
Kejadian itu begitu sangat cepat. Ketika seorang pria berteriak sangat keras barulah mobil itu berhenti. Dengan air mata yang sudah tidak bisa tertahan pria itu mendekat ke samping mobil. Jantungnya seperti berhenti bekerja. Aliran darah segar yang dia lihat. Dan separuh tubuh bayi itu sudah hancur.
"N-nak ...."
Suaranya tercekat dan tubuhnya bergetar sangat hebat.
"Apa ini anak Bapak?"
Pertanyaan yang membuat dunia Satria hancur berkeping-keping. Malaikat kecilnya harus pergi dengan cara tragis di tangan ibu kandungnya sendiri yang seperti iblis.
Satria ingin meraih bayi yang masih suci itu. Namun, dia ditarik oleh para warga. "Jangan, Pak! Kita tunggu polisi datang dulu."
Apa Satria harus diam saja ketika melihat anaknya seperti itu?
"Pengendara mobil ini sudah kami amankan, Pak," ujar salah seorang warga.
Satria sudah tidak fokus dengan apa yang diucapkan orang-orang di sana. Air matanya berjatuhan dan masih setia duduk di aspal di samping jenazah putranya yang terlindas ban mobil.
"Maafkan Papih, Nak. Maafkan Papih," gumam Satria yang terus menunduk dalam menatap pilu kepada buah hatinya.
Dua tangan mungil menghapus air mata yang membasahi wajah Satria. Seorang anak laki-laki yang sedang berada di hadapannya. Entah datang dari mana anak itu.
"Jangan menangis lagi, Papih. Aku baik-baik saja. Wajah cacatku sekarang kembali normal. Aku menjadi anak yang tampan sama seperti Papih." Senyum anak itu merekah. Wajahnya sangat bercahaya.
"Nanti tolong peluk jasadku. Dan bisikkan nama di telingaku. Ikhlaskan aku, Pih. Karena aku lebih baik seperti ini. Daripada harus membuat Papih semakin terluka. Aku tunggu Papih di pintu surga. Aku sayang Papih." Anak itu mengecup pipi Satria dan beberapa detik kemudian anak itu menghilang. Satria mencari ke segala arah, tetapi tidak ada.
Semakin menunduk dalam, itulah yang Satria lakukan. Hingga polisi datang ke TKP dan akhirnya jenazah putra Satria bisa diangkat. Dengan tangan yang gemetar hebat, Satria mengangkat tubuh putranya yang sudah tertutup koran. Dia dekap dan tak terasa air matanya tumpah.
Satria bersama dua orang polisi akan membawa jenazah sang bayi ke rumah sakit. Namun, langkah Satria terhenti ketika dia melihat Amanda yang tengah menangis. Satria menghampiri Amanda dan membuka koran yang menutupi wajah sang putra
"Aaa!" teriak Amanda.
"Inilah putra yang telah kamu lahirkan. Kemudian, kamu bunuh dengan cara yang kejam," sarkas Satria.
"Ti-tidak! Aku bukan pembunuh!" tolak Amanda.
Kini, semua mata tertuju pada Amanda. Seakan mata orang-orang yang menatapnya sedang menguliti tubuhnya hidup-hidup.
"Aku bukan pembunuh! Bukan!" teriaknya dan menjauhi kerumunan orang.
Amanda terus berlari dengan air mata yang tak berhenti dan memilih bersembunyi di tempat yang sepi. Amanda berhenti tepat di sebuah rumah kosong. Tempat yang menurutnya aman.
"Aku tidak membunuh anak itu," gumam Amanda.
"Dia ... dia yang telah mengejarku. Hingga aku berlari dan terserempet motor yang melaju kencang. Lalu ... bayi itu ...."
"Bayi itu lepas begitu saja dan dari arah yang sama ada mini bus yang melintas. Dan akhirnya ... akhirnya ...."
Hanya isakan tangis yang keluar dari mulut Amanda. Isakan yang sangat lirih dan menggema di rumah kosong itu. Membuat penghuni rumah itu merasa terganggu dan terbangun dari tidurnya.
...****************...
Ayo komen, komen, komen!!!