa dimana?"


"Di gazebo, Mbak. Ada Riza juga."


Ayanda melangkahkan kakinya menuju gazebo. Melihat putrinya yang tumbuh menjadi anak gadis yang sangat cantik dan juga baik hati membuatnya merasa sangat bersyukur. Terlebih di samping putrinya ada laki-laki tampan yang terus saja membuat Echa tertawa bahagia.


"Dek," panggil Ayanda.


Tawa Echa langsung terhenti. Dia sangat hafal dengan suara itu. Matanya mencari keberadaan suara itu dan matanya nanar ketika melihat bola mata yang sangat dia rindukan.


"Mamah." Echa berlari dan langsung memeluk Ayanda sangat erat.


"Tetaplah selalu tertawa seperti itu, meskipun nanti dia pergi meninggalkan kita," ujar Ayanda.


"Apa Echa sanggup, Mah? Mendengar dia mengucapkan kematian aja hati Echa sakit."


"Kamu anak kuat, Sayang. Dia juga sangat menyayangimu. Jadi, jangan pernah kecewakan dia selama kamu bersamanya," tegas Ayanda.


Echa hanya menganggukkan kepalanya. Pelukan yang sangat dia rindukan, hanya dekapan mamahnya yang selalu membuat hatinya tenang.


Deheman dari seseorang melepaskan tangan Echa dari Mamahnya.


"Gak dikenalin sama Mamah mertua nih ceritanya," goda Riza.


Echa hanya tersenyum lalu menarik tangan Riza mendekat ke arah Mamahnya.


"Hay Tante, kenalin aku calon menantu Tante," sapa Riza dengan tersenyum manis.


Pukulan botol susu dari belakang mendarat di kepala Riza hingga Riza mengaduh. "Kagak usah ngada-ngada, izinnya Om tarik lagi tahu rasa kamu," sergah Rion.


Semua orang hanya tertawa melihat keposesifan Rion kepada Echa. Ditambah lagi Riza terus saja meminta ampun kepada Rion agar izinnya tidak ditarik oleh Rion.


"Mamah senang, karena banyak yang menyayangi kamu." Echa pun mengeratkan pelukannya kepada sang Mamah.


"Echa juga senang karena Mamah sudah mengijinkan Echa untuk membahagiakannya."


****


Happy reading ....