
Awalnya Amanda bahagia melihat putrinya meskipun hanya dari kejauhan. Apalagi Riana dan Echa sangatlah dekat. Kondisi Riana pun sangat sehat, pipinya semakin gembul dan terlihat semakin lucu.
"Bunda bahagia melihat kalian seperti ini. Maafkan Bunda tidak bisa ada di samping kalian," lirihnya.
Air matanya menetes acap kali melihat Riana tertawa lepas. Hingga dia mematung ketika Riana tiba-tiba terdiam dan melihat dirinya. Riana berjalan ke arah pagar.
"Bunta," teriaknya.
Hati Amanda sangat sakit mendengar panggilan dari putri kecilnya. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Riana, tapi dia tidak bisa mendekat. Ketika dia melihat Echa menghampiri Riana, Amanda bergegas pergi dari sana. Dia bersembunyi di balik pohon besar dengan memegang dadanya.
Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar putrinya memanggil namanya. Sangat sakit hati Amanda. Dia hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh putrinya.
Ketika Echa membawa Riana masuk, tubuh Riana masih menghadap ke arah belakang. Amanda melambaikan tangan kepada Riana dengan air mata bercucuran, dan Riana memanggil namanya lagi membuat hatinya semakin sakit dan perih. Hanya menangis dan menangis yang bisa Amanda lakukan.
Echa menghela napas kasar ketika Riana sudah tertidur. "Mbak, apa Riana sering seperti ini?" tanya Echa.
"Dia sering mengigau memanggil-manggil bundanya. Bapak pun tahu akan hal itu," ujar Mbak Ira.
"Ayah diam saja?" Mbak Ira hanya mengangguk.
"Kenapa nasibmu sama seperti Kakak, Ri? Sekuat tenaga Kakak menjaga kamu agar kamu tidak merasakan hal yang sama seperti Kakak rasakan. Tapi, ketakutan Kakak terjadi," lirihnya.
Mbak Ira hanya memandang iba kepada Echa dan juga Riana. Dia pikir, kehidupan Echa amatlah membahagiakan. Tapi, malah sebaliknya.
Dengan langkah gontai Amanda kembali ke Bogor. Wajah putrinya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Amanda memilih menggunakan kereta. Karena itu lebih memperpendek waktu perjalanan.
Amanda menyusuri jalanan sempit dengan hati yang sedih. Hingga dia tiba di hunian kecil yang dia sewa. Amanda melihat hunian di sampingnya. Hunian yang kosong kini sudah terisi lagi. Setidaknya Amanda memliki tetangga meskipun hanya untuk saling menyapa.
Seperti biasa, jam enam pagi Amanda berangkat dari kontrakannya menuju kedai kue milik Wa Emi. Jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 1,5 kilometer. Setiap hari Amanda hanya berjalan kaki. Kartu yang diberikan oleh Juna sudah semakin menipis untuk biaya hidupnya satu bulan ini. Dia tidak ingin menyusahkan Juna. Dan dia pun tidak memberitahukan Juna jika dia sudah tidak bersama Rion lagi.
Keringat bercucuran hanya diseka menggunakan punggung tangannya. Gajinya sebagai penjaga toko kue tidaklah banyak. Hanya cukup untuk makan dan juga membayar uang sewa kontrakan. Sisanya dia simpan untuk membelikan mainan kesukaan Riana. Dia harus menabung cukup lama supaya bisa membelikan mainan untuk putrinya. Karena harga mainan yang putrinya suka tidaklah murah.
Jam 5 sore, barulah Amanda pulang. Seperti biasa dia berjalan kaki menuju kontrakannya. Awalnya kakinya meras lelah. Seiring berjalannya waktu, dia pun sudah terbiasa.
Amanda melihat ke hunian di sebelah kontrakannya. Lampunya menyala berarti ada orang di dalam. Namun, Amanda tidak pernah melihat tetangga barunya itu keluar rumah.
Makan malam Amanda pun sangatlah sederhana. Hanya dengan nasi putih dengan lauk telur ataupun mie instan. Sudah tidak pernah Amanda makan makanan enak selama tinggal di Bogor. Jika makan siang pun, Amanda memilih untuk memesan makanan yang paling murah.
Setelah kejadian ini, Amanda belajar menjadi manusia yang ikhlas. Dia mengikhlaskan semuanya yang pernah dia miliki. Karena Amanda tahu, rezeki, jodoh dan nyawa manusia hanyalah titipan dari Allah. Ketika sudah waktunya Allah ambil, manusia tidak bisa mengelak lagi.
Rion selalu pulang larut malam. Mbak Ira dan Mbak Ina tidak pernah menanyakannya. Karena bukan kapasitas mereka untuk menanyakan hal itu.
Setiap kali Rion pulang larut malam, wajahnya nampak sendu. Seperti ada kesedihan yang sangat mendalam yang dia rasakan.
Sepulang sekolah Echa mendatangi ayahnya ke kantor. Echa ingin membicarakan perihal Riana. Seperti biasa Echa langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Mata Echa melebar ketika melihat ayahnya dengan seorang wanita.
"Dek," panggil Rion.
"Siapa dia?" Wajah Echa seperti singa yang ingin menerkam wajah wanita dihadapannya.
"Temen Ayah." Echa langsung duduk di antara ayah dan wanita itu.
"Bisa geseran gak?" Nada bicara Echa sangatlah ketus membuat Rion menggelengkan kepalanya.
"Bicaralah," jawab tenang Rion.
"Echa hanya ingin bicara berdua dengan Ayah," tukasnya.
Wanita itu pun langsung pamit undur diri. Karena kehadirannya membawa kobaran api perang. Rion pun mengangguk sopan dan hendak mengantarkan wanita itu. Namun, tangannya dicekal oleh Echa.
"Macam-macam, Echa Pastikan Echa dan Riana akan pergi meninggalkan Ayah." Rion mengangkat tangannya. Dia menyerah jika Echa sudah mengancam. Ancaman Echa akan terealisasi dengan sempurna jika dia melanggarnya.
"Ayah tidak kasihan kepada Riana?" tanya Echa dengan tatapan sendu.
"Kenapa Ayah tega sama Riana? Andaikan Ayah tahu kesakitan Riana, apakah Ayah tetap acuh dan tidak ingin mencari Bunda?" Rion memejamkan matanya sejenak. Dia mengatur napasnya.
"Bunda yang telah meninggalkan kita. Bukan Ayah yang meninggalkan Bunda," jawab Rion.
"Echa tahu, tapi cobalah Ayah lihat Riana. Kemarin dia berteriak-teriak memanggil bunda ketika kami bermain di luar. Riana juga sering mengigau dan memanggil nama bunda. Apa Ayah tidak kasihan? Melihat Riana seakan melihat Echa kecil. Echa sangat merasakan kerinduan Riana pad ibunya," lirihnya.
Rion mendekap hangat tubuh putrinya. "Bukalah hati Ayah. Maafkanlah Bunda demi Riana. Bocah kecil yang tidak tahu apa-apa," ujarnya dengan nada yang terisak.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Rion. Dia menutup mulutnya rapat seperti menutup hatinya. Dia masih teguh pada pendiriannya.
Wajah Echa sangatlah murung, Radit tidak tega melihat kekasihnya seperti ini. "Ayah kamu gak mau?" Echa hanya terdiam.
"Weekend kita ke Bogor, yuk. Kita jalan-jalan sebelum kamu ujian. Kamu juga butuh refreshing," ujar Radit.
Echa pun mengangguk pelan. Mereka telah tiba di kediaman Gio. Ternyata Riana ada di sana.
"Mommi, Li nin bobo ma mommi," ucapnya.
Ayanda pun mengangguk pelan. "Mau mommi bacakan dongeng?" Riana pun mengangguk cepat.
Hatinya begitu sakit melihat Riana yang mendambakan pelukan hangat seorang ibu. Setiap bertemu Ayanda dia pasti akan bersikap manja dan tidak ingin lepas dari Ayanda.
"Kasihan Riana," ucap Gio. Echa menatap papanya lalu duduk di sampingnya.
"Echa sedih liatnya." Gio merangkul pundak Echa. "Percayalah, suatu saat nanti Bunda mu akan kembali lagi."
"Bagaimana caranya? Ayah saja tidak ingin mencari Bunda," sahut Echa.
"Lain di luar lain di dalam." Echa mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan sang papa.
Sedangkan Rion, dia enggan beranjak dari kursi kebesarannya. Bayang-bayang wajah istrinya yang sangat tirus dengan kulit menggelap menggerayangi pikirannya.
Riana, Bunda rindu kamu.
Ucapan itu yang terngiang-ngiang di kepala Rion. Air mata yang begitu deras yang selalu membasahi wajahnya ketika mengingat tentang Riana.
Ketukan pintu dari Pak satpam membuyarakan lamunan Rion. "Maaf, Pak. Ada surat dari pengadilan agama untuk Bapak ...."
****
Happy reading ....