Bang Duda

Bang Duda
332. Permata Berharga (Musim Kedua)



"Hai, Sayang." Kecupan lembut di kepala Ziva membuat Ziva dan Riana melebarkan mata tak percaya.


Ya, pelakunya adalah Aksa yang sudah berani mengecup ujung kepala Ziva. Apalagi senyuman manis khas Aksa, yang pastinya membuat para perempuan meleleh dibuatnya.


"Maaf ya, lama." Hanya seulas senyum yang Ziva berikan kepada Aksa. Sambil dia menetralkan hatinya yang sudah tidak karuhan karena perlakuan Aksa yang diluar skenario.


Diem dulu dong hati. Jangan dag dig dug gak jalas begini.


Begitulah batin Ziva berkata. Sedangkan Riana sudah tidak bisa berkata apa-apa. Dan sekarang, apakah dia harus mundur? Apalagi Aksa dengan tidak merasa jijik meminum minuman yang dipesan Ziva. Satu gelas berdua. Bukankah itu hal yang manis.


"Kenapa kamu ngajak pacar Abang ketemuan di cafe ini, Ri?" tanya Aksa sambil membenarkan rambut Ziva. Sungguh hati Ziva berdetak lebih cepat seperti atlet yang sedang lomba lari maraton.


"Pa-pacar?"


Satu kata yang keluar dari mulut Riana dengan terbata. Dan wajahnya sungguh sangat memperlihatkan keterkejutan tiada tara.


"Ya, Ziva ini pacar Abang. Dan dia sudah dijodohkan dengan Abang dari sejak kami kecil." Aksa mencoba berbohong terhadap Riana. Hanya dengan cara inilah, kemungkinan Riana akan menjauhinya.


Riana terus mencerna ucapan Aksa yang sangat menyakitkan itu. Dia mencoba untuk tidak percaya. Karena selama ini yang digadang-gadang akan dijodohkan dengan si kembar adalah Riana.


"Abang becanda kan," ucap lirih Riana.


"Kok becanda? Bukankah di suatu hubungan tidak dibenarkan akan adanya kepura-puraan?"


Sakit ....


Sungguh sakit hati Riana sekarang ini. Ingin rasanya dia menangis dan berlutut di hadapan Aksa agar dia menolak perjodohannya dengan Ziva. Hanya dia, hanya Riana yang pantas bersanding dengan Aksa. Tapi, itu tidak akan terjadi. Riana tidak akan merendahkan dirinya. Apalagi ada Ziva di depannya. Masih banyak cara lain yang bisa dia lakukan.


"Kenapa wajah kamu seperti tidak senang mendengar Abang pacaran sama Ziva." Hanya senyuman terpaksa yang Riana berikan.


"Selamat."


Sebuah kata yang terucap dengan nada yang sangat terpaksa. Akhirnya, Riana memutuskan untuk pergi meninggalkan Ziva dan juga Aksa. Dengan membawa luka yang menganga sangat dalam.


Setelah Riana pergi, Aksa menghela napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Lalu, menatap Ziva dengan raut yang sangat bersalah. "Maaf."


Ziva mengangguk pelan dan mengusap lembut pundak Aksa. "Gak apa-apa. Aku yang udah menyetujui drama ini. Dan aku juga harus siap terlibat lebih dalam," imbuhnya.


Aksa bisa bernapas dengan lega. Dan tak lupa dia mengucapkan terimakasih kepada Ziva.


"Kita pulang, ya. Aku ingin istirahat," kata Aksa. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Ziva.


Sedangkan Riana, terus saja air matanya menetes dengan begitu derasnya. Tidak ada isakan, hanya air mata yang terjun bebas dari matanya. Hingga sopir taksi online pun dibuat iba olehnya. Ingin rasanya sang sopir mengajak Riana berbincang. Tapi, melihat Riana yang sangat kacau. Sang sopir pun mengurungkan niatnya.


Tibanya di rumah, Riana segera berlari menuju kamarnya. Amanda dan Iyan yang sedang berada di teras pun dibuat bingung akan pola tingkah Riana. Apalagi, Riana yang pulang dengan air mata. Padahal, dia berangkat sangat terlihat bahagia.


Amanda segera membuka pintu kamar Riana. Dan dilihatnya, sang anak gadis sedang menangis sejadi-jadinya. Membuat hati Amanda perih mendengarnya.


"Ri." Usapan lembut di punggung Riana membuat Riana segera berhambur memeluk sang bunda.


"Bun, hik hiks hiks."


Sungguh sakit hati Amanda mendengar isakan lirih Riana. Dia ingin segera mencari tahu, tapi Riana masih terlihat syok.


"Kamu kenapa, Sayang?" Pertanyaan lembut yang mulai menenangkan Riana.


"Abang, Bun."


Dahi Amanda berkerut mendengar kata Abang. Siapa lagi jika bukan Aksa. Anak dari mantan suaminya.


"Ada apa dengan Abang?"


"Dia udah punya pacar. Ka-katanya ... dia dan pacarnya udah dijodohkan dari kecil. Hua ...."


Mata Amanda melebar dengan sempurna ketika mendengarnya. Setahu dia, Riana lah yang akan suaminya jodohkan dengan anak dari mantan istrinya. Dan tidak pernah terdengar obrolan tentang perjodohan si kembar dengan perempuan lain.


"Kata Bunda, Ayah yang udah sepakat sama orangtua Abang. Tapi, kenapa seperti ini, Bun. Ri, gak ikhlas, Bun. Abang hanya boleh menikah dengan Ri," lirihnya.


"Kenapa Kakak sekarang jadi orang pemaksa? Apa Ayah mengajarkan seperti itu? Malu, Kak. Malu!" Iyan mulai menimpali obrolan pilu dari Riana kepada Amanda.


"Tahu apa kamu, Iyan!" bentak Amanda. Iyan hanya mencebikkan bibirnya mendengar bentakan sang bunda.


"Meskipun Iyan masih kecil. Tapi, Iyan banyak tahu tentang bagaimana menjadi anak yang baik. Apalagi, Iyan dilahirkan dari orangtua yang baik-baik. Apalagi Ayah, gak pernah ngajarin Iyan bersikap manja dan pemaksaan kayak Kakak itu."


"Iyan pernah denger nasihat Ayah untuk Kakak Echa. Jika, perempuan itu harus seperti berlian dan permata berharga lainnya. Agar terlihat mahal di mata para lelaki. Bukan malah seperti permata KW yang bisa dimiliki oleh setiap lelaki. Awalnya beli mahal, tapi setelah bosan dibuang."


"Cukup Iyan! Mending kamu pergi. Kamu masih kecil gak usah campuri urusan Kakak," sentak Riana.


"Meskipun kecil Iyan memiliki pemikiran yang lebih baik dari Kakak yang ngakunya dewasa tapi malah seperti anak kecil yang gak bisa dapat mainan yang Kakak inginkan." Ucapan telak yang Iyan layangkan untuk Riana. Membuat mulut Riana terbungkam.


Setelah Iyan pergi. Riana mulai merengek kepada Amanda. "Bun, bilang ke orangtua Abang jangan jodohin Abang dengan perempuan lain. Ri, sayang sama Abang, Bun."


"Perempuan itu juga tidak tahu asal usulnya. Berbeda dengan keluarga kita yang telah Mommy Dan Daddy kenal sejak dulu. Apalagi Mommy adalah mantan istri Ayah. Sudah pasti sangat mengenal Ayah, kan."


Mendengar rengekan Riana dengan air matanya. Membuat Amanda tidak tega dibuatnya. "Nanti Bunda bicara sama Ayah."


Ada rasa bahagia di hati Riana. Hanya satu tujuan Riana. Yaitu, mendapatkan Aksa dengan cara apapun. Dia tidak rela jika, Aksa dengan perempuan lain. Egois sekali Riana.


Deru mesin mobil terdengar di halaman. Membuat Iyan segera berlari menghampiri si pemilik mobil.


"Ayah!" Sambutan dari si anak bungsu dan anak laki-laki satu-satunya Rion Juanda.


Seulas senyum Rion berikan kepada Iyan. Dan tak lupa, Iyan mencium tangan Rion.


"Iyan benci punya Kakak manja," ocehnya. Membuat Rion mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Ayah, bersih-bersih dulu, ya. Tunggu Ayah di gazebo belakang." Iyan mengangguk patuh membuat Rion sangat menyayangi Iyan. Mendidik Iyan sama seperti mendidik Echa.


Lengkungan senyum bahagia, kini berubah menjadi sendu. Dia teringat akan putri sulungnya. Yang tengah berada di negeri orang mengikuti suaminya.


"Bagaimana kabarmu, Dek? Bagaimana kabar calon cucu-cucu Ayah?" Gumaman yang menyiratkan akan kerinduan.


Rion bergegas masuk ke dalam kamarnya. Amanda mau menyambutnya sepulang kerja atau tidak sudah tidak menjadi perdebatan bagi Rion. Seolah dia hidup hanya dengan anak-anaknya. Dan nyatanya, bertahan karena anak. Lelah, itulah yang dirasakan oleh Rion. Dia yang banting tulang, tapi dia yang seperti kuda pecut. Dijadikan alat untuk sumber uang Amanda. Hanya saja Rion bukanlah orang bodoh. Semua kartu yang dipegang Amanda sudah banyak yang Rion bekukan. Alasannya, karena Amanda sering sekali menghambur-hamburkan uang dengan tidak jelas. Notif laporan dari semua kartu Amanda. Masuk ke dalam ponsel Rion. Itulah yang membuat Rion mulai sedikit muak dengan istrinya. Nafkah batin yang harusnya diberikan secara ikhlas oleh seorang istri kepada suami, malah sebaliknya. Rion seolah membayar tubuh Amanda ketika dia meminta haknya sebagai suami. Sungguh miris nasib Rion.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Rion keluar dari kamarnya dan hendak menemui Iyan di gazebo. Tapi, langkahnya di hadang oleh Amanda.


"Ada yang ingin Manda bicarakan sama Abang." Rion hanya menatap Amanda dengan tatapan dingin. Tidak ada jawaban, tapi langkah Rion membawanya ke lantai atas. Di mana ruangan kerjanya berada. Rion duduk di sofa single. Enggan untuknya duduk berdampingan.


"Ada apa?" Hanya dua kata itu yang terlontar dari mulut Rion.


"Masalah Riana."


Hanya decakan yang menjadi jawaban. "Kenapa lagi?"


"Abang kenapa sih kalo menyangkut Riana bawaannya dingin dan sinis. Riana itu anak Abang." Suara Amanda sedikit meninggi ketika melayangkan kalimat tersebut.


"Dia memang anakku. Tapi, aku tidak merasa mendidiknya menjadi anak yang manja seperti itu. Berbeda dengan Kakak dan adiknya. Yang menjadi anak penurut dan mandiri," sahut Rion.


"Gak usah bandingin Riana dengan anak Abang dan juga Iyan. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda," balas Amanda dengan wajah yang sudah memerah.


"Perbedaan karakter jika, dididik dengan benar tidak akan menjadikan Riana menjadi anak yang seperti itu," tukas Rion.


"Cukup Bang! Ujung-ujungnya Abang selalu nyalahin Manda," sentak Amanda.


Rion hanya tersenyum tipis. "Riana adalah duplikatmu yang sekarang. Bukan, Amanda yang dulu aku kenal."


Jleb!


Sangat menusuk ulu hati perkataan Rion barusan. Mulut Amanda terbungkam mendengarnya. Rion berdiri dari duduknya dan melangkah menjauh dari ruang kerjanya.


"Ini Maslah perjodohan Aksa dan Riana." Tangan Rion yang hendak memegang gagang pintu, diurungkan mendengar ucapan Amanda.


"Aksa sudah dijodohkan dengan anak lain," tambah Amanda.


"Bagus lah kalo begitu," jawab Rion setelah membalikkan badan menghadap ke Amanda.


Mata Amanda melebar ketika mendengar jawaban dari suaminya. "Maksud Abang apa?"


Tawa sinis terukir di bibir Rion. "Aksa atau Aska patut dijodohkan dengan anak perempuan yang baik. Bukankah orang baik jodohnya orang baik pula? Apalagi si kembar bukanlah keturunan dari keluarga biasa. Pasti sudah Gio selidiki bagaimana bibit, bebet dan bobot sebelum dia memutuskan untuk mencarikan calon jodoh untuk anak-anaknya."


"Maksud Abang Riana tidak cocok bersanding dengan si kembar, iya?"


"Jadikalah Riana sebagai permata yang berharga. Agar dia bisa bersanding dengan dua berlian milik Gio dan juga Ayanda."


...----------------...


Happy reading ...