Bang Duda

Bang Duda
63. Obat Perangsang



Setelah sampai hotel Amanda benar-benar merebahkan tubuhnya. Untungnya saja sebelum Amanda ke toilet, dia sempat melihat Dinda. Firasatnya mengatakan jika akan ada sesuatu hal yang tidak enak dipandang. Ternyata benar, jebakan lagi. Amanda hanya menghela nafas kasar jika mengingat kejadian di restoran tadi.


"Kamu istirahat, ya," ucap lembut Rion. Hanya anggukan yang menjadi jawab dari Amanda.


Matahari sudah menampakkan cahanya, Amanda sudah rapih dan wangi. Sedangkan suaminya masih nyaman berada di bawah selimut. Amanda tidak tega jika harus membangunkan Rion. Wajahnya terlihat semakin tampan dan juga damai ketika dia terlelap. Amanda pun mengecup singkat bibir suaminya.


Sudah setengah jam menunggu suaminya bangun, Amanda merasa bosan dan memutuskan untuk pergi ke bawah. Mencari sarapan untuknya dan juga suaminya. Tak lupa dia juga membawa ponsel. Suaminya sekarang seperti anak ayam yang tidak bisa jauh dari induknya.


Amanda terus menyusuri jalan, membeli setiap makanan yang dijajakan di pinggiran jalan. Semuanya dia beli hanya karena lapar mata. Tak terasa sudah satu jam dia berkeliling mencari sarapan. Akhirnya dengan bungkusan yang sangat banyak Amanda kembali menuju hotel. Ternyata cukup jauh dia berjalan dari hotel. Berhubung udara masih pagi dan segar, Amanda memperlambat langkahnya. Dia menikmati dan menghirup kesegaran udara pagi ini karena tidak bisa dia nikmati di ibukota. Udara bersih sudah berubah menjadi polusi.


Tiba sudah Amanda di hotel, dia menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamarnya, tangannya refleks menjatuhkan semua makanan' yang dibelinya. Suaminya sedang dicumbu oleh wanita dengan keadaan polos tanpa sehelai benang sedikitpun.


Dengan amarah yang sudah memuncak dan tangan yang mengepal keras, Amanda menarik bahu si wanita itu dan melayangkan tamparan sangat keras.


Hingga tubuh si wanita itu tersungkur.


"Sayang," panggil Rion dan langsung mencium bibir istrinya dengan ganasnya. Hingga Amanda kewalahan meladeni ciuman suaminya. Tak Rion hiraukan di depannya ada Dinda. Yang terpenting, dia bisa menyalurkan hasratnya yang sudah semakin memuncak kepada istrinya. Hanya kepada istrinya.


Dinda yang tersungkur hanya dapat menahan marah dan kesal yang sangat luar biasa melihat adegan panas pasutri di depannya.


#Flashback on


Suara ketukan pintu membuat Rion bangun dari tidurnya. Dengan langkah gontai dia membuka pintu. Pelukan hangat yang dia terima dari wanita tak tahu malu.


"Mau ngapain kamu ke sini?" tanyanya kasar.


"Aku kangen kamu, Mas," sahut Amanda yang tangannya sudah menyentuh leher Rion. Dinda sangat tahu, pagi hari waktu di mana syahwat pria meningkat.


Rasa panas sudah menjalar di tubuh Rion namun, dia masih cukup sadar. Dia pun mendorong tubuh Dinda dengan kasar dan menuju lemari pendingin. Dinda segera mencegahnya dan dia lah yang mengambilkan air untuk Rion. Tanpa Rion sadari, Dinda mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman itu.


Tanpa rasa curiga, Rion meminum air putih yang diberikan oleh Dinda sampai tak tersisa. Lima menit kemudian, badannya mulai terasa panas. Rion membuka bajunya dan menurunkan suhu AC tapi tidak berguna. Tubuhnya masih panas bergejolak, hingga tangan Amanda mulai menelusuri tubuh Rion membuat junior Rion semakin mengeras di dalam sana. Seperti wanita murahan, Dinda membuka bajunya dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang sudah polos dihadapan Rion. Mata Rion sudah penuh dengan nafsu namun, otaknya masih bisa berpikir jernih.


Dinda naik kepangkuan Rion, tangannya menyusuri dada bidang Rion membuat Rion semakin panas. Akhirnya Rion menurunkan tubuh Dinda dengan kasar dan menjauhinya. Bukan Dinda namanya jika mudah menyerah. Dinda mengejar Rion dan mulai mencium bibir Rion meskipun tanpa balasan dari Rion.


#Flaahback off.


"Sayang," ucap Rion dengan nafas yang sudah menderu. Amanda tahu suaminya sedang dibawah pengaruh obat perangsang.


"Iya, bentar ya Bang," bisik pelan Amanda pada Rion membuat darahnya semakin bergejolak parah.


"Bang, lihat Manda," panggil Amanda. Rion tetap tak bergeming.


Amanda menangkup wajah suaminya agar melepaskan sejenak mainan barunya. "Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Amanda dengan tangan yang menunjuk ke arah Dinda.


"Aku hanya ingin Mimi kamu," sahut Rion yang kini akan menyambar gundukan milik istrinya lagi. Namun, Amanda langsung menutup gundukannya dengan kedua tangannya.


"Lihat, dia malah tidak menggunakan sehelai benang pun. Apa Abang tidak tertarik dengannya?" tanya Amanda lagi.


"Aku tidak bernafsu dengannya. Junior-ku hanya akan bereaksi denganmu Sayang," jawab Rion yang sudah menyingkirkan tangan istrinya. Dan Rion pun melanjutkan kegiatannya lagi.


Mendengar jawaban Rion, hati Dinda sangat sakit. Sekarang dia sudah tidak dilihat lagi oleh Rion. Sekalipun dia menggodanya dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Rion hanya berhasrat kepada Amanda. Tidak mempedulikan Dinda yang ada diantara mereka. Dinda bergegas memakai pakaiannya kembali dan meninggalkan pasutri yang sudah terdengar mengeluarkan des*h*n kenikmatan.


Dua jam sudah, Rion belum puas menerjang tubuh istrinya. Sudah semua gaya mereka lakukan namun, Rion tidak kunjung mencapai klimaks. Sebaliknya Amanda lah yang terus mengerang nikmat karena permainan suaminya. Tanda merah sudah memenuhi tubuh istrinya dan Amanda pun sudah terkapar tak berdaya. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda Rion melepaskan laharnya. Hingga erangan keras terdengar dan akhirnya Rion menyelesaikan tugasnya menyemburkan benihnya di rahim Amanda.


Rion ikut berbaring di samping tubuh istrinya. Dia mengecup singkat bibir Amanda yang terlihat membengkak karena ulah ciuman kasarnya.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Rion seraya mengecup kening Amanda.


Mereka pun terlelap kembali. Melupakan seseorang yang sedari tadi sudah menunggu Rion di loby hotel. Siapa lagi jika bukan Arya. Hanya umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut Arya. Pada akhirnya, Arya pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke Jakarta.


Siang hari, tubuh Amanda sudah seperti tulang ayam lunak. Semua badannya terasa sakit. Untuk duduk pun rasanya dia tak sanggup.


Rion duduk di samping Amanda dengan membawa segelas susu hangat. Hanya tatapan lelah yang Amanda tunjukkan kepada suaminya.


"Maafkan aku." Kalimat itu lagi yang terlontar dari mulut Rion. Amanda hanya tersenyum dan dia mencoba untuk duduk yang dibantu oleh Rion.


"Manda istri Abang, Abang hanya boleh menyentuh Manda. Begitu juga Manda, Manda hanya ingin disentuh oleh Abang," ungkapnya.


Rion langsung memeluk tubuh istrinya dan mengecup puncak kepala Manda. Amanda pun memeluk erat tubuh Rion seolah dia tidak ingin berpisah dengan suaminya.


Manda sangat mencintai Abang. Manda harap Abang juga mencintai Manda dengan tulus bukan hanya karena modus. Manda ingin Abang mencintai Manda karena Allah bukan karena nafsu, batinnya.


***


Happy reading ...