
Bonus Chapter.
Aku harap sih banyak yang komen di bab ini, sebagai apresiasi kalian terhadap karya remahan aku ini. Hari ini aku mencoba untuk memenuhi keinginan kalian agar aku up banyak.
Aku gak minta banyak, cukup dengan kalian komen aku sudah merasa karyaku ini dihargai dan dicintai.
Thank you semua ....
...****************...
Rion meninggalkan Amanda bersama Juna di ruang perawatan. Udara rumah sakit membuatnya pusing. Baru saja dia keluar dari kamar perawatan Juna, dia berpapasan dengan Gio dan juga Ayanda.
"Ngapain?" tanya Rion.
"Riza, Mas."
Rion mengerutkan dahinya tak mengerti. Ada apa dengan si bocah kucluk itu?
"Riza drop," ucap Gio.
"Echa?" tanya Rion.
"Dia di ruang perawatan Riza. Ayo, Mas aku antar ke ruang perawatan Riza."
Mereka menuju lantai tiga dan memasuki salah satu kamar VVIP. Baru saja mereka masuk, suasana sedih sangat terasa. Terlebih Echa yang terus menggenggam tangan Riza dengan wajah yang sangat tidak bisa ditebak.
Hati Rion sakit melihat putrinya seperti ini. Dia melihat ke arah anak laki-laki yang sedang terbaring lemah dan sangat pucat. Apakah dia akan segera pergi? Bagaimana dengan Echa nanti? Pikiran-pikiran jelek memutari otaknya sekarang ini.
"Dek."
Suara yang sangat Echa kenali, ketika Echa menoleh ke asal suara air matanya seketika luruh. Ayanda bergegas memeluk tubuh putrinya.
"Riza pasti kuat, Sayang."
Gio dan Rion hanya terdiam melihat putri kesayangan mereka sedih seperti ini. Air mata yang jarang sekali Echa teteskan membuat hati mereka pilu.
"Riza hanya drop, sudah biasa seperti itu," ujar Marta yang baru saja masuk ke ruang perawatan Riza.
Seulas senyum Marta tunjukkan kepada Echa dan juga orangtuanya. Namun, di sudut hatinya terdalam dia merasakan sakit yang teramat sakit melihat putra kesayangannya seperti ini.
"Mih ...."
Suara lemah Riza membuat semua mata melihat ke arahnya. Marta tersenyum dan menghampiri putranya.
"Echa ada di sini. Dia yang menemani kamu dari tadi," ucap Marta.
Hanya seulas senyum yang Riza tunjukkan. Mata Riza melihat ke arah Ayanda, Gio dan juga Rion. Sorot mata yang menyiratkan akan kesakitan luar biasa.
"Tante, ini Ayah Echa," kata Echa.
Rion mengulurkan tangan kepada Marta. Marta pun menyambutnya. Namun, seketika keningnya berkerut.
"Ini Papa." Tunjuk Marta pada Gio.
"Ini Ayah." Tunjuknya lagi pada Rion.
Echa hanya menganggukkan kepalanya membuat Marta dibuat bingung.
"Ini papa sambung Echa, dan ini adalah ayah kandung Echa," jelas Ayanda seraya tersenyum.
"Oh, begitu. Alhamdulillah Ya Allah, aku punya calon besan yang sangat teramat ganteng. Senang bertemu dengan Anda calon besan," gurau Marta.
Pantesan anaknya begitu, emaknya juga begini, batin Rion.
"Apa yang sakit, Za?" Tanya Ayanda.
"Tidak ada, Tante. Aku baik-baik saja."
Dalam sakitnya Riza masih mampu bercanda dan tertawa riang bersama Echa. Membuat Marta melengkungkan senyum.
"Cepet sembuh, nanti kita liburan bareng," ucap Gio.
Riza hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Gio. Ayanda, Rion dan juga Gio pamit untuk pulang. Mereka membiarkan Echa untuk menemani Riza.
Setelah keluar dari ruang perawatan Riza, Rion mengajak Ayanda dan juga Gio berbicara hal penting.
"Kenapa dengan perusahaan Juna?" tanya Rion.
Gio hanya tertawa membuat Ayanda mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Dia ngadu?"
Rion menganggukkan kepalanya. Gio menjelaskan semuanya dan Rion mampu memahaminya.
"Jika, dia mau minta maaf sama lu. Apakah lu akan maafin dia dan mau bekerja sama dengan dia?" tanya Rion.
"Untuk maafin pasti gua maafin meskipun hanya di lisan. Tapi, untuk kerjasama gua gak mau. Itu akan ngerugiin gua."
"Kecuali, dia mau ngerubah kesepakatannya akan gua pertimbangkan."
"Ikut gua," ajak Rion.
Ayanda dan Gio pun mengikuti ke mana kaki Rion melangkah. Gio mengerutkan keningnya ketika memasuki ruang perawatan. Gio langsung menggenggam tangan istrinya.
Mereka disambut oleh Amanda yang tersenyum hangat. Juna pun memberikan senyuman manisnya untuk Gio dan juga Ayanda. Namun, tidak dibalas oleh pasangan suami-istri ini.
"Saya minta maaf, Pak. Karena sudah lancang mengagumi istri Pak Gio," sesal Juna.
Tidak ada jawaban dari Gio maupun Ayanda. Gio semakin merengkuh tubuh istrinya menunjukkan jika istrinya hanya miliknya.
"Saya melakukan itu karena Ayanda mirip sekali dengan almarhumah istri saya. Maafkan saya, Pak," ucapnya tulus.
Ayanda menatap suaminya intens seolah matanya berbicara, "maafkan dia."
Gio menghela napas kasar. "Saya maafkan."
Juna tersenyum ke arah Gio dan mengulurkan tangannya, Gio pun menyambutnya.
"Saya akan kembali ke Aceh dan tidak akan mengganggu rumah tangga Anda lagi."
"Meskipun Anda mengganggu rumah tangga saya, istri saya tidak akan melihat Anda. Benar kan, Mom?"
Ayanda menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu dia memeluk pinggang Gio dengan eratnya.
Kamu adalah Ayanda bukan Meera. Kamu milik Giondra bukan milikku.
***
Happy reading ....