Bang Duda

Bang Duda
340. Naik Tahta (Musim Kedua)



Amanda serta Riana tercengang mendengar ucapan Echa yang terdengar sangat serius di telinga mereka. Begitu juga dengan ketiga orangtua Echa serta si kembar. Mereka seperti tidak mengenal sosok Echa yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.


"Jangan anggap aku ini bodoh. Bisa kalian tipu. Aku tahu apa yang kalian lakukan." Echa berucap dengan senyum tipis di bibirnya.


"Ketika kesabaranku sudah habis, aku tidak akan segan-segan menyingkirkan orang yang tidak bisa aku kasihani."


Sungguh perkataan yang sangat menyeramkan. Mereka semua tidak menyangka Echa memiliki sifat yang tersembunyi seperti itu.


"Aku tidak akan pandang bulu. Siapapun, akan aku singkirkan. Termasuk, adik dan orangtuaku sendiri."


Riana dan Amanda sangat ketakutan sekarang ini. Apalagi melihat wajah Echa yang terlihat tidak main-main dengan segala ucapannya.


"Dek ...."


"Ini adalah putrimu yang sesungguhnya, Ayah. Echa bukan lagi anak yang cengeng, yang bisa ditindas sesuka hati mereka. Yang selalu dijadikan alat pertengkaran antara Ayah dan Bunda. Dan berakhir Echa harus mengalah. Mulai sekarang, itu tidak akan terjadi lagi, Ayah. Echa akan mengambil hak yang seharusnya menjadi milik Echa. Sudah terlalu lama Echa diam, pada akhirnya diam Echa menjadi bom waktu yang akan meledak kapan pun. Ledakan itu terjadi pada malam ini. Ketika kedatangan Echa dituduh sebagai bentuk settingan untuk menjatuhkan anak dan istri Ayah. Padahal, Echa pulang ke sini murni karena Echa merindukan kalian semua."


"Hati Echa bukan terbuat dari baja. Dulu, Echa selalu terima ketika diperlakukan tidak baik oleh mereka. Hingga Echa menyimpan rasa sakit dan sedih seorang diri. Kali ini, Echa merasa harga diri Echa sudah diinjak-injak oleh dua orang yang selalu Echa bela. Dituduh menjadi dalang dari keributan ini. Padahal, mereka sendiri lah penyebab masalah ini terjadi."


Mencoba berkata kuat meskipun air mata sudah ingin menetes. Terlalu sakit mengatakan itu semua. Karena Echa tidak sekejam Papa dan juga Kakeknya. Dia masih memiliki rasa iba.


"Maaf Ayah, putrimu ini tidak sebaik putrimu dulu. Karena menjadi orang baik sangat melelahkan. Echa hanya ingin hidup bahagia. Dan maaf, semua aset yang Ayah pegang atas nama Mamah akan Echa ambil. Termasuk beberapa fasilitas di rumah Ayah." Rion pun mengangguk patuh. Dia tidak akan melarang putrinya atau Ayanda mengambil apa yang seharusnya mereka miliki. Karena Rion bukanlah orang yang serakah.


"Echa tidak akan mengungkit masalah warisan. Ayah tidak memberikan warisan sepeser pun kepada Echa, Echa gak masalah. Karena harta Echa lebih banyak dari harta yang Ayah miliki. Pemasukan satu bulan ke rekening Echa dari semua usaha yang Echa kelola seharga rumah Om Arya yang Ayah berikan." Ya, satu milyar rupiah.


Amanda dan Riana benar-benar mati kutu sekarang. Mulut mereka kelu mendengar kenyataan yang ada. Mereka pikir, Echa hanyalah anak yang menyusahkan ayahnya. Ternyata, salah besar. Echa lebih kaya dari sang ayah. Itu yang harus mereka ingat seingat-ingatnya. Ditambah lagi, suami Echa bukanlah orang biasa. Sukses diusia muda dan lahir dari keluarga kaya yang sudah pasti akan menambah pundi-pundi warisan yang Echa miliki. Harta Rion hanya seujung kuku dari harta Echa. Begitulah jika dijabarkan.


"Ayah memang berniat untuk menyerahkan semua aset milik Mamahmu ini. Karena Ayah tidak berhak memegangnya." Tubuh Amanda lemas mendengarnya.


"Untukmu Bunda, jika Bunda ingin menguasai semua harta Ayah. Silahkan! Echa tidak keberatan. Ambil semuanya. Bunda masih mempermasalahkan rumah yang berada tak jauh dari sini yang Ayah beli untuk Echa. Bunda mau mengambilnya juga, silahkan! Karena Echa tidak butuh itu. Tetapi, apa Ayah sudi memberikannya kepada Bunda?" Senyum mengejek pun terukir di bibir Echa.


"Jaga bicara kamu, Kakak!" Riana membentak Echa di depan semua orang.


"Kenapa dengan bicaraku? Bukankah itu kenyataannya?"


"Dia itu istri Ayahmu. Hormati Bunda, untuk apa Kakak belajar jauh-jauh jika hanya untuk memiliki mulut pedas seperti itu," omel Riana.


"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, bagaimana hidupku seusiamu? Harusnya kamu bersyukur karena dari kecil kamu mendapat kasih sayang penuh dari Ayah dan Bundamu. Tetapi, kenapa sekarang ini kamu menjelma menjadi wanita yang tak memiliki urat malu sedikit pun. Menurun dari mana sifatmu itu?"


"Dari Bundanya lah," sahut Aska dengan santainya.


"Jangan pernah menghina Bundaku!" teriak Riana. Aska hanya berdecih kesal.


"Ucapan Aska tidak salah. Bukankah buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apa kamu tidak diberi tahu dari mana asal usul Bundamu?" Sungguh peluru mematikan untuk Amanda.


"Bunda, masih ingatkan betapa aku membenci Bunda ketika pertama kali kita bertemu. Bunda bagai wanita tak berharga di mataku. Wanita yang sangat murahan. Hingga Nenek bersikeras menjadikan Bunda seperti wanita yang terlihat mahal dan penuh kelembutan. Tetapi, sangat disayangkan. Kelembutan Bunda hanya sebagai topeng belaka. Bunda tetaplah Bunda, wanita penjaja ************ yang kini naik tahta menjadi wanita pengeruk harta."


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Echa. Amanda benar-benar tersinggung dengan ucapan Echa. Rahang Rion, Gio, Ayanda, Radit dan juga si kembar sudah mengeras.


"Ini yang kalian anggap anak baik, iya?" teriak Amanda kepada semua orang.


"Anak yang tidak tahu sopan santun." Kemarahan sudah menguasai hati Amanda.


Echa hanya tersenyum tipis mendapat perlakuan kasar seperti ini dari Amanda. "Apa anak Anda juga sudah menjelma menjadi anak yang baik? Apa Anda sudah berhasil mendidiknya menjadi anak memiliki akhlak yang baik? Harus Anda ketahui, anak Anda sudah menggoda adikku dengan tubuh dan bibirnya. Lebih tidak sopan mana? Lebih murahan mana?" sahut Echa.


Mata Aksa membelalak dengan sempurna ketika mendengar ucapan Echa. Semuanya Aksa simpan rapat, tidak pernah bocor ke siapapun. Tetapi, Echa bisa mengetahuinya. Kini, semua mata tertuju pada Aksa.


"Jaga bicaramu!" Tangan Amanda sudah menggantung. Membuat semua pria di sana akan menghadangnya. Namun, Echa berhasil menahan tangan Amanda.


"Sudah cukup Anda menampar saya di tempat umum dan di depan keluarga saya. Jika, sampai tangan Anda berani menyentuh kulit saya persiapkan diri Anda untuk masuk ke dalam penjara." Mata Echa menatap tajam ke arah Amanda. Dengan kasar, Echa melepaskan tangannya yang sedang menahan tangan Amanda.


"Bawa pergi wanita gila ini!" teriak Gio kepada security yang sedarI tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


"Dan kamu Riana, semua kartu yang kamu pegang akan aku bekukan. Jangan harap kamu akan menerima tunjangan dariku. Aku hanya akan menjamin hidup Ayah dan juga Iyan. Bila perlu, aku akan membawa Ayah dan Iyan tinggal bersamaku. Karena aku tahu, kalian selalu bersikap kasar kepada Iyan."


...----------------...


Happy reading ....