
Sebenarnya Echa ingin mengetahui lebih dalam masalah yang sedang dihadapi oleh kedua orangtua kandungnya. Namun, mereka seakan menutupi semuanya dari Echa. Begitu juga Papanya, seakan dia tidak mau berkomentar tentang hal itu.
Ingin rasanya dia bertanya dengan Arya. Namun, Beeya sudah terlelap sedari tadi membuat Arya langsung pulang ke rumahnya, Echa mencari berita tentang kedua orangtuanya pun tidak ditemukan berita apa-apa.
Aksa yang menyelinap masuk ke dalam kamar Echa pun berkomentar. "Berita itu sudah dihapus oleh Daddy," ujarnya.
Echa menoleh ke arah belakang. Sudah ada Aksa yang berdiri di belakangnya. "Maksudnya apa?"
Aksa menyerahkan flashdisk kepada Echa. Aksa memiliki kemampuan meretas data orang lain. Ilmu itu dia peroleh dari Remon. Meskipun Remon tidak mengajarkan secara langsung, tapi Aksa mampu dengan cepat mengingat cara-cara Remon untuk melakukan peretasan.
Sebenarnya, Gio tahu Aksa telah meretas beberapa data pribadi miliknya. Namun, Gio biarkan. Toh, anaknya itu pasti akan menggunakan data yang dia retas dengan bijak. Malah Gio bangga, Aksa adalah the next CEO Wiguna Grup.
Echa melihat isi flashdisk tersebut. Mata Echa melebar dengan sempurna ketika video Ayah dan Mamahnya beredar. Ditambah beberapa artikel yang sudah mencoreng nama baik orangtua kandungnya.
Matanya berkaca-kaca ketika melihat papanya mengadakan klarifikasi. Gio seperti malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menjaganya dan juga mamahnya. Dalam diamnya Gio, dia bukan acuh. Malah dia sedang mencari tahu tanpa mau berasumsi terlebih dahulu.
Echa menatap ke arah Aksa dan dijawab anggukan kepala oleh Aksa. "Maaf, ketika kalian menghadapi berita seperti ini, Kakak tidak ada bersama kalian," lirih Echa,
"Tidak apa-apa Kak. Daddy bilang ke Abang, Abang yang harus menjaga Kakak dan Mommy. Karena kalian wanita terhebat dalam hidup Abang dan juga Daddy."
Echa memeluk tubuh Aksa dan hatinya sangat terenyuh mendengar ucapan dari Aksa.
Aksa menceritakan semuanya yang dia ketahui. Hati Echa sangatlah sakit dan ada keinginan untuk membuat para pengganggu itu pergi dari muka bumi ini.
Keesokan harinya, Echa menjenguk Riana dan juga bermain bersama Beeya sebentar. Setelah itu, dia menjemput si kembar.
Setibanya di sekolah, sudah banyak para orangtua murid yang sedang menunggu anak-anak mereka. Dan mata Echa memicing ketika dia melihat wanita berhijab.
"Sepertinya pernah lihat," gumamnya yang masih di dalam mobil.
Echa melihat tangan kanan wanita itu memiliki tanda yang sama persis dengan wanita yang kemarin berdiri di depan rumah sang Ayah. Dia pun mencoba turun dan bergabung dengan para orangtua murid lain yang sedang berbincang.
Echa memesan es kopi di warung kecil di samping tempat tunggu. Echa duduk di samping dua wanita yang mengenakan pakaian tertutup yang sedang berbincang.
Baru saja bokongnya dia letakkan di atas kursi, sayup-sayup dia mendengar perbincangan dua orang di sampingnya ini. Echa mendengar jelas nama Ayah dan papanya disebut.
"Susah banget ya kita deketin dua pria kaya itu. Rion sama Gio," kata teman si wanita itu.
"Tapi, aku kemarin ke rumah Rion rumahnya sepi. Biasanya ada tuh istrinya. Ini mah gak ada siapa-siapa."
Echa mengangguk pelan. Dan ternyata benar wanita disampingnya ini yang kemarin ada di depan rumah ayahnya.
"Kayaknya anaknya sakit, soalnya kemarin aku kasih tau ke anaknya tentang kelakuan ibunya waktu dulu. Untungnya aku masih nyimpan foto Amanda yang masih pake pakaian minim. Mempengaruhi anaknya lebih mudah daripada ibu bapaknya."
Echa pun sedikit terhenyak mendengar obrolan dua wanita yang kelihatannya alim tapi memiliki hati yang picik.
Ibu penjaga warung menyerahkan es kopi pesanan Echa. "Makasih."
Kedua wanita itu pun baru sadar ternyata ada orang yang sedang duduk di samping mereka. Namun, Echa memasang wajah yang biasa-biasa aja seakan dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh mereka.
"Kamu orangtua murid baru? Kok saya gak pernah lihat kamu, ya," sinis Vera.
Echa membuka masker yang dikenakan olehnya. Dia tersenyum manis ke arah dua wanita itu. Dea dan Vera tercengang melihat wajah Echa. Wajah yang sangat cantik dengan riasan tipis malah hampir tidak terlihat Echa memoles wajahnya. Tidak seperti dua wanita itu yang memakai riasan tebal ala-ala beauty vlogger.
"Nggak ko, saya memang jarang jemput," sahutnya.
"Vera, di kantor Rion lagi dicari karyawan baru. Jadi, asistennya lagi," ujar Dea.
Vera yang ingin melanjutkan pembicaraannya dengan Echa pun memilih untuk melihat ponsel Dea.
"Udah daftar, meyelaman sambil minum air," tutur Vera.
"Kan dia benci banget sama aku, lagian usaha itu kan bukan miliknya. Tapi, milik mantan istrinya."
Vera sedikit terlonjak mendengarnya. Dea menceritakan semuanya tentang usaha Rion dan siapa saja yang terlibat di dalam usaha itu.
"Wanita pandai, meraup uang dari mantan suami dan juga suaminya," omel Vera.
Echa masih menajamkan telinganya. Dia tahu wanita yang mereka maksud itu mamahnya. Otaknya sudah mulai panas. Jika, sudah menyangkut sang mamah, Echa tidak akan pernah bisa tinggal diam. Tapi, kali ini dia mencoba untuk menahan amarahnya.
"Kan kamu bisa kirim "kopi" lagi, buat dia klepek-klepek terus nerima kamu jadi asistennya." Senyuman licik pun tersungging di bibir Dea.
Dalam pikiran Dea, tidak masalah dia mengeluarkan uang banyak. Yang terpenting dia bisa mendapatkan Rion. Cara apapun akan dia lakukan. Otaknya sudah dipenuhi kelicikan.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua murid sudah keluar termasuk si kembar. Aksa dan Aska menghampiri Echa, tapi Vera yang merasa besar kepala.
"Hai," sapa Vera sok manis di depan Aksa dan juga Aska.
"Udah?" Echa pun membuka suara. Si kembar mengangguk pelan.
"Tunggu di sini dulu, mau bayar minum dulu." Echa meninggalkan si kembar sedangkan Dea dan Vera menatap ke arah si kembar.
"Itu siapa?" tanya Vera yang sudah masuk ke mode kepo.
"Pacar Daddy,'" sahut Aska.
Tubuh Vera pun limbung dan lemas seketika ketika mendengar penuturan Aska.
"Ayo." Si kembar pun mengikuti Echa masuk ke dalam mobil. Vera dan Dea tidak percaya dengan apa yang Aska katakan. Namun, mobil yang dipakai untuk menjemput si kembar pun bukan mobil yang biasanya.
Si kembar pun tertawa ketika sudah masuk ke dalam mobil. Dan seperti biasanya, mereka mengadukan telapak tangan mereka hingga menghasilkan bunyi.
"Berhasil," kata mereka berbarengan.
Echa mengernyitkan dahinya tak mengerti. Aska pun menceritakan semuanya. Echa tertawa dibuatnya. Kedua adiknya benar-benar raja usil.
"Yang satu suka sama Daddy, yang satu suka sama Ayah." Si kembar pun mengangguk.
"Mereka gak sadar diri, padahal wajah mereka biasa-biasa saja. Tapi, percaya diri sekali ingin mendekati Daddy dan Ayah," ketus Aksa.
Echa masih fokus ke jalanan, senyum tipis pun tersungging di bibirnya.
Permainan kita baru saja akan dimulai.
****
Setelah menuruti permintaan si kembar untuk makan bakso di tempat langganan mereka. Echa melajukan mobilnya ke arah kantor Rion. Namun, dia memulangkan Aksa dan juga Aska terlebih dahulu agar terhindar dari amukan dan ocehan sang mamah.
Sesampainya di sana, Echa disambut hangat oleh para karyawan ayahnya. Perubahan Echa yang benar-benar mencolok membuat semua karyawan kagum dengan penampilan anak dari atasan mereka.
Echa naik ke lantai atas, dilihatnya ada Kinanti di sana. Dia sudah cukup lama bekerja dengan ayahnya.
"Mbak," sapa Echa.
Kinanti yang sedang fokus pada laptopnya sedikit kaget mendengar ada yang menyapanya.
"Eh Neng Echa. Maaf," ucap Kinanti. Hanya seulas senyum yang Echa tunjukkan.
"Ayah ada?"
"Pak Bos sama Pak Arya sedang meeting. Neng Echa tunggu aja di dalam."
Echa masuk ke ruangan sang ayah, ruangan yang masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari ruangan ini.
Sedangkan di bawah, Dea sedang melihat ke arah kantor Rion. Dia memicingkan matanya ketika melihat mobil yang tidak asing terparkir di halaman kantor Rion. Tak lama mobil Rion tiba dan Dea tersenyum melihat Rion yang baru saja turun dari mobilnya yang diikuti Arya.
Ketika masuk ke dalam ruangan, Echa sedang terbaring di sofa. Membuat Rion tersenyum dan menghampiri putrinya, Sedangkan Arya hanya berdecak kesal. Dari zaman Echa kecil sampai sekarang, begitulah kelakuan Echa. Datang ke kantor ayahnya hanya untuk tidur di sofa.
Merasa ada yang membelai rambutnya, Echa pun membuka matanya. Dia langsung merubah posisinya. Sekarang dia sudah duduk dan memeluk pinggang sang ayah.
"Ada apa?"
"Ayah, Echa ingin kerja di sini ya. Gantiin Mbak Kinan jadi asisten Ayah untuk sementara waktu."
Rion terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Echa. Namun, Arya tersenyum mendengar keinginan Echa. Arya tahu, Echa memiliki misi tersembunyi.
Rion menatap ke arah Arya. Arya hanya mengangkat bahunya.
"Ayah harus rundingan dulu sama Mamah dan Papa kamu dulu. Takutnya mereka tidak mengijinkan," imbuh Rion. Echa pun mengangguk setuju.
Echa pulang ketika jam pulang kantor bersama Rion. Dia merangkul manja lengan ayahnya. Dengan isengnya Arya mengambil gambar mereka berdua yang sedang bergandengan tangan seraya tertawa.
"Dikira orang mah itu selingkuhan lu." Rion dan Echa pun tertawa.
Echa masih menggandeng mesra tangan ayahnya hingga keluar kantor. Dea yang sudah bergegas akan menghampiri Rion pun menghentikan langkahnya. Hatinya panas melihat Rion bergandengan dengan wanita muda. Apalagi dengan mesranya Rion membukakan pintu mobil untuk perempuan itu sambil membelai lembut rambutnya.
Tangan Dea pun mengepal keras, niat hati ingin mendekati tapi, malah tersaingi. Dea hanya bisa menatap mobil Rion yang meninggalkan parkiran.
****
Happy reading ....