Bang Duda

Bang Duda
303. Tujuh Tahun Kemudian (Musim Kedua)



Tujuh tahun kemudian ....


Riana tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan juga cantik. Kini, dia berusaha lima belas tahun. Dan dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Rian Dwi Juanda yang berbeda jarak delapan tahun darinya dan kini memasuki kelas dua sekolah dasar.


"Ri, besok apa aja untuk MOS (Masa Orientasi Sekolah) hari pertama?" tanya Amanda.


"Udah Ri siapakan semua, Bun."


"Iyan, buku-buku kamu yang belum Bunda sampul ke siniin, Nak."


"Lagi disampul sama Ayah, Bun," sahut Iyan.


Ya, kedua anak Amanda lebih dekat dengan Rion ketimbang dirinya. Tapi, Amanda juga tahu bahwa Riana dan juga Rian sayang kepadanya.


"Ayah mau kopi?"


"Bikinin susu hangat aja, Bun," jawab Rion.


"Iyan ingin susu cokelat Bun," timpal Iyan.


"Ri, kamu mau apa?"


"Ri es cappucino aja, Bun."


Amanda menyiapkan apa yang diinginkan oleh kedua anaknya dan juga suaminya. Amanda benar-benar full menjadi ibu rumah tangga.


Dan Beeya si titisan Echa sudah mulai masuk ke SMP. Wajahnya sangat mirip Beby berkulit putih seperti porselen tapi, bermulut nyablak layaknya ayahnya.


"Bee, semuanya sudah siap untuk besok?" tanya Beby yang baru saja duduk bersama Beby dan juga Arya.


"Sudah, Mah. Palingan besok bentuk wajah Bee kayak boneka chucky," keluh Beeya.


"Gak sekalian boneka santet," timpal Arya.


"Papah tuh boneka fudu," canda Beeya. Arya pun menatap jengkel ke arah Beeya.


"Mah." Beeya bergelayut manja kepada Mamahnya.


Beeya adalah tunggal karena setelah keguguran Beby dinyatakan tidak bisa hamil lagi. Untungnya, Beby memiliki suami seperti Arya. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh akan kekurangannya.


"Kita sudah punya Beeya. Itu anugerah Tuhan yang paling indah."


Begitulah yang Arya ucapkan. Keluarga Arya pun tak mempermasalahkan keadaan Beby. Yang terpenting anak, menantu dan cucu mereka bahagia dan sehat. Itu sudah lebih dari cukup.


"Kenapa Bee?"


"Mamah gak nyesel nikah sama Papah?"


Mendengar ucapan Beeya mata Arya melotot ke arah Beeya dan ditanggapi tawa renyah oleh Beeya. Tangan Arya sudah berada di atas perut Beeya dan akan menggelitiki perutnya. Karena itu adalah kelemahan Beeya.


"Ampun, Pah. Ampun," teriak Beeya seraya tertawa.


Beby hanya memandang hangat ke arah anak dan suaminya. Mereka sangat dekat meskipun mereka akan saling mengejek satu sama lain.


Keluarga Kano dan juga Sheza menjadi keluarga yang paling sempurna. Keysha tumbuh sangat baik dengan didikan Kano dan juga Sheza. Menjadi murid terpandai di kelasnya dan Keysha lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Sedangkan Kaza, tumbuh menjadi anak yang jahil dan sangat klop jika disandingkan dengan Beeya.


"Dek, masker wajah Kakak di mana?" teriak Keysha.


"Ini," tunjuk Kaza ke kanvas lukis.


Dada Keysha bergerak turun naik dengan cepat. Hari ini sudah berapa kali Keysha mendapat keusilan dari Kaza.


Akhirnya, jeweran tangan Keysha mendarat di telinga Kaza. "Sakit Kak, ampun ... sakit," teriak Kaza.


Sheza dan Kano segera menghampiri dua anaknya. Sheza sudah bertolak pinggang dan Kami hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa lagi?" tanya Kano.


"Pih, masa masker wajah Key dipake ngelukis sama Kaza," adu Keysha.


"Za gak punya warna ini Pih," tunjuknya pada warna yang digunakan Kaza untuk melukis.


"Ini apa?" ucap Keysha menunjukkan cat warna yang sama dengan warna maskernya.


"Za." Kaza segera menunduk ketika suara sang Mamih sudah menggelegar.


"Maaf."


"Kamu inget kan apa hukumannya kalo jailin Kakak?" ucap Sheza.


"Za harus bersihin kamar Kakak selama satu Minggu."


Berbeda orangtua berbeda didikannya. Inilah yang Kano dan Sheza didik untuk putra-putri mereka.


Salah satu pelayan rumah menghampiri Ayanda yang sedang berada di ruang keluarga. Meskipun sudah hampir berusia setengah abad tapi, kecantikannya masih terpancar sangat sempurna.


"Maaf Nyonya, ada tamu."


"Siapa?"


"Teman sekolah Den Aksa." Si pelayan kemudian berlalu meninggalkan Ayanda.


Ayanda menghampiri anak gadis yang berdiri di luar rumah. "Cari siapa?" tanya Ayanda.


Mata gadis itu berbinar ketika melihat langsung kecantikan ibunya Aksa yang menjadi berita hangat dikalangan para penggemar Aksa. Mereka yang pernah datang ke rumah Aksa tidak bohong jika, Aksa memiliki ibu yang sangat cantik.


"Aksanya ada, Tante?" ucapnya sopan.


"Ada perlu apa?"


"Hanya ingin mampir, Tante. Tadi sekalian lewat," jawab si teman Aksa.


"Kamu siapanya Aksa?" selidik Ayanda.


"Saya pacarannya Aksa."


Ayanda menghela napas kasar. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menelisik inchi demi inchi wajah perempuan yang berada di depannya.


"Kamu adalah cewek ke 1001 yang mengaku pacarnya Aksa. Tapi, Aksa selalu bilang jika dia tidak memiliki pacar. Dia hanya ingin fokus belajar," tegas Ayanda.


"Tapi, saya emang ...."


"Siapa Mom?" Tiba-tiba Aksa datang dari belakang.


"Kamu kenal dia?" Aksa menggeleng.


"Dia mengaku pacar kamu," imbuh Aksa.


"Hanya mengaku 'kan. Kecuali, Abang yang mengaku kepada Mommy bahwa Abang punya pacar baru Mommy harus percaya," sahut Aksa seraya memeluk tubuh Ayanda.


"Udah yuk, masuk ke dalam. Biar security yang urus dia," ucap Aksa dan membawa Mommy-nya pergi dari sana.


"Mommy tuh pusing, Bang. Setiap ada cewek yang datang ke sini ngakunya cewek kamu. Gimana kalo ada yang datang bilang dia hamil anak kamu," omel Ayanda.


"Astaghfirullah si Mommy. Abang gak sebejat itu, Mom. Pacar aja gak punya," sahutnya.


"Abang kan pernah janji sama Mommy, Daddy dan juga Kakak. Kalo Abang gak akan pernah nyakitin wanita yang Abang sayang. Abang akan jagain wanita yang Abang sayang seperti Abang jagain Mommy dan Kakak."


Ayanda memeluk putra sulungnya. Beginilah perlakuan Aksa terhadap Ayanda serta Echa. Selalu menjadi pelindung untuk dua wanita kesayangannya.


"Idih, Abang kayak bocah," ledek Aska.


"Biarin, Wek."


Kini Aska bergabung memeluk tubuh Ayanda tak kalah eratnya. "Katanya kayak bocah, lu malah peluk Mommy lebih erat dari gua," ejek Aksa.


"Biarin, ini juga 'kan Mommy Adek." Ayanda hanya bisa menggeleng ketika mendengar pertikaian si kembar.


"Ngapain kalian peluk-peluk Mommy?" sentak Gio yang baru saja pulang dari kantor.


"Penguasa tubuh Mommy datang," cibir Aksa.


"Suami posesif coming," ledek Aska.


Mereka berdua pun mundur menjauhi Mommy mereka. Ketika Gio datang, Ayanda hanya boleh dipeluk olehnya. Begitulah peraturan yang Gio buat.


"Dad, ganti baju dulu. Kotor itu, kasihan kulit Mommy," imbuh Aksa.


"Dad, emang gak malu sama kami?" tanya Aska.


"Ngapain harus malu, kalian anak Daddy. Daddy harus memberi contoh yang baik untuk kalian."


"Daddy bersikap seperti ini supaya nanti ketika kalian sudah memiliki istri, kalian akan bersikap sama seperti Daddy. Meskipun umur sudah tidak muda lagi tapi kasih sayang seperti pasangan muda."


"Daddy salah ngasih nasihat," imbuh Ayanda. Gio mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Nasihat Daddy gak cocok sama para jomblowan," candanya.


"Idih si Mommy minta Adek peluk, ya."


"Mommy kalo ngomong suka bener," sahut Aksa seraya tertawa.


Bagaimana keseruan masa-masa remaja mereka? Apakah ada yang akan saling jatuh cinta? Tetap baca Bang Duda ya ...