
Kehadiran Arya membuat suasana menjadi hangat. Apalagi ketika Arya mengeluarkan 1001 jurus agar Echa mau membantunya.
"OGAH!" tolak Echa.
"Dua pasang sepatu deh," tawar Arya.
"Gak mau," tolak Echa lagi.
Arya sedang merayu Echa agar mau menemani istrinya jalan-jalan ke mall esok hari. Beby ingin pergi ke salon dan juga membeli perlengkapan bayi.
"Suami durhaka lu," ucap Rion.
"Bukan durhaka, kalo bini gua ke mall bisa dari buka mall Ampe mall-nya tutup baru kelar," keluhnya. Mereka semua pun tertawa.
"Cha, mau ya," bujuk Arya lagi.
"Om Arya, Om liat gak pacar Echa baru aja datang ke Jakarta. Otomatis besok kita akan jalan dong, melepas rindu. Harap dimengerti pejuang LDR," jelas Echa.
Arya pun hanya berdecak kesal. Kali ini dia kalah dengan bocah Bangor kesayangan semua orang. Apalagi melihat tangan Radit yang tak melepaskan tangan Echa.
"Dah kayak truk gandeng aja kalian," cibir Arya.
"Sirik aja," sahut Echa.
Keesokan paginya, Echa yang masih berada dibawah selimut sedang dibangunkan secara paksa oleh ibu hamil. Badannya digoyang-goyang, pipinya di towel-towel. Pantatnya dipukul dengan keras.
"Cepatan bangun ih, anak perawan juga," omel Beby.
"Masih ngantuk Kak." Echa pun menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
"Kak Gi, Echanya nih gak mau nurutin ngidam aku," teriak Beby.
Seketika Echa pun terbangun dan langsung duduk di tempat tidurnya. Sudah pasti Papanya akan memarahinya jika tidak menuruti keinginan Beby.
"Papa mana?"
"Udah berangkat kerja," sahut Beby.
"Kak Beby ...."
Beby menutup wajah Echa dengan bantal. "Mandi sonoh, kita nyalon hari ini," ucapnya sambil bersenandung ria.
"Om Arya, tunggu pembalasan Echa," gumam Echa.
Dengan sengaja Echa memperlambat geraknya. Hari ini sebenarnya dia ingin rebahan di kamar ternyamannya. Karena Radit harus membantu Papihnya di rumah sakit.
Satu jam kemudian Echa baru turun dari kamarnya. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, Kak Beby udah nunggu kamu dari tadi loh," imbuh Ayanda.
"Echa males mah, ingin rebahan," sahutnya.
"Gak usah banyak alasan, ini permintaan anak aku loh Cha." Ketika Beby mengusap-usap perutny buncitnya di situlah Echa menyerah.
Mereka berdua ke mall dengan diantar sopir Gio. Yang pertama kali mereka lakukan adalah ke salon. Pijat-pijat kepala dengan ringan yang membuat lebih relaks.
Setelah dari salon, mereka menuju toko perlengkapan bayi. Echa hanya mengikutinya saja tanpa pernah protes. Yang penting imbalannya cukup menggiurkan.
Setelah puas membeli barang untuk si jabang bayi, kini Beby melenggangkan kaki menuju pakaian dewasa.
"Kak, pegel nih," keluh Echa.
"Kalah sama ibu hamil," ejeknya.
Wajah Echa nampak sekali lelah dan sesekali dia memijat kakinya yang terasa sangat pegal. Dua jam berada di sana sudah dua jinjingan besar baju yang Beby bawa ke kasir. Echa hanya menggelengkan kepala.
"Kak, Echa lapar." Beby pun membawa Echa ke sebuah restoran yang menyajikan makanan yang super duper enak.
Sambil menunggu pesanan mereka, Echa menghubungi Radit. Dan tanpa Echa sadari Beby sedang mengobrol dengan seorang pria yang tampan.
Deheman Echa membuat keseruan antara Beby dan pria itu terhenti. "Kenalin, Vino mantan pacar aku," kata Beby.
"Echa." Vino pun tersenyum ke arah Echa dan kagum kepada gadis di depannya ini.
"Are you single?" tanya Vino.
"No, I have boyfriend."
Beby pun tertawa mendengar jawaban dari Echa. "Setia banget lu," ledek Beby.
"Iya dong, harus," sahutnya.
Vino pun ikut tertawa melihat Beby dan Echa. Tanpa mereka sadari, diam-diam Echa mengambil gambar Vino dan Beby yang sedang tertawa lepas.
Tangan Echa mulai iseng dan dia mengetikkan sesuatu sebelum mengirim foto tersebut. "Sama mantan, cek."
Senyum licik pun terukir di bibir Echa. "Mamam," gumamnya sambil menekan ikon send di aplikasi WhatsApp.
Di lain tempat, seseorang yang sedang membuka ponselnya nampak kesal. Hampir saja ponselnya dia banting.
"Kenapa?" tanya Rion.
"Gua harus jemput Beby. Gak beres nih ibu hamil," sarkasnya.
Rion pun hanya tertawa ketika melihat foto yang Arya tunjukkan. Ada saja cara Echa untuk membuat Arya kebakaran jenggot.
Tangan Arya mengepal dengan sempurna ketika melihat Beby sangat akrab dengan pria itu. Sedangkan keponakannya sudah bersama kekasihnya.
"Sayang."
Beby yang sangat hafal dengan suara itu pun langsung mendongakkan kepalanya. Dia mengerutkan dahinya karena suaminya ada di sini.
"Kata Ayang ada meeting penting," ucap Beby.
"Istrinya yang lagi berduaan sama pria lain itu lebih penting," geram Arya.
Api cemburu tengah membakar tubuh Arya. Sedangkan Echa hanya mengulum senyum mendengar ucapan dari Omnya.
"Ini Vino, temen aku Ayang. Dia lagi nunggu istrinya yang lagi nyalon." Ucapan Beby mampu menusuk ulu hati Arya. Pria di depannya ini saja mau menyempatkan waktu untuk menemani istrinya. Tapi, dirinya malah sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan istrinya tengah hamil tua.
"Gak pegel berdiri terus?" sindir Echa.
Arya pun langsung duduk di samping istrinya dan mengusap lembut perut buncit Beby. Seolah dia sedang menunjukkan kepada Vino bahwa Beby tengah mengandung buah cinta mereka.
"Echa pulang, ya. Kan udah ada Om Arya." Beby pun mengangguk.
"Makanya jadi suami siaga," bisik Echa di telinga Arya.
Echa pun tertawa puas setelah meninggalkan Arya dan juga Beby. Radit hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kekasihnya ini.
"Jail banget sih," ucap Radit sambil membenarkan poni Echa.
"Biarin, aku udah pegel banget ini pengen cepat rebahan," keluhnya pada Radit.
"Mau aku gendong?" Dengan cepat Echa pun menggeleng membuat Radit tergelak.
------------
Ada seorang wanita bercadar sedang duduk di depan kantor Rion. Matanya nampak lelah dan dia membawa tempat kue.
Baru saja Rion keluar dari kantor, wanita itu berlari menghampiri Rion. "Pak Rion," panggilnya.
Langkah Rion pun terhenti ketika mendengar ada yang memanggil namanya. Dia pun menoleh dan matanya memicing dengan sempurna. Di depannya ada wanita yang berpakaian tertutup dengan cadar yang menutupi wajahnya. Hanya matanya saja yang terlihat.
"Ada apa, ya?" tanya Rion sopan.
"Saya mau menawarkan kue buatan saya, Pak." Wanita itu menyerahkan satu potong brownies dengan toping almond. Dan di tempat kue itu juga ada beragam jenis kue lainnya.
"Saya punya toko kue kecil-kecilan, dan saya ingin memasukkan kue yang saya buat ke toko Bapak," jelasnya dengan sangat percaya diri.
Seulas senyum pun tersungging di bibir Rion. Dia teringat ketika pertama kali dia memulai usaha. Sama persis seperti wanita ini, penuh percaya diri.
"Mari kita bicarakan di dalam," ajaknya.
Senyum pun mengembang di wajah wanita yang bercadar itu. Senyuman Rion mampu membuat hatinya tenang. Ada desiran aneh di hatinya ketika melihat wajah tampan sang pengusaha muda ini.
"Astaghfirullah," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wanita itu mengikuti langkah Rion, mereka duduk di depan resepsionis agar tidak timbul fitnah nantinya.
Wanita itu mulai membuka kotak kuenya dan memberikan satu per satu kepada Rion. Kunyahan Rion terhenti ketika ada rasa yang berbeda yang lidahnya rasakan. Semakin dikunyah, rasa kuenya semakin lezat.
Rion mencoba kue yang kedua. Lidahnya langsung jatuh cinta kepada kue buatan wanita bercadar ini.
"Ini semua kamu yang buat sendiri?" tanya Rion.
Wanita itu pun mengangguk dan membuat Rion tersenyum. "Bolej saya tau alamat toko kue Anda, agar nanti saya bisa meninjau langsung toko kue Anda."
Wanita bercadar itu pun mengeluarkan kartu nama dari dalam tas yang dia bawa. Dengan sopan dia memberikan kartu namanya kepada Rion.
"Miss D." Rion menatap wanita di depannya.
"Iya Pak, semua orang memanggil saya dengan panggilan itu."
"Baiklah, ketika saya ada waktu kosong saya akan ke tempat Anda. Semoga para petinggi yang lain suka dengan kue Anda."
"Makasih banyak Pak. Makasih," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Sebelum matahari terbenam, si wanita bercadar itu pamit kepada Rion. Karena jarak rumahnya dengan kantor Rion ini sangatlah jauh.
"Kalo begitu, saya permisi Pak."
Si wanita itu pulang dengan hati yang sangat lega. Setidaknya dia memiliki kesempatan untuk memasukkan kuenya ke toko terkenal di negeri ini dan juga negara tetangga.
Setelah melalui perjalanan cukup jauh, dia tiba di toko kecil miliknya. Senyumnya terus mengembang meskipin terhalang cadar. Bayang-bayang wajah Rion terus saja mengitari kepalanya. Apalagi senyumnya yang sangat berkharisma membuatnya tidak mampu untuk berkedip. Jantungnya pun tidak bisa diam ketika berdekatan dengan seorang Rion Juanda.
Wanita itu pun mengeluarkan ponsel pintarnya, jari lentiknya mengetikkan sesuatu di atas layar ponsel. Bibirnya tersungging dengan sempurna ketika di website itu status Rion masih seorang duda beranak satu.
"Miss D, kenapa senyum-senyum?" tanya salah satu orang yang bekerja di tokonya. Ya, jika di toko atau di ruangannya yang tidak terlihat oleh orang banyak dia akan membuka cadarnya.
"Tidak apa-apa," sahutnya.
Bibir mungilnya masih saja tersenyum mengingat betapa tampannya seorang keturunan Adam yang baru saja dia temui.
****
Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun. Biar bulan depan tetap stay lagi di level 10. Makasih banyak semuanya😘
Oiya, kalian maunya aku Up sehari sekali ceritanya panjang atau sehari dua kali ceritanya pendek-pendek. Tolong komen ya ...