
"Gak akan gua biarin Rion jadi milik lu," geramnya.
Senyum Amanda tak pernah pudar meskipun mereka sudah berada di dalam mobil. Rion sedikit heran dengan tingkah istrinya hari ini.
"Kenapa kamu senyum-senyum terus?" tanya Rion yang kini melirik Amanda.
"Manda lagi bahagia aja," jawabnya.
"Bahagia?" tanya balik Rion.
"Iya, karena beberapa hari ini suami Manda perhatian banget sama Manda," balasnya menatap Rion dengan tersenyum manis.
Rion pun tertawa mendengar ucapan dari Amanda, membuat Amanda terpukau melihat tawa suaminya yang tidak pernah terlihat semenjak mereka menikah.
"Kenapa liatin aku begitu?" tanya Rion.
"Abang ganteng," ucap centil Amanda dan mencolek pipi Rion. Tawa Rion terulang kali, membuat Amanda semakin jatuh cinta kepadanya.
"Jangan pernah buat aku khawatir lagi ya," pintanya seraya seraya mengusap kepala Amanda yang ditutupi hijab.
Ucapan yang sederhana tapi memiliki makna yang dalam untuk Amanda. Dia pun menganggukkan kepalanya.
Apakah hati Bang Rion sedikit-sedikit sudah terbuka untukku? Atau hanya sekedar basa-basi belaka karena dia tidak mau aku merepotkannya lagi?
Selama di perjalanan Amanda bergelut dengan pikirannya sendiri. Tiba sudah mereka di rumah, sudah disambut Mbak Ina dan juga Pak Mat.
Amanda hanya bisa menghela nafas. Kembalinya dia ke rumah ini, pasti suaminya juga akan berubah lagi. Rion peduli karena dia kasihan melihat Amanda yang sedang sakit. Jika Amanda sembuh, apa Rion akan terus bersikap manis kepadanya?
"Kenapa bengong? Ayo kita masuk," ajak Rion dan langsung menggenggam tangan Amanda menuju kamarnya.
Hanya senyum kecil yang terukir dari bibirnya. Benar dugaannya, Rion masih menjaga jarak dengannya. Buktinya, dia masih berbeda kamar dengan suaminya.
"Kamu istirahat, kalo ada apa-apa aku di ruangan sebelah," ucap Rion lembut.
Hanya seulas senyum dan juga anggukan yang menjadi jawaban dari Amanda. Hati kecilnya tidak ingin jauh dari suaminya. Apalah dayanya, jika suaminya masih menjaga jarak dengannya.
Dinda sedang dilanda emosi, dengan sengajanya dia belanja sesuka hati. Apapun dia beli karena credit card Rion ada ditangannya.
"Lihat apa yang akan aku lakukan, Mas," gumamnya dengan senyum jahatnya.
Dinda adalah rubah betina yang sangat jahat. Setelah Ayanda membayar semua pengobatan Erlan, Dinda semakin santai sekarang. Dia sudah tidak peduli dengan suaminya yang masih hidup atau sudah mati karena ada perawat yang mengurusnya. Biaya untuk membayar perawat pun dikeluarkan oleh Rion.
"Aku tau, kamu sangat mencintaiku, Mas. Kamu tidak akan bisa jauh dariku," ucapnya percaya diri.
Amanda yang merasa haus pun harus keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Dilihatnya ruangan kerja Rion tertutup rapat. Sehingga dia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan suaminya.
Baru saja Amanda menuruni anak tangga, suara ribut terdengar di depan pintu. Amanda langsung menuju pintu utama.
"Apa kamu tidak diajarkan tata Krama bertamu?" tanya balik Amanda dengan suara tenang.
"Jangan sok suci lu, gua tau siapa lu sebenarnya," bentak Dinda.
Amanda hanya tersenyum mendengarnya, dia akui dia bukan wanita baik-baik dulunya. Cukuplah masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk dirinya sendiri. Jadi, dia sama sekali tidak peduli apa yang dikatakan orang dengan masa lalunya. Yang terpenting, sekarang dia belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"Terus mau kamu apa?" tantang Amanda.
"Akan gua serahin foto-foto ini ke Mas Rion, Gua yakin lu bakal diusir dari rumah ini. Sekaligus diceraikan," ucapnya dengan tertawa penuh kemenangan.
Amanda bersikap santai, biarkan Dinda bertindak semaunya. Meskipun hatinya sedikit takut.
"Bu," panggil Mbak Ina ketika melihat Dinda sudah menaiki anak tangga.
"Biarkan dia Mbak," sahut Amanda tenang.
Setelah mengisi air minum di botol yang dia bawa, Amanda kembali ke kamarnya. Dia terdiam sejenak di depan ruangan kerja Rion. Hanya keheningan yang dia dengar. Amanda pun memilih masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas.
Di ruangan kerja Rion.
Wajah Rion sudah memerah menahan marah melihat foto-foto istrinya sewaktu dulu. Tangannya terkepal keras seakan ingin menghantam tubuh seseorang.
"Bagaiman Mas? Istrimu tidak sebaik dan sepolos yang kamu kira," ucap Dinda dengan senyum jahatnya.
Rion langsung keluar dari ruangannya dan menuju kamar Amanda diikuti oleh Dinda yang tersenyum penuh kemenangan di belakangnya.
Setelah masuk ke kamar Amanda, Rion langsung membanting semua foto ke tubuh Amanda. Hanya ketenangan yang Amanda tunjukkan ketika semua foto itu berserakan di tubuhnya.
"Manda tidak perlu menjelaskannya kan. Abang sendiri sudah tau Manda seperti apa dulu. Penampilan Manda dan juga pergaulan Manda, itu kan yang membuat Abang sama Echa membenci Manda dan bertengkar dengan Mamah," jelas Manda.
Rion pun hanya bisa diam mendengar penjelasan Manda. Dia sudah tahu masa lalunya Manda, tapi kenapa ketika Dinda menunjukkan foto ini Rion marah dan emosi.
"Senakal-nakalnya Manda tapi Manda tidak pernah merebut suami orang. Manda wanita, istri para suami yang jelalatan juga wanita. Sesama wanita harusnya saling menghargai bukan saling menyakiti," terang Amanda.
Ucapan Amanda mampu membisukan kedua manusia yang berada di depannya. Tidak ada bantahan dan juga sanggahan. Rion dan Dinda hanya terdiam.
"Sekarang terserah Abang, mau percaya sama Manda apa sama pelakor itu. Abang lebih percaya ucapan apa sikap yang nyata dan jelas Abang lihat sendiri," ujarnya.
"Aku percaya sama kamu," sahut Rion. Dibalas dengan senyuman hangat oleh Amanda.
Bukan tanpa alasan Rion berbicara seperti itu. Selama sebulan lebih membina rumah tangga bersama Amanda. Meskipun tanpa cinta, dia melihat perubahan Amanda yang semakin memantapkan hatinya untuk berhijrah.
Amanda tersenyum mengejek Dinda. Dinda kalah lagi untuk kedua kalinya. Hanya tatapan kesal dan marah yang sekarang ditunjukkan Dinda
***