
Untuk mengurangi kesuntukan dan juga kerinduan yang sedang melandanya, Ayanda hanya duduk di sofa kamar sambil menonton televisi. Dia menghela napas kasar ketika menonton acara gosip terkini yang sedang membahas istri sah vs pelakor.
"Giliran udah seneng aja lupa dah tuh laki sama istri sah. Padahal tuh istri yang dengan sabar menemani dia dari nol," gerutunya.
"Udah santer aja baru deh klarifikasi dan minta maaf. Kemarin-kemarin kemana aja lu?" geramnya melihat acara gosip.
Gio yang baru masuk kamar pun mengernyitkan dahinya ketika mendengar istrinya mengomel sendiri. "Nonton apa sih? Emosi banget deh kayaknya," tanya Gio yang kini duduk di samping istrinya.
"Tuh berita pelakor bikin emosi. Kadang penampilan baik belum tentu memiliki hati yang baik juga," kata Ayanda.
Gio membaca teks yang ada di layar televisi dan dia pun tertawa. "Seperti flashback ke masa lalu ya," ejek Gio.
Ayanda melirik Gio tajam sedangkan Gio malah memeluk mesra istrinya dari samping.
"Daddy, awas aja begitu," ancam Ayanda.
"Gak akan Mommy, Sayang. Bisa-bisa Daddy dibunuh sama Ayah kalo Daddy mencoba mengkhianati Mommy."
"Oh ... jadi kalo gak diancam Ayah, Daddy berniat untuk ngekhianatin Mommy, iya?" sentaknya.
Gio pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sungguh salah berbicara. "Nggak gitu Mommy." Ayanda menatap Gio dengan penuh kemarahan.
"Lihat Daddy," pinta Gio yang sudah menangkup wajah istrinya.
"Sepuluh tahun Daddy menunggu Mommy. Menunggu jandanya Mommy, dan selama itu juga Daddy tidak pernah dekat dengan siapapun. Hingga Ayah berkali-kali menjodohkan Daddy dengan anak teman-teman Ayah."
"Daddy menolak, dan kesabaran Daddy membuahkan hasil. Daddy bisa menikahi Mommy dan memiliki tiga orang anak yang sangat amat Daddy sayangi. Tidak ada alasan lagi untuk mata dan hati Daddy berpaling kepada wanita lain," jelasnya.
Gio langsung memeluk tubuh istrinya. Akhir-akhir ini istrinya sangat sensitif karena ketika ulangtahunnya dia tidak bisa berkumpul dengan putri tercintanya.
Giondra sudah berusaha membujuk Genta, Addhitama serta Radit. Namun, jawaban mereka sama. Mereka melakukan ini semua demi kesembuhan Echa. Hal yang tidak bisa Gio lawan.
"Mom, kita bulan madu lagi yuk. Daddy ngebolehin Mommy melepas alat kontrasepsi yang Mommy gunakan." Dengan cepat Ayanda menggeleng.
"Mommy hanya ingin Echa, bukan memiliki anak lagi."
Gio hanya mendekap hangat tubuh Ayanda. Dia tahu istrinya sangat sedih. Apalagi di hari spesialnya ini dia harus berjauhan dengan putri tercintanya.
"Mommy ingin apa selain Echa?" Ayanda hanya menggeleng. Ulang tahun istrinya kali ini sangatlah membuatnya pusing. Hadiah semahal apapun tidak akan pernah bisa membuatnya tersenyum. Karena Ayanda hanya menginginkan anaknya untuk merayakan ulang tahun bersamanya.
Sudah tiga malam ini, Gio tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia selalu memandang wajah istrinya, sangat terlihat guratan kesedihan ketika Ayanda terpejam. Sebagai seorang suami dia selalu berusaha memberikan apa yang istrinya inginkan. Namun, kali ini permintaan istrinya sangat sulit untuk dikabulkan.
Cara terakhir adalah menghubungi putrinya. Dia akan memohon kepada Echa. Karena dia tahu pasti ayahnya akan luluh dengan permintaan Echa.
"Iya Pa."
"Kak, kamu ingat kan lusa hari apa?"
Echa hanya terdiam, dia tidak menjawab apa yang diucapkan Papanya.
"Kak ...."
"Echa sudah mengirimkan kado spesial untuk Mamah. Mungkin besok akan sampai ke rumah."
"Apa kamu ...."
"Pa, Echa tidak bisa ke mana-mana. Echa masih harus menjalani serangkaian pengobatan. Echa ingin segera sembuh."
"Echa pun ingin memeluk Mamah, tapi Echa tidak bisa Pa. Echa tidak boleh kalah dengan ego Echa. Echa harus konsisten dengan niatan awal Echa."
Gio hanya menghela napas kasar. Dia juga tidak bisa memaksa putrinya. Terlebih Echa sedang menjalani pengobatannya.
"Ya udah gak apa-apa. Papa mengerti kok. Berikan kado terindah yaitu kesembuhan kamu kepada Mamah. Supaya Mamah bahagia."
"Tentu, Pa. I love you Papa."
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Gio duduk di samping istrinya yang sudah terlelap. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Maafkan Daddy, Mommy. Kali ini Daddy tidak bisa memberikan apa yang Mommy mau," lirihnya dan dia mengecup kening Ayanda sangat dalam.
Anggota grup Hot Mommy's Dan Hot Daddy's sedang merencanakan kejutan dan hadiah spesial untuk Ayanda. Mereka merencanakannya tanpa sepengetahuan Ayanda dan juga Gio.
Sedangkan Remon dibuat pusing oleh bosnya. Bagaiman tidak, sedari pagi bosnya uring-uringan. Selalu mengumpat Remon dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Untung saja Remon berhati baja, jika berhati jelly mungkin sudah mengundurkan diri.
"Bos seperti tidak tahu Bos besar saja. Kata dia tidak ya tidak," ujar Remon.
"Sepertinya ada yang Ayah sembunyikan," ucap Gio penuh curiga.
"Maksud bos tentang penyakit Non Echa?" Gio pun mengangguk.
"Kenapa gak hubungi dokter Addhitama?" Gio pun hanya berdecak kesal.
"Om Addhitama sama Ayah tuh sebelas dua belas. Paham?" Remon pun mengangguk.
"Pacarnya Non Echa?"
"Dia lagi sibuk magang, makanya gak bisa dihubungi."
Mereka berdua pun terdiam. Bingung harus bagaimana. Remon menyarankan untuk membeli ini, namun istri dari bosnya itu sudah punya. Jadi, bingung sendiri.
Di rumah, Ayanda sedang menemani si kembar bermain di halaman belakang. Seorang pelayan menghampirinya. "Maaf Nyonya, ada paket," ucap sang pelayan sopan.
"Dari siapa?"
"Kata Pak kurirnya dari luar negeri." Mata Ayanda berbinar. Dia menyuruh para pengasuh si kembar untuk mengawasi si kembar yang sedang bermain bola.
Ayanda membawa paketan tersebut ke ruang keluarga. Bibirnya terus menyunggingkan senyum yang teramat bahagia. Perlahan dia membuka paket itu. Ada satu kotak yang dihiasi pita. Ketika dia buka, ada satu buah kertas yang dilipat dan juga flashdisk. Ayanda membuka kertas yang berada di dalam kotak tersebut.
Happy birthday Mamah tersayang
Oiya, itu ada flashdisk untuk Mamah. Bukanya ketika hari ulang tahun Mamah ya. Semoga bisa mengobati kerinduan hati Mamah.
Love you so much my the best mother.
Bulir bening pun menetes di matanya. Ini kali pertama Ayanda melewati ulang tahunnya tanpa sang putri. Tulang rusuknya seperti hilang satu.
Dia memegang flashdisk di tangannya. Dia berdoa semoga ini benar-benar menjadi pengobat rindu untuknya.
Menjelang Maghrib Gio pulang dan disambut oleh si kembar. Si kembar menarik Gio untuk ikut ke kamar mereka.
Mereka menunjukkan sesuatu kepada Gio. Ada bunga-bunga warna-warni yang mereka ikat ala kadarnya sesuai kemampuan anak-anak. Dan sebuket cokelat berplastik ungu kesukaan sang kakak.
"Ini totlat cutaan tata," ucap Ghassan.
"Mommy alus matan, bial dak cedih," timpal Gatthan.
Ada kebanggaan di hati Gio melihat kedua putranya yang memiliki rasa saling menyayangi sangat kuat.
"Boleh ban dan Ade tatih te Mommy?" tanya Ghassan.
"Sebentar lagi makan malam, Abang dan Adek kasihnya pas makan malam ya." Mereka berdua pun mengangguk.
Ketika Gio masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya sedang duduk di samping tempat tidur dengan wajah sendu.
"Mom." Ayanda pun menoleh ke arah sang suami dan langsung berhambur memeluknya. Hanya Gio yang dia percaya untuk menjadi tempatnya berkeluh kesah.
"Ada apa?" Ayanda menunjukkan surat yang dikirimkan oleh Echa. Gio membacanya, dadanya teramat sesak dan dia hanya bisa mendekap hangat tubuh Ayanda.
"Sabar ya, Mom. Dua Minggu lagi kita akan bertemu dengan putri kita."
Setelah membersihkan tubuhnya, dan wajah Ayanda yang sudah kembali segar. Gio dan Ayanda turun untuk makan malam. Si kembar sudah menjemput mereka di depan anak tangga terbawah.
"Hepi betdey Mommy," ucap si kembar kompak.
"Ini buat Mommy," kata Ghassan yang memberikan beberapa petik bunga warna warni.
"Ini buat Mommy," kata Ghattan yang memberikan satu buah buket cokelat.
Ayanda berjongkok di hadapan kedua putranya. Dia menerima hadiah dari putra-putranya. "Terimakasih kesayangan Mommy," ucap Ayanda sambil memeluk si kembar.
"We love you, Mommy." Si kembar mencium pipi Mommy-nya bersamaan.
"Kalian gak sayang Daddy?"
Si kembar dan Ayanda pun memeluk tubuh Gio yang sudah dalam keadaan jongkok. "We love you Daddy," ucap mereka bertiga.
Ayanda merasa terharu karena kedua anaknya yang masih balita pun memberikan sesuatu kepadanya. Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton film kartun kesukaan si kembar.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan si kembar pun sudah terlelap. Kini tinggal Ayanda dan juga Gio yang berada di ruangan itu.
Sedari tadi, tangan Ayanda tak melepaskan pelukannya yang melingkar di pinggang Gio. Mereka menghabiskan waktu berdua dengan menonton film romantis. Karena Ayanda tidak ingin merayakan ulang tahunnya. Dia hanya ingin memeluk tubuh suaminya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, Gio mengecup puncuk kepala Ayanda. "Happy birthday Mommy," ucapnya.
Ayanda mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke arah sang suami. Bibir ranum Ayanda langsung Gio kecup dan meresapi hangatnya ciuman yang saling membalas.
"Maaf, Daddy tidak bisa memberikan hadiah yang Mommy mau. Tapi, Daddy punya ini untuk Mommy." Gio memberikan satu buah kota kecil berwarna merah. Ayanda membukanya dan ada sebuah kalung cantik berliontinkan hati yang sangat indah.
"Liontin itu bisa Mommy buka." Ayanda pun membukanya dan ternyata ada foto Echa dan juga si kembar di kiri dan kanannya.
"Pakai setiap hari, supaya Mommy selalu merasa dekat dengan anak-anak kita," tukas Gio. Ayanda pun tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Gio. "Makasih Daddy."
Gio memakaikan kalung itu ke leher Ayanda, senyum mengembang dari bibir keduanya. Nyanyian lagu selamat ulangtahun terdengar. Ternyata para sahabat Ayanda dan juga Gio datang dan membawakan kue ulang tahun dan beberapa kado. Ayanda benar-benar terharu. Di kala dia sedih, para sahabatnya lah yang akan menghiburnya dengan cara mereka masing-masing.
Setelah meniup lilin dan make a wish, Ayanda memotong kue dan memberikan potongan kue pertama kepada sang suami lalu kepada para sahabatnya. Dan satu per satu sahabat Ayanda memberikan hadiah yang mereka bawa. Sudah sangat kelihatan mereka membawa paper bag yang bertuliskan beberapa brand merk dunia.
Dan ternyata para pelayan pun sudah menyiapkan makanan spesial untuk majikannya dan juga para sahabat majikannya.
Dan Ayanda mulai menutar flashdisk yang Echa berikan. Ternyata sebuah video, Echa sedang duduk di atas ranjang pesakitan dengan selang infus di tangannya. Dan wajah Echa pun nampak pucat.
"Selamat ulang tahun Mamah. Sehat selalu, panjang umur, murah rezeki dan juga semakin sayang sama Echa dan juga si kembar. Maaf Echa tidak bisa ikut merayakan ulang tahun Mamah. Echa hanya bisa berdoa dari sini."
"Bahagia selalu ya Mah, jangan pernah ada air mata yang menetes ketika Mamah nonton video ini. Kesakitan Echa sekarang ini tidak sebanding dengan pengorbanan Mamah untuk kesembuhan Echa selama ini."
"Sedih rasanya, ingin sekali Echa pulang ke Indonesia. Tapi, apalah daya Echa. Masih banyak rangkaian pengobatan yang harus Echa jalani. Sekali lagi, Echa minta maaf ya Mah. Jangan menangis karena Echa tidak ada di sisi Mamah. Percayalah, Echa akan selalu ada di hati Mamah."
"Single mother and single fighter. I just can say I love you so much."
Semua orang yang menontonnya ikut menitikan air mata. Apalagi melihag Echa yang menyeka ujung matanya ketika mengatakan kalimat terakhir.
Kedatangan Mr. Jeff tiba-tiba membuat Gio terlonjak. "Ada apa?" Semua orang yang berada di sana pun menatap Mr. Jeff dengan tatapan bingung. Mereka tahu, bahwa Mr. Jeff adalah tangan kanan Genta Wiguna.
"Kita harus segera berangkat ke Canberra sekarang," ucapnya.
"Ada apa?" Gio nampak panik begitu pun Ayanda.
"Putri Anda Tuan," sahutnya.
"Kenapa dengan putri saya?" Kini Ayanda yang menimpali ucapan Mr. Jeff.
"Kritis."
*****
Please jangan ditimbun-timbun ya bab-nya. Ketika ada notif UP langsung baca.