
Ponsel Radit berdering, dahinya mengekerut ketika mendapat kiriman video dari seseorang.
Ini apa-apaan? Apa pantas mereka seperti ini. Akan aku viralkan.
Radit terkekeh geli ketika memutar video yang dikirimkan. Beserta ancaman kecil yang tidak ada apa-apanya bagi Radit.
"Kamu kenapa, Ba?" tanya sang istri heran karena suaminya tertawa sendirian.
"Aku mau keluar dulu, ya, Sayang. Akan aku panggil Riana ke sini buat temani kamu," ujarnya.
"Mau ke mana?" Mode manja Echa pun hadir.
"Menemui kecoa pengganggu," sahutnya.
Echa hanya menghela napas kasar. Kecoa pengganggu adalah sebutan bagi mereka yang sudah membuat masalah kepada Radit. Radit meninggalakan sang istri dan kamar perawatan Iyan. Ada Gio yang sedang memeluk erat tubuh Riana yang terisak.
"Ri, temani Kakak sebentar, ya. Abang ada urusan dulu sebentar." Riana pun mengangguk. Lalu, menyeka air matanya.
"Papa sendirian?" tanya Radit.
"Mamah sedang bicara sama Ayah." Radit pun mengangguk mengerti. Puzzle yang dia cari sudah tersusun rapi.
Setelah berbincang sebentar dengan papa mertuanya. Radit pergi ke sebuah cafe tak jauh dari rumah sakit. Sudah ada pria yang menunggunya di sana. Seringai licik menyambut kedatangan Radit.
"Mau bersekutu?" cibir Radit.
"Tidak, hanya ingin meminta bantuan kamu saja. Kalo kamu tidak mau bantu Om. Akan Om sebarkan video laknat ayah mertua dan juga mamah mertuamu yang sedang berpelukan mesra tak malu dengan usia." Bagi orang lain, kalimat yang dilontarkan Satria terdengar seperti ancaman. Tetapi, tidak bagi Radit. Dia hanya menganggap ini sebagai leluconan.
"Hahaha, Om kira Radit akan takut dengan ancaman Cemen Om itu," sarkas Radit yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Ancaman cemen? Sejak kapan Om tidak bersungguh-sungguh dengan ucapan Om?" timpal Satria.
"Sebelum Om menyebarkan video itu, video Om akan tersebar lebih dulu. Dan sudah pasti Om akan dikejar paparazi yang haus akan informasi," kata Radit yang kini sudah menyilangkan kaki kanannya.
"Apa kamu masih membela para mertuamu ini?" sergah Satria sambil menunjukkan video Ayanda dan juga Rion yang sedang berpelukan.
"Membela? Memang ada yang salah dalam video itu?" sahut Radit.
"Mereka memang sepasang mantan suami istri. Tetapi, mereka tidak melakukan hal-hal yang keji."
"Apa dengan hanya memeluk bisa dikatakan laknat? Lalu, apa sebutan Om yang sudah bermain kuda-kudaan bersama istri sah dari Ayah mertua Radit? Biadab atau gak punya otak?"
Telak, sangat telak jawaban dari seorang Raditya Addhitama untuk Satria. Satria lupa, otak Raditya lebih pintar dari papihnya. Dia pintar membaca situasi serta bisa membaca mimik wajah orang lain.
"Keponakan kurang ajar kamu," geram Satria.
"Lah, Om sendiri paman gak ada akhlak. Ketahuan mertua Radit, masih Om embat juga. Udah tua, bukannya tobat malah dibanyakin maksiat."
Satria benar-benar murka dengan perkataan Radit. Mulut Radit sangat berbisa dan juga beracun. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan sakit hati. Namun, bisa dan racun itu Radit keluarkan kepada orang yang memang benar-benar salah. Contohnya, Satria dan Rindra.
"Oke, akan Om sebarkan video ini," ancam Satria lagi.
"Silahkan, jangan salahkan Radit jika video Om juga tersebar. Dan kemudian, Om jatuh miskin dan masuk ke dalam jeruji besi."
"Cih, tidak usah mengancam. Itu tidak akan pernah terjadi," ucapnya sangat percaya diri.
"Apa Om lupa, siapa wanita yang ada di dalam video tidak berfaedah yang Om ambil itu? Apa memang Om memiliki nyawa yang banyak untuk menghadapi para malaikat pencabut nyawa yang sudah pasti akan Kakek Genta serta Papa Giondra kirimkan untuk Om?"
...****************...
Aku balik lagi ... Pasti bosen ya 😜
Ini UP ketiga, kalo komen di bab ini dan sebelumnya lebih dari 50 aku akan UP lagi yang keempat.
See you ...