
Baru saja tiba di rumah, Rion hanya menyapa istrinya lalu naik ke ruangan atas. Amanda membawakan secangkir kopi panas ke ruangan suaminya. Sebelumnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ini Bang kopinya."
"Makasih Sayang," balasnya dengan mata yang masih fokus ke laptopnya.
"Abang gak mandi dulu?"
"Nanggung, Sayang. Ini semua harus selesai besok."
Amanda hanya mengangguk pelan dan pamit keluar. Dia tidak ingin mengganggu suaminya. Akhir-akhir ini suaminya sering pulang malam karena segala urusan toko, Rion yang urus seorang diri. Karena Arya sedang sibuk-sibuknya mengurus pernikahannya.
Ada notif pesan dari sang mamah. Setelah membuka pesannya hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya. Enggan sekali Rion bertemu dengan keluarga dari ayahnya. Karena hanya akan menjadi ajang pamer. Namun, mamahnya sangat memohon kepada Rion untuk bisa hadir ke sana.
Pesan itu tidak langsung dibalas, dia menimbang-nimbang dulu. Lebih banyak manfaat atau mudaratnya. Lima belas menit berlalu, akhirnya dia mengetikkan kata iya dan dikirim ke sang mamah.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rion merenggangkan otot-ototnya. Benar-benar melelahkan kerja seorang diri tanpa seorang Arya.
Rion mematikan lampu ruangan kerjanya dan turun menuju kamarnya. Setelah membuka pintu kamar, dilihatnya Amanda masih bersandar di kepala ranjang dengan ponsel di tangannya. Terlihat jari-jarinya sangat lincah sedang menuliskan sesuatu di ponselnya.
"Serius amat," tegur Rion.
Amanda mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Suara notif pesan dari ponselnya membuat Amanda menundukkan kepalanya lagi fokus pada ponselnya.
Rion memilih untuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya karena istrinya pun sedang sibuk dengan benda pipih di tangannya.
Setelah lima belas menit, Rion keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Sedangkan Amanda sedang menyandarkan kepalanya di kepala ranjang dengan mata terpejam.
Kecupan kening dari Rion membuat Amanda membuka matanya. Raut wajahnya terlihat sendu.
"Ada apa Sayang?" tanya Rion yang kini sudah ikut serta menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sheza positif hamil," lirihnya.
"Harusnya kita senang dong, teman kita ada yang hamil. Kenapa kamu malah terlihat sedih?"
"Kapan Manda seperti itu?"
Rion langsung memeluk tubuh Amanda, ternyata bukan hanya dia yang menginginkan buah hati. Amanda pun lebih menginginkannya.
"Nanti juga akan ada waktunya, Sayang. Yang penting kita terus berusaha," ujarnya lalu mengecup kening Amanda sangat dalam.
"Oh iya, besok kita harus ke Bandung," ucap Rion agar mengalihkan kesedihan istrinya.
"Ada apa?"
"Besok acara pernikahan sepupu Abang. Dan Mamah meminta kita untuk datang ke sana," jelasnya.
"Hanya kita berdua atau sama keluarga Mbak Aya dan Echa juga?"
"Mereka tidak bisa ikut, si kembar masih demam dan Echa harus menjaga bayi gedenya," jawab Rion.
"Besok kita berangkat pagi, ya," ujar Rion.
Amanda hanya mengangguk pelan. "Kita nginep atau langsung pulang?" tanya Amanda.
"Stay di sana untuk beberapa hari ke depan. Sekalian bulan madu. Siapa tahu pulang dari Bandung kamu langsung ngisi."
"Amin ya Allah," jawab Amanda.
"Kita usaha lagi yuk," ajak Rion dengan wajah yang sangat berbinar.
"Besok aja Bang, kan katanya mau bulan madu."
"Bulan madu ya bulan madu, jatah malam ini beda lagi," sahut Rion.
"Mesum."
Rion mulai membuka pintu menuju surga dunia, dan Amanda pun dengan senang hati membuka lebar pintu menuju kenikmatan. Akhirnya, mereka pun melakukannya.
***
"Makasih, Sayang," ucapnya penuh cinta.
Sheza yang lemas hanya bisa tersenyum. Dia pun merasa sangat bahagia karena Azka terus saja mengusap perutnya yang sudah ditumbuhi benih dari Azkano.
"Jangan melakukan hal apapun, jangan terlalu lelah. Kalo mau sesuatu tinggal panggil bibi aja atau telpon aku selama aku kerja."
"Iya, Bie. Kamu tuh udah lebih dari sepuluh kali berbicara seperti itu," balas Sheza.
"Karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan juga calon bayi kita. Dokter bilang, usia kandungan kamu sekarang ini masih rentan," jelasnya.
Sheza pun tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Beruntung sekali dia mendapatkan Azkano yang benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh cinta.
Pagi hari, setelah sarapan Amanda segera bersiap karena akan berangkat ke Bandung. Setelah setengah jam merias diri, Amanda terlihat sangat cantik dan anggun. Membuat Rion yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap istrinya tak berkedip.
"Abang, paket bajunya," tegur Amanda yang melihat Rion yang masih mematung.
Rion tersenyum ke arah istrinya dan berbisik, "kamu sangat cantik, aku semakin cinta sama kamu."
"Gombal."
Rion terkekeh melihat wajah istrinya yang merona dan membuatnya gemas sekali. Setelah Rion sudah siap mereka menuju halaman depan. Sudah terparkir mobil berwarna putih yang akan membawa mereka ke Bandung.
"Bang, ini mobil siapa?"
"Punyaku, Sayang. Tapi, atas nama Yanda. Dan sekarang sudah menjadi milik Echa," jelasnya.
Amanda tidak mempermasalahkannya, mereka pun masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke Bandung. Selama di perjalanan, Rion terus menggenggam tangan Amanda dan sesekali menciumnya. Amanda merasa risih karena di mobil ini bukan hanya ada mereka berdua, ada Pak Mat juga yang berada dibalik kemudi.
Tiba sudah mereka di hotel tempat berlangsungnya acara. Dengan posesif dan mesranya Rion menggandeng tangan istrinya. Membuat para tamu undangan kagum dengan pasangan yang baru datang ini.
Berbeda dengan yang punya hajat, mereka memandang Rion sinis dan benci. Tidak masalah bagi Rion karena itu sudah biasa. Hingga ada salah seorang tamu yang menyapa Rion dengan sangat sopan. Dan memberitahukan kepada istrinya jika Rion adalah pemilik A&R Sontak membuat tantenya melebarkan mata tak percaya.
Bu Dina dan Nisa datang menghampiri putra dan menantunya. Mereka pun berbincang hangat. Seorang wanita seusia Bu Dina menghampiri mereka berempat.
"Oh, ini istri baru Rion yang kupu-kupu malam itu," ucap sinis uwa dari Rion.
"Lepas dari wanita baik-baik dapat wanita seperti ini. Malu-maluin keluarga aja," ocehnya.
Tangan Rion mengepal keras dan wajah Rion pun sudah merah padam. Namun, Amanda memegang lembut tangan Rion dan menatapnya dengan penuh permohonan. Manik mata Amanda seolah bilang "jangan."
"Mantan istrimu lebih beruntung, lepas darimu mendapatkan pria kaya raya sedangkan kamu? Dijodohkan dengan sampah masyarakat oleh Mamahmu," timpal sang bibi yang baru saja datang bergabung bersama mereka.
Seketika dada Amanda terasa sesak dan sakit. Membicarakannya di depan para tamu undangan membuatnya seperti badut tontonan. Karena semua mata tertuju padanya. Air mata sudah menganak begitu pun Bu Dina.
"Wanita seperti itu banyak A di pinggir jalan," sambung Eris sepupu Rion.
"Cukup!" bentak Rion dengan suara keras. Semua orang menatap ke arah Rion.
"Saya tidak masalah jika kalian menghina saya, tapi jangan pernah hina kedua wanita kesayangan saya," sentaknya.
"Kalian menghina istri saya seolah diri kalian itu sudah menjadi manusia paling suci. Padahal kalian tidak lebih baik dari istri saya," lanjutnya.
Amanda pun mulai terisak mendengar pembelaan dari suaminya. Apalagi setiap ucapan suaminya penuh dengan penekanan dan emosi.
Rion memeluk tubuh istrinya yang kini sudah bergetar dan menatap tante-tante serta sepupunya dengan mata tajam.
"Saya tidak pernah mengusik kehidupan kalian. Jadi, jangan sekali-kali mengusik kehidupan saya."
"Kalian malu punya keponakan seperti saya, saya pun tidak Sudi memiliki Tante-tante dan sepupu seperti kalian," tegasnya.
Kedua Tante Rion tercengang mendengar ucapan Rion. Tidak biasanya Rion bersikap seperti ini. Rion membawa istri dan mamahnya untuk pergi meninggalkan acara ini. Dan dia terus menggenggam tangan Amanda.
Inilah kali pertama bagi Amanda merasakan perlindungan yang luar biasa dari suaminya. Tanpa dibantu oleh siapa pun. Hanya rasa bahagia yang Amanda rasakan. Dia merasa dicintai oleh suaminya dengan sikap suaminya yang seperti itu. Memasang badan untuk Amanda di tengah ketidaksukaan dari keluarga papa Rion.
***
Happy reading ....