Bang Duda

Bang Duda
195. Buah Kesabaran



Arya pun tersadar dari keterkejutannya. "Ka-kamu hamil?" Beby pun menjawab dengan gelengan kepala.


"Pe'ak emang," geram Rion.


"Ini testpack," ujar Arya.


"Itu hasil testpack Beby, Ar. Tadi dia nyoba dan hasilnya positif," jelas Ayanda. Dan diiyakan oleh Sheza dan juga Amanda.


"Yang, kamu hamil," ucap bahagia Arya.


"Jangan senang dulu hubby, testpack ini tidak seratus persen akurat," lirihnya.


Suasana yang membahagiakan kini berubah jadi sendu. Apalagi tidak ada garis senyum di wajah cantik Beby.


"Aku sudah menghubungi Sarah, ke sanalah dia masih praktek di rumah sakit yang sama," ujar Gio.


Beby menatap sendu kearah Gio dan juga Azka. Anggukan dari keduanya membuat Beby memberanikan diri untuk memeriksakan kandungannya.


Sepanjang perjalanan Beby dan Arya hanya terdiam, mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Apakah ini nyata? Atau hanya tipuan semata.


Pernah sekali, Beby membeli testpack dan mencobanya. Karena dia sudah telah lebih dari seminggu. Hatinya berkata dia hamil tapi ketika hasil testpack itu hanya garis satu membuatnya menyerah. Dia tidak ingin menggunakan benda itu lagi. Dan keterlambatan datang bulannya karena perubahan hormon.


Sesampainya di rumah sakit, Beby disambut hangat oleh dokter Sarah yang tak lain adalah mantan kekasih Giondra. Sarah menanyakan perihal kapan terakhir datang bulan dan kapan terakhir berhubungan. Dan gejala apa saja yang Beby rasakan. Arya hanya mendengarkannya saja.


"Tadi pas di cek garis dua, dok," ucap Beby. Dokter Sarah pun tersenyum.


"Untuk lebih memastikan kita USG dulu ya," ujarnya.


Setelah perut Beby diolesi gel, dokter Sarah mulai menggerakkan alat di atas perut Beby. Dia berhenti ketika ada titik yang berada di dalam rahim Beby.


"Bisa kalian lihat titik itu," ujar dokter Sarah.


Arya dan Beby mengangguk. "Itu adalah calon buah hati kalian. Dia sudah tumbuh di sana," imbuh dokter Sarah.


Tubuh Arya lemah seketika, dia menatap ke arah istrinya dan air mata Arya pun tumpah. "Makasih, Sayang. Makasih," ucapnya dengan berlinang air mata dan mencium kening Beby sangat lama.


"I-itu anak kita hubby," kata Beby.


"Iya, Sayang. Itu calon anak kita," sahutnya.


Dokter Sarah terenyuh melihat sepasang suami-istri ini. Apalagi tadi Gio bercerita jika, Arya dan Beby sudah empat tahun menikah namun, kandungan Beby sedikit bermasalah. Membuat mereka hanya terus bersabar dan berikhtiar. Dan hari ini, penantian mereka terjawab sudah.


"Saya akan menuliskan vitamin dan juga penambah darah untuk Ibu Beby."


"Oh iya, di masa kehamilan muda ini jangan dulu berhubungan suami-istri. Terlebih keadaan rahim ibu sedikit bermasalah. Takutnya, hal yang tidak diinginkan terjadi," tambah dokter Sarah.


Arya dan Beby pun mengangguk, apapun akan Arya lakukan untuk menjaga calon buah hati dan istrinya. Inilah buah kesabarannya.


Setelah menebus obat mereka langsung pulang ke rumah. "Yang, ada yang mau kamu makan gak?" tanya Arya.


"Aku ingin cake by," jawabnya.


Arya melajukan mobilnya ke sebuah toko roti ternama. Arya dengan posesifnya menggandeng tangan Beby. Dia mengikuti langkah Beby yang seperti anak kecil sedang memilih roti. Arya hanya menggelengkan kepalanya ketika lebih dari dua puluh macam cake dan roti yang istrinya beli.


"Gak apa-apa, kan?" tanya Beby cemas.


"Gak apa-apa, Sayang. Yang penting kamu happy." Beby memeluk pinggang Arya membuat Arya tersenyum gembira.


Setelah sampai di rumah, Beby meletakkan semua yang dibelinya di meja makan. Dia menyuruh Mbok Sum untuk menaruh semua kue yang dia beli ke dalam lemari pendingin.


Arya dan Beby kini berada di atas tempat tidur. Arya mendekap hangat tubuh Beby dan terus mengecup mesra kening sang istri.


"By, apa kamu senang?" tanya Beby yang kini menatap Arya.


"Aku sangat bahagia, Sayang. Sangat bahagia," ujarnya sambil mengecup mesra bibir Beby.


"Aku gak nyangka aku bisa hamil juga," lirihnya.


Arya menangkup wajah Beby menatapnya dengan penuh cinta. "Kamu bisa Sayang, walaupun kamu belum bisa aku akan melakukan cara apapun untuk membuat kamu mengandung. Itu sudah aku rencanakan dengan matang."


Air mata Beby pun menetes mendengar penuturan suaminya. Dia tahu suaminya bukanlah orang biasa, dia anak pengusaha kaya raya dan bisa melakukan apa saja.


"Aku sangat beruntung memiliki kamu, by," ucapnya.


"Jangan nangis lagi, kasian anak kita," kata Arya.


Arya mencium kening Beby lalu dia mendekatkan wajahnya ke perut rata Beby. "Anak Papah, jangan nakal ya di perut Mamah. Jadilah anak baik, jangan buat Mamah susah."


Bibir Beby terangkat dengan sangat sempurna mendengar ucapan tulus dari suaminya.


Pagi harinya, ketika yang lain sudah berkumpul akan berangkat liburan bersama. Arya dan Beby tidak menampakkan diri mereka. Membuat semuanya khawatir.


Rion pun tidak bisa menghubungi sepasang suami-istri ini. Dengan terpaksa dia ke rumah Arya.


"Arya ada Mbok?" tanya Rion


"Belum bangun Pak."


"Bang ke ni orang," gerutunya.


"Saya ke atas dulu," ujar Rion.


Baru saja dia hendak menaiki anak tangga, Arya yang masih dengan wajah bantalnya turun dari lantai atas.


"Kam Pret kita nungguin ...."


Arya meletakkan jarinya di bibir Rion. Seketika mulut Rion pun terdiam.


"Ada apaan?" tanya Rion sedikit khawatir dengan kondisi Arya.


"Bini gua baru aja tidur, kasian dia semalaman muntah-muntah terus," tutur Arya.


"Bini lu hamil?" Arya mengangguk.


"Selamat bro," ucap Rion sambil memeluk tubuh Arya.


"Makasih, sorry gua sama Beby gak bisa liburan barengan lu lu pada. Kondisi kehamilannya belum bisa naik pesawat." Rion pun mengangguk mengerti.


"Ya udah, jaga bini lu baik-baik. Gua akan sampein kabar bahagia ini ke yang lainnya. Gua berangkat."


Setelah kepergian Rion, Arya ingin melanjutkan tidurnya karena dia pun belum tidur. Baru dua anak tangga yang dia pijaki, suara cempreng sang mamah membuat Arya menutup telinganya.


"Shut ... berisik," ucapnya.


Nyonya Rania pun menutup mulutnya. Arina menatap Arya heran. Dengan langkah gontai Arya duduk sofa diikuti mamah dan juga kakaknya.


"Kamu kenapa?" tanya sang Mamih.


"Aku ngantuk Mih, aku belum tidur sama sekali," adunya pasa Nyonya Rania.


"Kenapa?" tanya Arina.


"Semalaman Beby muntah-muntah terus, dan setelah subuh itu dia baru tidur."


"Menantu Mamih sakit apa Arya?" bentak Nyonya Rania.


"Dia hamil," ucap Arya yang setengah sadar.


Nyonya Rania dan Arina saling tatap ketika mendengar kabar tersebut. Tak lama mereka pun berteriak dan membangunkan Arya yang baru saja masuk ke alam mimpi.


"Mih ... Mbak ... ijinkan aku tidur ya. Jangan berisik kasian juga istri aku takut keganggu tidurnya denger suara kalian."


****


Uhh, komen kalian bikin aku terharu. Makasih atas semua dukungannya.🙏


Jika, kalian sayang sama semua karya aku dan gak mau kalo aku ngegantung cerita ini. Boleh gak aku minta tolong ke kalian? Aku cuma minta jangan pernah nimbun bab, ketika karyaku up bab baru langsunglah baca. Karena itu mempengaruhi level karyaku. Dan sisipkan komen dan juga kasih jempol kalian di setiap bab-nya. Itu yang membuat ku semangat.


Dan sudah aku putuskan aku akan terus melanjutkan semua cerita yang sudah aku tulis. Hanya saja dengan slow up. Dan ijinkan aku untuk libur 2-3 hari. Waktunya kapan? Aku belum bisa memastikan. Aku butuh restart otak dan harus menservis otakku dulu yang sudah banyak gangguan.


Sekali lagi, makasih banyak semuanya 🙏


Aku sayang kalian ...