Bang Duda

Bang Duda
193. Past Bisa



Baca sampai bawah ya ...


****


Pagi ini Rion sudah keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Di sana sudah ada Nisa, Bu Dina, Amanda dan baby Ri. Rion mengecup kening istri dan anaknya bergantian. Bu Dina tersenyum bahagia melihat putra kesayangan menjadi lelaki yang bertanggung jawab sekarang.


"Yang, nanti Abang cariin pengasuh ya buat baby Ri" ucapnya.


"Jangan Bang, Manda bisa kok jaga baby Ri sendiri ," jawabnya.


"Lagian di sini kan ada Mbak Ina, A. Dia bisa bantu Manda. Dan Aa juga harus bantu Manda rawat Riana. Biar dia dekat sama Ayah dan Bundanya bukan sama pengasuhnya," imbuh Bu Dina.


"Bener tuh A kata Mamah. Mending kalo baby Ri kayak si kembar, ada pengasuh tapi tetap gak mau jauh dari Mommy-nya. Kalo sebaliknya?"


Rion pun menatap Amanda, dan Amanda tersenyum penuh kemenangan. "Ya udah terserah kamu aja, kalo kamu butuh baby sitter bilang ke Abang."


"Iya."


Kehadiran Riana membuat suasana rumah Rion dan Amanda berwarna. Terkadang sepi dan terkadang juga bising karena tangisan Riana. Semua orang yang berada di sana amat bahagia. Terlebih Rion, dia menjadi sosok ayah yang siaga.


Selelah apapun ketika di kantor, jika sudah sampai rumah lelahnya hilang begitu saja. Apalagi putrinya selalu menyambutnya dengan senyum yang sangat manis. Ya, sekarang Riana sudah berumur tiga bulan. Pipi tembemnya sangat menggemaskan. Apalagi, dia sangat senang jika berada dengan ayahnya.


"Ganti baju dulu, Yah." Sekarang Amanda dan Rion mengganti panggilan sayang mereka dengan sebutan Ayah dan Bunda. Supaya anaknya nanti mengikuti panggilan mereka.


"Iya, Bun." Rion terus bercanda dengan Riana dan Riana pun dibuat tertawa keras oleh Rion.


Rion beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Mata Riana merah dan tangisnya pun pecah. Amanda menggendong Riana. "Bentar ya, Sayang. Ayahmu mandi dulu, nanti main lagi sama baby Ri," ucapnya.


Suara mesin mobil terdengar di luar, dan senyum Amanda merekah ketika melihat si kembar datang bersama kedua orangtuanya.


"Mom, tuyun," ucap si Abang.


"Adek mau turun juga?" tanya sang Daddy.


"Nyo."


Si kembar sudah mulai bisa berjalan meskipun sering jatuh. Dan Ghassan sangat senang jika diajak main ke rumah Rion. Dia langsung menarik-narik tangan Amanda dan ingin melihat Riana.


Amanda jongkok sambil menggendong Riana, dengan senyum manisnya Ghassan membelai pipi tembem Riana.


"Abang sayang Beby Ri?"


Ghassan mengangguk sambil memamerkan giginya yang hanya berjumlah beberapa saja. "Yang," jawab Ghassan.


Rion baru selesai mandi dan keluar dari kamarnya. "Eh ada kesayangana Ayah." Ghassan mencoba berlari ke arah Rion begitu juga Ghattan. "Tet, tuyun," ucap Ghattan.


Gio menurunkan Ghattan dari gendongannya dan berjalan pelan menuju Rion. Kedua anak kembar itu sangat dekat dengan Rion.


"Ya-yah," panggil si Abang dan si Adek.


Ghassan minta digendong oleh Rion begitu pun Ghatan yang tidak mau kalah. Dengan senang hati Rion menggendong keduanya di kanan dan di kiri.


Sedangkan Riana menangis melihat ayahnya menggendong si kembar. "Ya ampun, anak Mommy sini sama Mommy." Riana pun berhenti menangis, dan menatap wajah Ayanda lalu tersenyum.


"Cantik banget sih kamu, Mommy gemes banget loh," ucap Ayanda sambil terus menciumi wajah Riana.


"Pak Gio, bikin lagi anak cewek," goda Amanda.


"Udah punya anak gadis, anak bujang juga ada. Udah lengkap lah," jawab Gio yang sudah duduk di sofa.


"Kan Echa udah gede," ucapnya.


"Nunggu cucu aja, kan keren tuh masih mudah udah punya cucu," sahut Gio seraya tertawa.


Di lain tempat, Beby sedang bermain bersama Keysha anak Azka dan juga Sheza. Tiba-tiba air matanya luruh menatap anak balita yang cantik ini.


"Sayang," ucap Arya.


"Apa aku bisa memiliki anak seperti ini?" lirihnya.


Arya memeluk tubuh Beby, dia mengecup kening Beby dengan penuh kasih sayang. "Kita belum dipercaya, Sayang. Jadi, bersabarlah. Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk belajar terlebih dahulu perihal mengasuh anak. Karena itu semua tidak mudah," jelas Arya.


"Aku takut hubby kecewa," lirihnya.


Beby mengeratkan pelukannya kepada Arya. Dibalik sikap Arya yang boros karena memiliki hobi mengoleksi barang-barang mewah nan mahal, ternyata Arya adalah sikap suami yang sangat hangat dan juga pengertian.


"Makasih hubby," ucapnya.


"Woiy, ngapain pelukan di depan anak gua sih. Mata anak gua ternoda ini," sentak Azka.


Beby hanya berdecak kesal. Melihat wajah Beby yang murung Azka hanya menghela napas kasar.


"Beb, suatu saat nanti akan tumbuh benih cinta kamu dan Arya di perut kamu. Percayalah sama aku," ujarnya.


Beby mengangguk pelan, melihat Beby murung seperti ini Arya mengajak Beby pulang. Melihat Keysha, Riana dan juga si kembar membuat luka yang harusnya sembuh terbuka kembali.


# Flashback on.


Beby memeriksakan kesehatan kandungannya ke dokter spesialis. Awalnya dia hanya ingin tahu apakah kandungannya ini sehat atau tidak.


"Bentuk rahim Ibu abnormal, jadi akan menyulitkan untuk Ibu bisa hamil," jelas dokter.


Dunia Beby runtuh seketika. Tubuhnya seakan tak bertulang dan mulutnya tertutup rapat. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri.


Perubahan wajah Beby beberapa hari ini membuat Arya curiga. "Yang, kamu kenapa sih?"


Pertanyaan Arya pun sontak membuat tangis Beby pecah. "Sayang kamu kenapa? Kalau aku salah bicaralah sama aku," ucapnya.


Tangan Arya terus mengusap lembut punggung Beby. "Jika, kamu ingin menikah lagi, aku ikhlas hubby."


Arya terkejut dan dia bingung sendiri. "Maksud kamu apa? Aku gak ngerti," katanya.


Beby menatap Arya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Mungkin, aku gak bisa memberikanmu keturunan," lirih Beby.


"Oh."


Jawaban dari Arya membuat Beby bingung. Suaminya tidak kaget sama sekali. Dan malah bersikap santai.


"By, kamu ...."


"Aku kenapa Sayang? Dengar aku baik-baik ya, untuk masalah anak aku gak akan mempermasalahkannya, sedikasihnya aja sama yang diatas."


"Kandungan abnormal kamu bukan berarti kamu gak bisa hamil. Hanya sulit, jadi masih bisa. Apapun kalo kita berusaha dan selalu berdoa, hasilnya akan memuaskan."


Arya tidak sengaja mendengar Beby bergumam sendiri di dalam kamar. Dan Arya segera mencari tahu ke dokter kandungan tentang yang digumamkan oleh istrinya.


"Hubby, hiks ... hiks ...."


"Gak apa-apa, Sayang. Meskipun hal terburuk nantinya kamu gak bisa memberikan ku keturunan, kita masih bisa untuk mengadopsi anak. Dan harus kamu ingat, aku tidak akan meninggalkan mu apapun alasannya. Ketika aku sudah yakin dengan satu wanita, disitulah aku harus setia. Apalagi menyangkut pernikahan, itu tidak bisa dijadikan main-main. Prinsip aku, menikah hanya sekali seumur hidup."


Air mata Beby luruh kembali, Arya tersenyum dan mendekap tubuh mungil istrinya. "Kamu bisa, Sayang. Pasti bisa."


# Flashback off.


****


Untuk semua pembaca setia Bang Duda aku ucapin ribuan makasih banyak, hatur nuhun pisan.🙏


Mungkin, hari ini dan besok akan menjadi up rutinku yang terkahir. Melihat views turun drastis membuatku menangis😭 apalagi awal bulan ini penentuan level naik atau turunnya bikin aku gusar dan pesimis untuk stay di level seperti bulan ini.


Mungkin kalian bosan membaca part yang terbilang panjang, melihat sudah hampir 200 bab makanya menimbun-nimbun bab atau pun tidak membacanya. Ada kemungkinam Bang Duda akan aku akhiri secepatnya jika views dan level semakin turun.


Sejauh ini Bang Duda adalah karyaku yang cukup sukses. Terimakasih semuanya 🙏


Emak juga lelah Shay ...😪


Padahal baca gratis tapi kalian kejam sama emak😭 Tapi, ya sudahlah ... Mau hijrah ke lapak berbayar pun emak bukan othor femes dan gak akan banyak juga yang ngikutin pindah apalagi di zaman pailit begini. Udah Nemu makan aja udah bersyukur. Serba salah banget dah jadi othor remahan seremah-remahnya ini,🤧


Emak mohon izin, untuk beristirahat sejenak di dunia penulisan mulai awal bulan depan.🙏


Semua Ceritanya emak gantung dulu kaya jemuran biar kalian kangen sama emak. Pengen gitu sekali-kali dikangenin sama kalian.


Jika kalian rindu sama emak, kalian bisa chat pribadi emak atau masuk ke grup chat nyonyahalu.


Cukup sekian pidato dari emak. Assalamualaikum wr. wb.