Bang Duda

Bang Duda
219. Pesta Perpisahan



Rona bahagia selalu nampak pada wajah cantik Echa. Hari-harinya selalu diisi dengan kebahagiaan yang orang-orang di sekelilingnya berikan.


Hari ini adalah acara perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan. Echa sangat terlihat cantik dengan menggunakan kebaya modern berwarna maroon dan di make up flawless tapi tetap natural.


Echa turun dari kamarnya dan membuat semua orang yang berada di bawah takjub. Terlebih Radit yang tidak berkedip memandang wajah cantik tunangannya ini.


"Anak Mamah cantik banget," ucap Ayanda yang kini sudah menghampiri Echa diikuti oleh Amanda.


"Kedip Dit," goda Gio. Radit pun tersenyum kikuk.


Mereka berangkat ke tempat diadakannya kelulusan. Radit berangkat bersama Echa menggunakan mobil miliknya. Sedangkan keempat orangtua Echa menggunakan mobil mereka masing-masing.


Setelah sampai di sana, semua mata tertuju pada Echa. Dia terlihat sangat cantik diantara murid-murid yang lain. Namun sayang, tangan Echa selalu digenggam erat oleh laki-laki yang sangat tampan dan memakai pakaian senada dengannya. Ada mata yang terlihat sangat terluka.


Acara sudah dimulai, Echa duduk bersama murid-murid yang lain. Dan mereka menikmati acara demi acara. Hingga acara inti pun tiba. Pengumuman murid yang mendapatkan nilai kelulusan tertinggi.


Ketika nama Echa disebut, Echa nampak terkejut. Dan dengan senyuman yang mengembang dengan sempurna dia naik ke atas mini panggung dan menerima hadiah simbolis dari kepala sekolah.


Echa langsung memeluk Mamahnya, menumpahkan semua kebahagiaannya.


"Ayah." Echa beralih memeluk tubuh Ayahnya.


"Kamu anak hebat, Dek." Wajah haru Rion


tidak bisa terbendung. Apalagi waktu yang terus bergulir menuju keberangkatan Echa ke Canberra membuat kesedihan melandanya.


"Pa." Gio memeluk hangat tubuh putrinya. "Kamu selalu membanggakan Papa," ujarnya.


"Bunda." Amanda mengecup kening putrinya. "Bunda sangat bangga kepadamu."


Dan kini dia beralih pada Radit. Echa pun memeluk tubuh Radit. "Semua ini berkat kamu, Bhal."


"Ini adalah keberhasilan atas usaha kamu sendiri, Sayang."


Setelah acara selesai, ada sesi foto keluarga. Bagaimana pun Echa adalah anak dari Ayanda dan juga Rion. Mereka berdualah yang menjadi pendamping Echa.


Barulah mereka bergantian berfoto bersama pasangan mereka masing-masing. Radit meminta izin kepada keempat orangtua Echa untuk membawa Echa pergi makan. Dan mereka pun menyetujuinya.


Radit sengaja membawa Echa ke restoran yang private. Ketika mereka masuk ke restoran itu Echa disambut hangat oleh para karyawannya. Satu per satu karyawan yang menyambutnya memberikan mawar merah dan juga mawar putih.


Senyum Echa terus mengembang dengan sempurna. Setelah mereka menyantap hidangan yang Radit pesan, Radit menggenggam tangan Echa. Lalu mencium punggung tangannya.


Dia merogoh saku celananya dan memberikan kotak berwarna navy kepada Echa.


"Ini apa Bhal?"


"Buka aja." Mata Echa berbinar ketika membuka kotak itu. Kalung yang sangat manis dengan berliontinkan hati kecil. Dan di dalam hati itu ada ukiran huruf R&E.


Radit bangkit dari duduknya, memasangkan kalung di leher jenjang Echa. Radit menatap kalung itu sejenak, lalu bibirnya terangkat dengan sempurna.


"Cantik," ucap Radit.


"Makasih, Bhal." Echa pun mengecup pipi Radit membuat Radit mematung tak percaya. Namun, bibirnya tak mampu menahan senyum yang begitu bahagia.


Tangan Radit sudah memegang dagu Echa, dan pandangan mereka sudah saling mengunci. Ketika wajah Radit mendekat, Echa menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu berhak memiliki bibir ku dan seluruh tubuhku ketika kita sudah resmi menjadi sepasang suami-istri," imbuhnya.


Radit pun tersenyum dan beralih mencium kening Echa sangat dalam. "Jaga semuanya hanya untukku," ujar Radit yang kini sudah memeluk tubuh Echa.


Di tempat berbeda, kesakitan dan kepedihan masih dirasakan Riza. Marta hanya dapat mengelus pundak Riza yang sedang larut dalam kesedihannya.


"Jika, kamu sayang sama dia. Harusnya kamu pertahankan hubungan kalian. Bukan malah mempertaruhkan hubungan kalian."


Riza hanya terdiam, dia menyesal sungguh sangat-sangat menyesal.


Rumah Gio pun sedang sibuk mempersiapkan acara pesta perpisahan untuk Echa. Raut wajah Ayanda sangat sendu. Dia berharap Echa akan membatalkan kepergiannya.


Sedangkan Echa dan Radit sedang menuju ke puncak, ke villa Genta Wiguna. Dan akan membawa Genta ke kediaman Giondra.


Sebenarnya sudah dua hari yang lalu Genta tiba di Indonesia, tapi Genta lebih memilih berdiam di villanya. Mengabiskan waktu dengan ketenangan.


Di kantor, perasaan gundah dan sedih melanda Rion. Dia tidak ingin berpisah dengan Echa. Sungguh sulit dia melepaskan Echa meskipun hanya untuk menimba ilmu di negeri tetangga.


"Awal-awal doang kok lu sedihnya. Ntar juga lu terbiasa," imbuh Arya.


"Lu gak tau rasanya Bhas," sahut Rion.


"Anak lu cuma pergi ke Canberra. Setiap bulan lu bisa tengokin dia ke sana. Tiap hari juga lu bisa komunikasi sama dia. Sekarang udah zaman canggih bro," balas Arya.


Rion hanya menghela napas kasar, secanggih-canggihnya alat komunikasi tapi, tidak akan mampu untuk menghilangkan sepenuhnya kerinduan yang ada. Komunikasi hanya sebatas suara dan melihat gambar, tidak bisa memeluk putrinya dengan erat.


Malam pun tiba, Amanda mengerutkan dahinya ketika suaminya mengajak makan malam dadakan di rumah Ayanda.


"Bang, emangnya ada acara apa?" tanya Amanda heran. Dia melihat wajah Rion yang tak seceria biasanya.


"Hanya makan malam," balasnya.


Amanda pun menuruti perintah suaminya. Setelah dia dan Riana rapi mereka menuju ke rumah Ayanda. Tidak ada obrolan di dalam mobil tersebut. Rion dengan wajah sendunya dan Amanda dengan wajah yang penuh tanda tanya.


Setibanya di kediaman Gio, Amanda melihat banyak mobil yang berderet di sana. Dan setelah masuk ternyata ada keluarga Radit dan juga Genta Wiguna.


Kebingungan melanda hati Amanda. Apalagi dia sangat melihat wajah Rion dan juga Ayanda yang sama-sama sendu.


Gio mengajak semuanya untuk menikmati makan malam di halaman belakang. Sudah ada aneka barbeque di sana. Masakan khas Indonesia dan juga cemilan-cemilan yang menggugah selera.


Amanda melihat ke arah Echa yang sedang berada dalam dekapan Radit. Tangan Echa seakan tidak pernah ingin melepaskan Radit dan wajahnya pun terlihat sangat sedih.


Ada apa ini?


Setelah selesai makan, mereka berkumpul sambil menikmati camilan-camilan yang sudah disiapkan.


"Jam berapa kalian akan berangkat?" tanya Addhitama membuka obrolan.


Mata Amanda melebar, dan dia menatap ke semua orang yang terlihat begitu sedih.


"Pesawat pribadiku akan menjemput Echa dan Radit jam 10 pagi."


Jemput Echa dan Radit? Maksudnya?


"Semoga kamu betah ya Cha di sana," ucap Addhitama.


"Iya, Om. Echa pasti betah karena ada Kakek dan juga Kak Radit."


"Kamu mau ke mana Cha?" Amanda sudah tak tahan ingin bertanya.


Semua orang di sana menatap bingung kepada Amanda. Hanya seulas senyum yang Echa tunjukkan.


"Echa akan melanjutkan kuliah di Canberra, Bun. Echa akan jauh dari kalian semua."


Hati Amanda sangat hancur mendengarnya, dia menatap suaminya dengan tatapan ingin kejelasan.


"Bang ...."


****


Besok lagi ya ...


UP langsung baca jangan nimbun-nimbun cerita, nanti level Bang Duda turun. Nantinya aku sedih 🤧