Bang Duda

Bang Duda
31. Melupakan



Sheza hanya mematung di tempatnya, sedangkan dua pria dihadapannya sedang berlutut menanti jawaban dari Sheza.


"Siapa yang kamu pilih?" tanya Azka.


Sheza hanya menggigit bibirnya. Dia bingung berada dalam dua pilihan yang sulit. Azka adalah pria terbaik yang pernah dia kenal dan Rion adalah pria yang mampu membuatnya merasakan jatuh cinta lagi.


"Aku menunggu jawabanmu," ujar Rion.


Sheza hanya diam, tidak mampu untuk memilih satu diantara dua pria yang sedang berlutut di depannya. Dia benar-benar belum yakin akan hatinya.


Terdengar nada dering panggilan telepon, Rion dengan cepat menjawab panggilan tersebut.


📱 "Ada apa Dinda?" Dengan nada yang sangat khawatir.


Sheza tersenyum kecut, ternyata yang menghubungi Rion adalah Dinda. Dengan langkah seribu Rion meninggalkan Sheza tanpa ada kata yang terucap dari mulutnya.


Ternyata dia, bukan aku yang kamu cintai.


"Sheza," panggil Azka yang melihat mimik muka wanita pujaannya berubah.


"Aku belum siap untuk menjawabnya. Berikan aku waktu," kata Sheza.


Azka hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah Sheza. Dia tahu, dari dulu Sheza hanya menganggapnya seperti sahabat dan kakak yang melindunginya.


"Aku akan menunggu kamu, sampai kamu siap menjadi kekasih aku," ucap Azka sangat tulus.


Sheza hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena Azka selalu mengerti dirinya. Azka pun meninggalkan kosan Sheza.


Sheza duduk di tepian tempat tidur dengan air mata yang sudah menganak. Hatinya sakit lagi, untuk kedua kalinya Rion mengucapkan kata cinta dan untuk kedua kalinya juga Rion lebih memilih Dinda. Air matanya pun terjatuh membasahi pipinya.


Ini terakhir kalinya kamu mempermainkan hatiku.


Di lain tempat, Azka sangat geram dengan sikap Rion. Bukannya Azka tidak tahu jika Sheza menyimpan rasa pada Bossnya. Azka hanya pura-pura tidak tahu dan akan terus memperjuangkan cintanya agar Sheza dapat melihat ketulusan cintanya.


"Pria bodoh!" umpat Azka kesal kepada Rion.


Pagi harinya, hanya siluet kesedihan yang nampak pada wajah Sheza. Arya yang hanya melihat sepintas pun sudah bisa menebak apa yang terjadi pada kencan mereka semalam.


Di dalam ruangan Bossnya, Arya menunggu Rion sembari mengecek laporan toko cabang. Dia terlalu fokus hingga lupa akan waktu. Arya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan melihat jam tangannya.


"Kemana nih anak, udah jam makan siang kagak nongol-nongol," gerutunya.


Arya keluar dari ruangan Rion dan berniat hendak meminta dibelikan makan siang kepada Sheza, tapi yang akan dimintai tolong sudah tidak ada di mejanya. Dan Arya pun hanya berdecak kesal.


Dengan malas dia menuruni anak tangga menuju pintu keluar. Arya melihat Sheza sedang duduk berdua menikmati makan siang di kursi tunggu di depan kantor. Arya pun menghampiri Sheza, berniat untuk mencari tahu tentang siapa lelaki yang bersama dia.


"Sheza," panggil Arya.


Sheza dan Azka pun menghentikan makannya. "Iya, Pak. Ada apa?" tanya Sheza.


"Belikan saya makan siang," titah Arya.


Sheza hanya terdiam, lalu dia melirik ke arah Azka. Hanya disambut senyum manis olehnya.


"Maaf Pak jika saya lancang. Saya masih punya beberapa ayam cepat saji lengkap dengan nasi. Apa Bapak mau?" ujar Azka sopan.


Arya tertegun dengan tata cara bahasa Azka. Dia menduga jika Azka bukan orang sembarangan. Dilihat dari attitude, cara bicara dan cara makannya pun berbeda.


"Siapa kamu?" tanya Arya.


"Saya Azka, temannya Sheza," jawab Azka seraya mengulurkan tangan kepada Arya.


Arya pun menyambut uluran tangan Azka dengan hangat. Lelaki muda yang luar biasa itulah yang ada di benak Arya.


Azka mengambilkan satu porsi ayam cepat saji untuk Arya. Arya sudah mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayarnya namun ditolak dengan sangat sopan oleh Azka.


"Itu gratis buat Bapak," ucap Azka. Arya pun tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Memberi satu porsi makanan dari restoran tempat saya bekerja, tidak akan membuat rugi restoran kok, Pak." Jawaban Azka membuat Arya menyunggingkan senyum.


"Makasih, lanjut makan siangnya," ujar Arya dan langsung meninggalkan Sheza dan juga Azka.


Saingan lu berat bossku. Jabatan masih menang lu tapi hati lu kalah telak sama itu cowok.


Jam makan siang sudah selesai tapi tidak.ada tanda-tanda kehadiran Rion. Berkali-kali Arya menghubungi Rion tapi hanya operator yang menjawabnya.


Di luar ruangan, hati kecil Sheza pun merindukan Bossnya. Meskipun hatinya masih sakit. Kini, ucapan Azka tengiang-ngiang di telinganya.


Berhentilah mencintai seseorang yang hanya bisa berbicara cinta tapi tidak bisa membuktikan cintanya. Dan pada akhirnya hanya akan menggoreskan luka. Azka.


"Ya, perlahan gua akan memcoba untuk berhenti mencintai dia," gumamnya.


Baru saja Sheza selesai bergumam, suara langkah kaki membuatnya melihat ke asal suara. Rion sedang menggandeng Dinda. Tanpa menyapa Sheza, Rion dan Dinda masuk ke ruangannya.


Hanya helaan nafas lirih yang terdengar. Sekarang, Sheza semakin yakin dengan keputusannya. Lebih baik pergi dari pada harus tersakiti lagi.


Selang lima belas menit, suara langkah kaki terdengar kembali. Sheza pun tersenyum bahagia melihat pasangan yang sangat harmonis. Siapa lagi jika bukan Gio dan juga Ayanda. Seperti biasa Ayanda menyapa Sheza dan berbincang sebentar lalu mereka masuk ke ruangan Rion.


"Tuhan, keinginanku hanya satu. Aku hanya ingin bahagia dengan pasanganku kelak," ucapnya seraya memohon kepada Tuhan.


Ruangan Rion seketika berubah menjadi panas. Tatapan tajam dari seorang Ayanda sangat terlihat jelas. Arya hanya mengusap kasar wajahnya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabat bodohnya ini.


"Yanda, aku mohon duduk dulu," pinta Rion.


Ayanda masih berdiri diambang pintu. Tak bergerak sama sekali. Gio menggenggam erat tangan istrinya dan membawanya duduk bersama Rion, Arya dan juga Dinda. Ada satu orang yang menjadi alasan kemarahan Ayanda, yaitu Dinda.


Gio terus menggenggam tangan istrinya, dia tahu pasti emosi istrinya tidak akan terkontrol.


"Yanda, aku minta izin untuk memakai uang usaha kita sebesar 750 juta untuk membantu Dinda," ucap Rion.


Semua orang terkejut dengan ucapan Rion termasuk Ayanda yang sekarang emosinya semakin memuncak.


"Eh bege kalo mau bantu orang tuh kira-kira. Lu liat dulu siapa orangnya, masih bisa lu iba sama wanita ular sawah kayak gitu," geram Arya yang secara tidak langsung tidak menyetujui permintaan Rion.


"Jangankan 750 juta, satu toko cabang pun akan aku berikan. Asalkan dia tidak pernah muncul di hadapanku lagi," jawab Ayanda dengan penuh penekanan menatap mantan suaminya.


Semua orang tidak percaya dengan apa yang dilontarkan Ayanda kepada Rion. Wanita berhati lembut dalam seketika menjadi singa buas.


"Selesaikan rasa yang belum usai diantara kalian. Jangan menyusahkan orang lain dalam kisah tak jelas kalian," jelas Ayanda dan langsung meninggalkan semua orang yang berada di dalam ruangan, termasuk suaminya.


Dinda hanya menunduk dalam dan Rion mencoba untuk menenangkan hati Dinda. Sedangkan Gio dan Arya pun pergi meninggalkan dua manusia tersebut.


Bantingan pintu sangat keras membuat Sheza terlonjak dari duduknya. Wajah marah Ayanda sangat jelas terlihat.


"Sayang," panggil Gio yang berlari mengejarnya. Langkah kaki Ayanda terhenti.


"Sayang ...."


"Aku tidak peduli dengan hubungan mereka, tapi hatiku masih sakit dengan perlakuan wanita jahat itu," ucapanya penuh dengan penekanan.


"Kamu gak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku. Ketika melihat anakku diperlakukan seperti kotoran, diusir lalu didorong hingga anakku hampir terluka padahal kondisinya sedang sakit. Sakit ... hatiku lebih salit dari pengkhianatan Mas Rion," ungkap Ayanda dengan linangan air mata.


Arya dan Sheza terkejut mendengar ungkapan Ayanda. Sedangkan Gio kini sudah mendekap tubuh mungil istrinya yang kini menangis tersedu.


Kisah cintamu dengan Pak Boss sangat memilukan, membuatku semakin yakin untuk melupakan.


***


Hay ...


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ...


Happy reading semuaa