Bang Duda

Bang Duda
384. Mimpi Lagi (Musim Kedua)



"Tidak!"


Baby's Ale pun terbangun karena terkejut dengan suara yang memekik gendang telinga. Para ibu di sana segera menimang bayi-bayi yang sedang menangis keras.


Sedangkan para bapak-bapak segera menghampiri Iyan yang kini sudah menangis. "Ada apa, Iyan?" tanya Rion. Pasalnya, sang anak sedang terlelap di sofa karena lelah bermain game.


"A-adek bayi ...."


Iyan pun menangis sesenggukan. Mimpinya seolah nyata. Darah, tangisan dan juga teriakan Iyan saksikan di dalam mimpinya.


"Adek bayi siapa?" tanya Rion lagi.


Arya, Gio, dan Kano terus menatap Iyan dan meminta jawaban atas apa yang dia ucapkan.


"Adik bayi berlumuran darah. Sebagian tubuhnya hancur dan memilki bibir tidak sempurna." Iyan menjeda penjelasannya.


"Ta-tapi, ada Bunda menangis di sana. Dan ada pria yang sedang memeluk erat tubuh Adek bayi yang sebagian masih utuh," terangnya dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Kamu cuma mimpi, Iyan. Sebelum tidur berdoa dulu, biar gak mimpi buruk," ujar Gio.


Berbeda dengan Rion, dia mulai menyambungkan mimpi demi mimpi yang Iyan alami. Hampir semua mimpi Iyan jadi kenyataan.


Lamunan Rion buyar ketika Pak Mat datang dengan tergesa. "Maaf, saya ganggu Pak," ucap Pak Mat.


"Ada apa?" Wajah Pak Mat terlihat ketakutan.


"Di depan, banyak orang berseragam hitam," jelasnya.


Keempat pria itu saling pandang. Rion dan Gio segera ke depan rumah. "Apa ini orang suruhan lu?" tanya Rion kepada Gio. Dijawab gelengan oleh Gio.


Rion segera menghubungi Radit. Sudah tiga kali dia mencoba menghubungi menantunya, tetapi tidak pernah ada jawaban. Begitu juga Gio yang tengah sibuk menghubungi Echa.


"Angkat dong, Dit," gumam Rion sedikit panik.


"Echa juga gak bisa dihubungi," timpal Gio.


Cemas, khawatir jadi satu. Kedua ayah ini sudah berpikir jelek tentang anak dan menantu mereka. Hingga Rion teringat kepada Riana. Disambungan telepon kedua baru lah Riana menjawabnya.


"Kenapa di rumah banyak orang berseragam hitam?" hardik Rion. Radit masih tidak menjawab. Menerima panggilan telepon dari sang mertua di depan istrinya yang sedang terbaring lemah terasa menyesakkan dada.


"Maafkan Radit, Yah." Lirih, itulah yang didengar oleh Rion.


"Ada apa, Dit?" desak Rion yang sudah tidak sabar.


"Echa celaka."


Rion dan Gio tersentak mendengar ucapan Radit. "Jangan bercanda Raditya!" seru Gio yang kini menyahuti ucapan Radit.


"Mantan istri Ayah yang sudah memukul luka operasi di perut istri Radit," terang Radit.


Rion mematung seketika. Urat-urat kemarahannya sudah muncul di wajah yang sudah merah padam. Begitu juga Gio, tangannya sudah mengepal keras.


"Orang-orang itu adalah orang suruhan Papih. Tolong jaga anak-anak Radit. Jangan tinggalkan mereka. Radit tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka. Tolong bantu Radit, Ayah, Papa." Suara Radit begitu melemah.


"Kamu tenang aja, Papa akan jaga cucu-cucu Papa. Bagaiman kondisi Echa?"


"Masih belum sadar," sahut Radit yang terus menggenggam tangan Echa. Sedangkan Riana yang berada di belakang Radit terus saja menyeka ujung matanya.


Setelah pembicaraan Radit serta mertuanya selesai. Radit mengembalikan ponsel milik Riana. "Maafkan Ri, Bang," ucap tulus Riana.


Terdengar Radit menghela napas dalam. "Ini bukan salah kamu, Ri. Jadi, jangan terus menyalahkan diri kamu atas apa yang sudah menimpa Kakak kamu."


Riana merasa tidak pantas berada di dalam keluarga yang memiliki hati yang luar biasa baiknya. Sungguh dia merasa tidak pantas.


Rindra dan Nesha masuk ke dalam ruang perawatan Echa dengan wajah sendu. Dan terlihat ada bercak darah di pakaian mereka.


"Apa kamu mau melihat anak Om Satria untuk terakhir kalinya?"


...****************...


Komen dong ... Niat hati mau up banyak ternyata mini. komen 🤧