
Security pun menarik paksa Amanda serta Riana untuk keluar dari kediaman Gio. Tidak ada penolakan dari keduanya. Hanya tatapan tajam yang Riana berikan kepada Echa. Dan Echa menatap bunda dan adiknya dengan tatapan sulit diartikan.
"Maafkan Echa, Bunda. Maafkan Kakak, Riana," batinnya.
Semua mata tertuju pada Echa sekarang. Seolah mereka mengatakan ada apa dengan kamu? Echa hanya menghela napas kasar, setelah itu dia menunduk dalam.
"Banyak perubahan dalam diri Echa sekarang ini. Sesabar-sabarnya Echa, pasti ada batasnya. Selemah-lemahnya Echa, pasti ada kekuatan yang Echa sembunyikan. Bukankah semut yang terus diinjak pun akan menyerang jika terus diperlakukan seperti itu? Itulah Echa sekarang," terang Genta.
"Waktu empat tahun bukan waktu yang singkat untuk Echa mengenal dunia luar, budaya luar dan pastinya dia sudah banyak menemui berbagai macam pola tingkah manusia. Di situlah pembelajaran hidup sesungguhnya dimulai. Tanpa kalian tahu, perlahan kelemahan Echa, kerapuhan Echa berubah menjadi kekuatan yang luar biasa yang dia miliki sekarang ini. Contohnya saja ketika Echa harus mengikuti suaminya ke London. Apa kalian pikir Echa baik-baik saja di sana? Apa Echa pernah mengeluh akan hidupnya di sana?"
"Apalagi di awal kehamilannya. Echa sangat sedih karena harus menghadapi masa-masa hamil muda seorang diri," papar Genta.
"Kak," panggil lirih Ayanda.
"I'm okay." Seulas senyum Echa tunjukkan tanpa air mata dan kesedihan. Ayanda berhambur memeluk tubuh putrinya.
"Maafkan Mamah, Kak."
"Tidak, Mah. Ini sudah menjadi keputusan Echa dan suami Echa untuk tidak merepotkan siapapun. Termasuk, Papih. Suka duka kami lewati berdua. Agar nantinya kami terbiasa dalam menghadapi kesukaran dalam rumah tangga. Karena kami tahu, berumah tangga itu tidak selalu manis." Sungguh ucapan yang luar biasa yang Ayanda dengar dari mulut Echa.
"Kamu. tinggal di sini, ya." Echa menggeleng.
"Setiap ucapan yang sudah Echa lontarkan, pasti akan Echa lakukan. Echa akan tinggal di apartment Radit sebelum Radit menemukan rumah yang cocok untuk kita tempati."
"Rumah ini cukup untuk kita, Sayang," ujar Gio.
"Tidak, Pa. Echa ingin hidup mandiri. Jika, kalian rindu, datanglah ke apartment kita. Kamu gak keberatan kan, Ba." Radit menggeleng seraya tersenyum.
"Ayah, tolong suruh Pak Mat untuk antar mobil Echa ke apartment malam ini juga." Rion mengangguk.
Echa pun pamit kepada semuanya karena dia tidak ingin berlama-lama di rumah sang mamah. Rumah yang membuat sikap kejamnya muncul. Dia ingin segera cepat pergi.
Di dalam mobil, Radit terus mendekap hangat tubuh istrinya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Radit tahu, istrinya sedang tidak baik-baik saja. Sesampainya di parkiran apartment, Radit terus menggenggam tangan istrinya hingga menuju ke unit miliknya dilantai sebelas.
"Ba, Tinggalkan aku sendiri, ya." Radit yang hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur pun mengangguk pelan. Sebelum dia pergi, dia mengecup kening istrinya sangat dalam.
"Jangan berlarut-larut." Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Echa.
Radit seakan tahu apa yang sedang dirasakan oleh istrinya. Beginilah Echa, ketika sedang ada yang mengusik hatinya dia akan memilih untuk menyendiri. Dia mengambil ponselnya, lalu memutar sebuah lagu yang menjadi lagu favoritnya ketika dia ingin sendiri.
🎶
Aku hanya memanggilmu, Ayah ...
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, Ayah ...
Echa menunduk dalam dan air matanya meluncur deras. Dia menangis dan terisak cukup keras.
"Maafkan Echa, Ayah. Maafkan, Echa," lirihnya.
Tanpa Echa sadari, ada dua pasang mata yang melihat betapa sedihnya Echa yang sedang terduduk di atas tempat tidur dengan air mata yang terus berjatuhan.
Dengan langkah pelan, dia menghampiri Echa lalu, mengusap lembut rambut Echa. Echa mulai menegakkan kepalanya dengan air mata yang sudah membanjiri wajah. Dilihatnya, orang itu pun menangis membuat Echa semakin terisak dan memeluk pinggangnya.
"Maafkan Echa, Ayah." Satu kalimat yang terus Echa ulang.
"Kamu tidak salah, Dek. Tindakan kamu sudah benar," jawab Rion dengan suara berat.
"Itu semua bukan hak Ayah. Itu adalah milik Mamahmu yang sudah diberikan kepadamu. Toko milik Ayah hanya ada beberapa saja. Dan mulai besok kamu berhak mengatur keuangan Ayah. Karena Ayah kerja sebagai anak buah kamu sekarang." Dengan cepat Echa menggeleng. Sakit sekali Echa mendengar ucapan itu.
"Ayah tetap yang akan memimpin toko itu. Echa hanya akan mencantumkan nama Echa sebagai pemiliknya. Semuanya tetap Ayah dan Om Arya yang pegang."
"Maafkan Echa sudah berkata kasar kepada Bunda dan Riana. Benar kata Bunda Echa memang tidak sopan," keluhnya.
"Tidak, Dek. Ada kalanya kamu juga harus memberi pelajaran kepada yang lebih tua dari kamu jika memang dia salah. Karena orang yang lebih tua dari kamu tidak selamanya benar juga. Saling mengingatkan itu perlu. Ayah bangga sama kamu."
Echa semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang sang ayah. Semakin hari, ayahnya semakin membuatnya jatuh cinta. Perubahan ayahnya sangat terlihat jelas.
"Ayah tidak ingin kamu selalu di kambing hitamkan oleh Bundamu. Ketakutan Bundamu terlalu berlebihan. Kasih sayang Ayah terhadapmu, Riana serta Iyan tidak ada yang beda. Ayah menyayangi kalian semua. Kalian adalah anak-anak kebanggan Ayah."
Mendengar ucapan yang sangat tulus dari sang ayah membuat hati Echa meringis. Sakit rasanya ketika dia mengatakan ucapan yang teramat menyakitkan kepada bunda dan adiknya tadi.
"Ayah tahu bagaimana kamu. Kamu berkata kejam, tapi hatimu masih selembut sutra." Rion membelai rambut sang putri dengan penuh cinta.
"Maafkan Ayah, sudah melewatkan tumbuh kembang ketika kamu balita. Maafkan Ayah, yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga dengan Mamahmu. Maafkan Ayah sudah membuatmu menjadi anak broken home," sesalnya.
Echa melonggarkan pelukannya. Dengan pelan dia berdiri dan mengusap air mata sang ayah. Matanya menyiratkan akan kesedihan yang sangat mendalam.
"Ini bukan salah Ayah. Ini sudah ketentuan Tuhan. Meskipun kasih sayang Ayah datang terlambat. Echa sangat menyayangi ayah. Echa sudah mengubur dalam-dalam masa lalu Echa. Yang Echa inginkan hanya kebahagiaan. Echa ingin bahagia bersama Ayah, Mamah, Papa dan keluarga Echa."
Terharu, itulah yang Rion rasakan. Benar apa yang dikatakan oleh Genta tentang anaknya ini. Berada di negeri orang membuatnya tumbuh menjadi wanita yang berbeda. Echa yang dulu sudah berganti dengan Echa yang sangat dewasa. Meskipun, kelembutan hatinya masih tetap ada dan tidak akan hilang.
"Ayah, bolehkah Echa meminta sesuatu?" Rion sudah tau apa yang diinginkan oleh putrinya ini.
"Jangan bercerai dengan Bunda," lirihnya.
Hanya usapan lembut yang menjadi jawaban dari Rion. "Jangan pikirkan rumah tangga Ayah, Dek. Ayah tahu apa yang harus Ayah lakukan."
...----------------...
Happy reading ....