
Riana semakin gencar untuk mendekati Aksa. Tentunya, dibantu oleh Aska. Setiap hari, Riana selalu datang ke kelas Aksa untuk mengajaknya makan. Sekalipun Aksa menolak, Riana tetap kuat dengan niatannya.
Hari ini Aksa mulai menyerah dengan keadaan. Dia nekat datang ke kantor Rion untuk memberitahukan perihal perasaannya yang sebenarnya terhadap Riana. Kedatangan Aksa membuat Rion dan Arya mengernyitkan dahi mereka tak mengerti.
"Bang, ada apa ke sini?" Rion berhati-hati berbicara kepada Aksa. Begitu juga Arya yang sedang menelisik inchi demi inchi wajah Aksa. Ada apa gerangan sebenarnya?
"Ayah, bolehkah Abang minta waktunya sebentar?" Aksa mencoba memulai ucapannya ketika dia sudah duduk di atas sofa.
"Mau bicara apa?"
Sebelum menjawab, Aksa menarik napas terlebih dahulu. Mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Ini tentang Riana, Ayah." Rion dan Arya saling pandang. Tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aksa.
"Bisakah Ayah menghentikan Riana untuk tidak selalu mendekat kepada Abang?" Rion menghela napas kasar. Ternyata watak kekeh dan keras kepalanya menurun kepada Riana.
"Abang risih, Yah. Semua orang mengiranya Abang dan Riana pacaran. Tapi, pada nyatanya itu gak terjadi. Abang hanya menganggap Riana sebagai adik. TIdak lebih tidak kurang."
Rion mengerti apa yang dirasakan oleh Aksa. Didekati terus menerus oleh orang yang tidak disayangi amatlah menyebalkan.
"Nanti Ayah coba bicara pada Riana, ya." Aksa pun mengangguk pelan.
"Papah salut sama kamu. Kamu anak yang gentle. Yang berani mengungkapkan perasaan kamu sebenarnya kepada Ayah dari si cewek itu," papar Arya.
"Udah empat bulan Abang bertahan dengan keadaan ini. Semakin hari, Abang merasa semakin bersalah kepada Riana. Seolah, Abang ini memberikan harapan palsu untuk Riana. Abang juga udah jujur dengan perasaan Abang yang sebenarnya kepada Riana. Tapi, Riana tetap bersikeras ingin membuat hati Abang luluh," jelasnya panjang lebar.
"Alasan kamu nolak perasaan Riana apa?" tanya Rion. Dia benar-benar penasaran dengan masa lalu Aksa.
"Karena Riana lebih pantas bersanding dengan orang yang benar-benar menyayanginya. Orang itu bukan Abang."
Rion mengusap pundak Aksa. Dan tersenyum hangat kepadanya. "Ayah kagum sama kamu." Sebuah kalimat pujian yang dilayangkan untuk Aksa. Karena dengan beraninya mengungkapkan segala kegundahan hatinya selama empat bulan ini kepada Rion. Yang adalah orangtua kandung Riana.
Tibanya di rumah, Aksa disambut oleh wajah kekhawatiran sang Mommy. "Dari mana kamu, Bang?" Pertanyaannya yang terucap dari mulut wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Abang dari kantor Ayah." Ayanda diam sejenak. Mencerna kalimat yang diucapkan oleh putranya.
"Kantor Ayah?" Anggukan penuh ketegasan yang menjadi jawaban dari ketidak mengertian sang Mommy.
"Abang meminta Riana untuk tidak mendekati Abang lagi. Abang kasihan ke Adek yang selalu terlihat murung jika Riana dekat dengan Abang. Dan Abang juga merasa sudah tidak nyaman. Kali ini waktunya Riana mengerti apa keinginan Abang. Selalu berpura-pura itu sanget menyiksa," terangnya dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.
"Jangan buat Riana menangis, Bang." Larangan yang terucap dari mulut Aska. Aksa hanya diam, sedangkan Ayanda sudah menggelengkan kepalanya ke arah Aska agar Aska mengehentikan ucapannya.
"Kenapa bukan kamu yang buat dia bahagia?" Sebuah sanggahan yang sangat amat menusuk ulu hati Aska.
"Gua cape, Dek. Cape!" sentak Aska seraya berdiri menghadap ke arah Aska.
"Dia itu nyaman sama lu. Tapi, dia malah salah berjuang. Harusnya lu yang dia perjuangkan. Bukan gua!"
"Gua gak mau terjebak akan cinta yang pada akhirnya menyakitkan lagi. Dan sampai kapanpun Riana akan gua anggap seperti adek gua sendiri. Seperti keysha dan juga Beeya." Aksa pergi meninggalkan Aska yang masih berdiri di samping sofa. Karena Aksa tahu, Aska akan terus memaksanya.
"Dengar Mommy, jangan terus memaksa Abang. Abang memiliki privasi untuk dirinya sendiri. Dan kamu tahu, kan. Jika, Abang bukanlah orang yang suka direcoki oleh orang lain. Termasuk keluarganya sendiri." Aska mengangguk pelan.
"Biarkan Abang mengakhiri kepura-puraan ini. Sekarang, sudah waktunya kamu menjadi super Hero untuk Riana ketika Riana terpuruk. Keputusan Abang pasti akan sangat menyakitkan hati Riana. Dan di sana Adek harus menjadi penenang untuk Riana. Perjuangkan perasaan kamu, Dek. Kamu yang memiliki perasaan harusnya kamu yang harus berjuang bukan malah Abang yang disuruh membahagiakan Riana. Jelas-jelas, Abang tidak menyukai Riana." Panjang lebar Ayanda menasihati Aska.
Di dalam kamar, Aksa sedang berbaring. Ponselnya tak berhentinya berdering membuat Aksa kesal sendiri. Ingin rasanya Aksa membanting ponselnya ini. Atau memblokir nomor yang setiap hari selalu menghubunginya. Menanyakan kabar atau hanya menanyakan sudah makan atau belum. Sungguh sepele sekali untuk Aksa. Biasanya, Aska lah yang selalu membalas chat demk chat yang dikirim Riana untuk Aksa. Padahal, Aksa sedang tidur ataupun asyik main game.
Riana menyangkanya itu adalah chat balasan dari Aksa. Karena ketika mereka pacaran lewat ponsel, kata-kata romantis terus dilontarkan oleh Aksa. Tapi, ketika mereka berdua sedang berada di sekolah. Aksa tetaplah Aksa, manusia jelmaan beruang kutub yang sangat amat dingin. Hanya kata iya atau tidak yang menjadi jawaban khas Dari Gatthan Aksara Wiguna.
Di Kamarnya, Riana terus mengumpat kesal. Hingga kedatangan Beeya meredakan kekesalannya.
"Bee, kok Abang gak angkat telpon dari gua, ya. Wa juga gak di bales sama sekali. Dibaca juga nggak," adunya pada Beeya. Beeya hanya menggedikkan bahunya. Bertanda bahwa dia tidak tahu.
Mana ada Abang ngebalas chat wa dengan gaya bahas begitu. Itu kan yang sering balas chatan Kak Ri si Kakak.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Beeya.
"Riana lagi apa?"
Beeya mendengus kesal membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Aska kepadanya. Tangan Beeya menari-nari di atas layar benda pipih.
"Tanya aja sendiri."
Begitulah bunyi pesan balasan yang dikirimkan Beeya. Secara diam-diam, Beeya merekam Riana yang tengah mengomel pada benda pipih miliknya.
"Kangen gombalan Kakak." Beeya sisipkan sebuah kalimat ketjka mengirim video Riana kepada Aska. Tak lupa juga, Beeya menyisipkan emoticon menjulurkan lidah.
"Kok kamu tahu?"
Lagi-lagi jari lentik Beeya menari-nari di atas layar ponsel. "Mana ada Abang bisa ngegombal receh kaya gitu. Bawa-bawa tukang bangunan, tukang tambal ban segala macam. Itu mau ngegombal apa mau bangun rumah sama nambal ban?" Beeya tertawa sendiri membaca isi pesan yang dia kirimkan ke Aska.
"Masih bocah mah diem aja."
Beeya berdecak kesal membaca pesan balasan dari Aska. "Masih bocah juga pintar dengan perasaannya sendiri. Gak kayak Kakak yang suka merepotkan perasaan orang lain. Kakak yang sayang tapi, orang lain yang Kakak suruh membalasnya."
Jleb!
Pesan balasan yang sangat amat menyentil hati seorang Ghassan Askar Wiguna.
...----------------...
Semoga terhibur ...
Jangan lupa komennya, keputusan ini cerita berlanjut atau sayonara tanggal 6 ya ...