Bang Duda

Bang Duda
210. Merasa Dekat



"Maaf, Pak. Ada surat dari pengadilan agama untuk Bapak." Rion mengambil surat itu tanpa sepatah kata pun. Dia menatap nanar surat yang sedang dia genggam.


Weekend sesuai janji Radit dia akan mengajak Echa jalan-jalan ke Bogor. Setelah mendapat izin dari kedua orangtua Echa mereka pun pergi jam 10 pagi.


"Bagaimana Riana?" tanya Radit.


"Aku ingin tahu di mana Bunda berada. Papa sepertinya tahu, tapi Papa tidak memberitahuku di mana keberadaan Bunda."


"Ayah kamu tahu?" Echa menggeleng.


"Ayah semakin ke sini semakin tertutup. Aku yakin, Ayah juga menyimpan luka yang mendalam."


Pagi buta Rion sudah pergi entah ke mana. Dia menemui Riana sebentar di rumah Ayanda karena hari ini Ayanda dan Gio akan mengajak Riana jalan-jalan bersama si kembar.


"Mas mau ke mana?" tanya Ayanda.


"Ada yang harus Mas urus, Dek."


"Apa itu tentang Amanda?" Rion pun terdiam.


"Mas, tolong carilah Amanda. Kasihan Riana," pinta Ayanda.


Rion hanya tersenyum lalu pamit kepada Ayanda. Senyum yang Rion berikan tidak bisa dengan mudah diartikan.


Rion melajukan mobilnya menuju luar Jakarta. Dia tidak sendiri, tapi bersama seorang wanita.


Mobil Rion berhenti di pinggir jalan. Lima belas menit kemudian, wajahnya berubah sendu. Hanya kepedihan yang dia lihat. Hatinya sangat perih.


Sang wanita mengusap lembut pundak Rion. Dan mobil pun melaju ke sebuah tempat. Rion dan wanita itu masuk ke hunian kecil.


Setelah urusannya selesai, Rion meninggalkan wanita itu dan dia pergi lagi. Di perjalanan hanya kesakitan yang Rion rasakan. Dia pun menghubungi seseorang. Dan mengatur janji untuk mereka bertemu.


Radit dan juga Echa sedang menikmati makan siang di Kota Bogor. Mereka makan di sebuah restoran khas Sunda. Mata Echa tak berkedip ketika melihat sosok wanita seperti Bundanya.


"Bunda," ucapnya.


Radit melihat ke arah tatapan Echa. Echa pun bangkit dari duduknya. Dia keluar dari restoran.


"Bunda," teriaknya.


Wanita itu baru saja keluar dari warung makan sederhana. Sekilas, wanita itu tidak seperti Amanda. Dia memiliki tubuh kurus, kulit menghitam dan juga gamis ala kadarnya.


"Itu bukan Tante Manda, Bhul. Kamu sangat merindukannya makanya kamu berhalusinasi seperti itu," jelas Radit.


Amanda baru saja kembali ke kedai kue Wa Emi dengan bungkusan plastik di tangannya.


"Alhamdulillah," ucapnya.


Mimin teman kerjanya di kedai Wa Emi hanya menggelengkan kepala ketika melihat Amanda membuka bungkusan nasi yang baru saja dia beli.


"Kamu gak bosen makan itu terus tiap hari?" Amanda hanya tersenyum, setiap hari menu makannya hanya tumis sayur dan juga gorengan.


"Kita gak perlu bosan, harusnya kita bersyukur setiap hari bisa makan. Jangan lihat ke atas, lihatlah ke bawah. Masih ada yang lebih sengsara dari kita," imbuhnya.


"Kan uang gaji kita gak kecil-kecil amat, Nda."


"Sebagian aku tabung, Min. Buat beli mainan anak aku," sahutnya.


"Emang berapa sih mainan anakmu?" tanya Mimin penasaran.


"Kurang lebih dua juta." Mimin pun terkejut dengan apa yang dikatakan Amanda.


"Mainan apaan dua juta?" tanya Mimin heran sambil memperlihatkan dua jarinya.


"Ada lah, putriku sudah terbiasa dibelikan mainan yang harganya fantastis sama ayahnya."


"Berarti mantan suami kamu orang kaya dong?" Jiwa keingin tahuan Mimin keluar.


Amanda hanya menjawab dengan seulas senyum. Jika, dia mengatakan suaminya pemilik toko bakery yang cukup terkenal di negeri ini, mungkin Mimin akan pingsan di tempat.


"Sudahlah, jangan bergosip terus. Tidak baik," ujar Amanda.


Setelah selesai makan siang, Amanda mengambil wudhu dan sholat Dzuhur. Disetiap sujudnya, dia memohon ampunan kepada sang maha pencipta. Dan setelah selesai solat, tak lupa dia menengadahkan tangannya seraya berdoa.


Ya Allah, jaga dan lindungilah kedua putriku dan juga suamiku. Bukalah hati Echa dan Bang Rion agar mereka mau memaafkan ku. Berikanlah kepadaku keikhlasan dan juga kelapangan dada untuk menerima semua takdir ini. Aku tau, ini semua sudah ketentuan-Mu. Ke serahkan semuanya hanya pada-Mu.


Semakin hari Amanda semakin memperbaiki diri. Dia tidak pernah meninggalkan solatnya. Hanya dengan mengadu kepada sang Maha pencipta lah hatinya merasa tenang.


Di Jakarta, Riana dan juga si kembar sangat bergembira main di atas pasir. Mereka tampak akrab meskipun Gatthan masih bersikap dingin kepada Riana.


"Jika, Mommy tidak percaya, tanyalah kepada Arya dan juga Azka."


"Bertanya kepada mereka berdua percuma. Daddy dan mereka berdua itu satu komplotan." Gio tertawa mendengar Omelan istrinya.


"Mommi," panggil Riana sambil melambaikan tangannya kepada Ayanda.


Ayanda pun menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain pasir. "Riana senang?" Riana menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Mommi," Riana menarik tangan Ayanda. Dia mengambil ranting dan membentuk lima bulatan.


"Mommi, Dedi, Li, Ban Acan, ban atan." Riana menunjuk bulatan satu per satu.


"Riana sayang Mommy?"


"Ya, Li tayang Mommi. Li pun tayang Bunta." Ayanda langsung memeluk tubuh kecil Riana.


Hatinya teramat sakit mendengar ucapan bocah sekecil ini. Riana masih beruntung dibandingkan Echa. Ada banyak orang yang menyayanginya.


Sedangkan Echa, dia masih memikirkan wanita yang dia lihat tadi. Dia sangat yakin itu adalah bundanya.


"Bhul, aku ajak kamu ke sini buat ngilangin kesedihanmu. Bukan malah menambah kesedihanmu seperti ini."


"Kenapa aku merasa dekat dengan Bunda, ya," ujarnya.


"Aku merasa Bunda ada disekitar sini," lanjutnya lagi.


"Lanjut jalan lagi, ya." Echa pun mengangguk.


Setelah puas jalan-jalan dan menghilangkan kesedihan. Sore menjelang Maghrib Radit dan Echa akan kembali ke Jakarta. Namun, mobil Radit tiba-tiba berhenti.


"Kenapa Bhal?"


"Bhul, liat Nenek itu." Radit menunjuk ke arah seberang jalan.


Ada seorang Nenek yang sudah bungkuk sedang membawa rantang makanan. Sepertinya dia sedang menunggu angkot.


"Kita bantu dia, ya. Ini sudah hampir malam," imbuh Radit. Echa pun setuju.


Radit memutar arah lalu berhenti di depan nenek itu. Radit keluar dari mobil, dia sedikit berbincang. Dan akhirnya Radit membawa nenek itu masuk ke dalam mobilnya.


"Makasih," ucap sang Nenek.


"Sama-sama Nek."


Echa tersenyum ke arah Nenek. "Ini pacarnya?" Radit pun hanya tersenyum.


"Nenek mau ke mana?" tanya Echa setelah mobil Radit melaju sesuai dengan alamat yang Nenek itu berikan.


"Mau ke rumah keponakan Nenek. Nenek tadi masak enak. Mau membagi ke keponakan Nenek," jawab sang Nenek.


"Masya Allah, baiknya Nenek," kata Echa.


"Nenek kasihan ke keponakan Nenek satu-satunya itu. Setiap hari dia selalu makan dengan menu ala kadarnya. Tubuhnya pun sekarang kurus karena sehari paling banyak dia makan dua kali," lirih sang Nenek.


"Nenek sebenarnya menyarankan dia untuk tinggal bersama Nenek. Tapi, dia tidak mau. Dia memilih untuk hidup di sebuah kontrakan kecil."


Sedikit sesak dada Echa mendengar penuturan sang nenek. Hidup Echa sangatlah enak, sedangkan masih banyak di luaran sana untuk makan pun sulit.


Mobil Radit berhenti di depan toko kelontong. "Nek, di sini rumahnya?" tanya Radit.


"Iya, Nak. Itu masuk ke dalam gang kecil." Tunjuk sang Nenek ke sebuah gang yang berada di samping toko kelontong. Gang itu hanya cukup untuk dimasuki satu motor.


"Ayo ikut Nenek masuk. Nenek kenalin sama ponakan Nenek," ajak sang nenek.


Echa menatap Radit, dan Radit pun mengangguk pelan. Mereka mengikuti langkah sang nenek masuk ke dalam gang. Sebelumnya, Radit meminta izin kepada yang punya warung kelontong untuk memarkiran mobilnya di sana.


Kontrakan yang sangat sempit dan terbilang kumuh. Tapi, Echa dan Radit tetap melangkahkan kakinya menuju kontrakan yang berada diujung sana.


Nenek mengetuk pintu namun, tidak ada jawaban dari dalam. Ketika ketukan yang ketiga kali barulah ada yang menyahutinya.


Sang penghuni kontrakan pun membuka pintunya, dan ....


****


Happy reading ....