
"Sayang, kamu tau dari mana?" Rion menghampiri Amanda yang sudah masuk ke dalam kamar perawatan putri mereka.
Plak!
Gio memegang pipinya. Rion yang ditampar malah Gio yang merasakan ngilu. Dia bergidik ngeri jika harus membayangkan ditampar oleh Ayanda.
"Kamu kenapa, Yang?"
"Abang jahat, jahat," bentaknya.
Gio dan Ayanda hanya saling tatap, sedangkan Rion sekarang sedang bingung. Bagaimana meredamkan emosi istrinya yang tak terduga.
"Bunda," panggil Echa.
Raut wajah Amanda pun berubah, dia menatap Echa dengan tatapan penuh kasih sayang. Amanda berhambur memeluk tubuh Echa dengan eratnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Echa pun sangat bahagia, benar kata Papanya. Masih banyak orang yang menyayangi dirinya.
"Tidak, Bunda. Echa baik-baik saja." Seulas senyum melengkung indah di bibirnya.
"Jangan emosi terus, kasian adik Echanya," ucap Echa sambil mengelus perut Amanda.
Rion, Gio dan juga Radit melengkungkan senyum bahagia melihat Echa dan juga Amanda. Meskipun Radit tidak tahu menahu silsilah keluarga Echa, tapi dia bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari keempat orang di hadapannya ini untuk gadis yang berada di atas ranjang pesakitan.
"Abang, kita batalkan ke Jepangnya. Manda ingin menemani Echa di sini."
Rion bersorak gembira dalam hatinya karena uangnya masih tetap utuh. Lagi pula pekerjaannya sangat banyak jadi, tidak bisa ditinggalkan.
Mereka berempat menemani Echa di rumah sakit sedangkan Radit, Gio suruh untuk pulang. Echa benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa bersama keempat orangtuanya.
Setelah keempat orangtuanya terlelap, Echa yang sedari tadi pura-pura tidur hanya dapat menatap langit-langit kamar. Matanya sendu, seolah menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam. Mengingat betapa lelahnya dia berjuang demi kesembuhan seseorang. Tapi, inilah yang Echa dapatkan. Echa hanya menghela napas kasar.
Pagi harinya, keempat orangtua Echa meninggalkan Echa seorang diri. Amanda yang merasa pusing jika berada di rumah sakit, Ayanda yang mengkhawatirkan si kembar yang sedang rewel. Gio dan Rion yang harus berangkat kerja karena ada meeting penting.
"Nanti Papa suruh Kak Beby ke sini," ujar Gio.
Echa hanya mengangguk pelan. "Maaf ya, Dek. Setelah Ayah selesai meeting Ayah akan kembali lagi," ucap Rion.
"Kak, Mamah nengok si kembar, ya. Kasihan dia rewel," kata Ayanda.
"Maaf ya Cha, Bunda pusing dan mual berada di sini," imbuh Amanda.
Echa hanya tersenyum ke arah keempat orangtuanya. Satu per satu dari mereka mencium keningnya dan memeluknya. Tidak ada kebahagiaan selain hangat dan tulusnya kasih sayang mereka.
Setelah mereka pergi, kesedihan Echa muncul kembali. Matanya nanar, otaknya masih mengingat jelas bagaimana Riza di belakangnya. Echa hanya menyentuh dadanya yang teramat sesak.
Seminggu lalu ...
Echa baru saja datang ke sekolah, banyak siswa-siswi yang lain sedang berbagi cerita. Langkahnya terhenti ketika samar-samar dia mendengar ghibahan para murid.
"Si Riza gercep, ya. Mana murid barunya cantik lagi, lebih cantik dari pacarnya." Echa hanya tersenyum tipis mendengar itu semua. Tidak dipungkiri hatinya juga sesak dan sakit.
Baru duduk di belakang mejanya, ponsel Echa berdering. Kali ini Dimas yang mengirimkan foto ke ponsel Echa. Mata Echa nanar dan tangannya mengepal dengan sempurna.
"Cha, lu udah denger gosip terbaru?" ucap Sasa yang baru saja masuk kelas.
Tidak ada jawaban dari Echa membuat Sasa terdiam. Dia sangat tahu bagaimana Echa. Bagaimana hati Echa sekarang.
"Kalo itu terjadi, gua akan tampol tuh anak dengan tangan gua sendiri," sarkas Mima.
"Gak tau diri banget," umpat Sasa.
Echa memilih diam, hatinya tidak menolak untuk percaya namun, dia ingin melihat sendiri kenyataannya seperti apa. Sudah hampir dua Minggu ini Riza jarang menghubungi Echa. Sekedar ke kelas pun sudah jarang.
Mereka tertawa bersama seperti anak remaja yang lainnya. Sebenarnya Echa sedikit kecewa, dia mengajak Riza namun Riza beralasan sedang mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Bukannya Echa tidak curiga, tapi dia mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Langkah Echa terhenti di sebuah restoran. Wajah yang tidak asing baginya. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Dia memberanikan diri untuk menemui orang itu dan meminta penjelasan.
"Yang, coba deh makan yang punya aku," ucap si cewek itu.
Si cowok pun menerima suapan dari si cewek dan tersenyum bahagia. Sambil mengecup kening si cewek.
"Sibuk banget ternyata." Suara yang sangat Riza kenali, membuat Riza mendongakkan kepalanya. Echa sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang dilipat di depan dada.
Tak segan Echa menarik kursi di depan Riza dan Tere, tatapan Echa sungguh sulit diartikan.
"Bisa kamu jelaskan?"
Tidak ada wajah gugup atau takut di wajah Riza. Seakan semuanya baik-baik saja. "Kamu sudah melihatnya, dan ini seperti yang kamu lihat," ujar Riza.
"Dia itu pacar gua, dan siapa lu?" tanya Tere.
"Oh ... gua pernah liat muka lu, lu anak penyakitan itu, kan. Yang pernah koma sebulan, berhubung Tuhan masih baik ke lu jadi, dia masih ngasih lu napas sampe sekarang," ejek Tere.
Jus alpukat langsung mengenai wajah Tere. "Cewek murahan lu, kayak kacang goreng," sarkas Sasa.
Plak!
Tamparan sangat keras mendarat di pipi Riza. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. "Kalo emang lu mau jadi cowok breng shek, mending dulu mati aja, lu," bentak Mima.
Echa masih terdiam dengan tatapan sulit diartikan. Sakit, sesak sangat dia rasakan. Namun, dia juga sangat pintar menyembunyikan perasaannya.
Satu pengawal sudah menghampiri Echa namun melihat gelengan kepala Echa, pengawal itu hanya memantau dari kejauhan.
"Apa lu gak inget gimana perjuangan sahabat gue demi kesembuhan lu? Apa lu udah amnesia?" bentak Sasa.
"Gua gak pernah nyuruh dia buat berkorban. Dia yang mau," elak Riza.
"Cowok gobl*k kayak lu gak pantas buat sahabat gua. Nyesel gua udah doain lu biar sembuh. Kenapa gak mati aja lu," sinis Mima.
"Sahabat lu juga beg*, mau sama cowok gobl*k kayak gua," sahut Riza.
Hati Echa sangat sakit dan perih mendengar ucapan Riza. Dia hanya bisa memejamkan matanya sejenak mengatur emosinya.
"Aku bosan sama kamu, cewek monoton."
***
Air mata Echa pun jatuh membasahi pipinya. Ucapan Riza benar-benar menyakiti hatinya.
"Mencintai kamu ternyata sangat menyakitkan, aku menyesal sungguh menyesal," lirihnya dengan wajah yang tertunduk.
Belaian lembut Echa rasakan, dia mendongakkan kepalanya ke arah laki-laki yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Dia menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Echa.
"Menangislah di dadaku. Setidaknya kamu tidak sendiri, ada aku di sini."
***
Mohon maaf gak sesuai janji, semalam ada sesuatu hal yang terjadi makanya aku gak sanggup nulis. Maapin aku, ya ....
Nyesek gak kalo kalian dikatain gitu sama seseorang yang kalian sayang ? Padahal kalian lah yang udah banyak berkorban.
Happy reading ...