Bang Duda

Bang Duda
164. Aku Sayang Dia



"Riza telah menabrak seorang anak pengusaha ternama dan menyebabkan anak pengusaha itu meninggal."


"Untuk menebus kesalahannya, dia harus bertunangan dengan adik dari almarhum yang Riza tabrak," jelas pengawal.


"Lagu lama," desisinya.


"Hubungi orangtuanya, suruh menemui saya sekarang juga," titah Gio.


Satu jam kemudian Marta datang ke kantor Gio. Gio masih memperlihatkan tatapan hangatnya.


"Silahkan duduk," pinta Gio.


Dada Marta berdebar kencang dan telapak tangannya pun sudah dingin.


"Saya bukan orang yang suka basa-basi, saya langsung ke inti saja."


"Ada apa dengan Riza?" Pertanyaan itu sangat menohok hati Marta.


Marta hanya tertunduk dalam, mulutnya susah untuk menjelaskan semuanya.


"Ma-maafkan anak saya, Tuan," ucapnya dengan suara bergetar.


"Saya akui, anak saya salah," jelas Marta lagi.


"Anda tau saya, kan. Bagaimana jika saya sudah bertindak," sinis Gio.


Tubuh Marta bergetar hebat. Gio terbilang kejam di kalangan pebisnis. Dan siapa pun yang main-main dengannya akan mendapat imbalan yang setimpal.


"Kalo anak Anda adalah lelaki berotak cerdas dan memiliki hati, apapun masalahnya harus terbuka kepada putri saya. Tapi, apa yang putri saya dapatkan?"


"Hinaan," bentak Gio.


Marta hanya terdiam, dia benar-benar merasa sangat bersalah. Kesembuhan Riza karena Echa namun, Riza malah seperti ini sekarang.


"Saya masih merahasiakan ini dari orangtu kandung putri saya. Saya saja sebagai Papa sambungnya sangat merasakan kesakitan yang mendalam dengan apa yang sekarang putri saya rasakan. Bagaiman jika ayah kandungnya mengetahui ini? Saya pastikan anak Anda tidak akan selamat," jelas Gio.


"Riza melakukan itu karena dia ingin bertanggung jawab atas kesalahannya ...."


"Bertanggung jawab Anda bilang?" potong Gio.


"Putra Anda bertanggung jawab terhadap orang lain tapi, putra Anda juga tidak bertanggungjawab terhadap putri saya."


"Jika itu yang putra Anda pilih, bicarakan dengan putri saya dan juga keluarganya. Meskipun sakit, putri saya tidak akan seperti ini," tekan Gio.


"Saya tidak akan mengungkit apa yang telah berlalu. Tapi saya sangat kecewa dengan putra Anda. Bawalah dia pergi dari hadapan saya dan juga kedua orangtua kandung Echa."


"Dan sebelum pergi, ceritakan lah semuanya kepada putri saya."


Gio pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Marta seorang diri yang tengah menitikan air mata.


"Apa Anda tahu, anak saya juga tersiksa?" ucap Marta dengan suara bergetar.


Gio menghentikan langkahnya, dia kembali menatap Marta dengan tatapan dingin.


"Riza sangat terpukul atas kejadian ini. Jika, tidak ...."


"Perusahaan keluarga kalian akan bangkrut," timpal Gio.


Marta menganggukkan kepalanya. "Semurah itu kah harga putra Anda," ejek Gio.


Hati Marta mencelos mendengar ejekan Gio. Dia sudah gagal menjadi orangtua yang baik untuk Riza.


"Apapun alasannya, rasa kecewa saya tidak akan pernah berubah," jelas Gio. Dia langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Apapun akan Papa lakukan buat kamu, Sayang.


Sementara di sekolah, Riza memilih berdiam diri di belakang sekolah. Tempat di mana dia berkata tak sesuai dengan hatinya.


"Maafkan aku, El," gumamnya sambil tertunduk.


Riza teringat akan kejadian Malang yang belum lama ini menimpanya.


Brugh!


Suara benturan keras terdengar jelas, motor Riza menabrak motor Tomi kakak kandung Tere. Semua orang berkerumun dan penglihatan Riza pun mulai gelap.


Jam setengah tujuh malam barulah Riza mampu membuka mampu. Sudah ada Mamihnya di sampingnya dengan air mata yang bercucuran.


"Mih, dia bagaimana?"


Seingat Riza korban yang dia tabrak banyak mengeluarkan darah dari hidung dan telinga. Marta menggelengkan kepalanya sambil memegang erat tangan Riza.


"Mamih bohong, kan. Bohong," elak Riza dengan wajah takut.


"Aku pembunuh, Mih. Pembunuh," lirihnya.


Marta langsung memeluk tubuh Riza yang sudah bergetar hebat. Ketakutan sangat kentara di wajahnya.


Suara pintu terbuka dan yang datang adalah keluarga Nugraha. Pebisnis ternama di negeri ini.


"Saya akan tuntut kalian atas kematian yang menimpa anak saya," tegasnya.


"Maafkan saya, Om."


"Apa dengan kata maaf mu itu akan menghidupkan putra saya kembali?" sentaknya.


Riza pun tertunduk dalam, rasa bersalah memenuhi hatinya.


"Bisakah kita berdamai saja, Pak? Saya tidak mau anak saya masuk ke dalam jeruji besi," pinta Marta.


"Bisa, asalkan perusahaan yang Anda kelola jadi milik saya. Nyawa putra saya itu sangat mahal, karena dia adalah penerus Nugraha grup."


"Apa tidak ada yang lain, Om?" tawar Riza.


"Lebih baik aku masuk ke dalam sel dari pada harus melihat Mamih kesusahan," ujar Riza.


Nugraha hanya tersenyum tipis. "Baiklah, ini opsi kedua. Saya punya anak perempuan, keinginan dia adalah menikah muda. Apa kamu siap menjadi tunangannya?"


"A-apa?"


"Terserah kamu, jika kurang dari enam jam ini tidak ada keputusan yang kamu ambil. Saya akan mengambil perusahaan Mamih kamu," ujar Nugraha. Kemudian dia meninggalkan Riza dan juga Marta.


"Nak, kamu tidak perlu memilih opsi yang kedua. Ada Echa yang harus kamu jaga. Echa lah yang menjadi nyawa cadangan untuk kamu," terang Marta.


"Izinkan aku yang sekarang berkorban untuk Mamih. Aku akan mengakhiri hubungan ku dengan El. Walaupun nantinya aku sendiri yang terluka."


"Nak, jangan ...."


"Mamih, aku tidak ingin melihat Mamih menderita. Aku gak mau, dan sekarang sudah waktunya aku membalas jasa-jasa mu, Mamih," jelasnya.


Marta pun memeluk erat tubuh Riza dengan eratnya. Begitu pun Riza, tak terasa air matanya membasahi pipinya.


Maafkan aku. El.


off.


****


Tepukan pundak menyadarkan Riza akan lamunannya. Dia menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya.


"Gua gak liat Echa hari ini," ujar Bagas.


"Dia gak masuk."


Melihat wajah sahabatnya sendu seperti ini membuat Bagas merasa iba. "Terus terang sama Echa. Dan perjelas hubungan lu sama dia. Jangan ngegantung anak orang kayak jemuran begini," ujar Bagas.


"Gua sayang banget sama dia, Bas."


"Kalo lu sayang, kenapa lu beg*? Ngomong kasar sama dia," imbuh Bagas.


"Gua inginnya dia yang menjauhi gua, dan ternyata ketika dia gak ada, hati gua sakit," jelas Riza.


"Bukannya lu mau tunangan sama si Tere." Hanya anggukan yang menjadi jawabannya.


"Lepasin salah satu dari mereka. Memang susah kayak makan buah simalakama, tapi itulah yang harus lu lakuin. Gak ada satu pun wanita di dunia ini yang mau diduain," jelas Bagas.


"Jadilah cowok yang gentle. Lu udah memilih opsi kedua dari keluarga Tere dan sekarang lu harus jalanin pilihan itu. Sebelum acara tunangan lu, lu jelasin semuanya kepada Echa. Dia berhak tahu semuanya, Za."


"Dia pasti akan benci banget sama gua."


"Lebih baik dibenci karena lu jujur sama dia, daripada lu dibenci atas semua kebohongan yang lu lakuin."


Hanya keheningan yang tercipta. Apa yang dikatakan Bagas benar adanya. Dia sekarang menjadi lelaki pengecut.


"Za, Ada yang nyariin lu tuh," ucap Doni yang baru saja menghampiri Riza dan juga Bagas.


"Siapa?"


"Bapaknya ...."


****


Happy reading ...