
Semenjak kemarahan Rion di rumah Ayanda kemarin, Rion benar-benar mendiamkan Amanda. Setiap pulang kerja dia hanya akan menemui Riana dan bermain bersama Riana. Tak pernah sekalipun menyapa Amanda.
Ini hari ketiga setelah kejadian di rumah Ayanda. Amanda benar-benar merasa sendiri. Tidak ada yang bisa dia ajak bicara. Grup WhatsApp pun sepi dan Beby pun tidak pernah berkunjung ke rumahnya lagi. Biasanya hampir tiap hari Beby selalu main ke rumah Amanda. Tapi, semenjak Echa pergi Beby dan Arya seakan enggan menginjakkan kaki ke rumahnya. Membahas pekerjaan pun selalu suaminya lakukan di rumah Arya dengan membawa Riana.
Setiap malam pun suaminya akan tidur di kamar Echa. Memeluk foto putri tercintanya. Terkadang dia tidur bersama Riana di kamar Echa.
Pagi ini, hatinya sangat sakit ketika putri kecilnya menanyakan Echa. "Yah, tata pan Puyang?" Riana menatap Rion dengan tatapan sangat memilukan.
"Li tayang tata, Yah." Rion memeluk tubuh putri kecilnya. Mencium kening Riana dengan penuh kasih sayang.
"Kakak akan segera pulang, dan akan bermain bersama Riana. Jangan pernah buat Kakak sedih, oke."
"Ote."
Mbak Ina yang mendengar percakapan Riana dan ayahnya meneteskan air mata. Dia sangat melihat betapa majikannya itu terpukul. Dia sangat bersedih, hampir setiap malam Mbak Ina mendengar Rion memanggil-manggil Echa di dalam tidurnya.
Setelah kepergian Rion, Amanda menghampiri Riana. "Main sama Bunda ya," ucap Amanda.
Riana menggeleng. "Li ingin tama mbak," ucapnya dan berlari mencari pengasuhnya. Sungguh sakit hati Amanda, anak kandungnya sendiri kini menjauhinya. Inilah yang dirasakan suaminya, dijauhi oleh putri kandungnya sendiri.
Amanda mencoba masuk ke kamar Echa. Dilihatnya kamar itu sangat terawat. Karena Mbak Ina membersihkannya setiap hari. Ada sebuah buku layaknya buku diary. Amanda membukanya, dilihatnya lembar per lembar. Ternyata ini buku harian Echa ketika ayah dan mamahnya masih bersama.
Dia membuka belakang buku itu. Matanya nanar ketika membacanya.
Bunda memang bukanlah ibu kandungku. Tapi, aku selalu menganggap Bunda seperti Mamahku sendiri. Ayah saja bisa mencintai Bunda, kenapa aku tidak bisa menyayangi Bunda?
Air mata Amanda menetes membacanya, tangannya membuka lembaran berikutnya.
Kenapa hatiku sakit ya ketika Bunda berucap seperti itu? Apa memang aku yang sedang sensitif saja. Aku yakin, Bunda tidak seperti itu. Bunda baik.
Dada Amanda semakin sesak membacanya. Dilihatnya tanggal di atas catatan tersebut. Tanggal di mana Echa menginap dan tidur di gazebo.
"Echa," lirihnya.
Dilembaran terakhir tertulis :
Ayah, Echa hanya memeluk Ayah. Echa hanya ingin curhat sama Ayah. Echa sedang tidak baik-baik saja, Ayah. Echa butuh pundak Ayah untuk bersandar. Echa butuh dekapan hangat ayah yang selalu menenangkan. Kenapa sekarang rasanya begitu sulit untuk melakukan semua itu? Ayah, anak Ayah ini sedang patah hati. Jadilah obat untuk anak Ayah ini.
Amanda mendekap erat buku harian Echa. Dia benar-benar merasa bersalah. Ketika dia berkata ketus pun Echa masih berpositive thinking. Dan Echa benar-benar menyayanginya apalagi ayahnya.
Di dalam buku diary terselip foto Echa yang sedang menggendong Riana sewaktu bayi. Dibelakang foto itu tertulis:
Kamu beruntung, RI. Tidak seperti Kakak, tapi Kakak ikut bahagia setidaknya kamu mendapatkan kasih sayang dari Ayah. Berbeda dengan Kakak, yang harus berdoa dan memohon siang-malam kepada Tuhan agar dipertemukan dengan Ayah. Kakak sayang kamu, Riana.
Bagai diujam batuan besar hati Amanda. Penyesalan demi penyesalan kini Amanda rasakan. Wajar jika Echa marah padanya. Dia memang sudah keterlaluan kepada Echa. Dia ibu tiri yang jahat.
Ketika Amanda sedang menangis di kamar Echa. Mbak Ina memanggilnya. "Maaf Bu, ada Pak Juna di luar," imbuhnya.
Amanda bergegas keluar dan tak lupa menghapus air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Amanda langsung berhambur memeluk tubuh Juna.
"Kenapa Nda?" tanya Juna kaget. Karena tiba-tiba adiknya menangis tersedu di dalam pelukannya.
"Nda ibu yang jahat Kak. Jahat," lirihnya.
"Duduk dulu, kamu ceritain semuanya biar Kak Jun ngerti." Amanda menceritakan semuanya. Dan tidak dipungkiri wajah Juna pun sedikit terkejut.
Amanda mengakhiri ceritanya dengan air mata yang terus menetes. Juna mengelus punggung Amanda.
"Kenapa kamu tidak mencontoh alamarhumah Mamih?" tanya Juna. Amanda pun terdiam.
"Mamih adalah seorang ibu yang hebat. Kamu anak kandung Mamih dan Kak Jun adalah anak angkat Mamih. Apa pernah Mamih membeda-bedakan kamu dan Kak Jun?" Amanda menggeleng.
"Apa pernah Mamih memarahi Kak Jun tanpa sebab?" Lagi-lagi Amanda menggeleng..
"Mamih selalu berlaku adil kepada kita. Meskipun Kak Jun tidak terlahir dari rahimnya, tapi Kak Jun sangat merasakan kasih sayang Mamih amatlah tulus kepada Kak Jun. Begitupun kepada kamu, Mamih sangat menyayangi kamu."
"Apa ketika Kak Jun diangkat jadi anak Mamih ada rasa cemburu di hati kamu?" Amanda menggeleng.
"Echa seperti kamu, Nda. Dia tidak iri dan cemburu dengan kehadiran Riana. Dia seperti itu karena kalian berdua terlalu memperhatikan Riana dan seolah mengabaikannya. Dia juga punya perasaan, Nda. Apalagi diusianya itu sedang moody-moodynya."
"Kamu harusnya menjadi ibu yang bijak, menyatukan Riana dengan Echa. Bukan malah membuat Riana menjauhi Echa. Kasihan Echa, Nda. Rion juga ayah kandungnya, bukan hanya ayah dari Riana," terangnya.
"Rion sangat menyayangi Riana sama halnya yang sangat menyayangi Echa. Kak Jun yakin, Rion akan adil membagi kasih sayangnya kepada Echa dan juga Riana."
"Apa yang harus Nda lakukan?" tanya Amanda yang sudah berurai air mata.
"Minta maaf kepada suamimu, lalu meminta maaflah kepada Ayanda dan juga suaminya. Dan yang utama meminta maaflah kepada Echa," jawab Juna.
Amanda mengangguk, lalu dia menyuruh Mbak Ina untuk menyiapkan makan siang yang akan dia bawa ke kantor Rion.
Juna bersikap netral tidak memihak kepada siapapun. Karena dia juga pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari ibu angkatnya yaitu Mamihnya Amanda. Sikap Mamihnya Amanda berbanding terbalik dengan sikap Amanda kepada Echa.
Amanda pergi ke kantor Rion dan Juna mengajak Riana bermain ke sebuah mall. Dengan perasaan takut, Amanda menaiki lantai atas ruko suaminya. Sapaan hangat dari security dan pegawai lain hanya dibalas dengan senyuman oleh Amanda.
Setibanya dia di lantai atas, hanya ada Kinanti di sana. "Ibu mau bertemu Pak Bos?" Amanda pun mengangguk.
"Sebentar Bu, Ibu silahkan duduk di situ dulu." Amanda mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Rion menyuruh Amanda tunggu di sofa depan ruangannya.
Setelah Kinanti keluar dari ruangan Rion, dia menghampiri Amanda. "Maaf Bu, Pak Bos sedang banyak pekerjaan jadi tidak bisa diganggu," ucapnya lembut.
"Ya sudah, saya akan menunggu suami saya di sini. Sebentar lagi jam makan siang, pasti dia akan keluar." Kinanti hanya menghela napas kasar. Padahal bosnya menyuruhnya untuk mengusir Amanda. Karena Pak Bosnya sangat tidak ingin melihat wajah Amanda.
Satu jam sudah Amanda menunggu Rion, dia dengan sabar menunggu suaminya. Tak lama kemudian, Rion dan Arya keluar dari ruangannya. Amanda berdiri melihat suaminya dan memamerkan senyuman manis, namun tak digubris oleh Rion.
Dia melewati Amanda begitu saja. Seolah pura-pura tidak melihat. Begitupun Arya, Kinanti hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan atasannya dan juga istrinya.
"Bini lu di dalam," ujar Arya.
"Gak penting."
Arya pun memilih melajukan mobilnya daripada menanyakan perihal rumah tangga sahabatnya ini. Pernah sekali terlontar dari mulut Rion, dia ingin bercerai dengan Amanda.
Amanda mematung di tempatnya. Tak terasa bulir bening membasahi pipinya. Dia menitipkan makanan yang dia bawa kepada Kinan. Dan dia memilih pergi dari kantor suaminya.
Di dalam mobil air mata Amanda terus menetes. Diabaikan suaminya sangatlah sakit. Sekarang dia akan menuju kediaman Ayanda. Dia akan meminta maaf kepada Ayanda.
Setelah menekan bel, seorang pelayan membukakan pintu untuknya. "Apa Mbak Ayanda ada?" tanya Amanda.
"Saya ingin bertemu dengan Mbak Ayanda." Dia bersikap kekeh.
"Maaf, Nyonya sedang tidak ada di rumah." Pelayan pun langsung menutup pintu rumah. Amanda memejamkan matanya, semua orang kini membencinya, menjauhinya dan tak ada seorang pun sahabatnya yang menanyakan kondisinya. Mereka hanya menanyakan perihal Echa, Echa dan Echa.
Amanda pulang dengan langkah gontai. Juna yang melihatnya sudah dapat memastikan adiknya tidak menerima maaf dari suaminya dan juga mantan istri dari suaminya.
"Sabar, berusahalah terus. Yang terpenting kamu sudah menyesali perbuatan kamu. Dan sadar akan kesalahanmu."
Malam pun tiba, Rion baru pulang. Seperti biasa dia akan ke kamar Echa untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Pakaiannya sudah dipindahkan ke kamar Echa. Rion mengerutkan dahi ketika buku harian putrinya tergeletak di atas tempat tidur.
"Mbak, tadi siapa yang masuk ke kamar putriku?" tanya Rion kepada Mbak Ina. Mendengar suara suaminya, Amanda bergegas keluar kamar.
"Anu Pak, Ibu," jawab takut Mbak Ina.
"Besok kunci kamar putriku, tidak ada yang boleh menginjakkan kakinya di kamar putriku," sentaknya.
"Ba-baik Pak." Amanda yang sedang berdiri tak jauh dari suami dan pembantunya merasa tersentak dengan ucapan Rion. Hatinya sangat sakit, suaminya kini sangat membencinya. Dia pun dilarang masuk ke dalam kamar Echa.
Setelah selesai berganti pakaian, Rion pergi ke kamar Riana untuk mengecek putrinya. Dia tersenyum ketika Riana sudah menyambutnya.
Rion pun bermain dengan Riana. Senyum Rion mengembang namun, masih terlihat siluet kesedihan di wajahnya. Setelah Riana tertidur barulah dia ke meja makan. Sudah menjadi kebiasaanya dia makan malam setelah putrinya tertidur. Baru saja satu suap suara Amanda menghentikan makannya.
"Bang, Manda ingin bicara sama Abang," ucapnya.
Rion langsung berdiri dan meletakkan sendok dan garpu dengan sedikit keras. Dia beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Amanda.
Kini, Amanda bersimpuh di kaki suaminya, seperti yang dilakukan Rion kepada Ayanda. "Maafkan Manda, Bang," ucapnya.
"Apa bisa maaf mu itu mengembalikkan putriku? Apa bisa maafmu itu membuat putriku memaafkan aku? Apakah bisa maafmu mengembalikkan hubungan ku dengan Ayanda? Apa bisa?" bentak Rion. Dengan kasar Rion melepaskan rangkulan tangan Amanda di kakinya.
"Aku sudah muak dengan kamu," sentaknya.
Rion berlalu meninggalkan Amanda dan Amanda menangis sejadi-jadinya di lantai. Mbak Ina hanya memandang pilu, selama dia bekerja di sini tidak pernah sedikit pun Pak Rion mengeraskan suaranya kepada siapapun.
Semakin hari hubungan Amanda semakin menjauh. Di mata Rion Amanda sudah tidak ada artinya. Dia sudah terbiasa sendiri, dan hanya bersama Riana. Hari ini tepat dua Minggu kepergiaan Echa. Arya memberitahu Rion jika, Echa akan kembali ke Jakarta. Betapa bahagianya hati Rion.
Rion mencoba mendatangi rumah Ayanda dan juga Gio. Kini, Rion berbicara dengan Gio. Dan Gio sudah membantunya untuk berhubungan baik kembali dengan Ayanda. Meskipun Ayanda masih bersikap dingin kepadanya.
"Lu jemputnya dari kejauhan aja, ya," ujar Gio.
"Gak apa-apa, yang penting gua bisa liat anak gua baik-baik aja," lirihnya.
Ayanda, Gio, Arya, Beby, Azka dan juga Sheza sudah ada di Bandara. Dia akan menjemput Echa. Tak lama seorang gadis cantik tersenyum ke arah mereka. Air mata Ayanda tak bisa dia bendung. Lebih dari dua Minggu dia tidak bisa bertemu dengan putrinya.
"Miss you, Mah," ucap Echa yang tak kuasa menahan tangisnya. Mereka berpelukan cukup lama. Lalu dia beralih kepada papanya. Tangisnya pun tumpah kembali.
Di tempat yang tak jauh berbeda, ada sepasang mata yang tak kuasa menahan air matanya. "Kamu kembali, Dek. Maafkan Ayah."
Setelah menyapa semuanya, mata Echa seakan mencari seseorang. "Cari siapa, Kak?" Echa hanya menggeleng lalu tersenyum.
Mereka tahu, Echa sedang mencari ayahnya. Radit bilang, Echa selalu berbicara tentang ayahnya. Karena sesungguhnya dia tidak membenci Rion. Hanya sebatas rasa kecewa kepada ayahnya.
Hari-hari berganti, Rion selalu berangkat kerja lebih awal hanya untuk melihat putrinya di sekolah. Bibirnya selalu melengkung dengan sempurna ketika melihat putrinya memakai seragam sekolah.
"Ayah ingin memeluk kamu, Dek."
Keputusan Echa untuk tidak kembali ke rumah Ayahnya benar terjadi. Dia sama sekali tidak ingin mendengar tentang ayah, Riana dan juga ibu sambungnya. Dia ingin merasakan ketenangan. Meskipun pada malam hari dia pasti menangis melihat foto dirinya dan juga ayahnya. Tidak dipungkiri, dia juga merindukan ayahnya.
Ketika Echa terlelap, Rion selalu datang ke rumah Ayanda dan juga Gio. Seperti malam ini, dengan pelan Rion membuka pintu kamar Echa. Dia selalu menangis ketika masuk ke dalam kamar putrinya.
Dia mendekat ke arah Echa, membelai rambut putrinya lalu mengecup keningnya. "Ayah sayang kamu, Dek."
Ayanda dan Gio yang selalu menyaksikan hal itu hanya dapat menghela napas kasar. Ada rasa iba di hati Gio dan Ayanda. Tapi, dia juga tidak bisa memaksa putrinya. Memorinya tentang masa kecilnya tertanam jelas di otaknya.
"Makasih, Dek. Makasih, Gi. Udah bolehin gua ketemu anak gua," ujarnya.
"Tidak ada yang bisa merubah kenyataan yang ada. Lu tetap ayah kandung Echa," sahut Gio.
"Kalo Echa ingin sesuatu, kabarin aku ya. Apapun akan aku belikan untuk putri kita." Ayanda mengangguk dengan seulas senyum kepedihan.
Setiap pagi Rion rela berangkat lebih awal, dan malam ketika orang-orang tertidur dia rela keluar rumah hanya untuk mengecup kening putrinya. Perjuangan seorang Ayah demi melihat putrinya meskipun hanya dari kejauhan.
Setelah pulang sekolah, Echa dan dua sahabatnya pergi ke mall. Mereka ingin menghabiskan waktu sebelum fokus ke ujian. Tiga bulan sudah, Echa tidak menghubungi Rion. Dia benar-benar merealisasikan ucapannya.
Ketika sedang bercanda gurau, tak sengaja Echa menabrak seorang pria yang sedang menggendong balita. Hingga paper bag yang dibawa balita itu terjatuh.
"Maaf," ucap Echa dan langsung mengambil mainan yang berserakan. Ketika akan menyerahkan paper bag itu, mata Echa nanar. Ayahnya sedang menatapnya dengan air mata yang sudah menganak.
"Ini punya kamu." Echa mengembalikan paper bag itu kepada Riana. Seulas senyum dia tunjukan untuk tiga orang dihadapannya dan dia pun bergegas pergi meninggalkan ayah, Riana dan ibu sambungnya
"Tata," teriak Riana.
Hati Echa sangat sakit mendengar panggilan adik kecilnya itu. Baru kali ini Riana memanggilnya Kakak.
Echa memilih pulang duluan dengan memesan taxi online Dan meninggalkan kedua sahabatnya.
"Om, Tante, kami permisi," ucap sopan Mima dan Sasa. Dua sahabat Echa pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Echa dan juga ayahnya. Echa sama sekali tidak bercerita kepada mereka.
Di sinilah Echa sekarang, di sebuah taman kota seorang diri. "Echa kangen Ayah," lirihnya
"Maafkan Echa, hati Echa masih sakit Yah. Ketika hati Echa sudah mulai membaik, Echa pasti akan datang menemui Ayah. Maafkan Echa, Yah," ucapnya oelan dengan air mata yang tidak bisa dibendung.
Begitu dalam dan besar cinta seorang Echa untuk ayahnya. Tidak ada kata benci di hatinya untuk ayahnya yang sudah menelantarkannya berkali-kali.
Tidak jauh dari Echa, Rion menangis mendengar ucapan putrinya. Putri yang dia anggap sudah membencinya ternyata tidak. Dia masih merindukan Rion. Dia masih menyayangi Rion. Dan Echa sama sekali tidak menyimpan dendam kepada Rion.
"Ayah akan menunggumu, Dek. Selalu menunggu kamu untuk datang memeluk Ayah," ucapnya dengan nada yang berat.
****
Happy reading ....
Kalo ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun. Aku sedih loh ..
Dan jangan lupa sisipkan komen kalian biar aku semangat nulisnya.