Bang Duda

Bang Duda
35. Dewasa



Dengan wajah yang sangat amat bahagia Sheza keluar dari restoran. Senyumnya melengkung sangat sempurna, membuat seseorang yang sedang duduk di atas motor terpana akan kecantikannya.


"Azka!" teriak Sheza yang menyadari kehadiran Azka. Dia pun berlari ke arah Azka dan dengan tidak sadar memeluk tubuh Azka.


Hati Azka berdegup kencang, bahagia yang kini Azka rasakan. Selama bersama Sheza mereka tidak pernah melakukan kontak fisik selain bergenggaman tangan.


"Makasih, karena doamu aku diterima kerja di sini," ucapnya yang kini meletakkan dagunya di bahu Azka.


"Sama-sama. Aku senang melihatmu bahagia," balas Azka.


Senyuman yang sangat sempurna tercipta dari kedua insan manusia ini. "Aku akan mentraktirmu," ucap Sheza setelah melepaskan pelukannya.


"Baiklah," jawab Azka.


Azka melajukan motornya dan berhenti di warung bakso Bu Rosdah. Sengaja Azka mengajaknya ke sini, ingin mengorek sedikit tentang Sheza dan hatinya.


"Neng Sheza, tadi pagi ada yang nyariin loh. Mas yang waktu itu ke sini bawa mobil," ucap Bu Rosdah.


Sheza membeku mendengar ucapan Bu Rosdah, dan hati Azka pun sedikit sesak melihat mimik muka Sheza yang berubah.


Ternyata dia mencariku, batin Sheza.


Hati Azka sedikit goyah, namun perkataan kakak sepupunya membuat semangatnya membara. Dia akan membuktikan jika dia bukanlah pecundang.


Sheza hanya mengaduk-aduk bakso yang berada di depannya, dengan cepat Azka menarik mangkuk itu menjauhi tangan Sheza. Hingga Sheza tersadar dari lamunannya.


"Makan," titahnya yang hendak menyuapinya. Seketika Sheza menuruti perintah Azka.


Ketika menatap mata Azka, ada kehangatan yang luar biasa yang bisa Sheza rasakan. Ketulusan dan kenyamanan mampu Azka berikan padanya.


"Makasih," ucap Sheza nanar.


Azka mendongakkan kepalanya kemudian membelai pipi mulus Sheza. "Orang yang tulus mencintaimu tidak akan pernah mengharapakan apa-apa darimu meskipun itu hanya sekedar ucapan terimakasih," balas Azka.


Ucapan Azka mampu membuat Sheza berkaca-kaca. Hanya Azka yang bersikap lembut padanya dan mensejajarkannya seperti wanita yang patut dihargai.


"Tolong buka hatimu untukku," pinta Azka.


Tidak ada jawaban dari Sheza hanya kebisuan yang Sheza berikan. Azka tahu jika Sheza belum sepenuhnya bisa melupakan Bossnya. Dia hanya sekedar menghindar berharap rasanya pudar. Meskipun begitu, Azka akan tetap setia menunggu hingga Sheza bisa membuka hatinya untuknya.


Sedangkan Rion melajukan mobilnya tanpa tujuan. Pikirannya kalut sekarang ini. Tempatnya untuk mengadu sekarang sedang tak sejalan dengannya, dan wanita yang biasanya membantunya kini sedang marah kepadanya.


Hingga mobilnya berhenti di depan gerbang sekolah Echa. Hanya putrinya yang mampu membuatnya tenang untuk saat ini.


Sudah satu jam Rion menunggu jam pulang sekolah Echa. Akan tetapi, ekskul Echa belum selesai. Hingga tawa riang yang selalu Echa dan kedua temannya tunjukkan terdengar di telinga Rion. Dengan berlari Echa menuju mobil ayahnya.


Echa tersenyum kepada ayahnya, namun raut wajah ayahnya sungguh muram. Untuk saat ini Echa tidak akan menanyakannya, biarlah ayahnya yang cerita kepadanya jika sudah siap.


Rion menghentikan mobilnya di danau buatan. Echa hanya mengikuti langkah ayahnya. Membiarkan ayahnya larut dalam kesedihan.


"Dek, jika Ayah menyakiti wanita lain apa kamu akan marah seperti Mamah?" tanya Rion yang sedang menatap tenangnya air danau.


Echa bisa menebak memang ayahnya sedang ada masalah yang cukup berat. Apalagi jika bukan masalah hati. Ternyata kegalauan tidak hanya dirasakan para remaja tapi orang dewasa pun sama. Begitulah batin Echa.


"Ayah pernah berpikir tidak, jika Echa juga perempuan. Apa Ayah akan terima jika Echa disakiti oleh lelaki? Apa Ayah tidak akan marah melihat putri Ayah menangis?" tanya balik Echa.


"Ketika Ayah hendak melakukan sesuatu, pikirkan ulang. Jangan sampai tindakan Ayah itu melukai orang lain," ujar Echa.


Rion menatap Echa penuh bangga. Putri kecilnya kini berubah menjadi remaja yang memiliki pola pikir dewasa. "Kamu persis Mamahmu," ujar Rion.


Hanya seulas senyum yang Echa berikan. "Jika Ayah rindu dan ingin memeluk Mamah, peluklah Echa. Sebagian diri dari Mamah ada pada Echa," balasnya. Rion pun memeluk tubuh putrinya dan beban hatinya sedikit berkurang.


"Ayah tahu, meskipun Ayah telah menyakiti Mamah tapi Mamah belum pernah sekalipun menjelek-jelekkan Ayah di depan Echa. Mamah hanya bilang, Echa harus bisa memaafkan semua kesalahan Ayah. Karena orang yang akan Echa cari ketika Echa hendak menikah adalah Ayah." Itulah yang selalu mamahnya katakan.


Ponsel Rion berdering, panggilan masuk dari Dinda. Enggan sekali Rion menjawabnya namun desakan dari Echa yang akhirnya membuat Rion menjawabnya.


Hanya kata "iya" yang Echa dengar dari ayahnya. Dan Echa pun tidak ingin mengorek apa yang terjadi dengan orangtuanya. Rion beranjak dari duduknya dan mengajak Echa pulang.


"Ayah antar kamu pulang dulu, ya," ucap Rion.


"Ayah mau kemana?" tanya Echa.


"Ke rumah sakit."


Echa melirik ayahnya, hanya wajah datar dan fokus terhadap jalanan yang dia lihat dari ayahnya.


"Echa ikut," balas Echa.


"Dek ...."


"No, kata Echa ikut harus ikut," tegasnya.


Rion hanya bisa menuruti permintaan putrinya. Setelah sampai di rumah sakit, mulut Echa sudah gatal ingin bertanya siapa yang sakit. Akan tetapi, mampu dia tahan. Dia hanya bisa mengikuti langkah ayahnya. Hingga ayahnya membawa Echa ke lantai tiga dan masuk ke salah satu ruang perawatan.


Echa melebarkan matanya ketika masuk ke ruangan itu. Ada sosok wanita yang tidak disukai mamahnya.


Ada apa ini?


"Mas," panggil Dinda pada Rion.


Rion mendekat ke samping ranjang pesakitan. Dilihatnya wajah pucat pasi dengan badan hanya tinggal tulang dan rambut yang sudah tidak ada.


"Tu-ru-ti per-min-ta-an-ku," ujar orang itu.


Dinda hanya menghela nafas berat. Ingin rasanya dia menjerit kencang sekarang ini. Sepertinya karma sudah menghampirinya.


Rion tidak bisa menjawab apapun. Hatinya hanya mencintai Sheza tapi rasa ibanya sangat kuat sehingga raganya tak mampu untuk menolak.


"Mas, apa kamu tidak mau menikah denganku?" lirih Dinda.


Echa berjalan mendekati tiga orang dewasa di depannya. "Jika Tante ingin menikah dengan Ayah, aku tidak keberatan. Tapi aku harap Tante menikah karena cinta dan sayang sama Ayah bukan karena harta Ayah," ucap Echa.


Dinda terperangah mendengar ucapan Echa. "Tante boleh tidak menyayangiku, tapi sayangilah Ayah dan jangan pernah membohongi Ayah apalagi menyakiti Ayah," tambah Echa.


"Dan harus Tante ingat, harta dan tahta hanya membawa kebahagiaan sesaat dan pada akhirnya penikmatnya akan menderita," tegas Echa.


Semua orang terdiam mendengar ucapan dari seorang anak remaja di hadapan mereka. Ucapan yang benar-benar halus namun sangat menusuk.


"Dan untuk Om (orang yang sedang berada di ranjang pesakitan) jangan pernah mau dimanfaatkan oleh siapa pun. Jika pada akhirnya Om akan dikenang sebagai manusia pemaksa yang tanpa Om sadari Om telah menyakiti orang lain," imbuh Echa.


Hanya keheningan yang tercipta setelah Echa mengeluarkan suara. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan Echa memilih keluar karena dadanya sedikit sesak mendengar ucapan dari pria dan wanita itu.


Semoga Ayah tidak masuk ke lubang yang salah yang nantinya akan membunuh Ayah secara perlahan.


***


Maaf, ceritanya gak maksimal. Edisi terpaksa Up padahal kepala lagi berat banget,🙏


Ini semua demi kalian Readersku sayang ...


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya ..


Happy reading ...