Bang Duda

Bang Duda
75. Sentuhan Hangat



Pagi harinya hanya Rion dan Amanda yang sarapan di meja makan. Baru saja Amanda hendak memanggil Echa namun, dilarang oleh Rion.


"Biarkan," ucap Rion.


Amanda hanya diam begitu juga Mbak Ina. Ini kali pertama Echa membuat ulah dan orangtuanya diminta untuk datang ke sekolah. Wajar jika Rion syok karena langsung mendapatkan surat skorsing.


"Bang, coba tanya baik-baik kepada Echa," pinta Amanda.


"Jangan buat kepalaku makin pusing lagi. Biarkan dia menerima hukumannya," balas Rion dan menyudahi sarapannya.


Setelah suaminya berangkat, Amanda membawakan sarapan untuk Echa. Dilihatnya Echa berjalan tertatih.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Amanda. Echa hanya menggelengkan kepalanya.


"Pipi kamu?" tanya Amanda seraya memegang pipi Echa.


"Karena Ayah?" tanya Amanda. Lagi-lagi Echa hanya menggelengkan kepala.


"Ya udah, Tante tinggal ya. Kalo pengen apa-apa panggil Tante di bawah," ujar Amanda.


Echa merasakan pinggangnya yang sakit. Menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Dia membuka tasnya, diambilnya sebuah cokelat pemberian Amanda. Echa pun memakannya.


Siang hari, Mima dan Sasa pulang lebih awal dan mereka berkunjung ke rumah Echa. Kedatangan mereka disambut oleh Mbak Ina. Namun, Mbak Ina tidak berani mengijinkan Mima dan Sasa untuk menemui Echa.


Amanda baru saja selesai sholat Dzuhur, dia tersenyum ke arah sahabat-sahabat Echa. Mima dan Sasa pun menyalami Amanda.


"Boleh Tante tanya sesuatu?" ucap Ayanda.


Mima dan Sasa saling adu pandang, kemudian mereka menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Amanda membawa Mima dan Sasa ke taman belakang.


"Kalian pasti tau kenapa Echa di skorsing?" tanya Amanda.


"Sebenarnya itu bukan salah Echa, Tante," jawab Mima.


"Hanya saja yang Echa balas itu anak kepala sekolah, jadi dia bisa memutar balikkan fakta," sambung Sasa.


"Yang jelas bukan Echa, Echa bukan anak nakal meskipun dia dari keluarga broken home. Ups, keceplosan," ucap Mima yang kini membungkam mulutnya sendiri.


"Broken home?"


"Kami bertiga adalah anak yang tidak seberuntung mereka di luaran sana yang memiliki orang tua yang utuh. Tapi, kami bukanlah anak-anak yang nakal seperti anak-anak broken home lainnya," jelas Sasa.


"Tante, apa Echa baik-baik saja?" tanya Mima dengan wajah yang cemas.


"Kenapa emangnya?"


"Kemarin Echa di dorong sangat keras hingga pinggangnya membentur ujung meja," jawab Sasa.


Wajah Amanda sangat terkejut mendengar ucapan dari kedua sahabat Echa. Dia sendiri melihat jelas tadi pagi Echa berjalan tertatih.


Akhirnya, Amanda membiarkan Mima dan Sasa untuk menemui Echa. Echa sedang membutuhkan dua sahabatnya. Biarlah nanti dia yang akan menghadapi suaminya.


Amanda mengantarkan cemilan dan juga minuman ke kamar Echa. Canda tawa menghiasi kamar itu. Ada kebahagiaan di hati Amanda ketika melihat senyuman Echa. Meskipun senyum kepalsuan.


"Makasih," ucap Echa. Amanda hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Waktu begitu cepat bergerak, sore pun tiba. Sasa dan Mima pamit pulang. Wajah Echa kembali murung lagi. Amanda mulai mencoba mendekati Echa yang sedang membenamkan wajahnya di atas lututnya.


"Kenapa?" tanya Amanda seraya mengusap lembut rambut Echa.


Echa sangat merasakan sentuhan hangat dari mamahnya. Dia mendongakkan kepalanya, dilihatnya Amanda yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan hangat.


Echa langsung memeluk erat tubuh Amanda dan menangis dalam dekapan istri dari ayahnya ini. Amanda membalas pelukan Echa dan tak terasa air matanya ikut menetes.


"Luapkan segala kesedihanmu, dan Tante bersedia mendengarkannya," ujar Amanda.


***