Bang Duda

Bang Duda
183. Istri Dan Mantan Istri



Atas seizin Arya, Rion bekerja di rumah sambil menemani Amanda. Baru sehari di rumah, Rion benar-benar merasa sangat khawatir dengan kondisi istrinya.


Amanda mengeluh pusing, lemas dan juga mual. Membuat Rion frustasi sendiri. "Yang, kita periksa keadaan kamu, ya. Wajah kamu udah pucet banget itu."


Pada akhirnya, Amanda menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Rion membantu Amanda bersiap. Dari memakaikannya baju hingga sandal.


"Mau Abang gendong?"Amanda menggeleng.


Amanda berpegang ke lengan suaminya. Dan berjalan dengan hati-hati. Mereka menuju ke salah satu rumah sakit diantar oleh Pak Mat. Rion terus mengennggam tangan Amanda. Dan Amanda membaringkan kepalanya di bahu Rion.


"Pusing banget." Hanya anggukan yang Amanda berikan.


Setelah tiba di rumah sakit, Rion hanya tinggal menunggu. Karena Amanda sudah mendaftar terlebih dahulu. Rion dan Amanda menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu. Amanda yang melingkarkan tangannya ke lengan Rion dengan membaringkan kepalanya di bahu sang suami. Sedangkan Rion mengelus lembut perut buncit Amanda dan sesekali mengecup puncuk kepala Amanda. Sungguh pasangan ideal, tampan dan cantik serta penuh kasih sayang. Begitulah pikiran orang-orang yang melihat Rion dan Amanda.


Nama Amanda sudah dipanggil, dan mereka masuk ke ruangan dokter kandungan. Kali ini, dokter yang menangani Amanda adalah dokter pria. Ada sedikit ketidaksukaan dari wajah Rion. Namun. Amanda berhasil menenangkan suaminya yang pencemburu.


Dokter menyuruh Amanda berbaring, lalu menyingkap baju Amanda membuat mata Rion melebar. Namun, Amanda segera menggenggam tangan suaminya dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Lihat, bayi kalian sangat lucu."


Terlihat wajah sang bayi mungil di monitor. Membuat Rion berkaca-kaca, dalam hatinya ingin segera melihat anaknya lahir ke dunia.


"Hanya saja, si bayi ini selalu menyembunyikan jenis kelaminnya. Seperti ingin memberikan kejutan kepada orangtuanya."


Amanda dan Rion saling tatap dan tersenyum bahagia. Rion mengelus lembut kepala Amanda dan mengucapkan terimakasih.


Setelah dokter selesai memeriksa kandungan Amanda. Dokter mengajak Amanda dan duduk di hadapannya.


"Ada yang harus saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu. Mendengar keluhan Ibu tadi dan juga melihat plasenta tidak mendapatkan cukup darah ternyata Ibu mengalami pre-eklamsia."


"Apa itu dok?" tanya Rion khawatir.


"Pre-eklamsia adalah gangguan kehamilan yang ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi di dalam urine. Kondisi ini dapat membahayakan organ lainnya, seperti hati dan juga ginjal."


"Apa sangat berbahaya dok?" tanya Rion lagi dengan hati yang ketar-ketir.


"Jika tidak cepat ditangani, pre-eklamsia dapat menjadi eklamsia. Eklamsia adalah kondisi pre-eklamsia yang disertai kejang. Dan akan berakibat fatal pada ibu dan janin."


Tubuh Rion benar-benar lemas mendengar perkataan dokter. Dia menggenggam tangan istrinya yang sudah menundukkan kepalanya. Rion ingat perkataan Arya. Jika, pria tidak boleh terlihat lemah di hadapan wanita.


"Pada bayi, pre-eklamsia dapat mengakibatkan kelahiran prematur," lanjut dokter.


"Salah satu faktor penyebabnya ibu Amanda mengalami pre-eklamsia karena ini kehamilan pertama. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan tindakan persalinan secara Caesar. Supaya ibu dan anak selamat."


"Apakah persalinan itu harus dilakukan sekarang?" Rion tahu, Amanda masih terguncang mendengar penjelasan dokter.


"Kapan saja, Pak. Jika, Ibu Amanda sudah siap kita tinggal atur jadwal. Dan dalam seminggu ini harus melakukan kontrol rutin 2-3 kali."


"Baik, dok."


"Saya tuliskan resep dan juga ada obat untuk menurunkan tekanan darah. Silahkan Bapak tebus di apotek," ujarnya.


Amanda dan Rion meninggalkan ruangan dokter. Dan Rion terus menggenggam tangan Amanda. Sesekali Rion melihat Amanda menyeka ujung matanya.


Setelah obat selseai ditebus, Rion dan Amanda menuju ke suatu tempat. Rion membawa Amanda ke sebuah taman bermain. Dia terus menggenggam tangan istrinya yang masih terlihat sedih.


Mereka berdua duduk dibawah pohon yang ditumbuhi rumput-rumput hijau. Rion menangkup wajah Amanda. Mencium kening Amanda sangat dalam.


"Ini sudah takdir Allah, jangan pernah sesali dan juga tangisi." Tangis Amanda pun pecah dan membenamkan wajahnya di dada Rion.


Rion mengusap punggung Amanda dengan sangat lembut. Jika, dia bersedih. Siapa yang akan membuat Amanda semangat?


"Maafkan, Manda."


"Tidak ada yang salah dari kamu, Sayang. Kita harus ikhlas dan sabar menghadapi cobaan ini."


"Anak Ayah dan Bunda. Apakah kamu sudah ingin melihat indahnya dunia? Ingin Ayah dan Bunda gendong? Bertemu dengan Kaka, Abang dan juga Adek." Bibir Rion tersenyum sambil mengelus perut sang istri, dalam hatinya dia menangis. Dia juga takut.


Amanda mengangguk pelan, suaminya tahu jika dia masih belum siap. Tidak pernah terlintas dipikirannya untuk melahirkan secara sesar.


Rion menggenggam tangan Amanda dan membawanya ke suatu tempat. Keningnya mengernyit ketika rumah Ayanda yang menjadi tujuan suaminya.


"Kenapa ke rumah Mbak Aya?" tanya Amanda.


"Kangen si kembar," jawabnya dengan senyum mengembang.


Terlintas tanya dalam pikiran Amanda. Apakah suaminya ini sudah ingin melihat anak mereka lahir ke dunia? Amanda pun mengikuti langkah Rion.


Sambutan hangat dari para pelayan membuat Rion menganggukkan kepalanya. Rion mencari Ayanda ke ruang bermain di mana keluarga Gio menghabiskan waktunya di sana.


Ayanda sedikit terkejut melihat kehadiran Rion dan juga Amanda. "Loh, kok ke sini gak bilang dulu," ujar Ayanda yang baru saja menaruh si kembar di tempat bermain.


"Emang kalo gak bilang kenapa?" tanya Rion yang sudah bermain bersama si kembar.


"Kan aku bisa nyiapin makanan buat kalian, Mas." Amanda hanya tersenyum.


"Di sini apa aja ada, Mbak. Ngapain nyiapin makanan segala," imbuh Amanda yang sudah duduk di sofa bersama Ayanda.


"Ya ... kan takutnya kamu ingin makan sesuatu, jadi bisa dibikinin." Amanda pun tertawa mendengarnya. Dia memeluk tubuh Ayanda dan mengucapkan terimakasih.


Rion yang melihat istri dan mantan istrinya akrab seperti ini hanya tersenyum. Namun, pukulan mainan ke wajah Rion membuat Rion mengaduh.


"Pa-pa-pa-pa." Mulut si Abang mengoceh sambil memukul-mukul kan mainan yang dipegangnya ke wajah Rion. Semakin Rion mengaduh, si Abang semakin tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun, lucu banget si Abang," ucap Amanda yang ikut tersenyum melihat suaminya bermain dengan si kembar.


"Prediksi dokter kapan?" tanya Ayanda.


Wajah Amanda berubah seketika, senyumnya pudar. "Kenapa?" tanyanya sambil menggenggam tangan Amanda.


"Kata dokter, Manda harus segera mungkin melakukan tindakan operasi," lirihnya.


"Ada apa? Apa ada gangguan pada kamu dan bayi kamu?" Amanda hanya mengangguk pelan.


Ayanda memeluk tubuh Amanda, dan mengusap lembut punggungnya. "Lakukan yang terbaik untuk dirimu dan juga anakmu. Semua sakit yang kita rasakan, akan tergantikan ketika kita melihat buah hati kita keluar dari rahim kita."


"Manda takut, Mbak."


"Jangan takut, ada Mas Rion yang pasti akan mendampingi kamu. Ada Mbak dan Daddy-nya si kembar yang pasti akan menemani kamu."


Ayanda menghapus bulir air mata Amanda yang menetes. "Lihatlah, suamimu sangat bahagia bermain dengan si kembar," kata Ayanda kepada Amanda. Mereka melihat Rion sedang dikerjai oleh si kembar. Si Abang sibuk memukul, si Adek yang sibuk menjambak rambut Rion.


"Mas Rion sudah berubah, Nda. Dia jauh lebih baik dan sangat sangat menyayangi kamu."


Amanda hanya terdiam, mendengarkan apa yang Ayanda katakan.


"Tidak pernah Mas Rion bermain seperti itu bersama Echa. Malah, dia terbilang membenci anak kecil. Tapi sekarang, dia sangat sangat menyukai anak kecil," terang Ayanda sambil tersenyum.


"Kamu inginkan, Mas Rion bermain seperti itu bersama anakmu?" Amanda menganggukkan kepala.


"Makanya cepatlah lakukan apa yang dikatakan dokter. Ketika bayi kalian lahir, kalian akan merasakan bahagianya menjadi keluarga yang sempurna." Mata Amanda nanar mendengar ucapan Ayanda, dan dia pun tersenyum.


"Aku siap, Mbak."


Ayanda memeluk tubuh Amanda, dan tangan Ayanda membentuk tangan O kepada Rion. Disambut senyum bahagia oleh Rion.


****


Ini aku setor jam 12 siang, kalo terbitnya lelet jangan salahkan aku, ya. Salahkan editor NT. Dua karya aku up tengah malam dan pagi aja belum nongol-nongol🤧


Makasih loh buat kesayangan-kesayanganku, views Bang Duda tiap hari naik dan juga ā¤ļø tiap hari naik terus. Terus dukung semua karya aku ya, dengan cara like, komen dan juga vote. Dan jangan ditimbun-timbun bab-nya. Terbit langsung baca, oke.


Happy reading semua ...