
Komen banyak up lagi, kalo sedikit mending aku tidur.
Yang udah kasih hadiah ❤️ berupa 19 koin dan masuk ke akunya sebagai uang TIPS, hatur nuhun. Terimakasih banyak. Ayo, siapa lagi yang mau kasih aku hadiah ❤️ aku mah gak akan nolak. 😜🤣
...****************...
Juna tidak ingin Rion menunda perceraiannya dengan Amanda. Tujuannya, agar Riana dan Iyan tidak terus terluka karena ulah sang bunda.
"Psikis anak-anak pasti terguncang. Jangan buat mereka terluka lebih dalam." Rion pun mengangguk patuh ketika mereka keluar dari rumah Addhitama.
"Percepat gugatan perceraian kalian. Jangan khawatir masalah hak asuh. Mereka tidak akan pergi dari kamu." Sebuah perkataan yang membuat hati Rion terasa lega.
"Aku memang Kakaknya, tapi aku tidak akan membela orang yang memang sudah salah. Aku tidak membenarkan perbuatan Amanda apapun alasannya. Pada hakikatnya, istri harus mematuhi ucapan suami."
"Dari jeruji besi, aku banyak belajar. Apalagi aku ditempa langsung oleh Tuan Genta hingga akhirnya aku bisa keluar dari penjara karena aku sudah ditugaskan oleh Tuan Genta untuk mengelola usahanya di Aceh. Aku akan kembali ke tempat di mana aku harus berada. Tentunya, setelah persidangan perceraian kalian selesai. Aku akan menemani keponakan-keponakan ku sampai psikis mereka mulai membaik." Juna menjelaskan apa yang dia rasakan kepada Rion.
"Makasih, Kak," ucap Rion tulus.
"Harusnya aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah banyak mengorbankan hati kamu demi keponakan-keponakan ku." Seulas senyum penuh ketulusan hadir di bibir Juna. Dan dibalas dengan senyum keikhlasan oleh Rion.
Mereka semua kembali ke rumah sakit. Rion, Riana, Juna serta Iyan kembali ke kamar perawatan Iyan. Dan dokter sudah memeriksa kondisi Iyan dan memberinya obat hingga Iyan pun terlelap. Begitu juga Echa, dia sudah terbaring kembali di brankar rumah sakit. Radit dengan setia menjaga sang istri. Sedangkan Ayanda dan Gio sudah kembali ke kediaman mereka. Karena Radit tidak ingin kedua mertuanya ikut sakit.
"Ba, apa kamu tidak keberatan jika kita tinggal bersama Ayah dan kedua adikku?" tanya Echa ragu.
"Kenapa harus keberatan, Sayang? Ayahmu adalah ayahku juga, adik-adikmu adalah adik ku juga. Bukan hanya tinggal bersama, semua biaya pendidikan adik-adikmu pun akan aku tanggung." Air mata Echa menetes dengan derasnya. Memiliki suami yang super baik membuatnya tidak bisa berkata-kata karena terlalu bahagia.
"Makasih," ucap Echa. Radit memeluk tubuh sang istri yang sudah pasti sangat lelah karena menghadapi segala masalah.
"Apapun akan aku lakukan demi kamu, Sayang. Harta bisa dicari, tapi wanita berharga sepertimu tidak akan pernah bisa terganti."
Ucapan yang tulus dari hati. Begitulah yang Radit utarakan. Dia rela menghambur-hamburkan uang demi kebahagiaan sang istri. Karena ketika istri bahagia, rezeki pun akan datang dengan berlimpah ruah.
Sedangkan di kamar perawatan Iyan. Riana terus memeluk erat tubuh sang ayah. Hanya kata maaf, maaf dan maaf yang dia ucapkan.
"Sudahlah, Ri. Ayah sudah memaafkan segala tindakan salahmu. Maaf, Ayah tidak bisa mempertahankan rumah tangga dengan Bundamu," lirih Rion.
"Ini keputusan yang terbaik, Ayah. Ayah tidak perlu lagi mengorbankan perasaan Ayah untuk Ri dan juga Iyan. Sudahi pengorbanan Ayah ini. Sudah waktunya Ayah bahagia meskipun harus menduda." Rion tersenyum lembut ke arah Riana.
"Maaf ya, kamu dan Iyan harus merasakan hal yang sama seperti Kakakmu," sesal Rion dengan wajah yang sendu.
"Ri dan Iyan masih sangat beruntung dibanding Kakak. Kami masih mendapat kasih sayang yang tulus dari Ayah sejak kami lahir. Sedangkan Kakak?"
"Kakak lebih menderita dari pada kami. Tidak mendapat kasih sayang dari dalam kandungan sampai Kakak berusia lima tahun, bukankah teramat sakit? Tetapi, Kakak kuat. Kakak membuktikan, jika anak broken home bisa sukses. Dan tidak selamanya terjerumus dalam kubangan kesesatan. Ri, ingin seperti Kakak, Ayah." Sungguh tersentuh hati Rion mendengar ucapan anak perempuannya ini. Inilah sifat asli Riana yang sangat Rion rindukan.
Pagi buta, Rion terkejut ketika Pak Mat mengantarkan pakaian Rion, Riana serta Iyan ke rumah sakit.
"Saya disuruh Neng Echa," jawab Pak Mat.
"Kenapa sudah keluar?"
"Echa ingin melihat kondisi Iyan." Tentu saja Echa masih duduk di kursi roda dengan Radit yang setia mendorongnya. Meskipun, berkali-kali mulut Radit menguap dengan begitu lebar.
Sekarang Rion beralih mendorong kursi roda yang ecah duduki masuk ke kamar perawatan Iyan. "Kedua adikmu masih tidur," imbuh Rion.
"Echa ingin bicara dengan Ayah." Raut wajah Echa terlihat sangat serius.
"Bicara apa, Dek?"
"Semua kebutuhan penting Ayah, Riana serta Iyan sudah Echa pindahkan ke apartment yang Echa tinggali. Di sana cukup luas. Ada tiga kamar. Cukup untuk Ayah dan kedua adik Echa," terangnya.
"Tapi ...."
"Rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan pahit. Baik dengan Mamah maupun dengan ibu dari adik-adik Echa. Echa tidak ingin Ayah dan kedua adik Echa larut dalam kenangan yang menyakitkan."
"Dan Echa harap, Ayah dan kedua adik-adik Echa mau tinggal bersama Echa di rumah yang baru saja kami beli di samping rumah Papa." Mata Rion melebar ketika mendengar ucapan dari Echa. Rumah di samping rumah Gio sangatlah mahal.
"Echa dan Kak Radit sengaja memilihi rumah itu karena Echa ingin selalu dekat dengan Mamah. Dan setidaknya, Ayah pun memiliki teman bercengkrama jika malam tiba dengan Papa."
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah yang Ayah beli?"
"Tidak Ayah, rumah itu terlalu sempit. Anak Radit tiga, belum Riana, belum Iyan, belum Ayah. Masa iya kita hidup bagai ikan teri." Mata Rion mendelik kesal ke arah menantunya yang kurang ajar. Sedangkan Radit masih stay cool dan merasa tidak bersalah sama sekali. Echa hanya terkekeh geli ketika suaminya mengeluarkan celetukan yang pastinya akan membuat ayahnya murka.
Itu semua Radit lakukan agar ayah mertuanya tidak sedih. Radit seorang psikolog. Dia tahu bagaimana keadaan psikis Rion. Bibirnya mampu tertawa, tapi nyatanya dia sangat menderita. Keluar dari rumah itu pun memang usulan Radit. Rumah itu menjadi saksi bisu akan kesakitan Rion dalam menjalani dua kali biduk rumah tangga yang berakhir dengan kegagalan.
Di lain tempat, Addhitama sudah datang dengan seorang pengacara khusus keluarga besarnya. Yang dia bawa adalah pengacara senior yang menjadi saksi bisu atas wasiat yang mendiang papanya tulis untuk anak-anaknya.
Addhitama benar-benar murka kali ini. Bisa-bisanya dua manusia ini masih berhubungan suami-istri di saat semua orang sedang bersedih. Kenapa Addhitama bisa tahu? Satria membuka pintu rumahnya dengan bertelan-jang dada dan hanya menggunakan boxer. Dan yang membuat Addhitama ingin mencekiknya, ketika ada bercak-bercak merah dan juga kehitaman di leher Satria. Namun, Addhitama masih mampu meredam emosinya. Sedangkan Pak Rinto hanya menggelengkan kepala.
Satria serta Amanda pun sudah duduk di hadapan Addhitama dan juga Pak Rinto.
"Bacalah!" seru Addhitama sambil menyerahkan map merah.
Satria menerimanya, dan di sana ada sebuah kertas yang sudah berwarna kekuningan.
"Baca poin terakhir," titah Addhitama.
Ketika di antara kalian ada yang berbuat zinah. Apalagi menghasilkan anak di luar nikah. Semua warisan bagian kalian yang melakukan perbuatan dosa itu harus diberikan kepada panti asuhan Amanah. Tidak ada bantahan maupun keringanan.
Ketika surat ini kalian baca, Papah memang sudah tiada. Tetapi, Tuhan maha mengetahui semuanya. Bersihkan dosa kalian dengan memberikan semua harta bagian kalian kepada mereka yang membutuhkan.
...****************...