
Pagi harinya, Riana menatap dirinya di pantulan cermin. Dia hanya menghela napas kasar.
"Ini model apaan coba?" gumamnya sambil melihat dirinya dari atas sampai bawah.
Rambut dikuncir dua dengan pita yang berbeda. Tas dengan kardus, dan kaos kaki bola yang dia kenakan berbeda warna. Kanan berwarna merah dan kiri berwarna biru.
"Ri, sarapan dulu," teriak sang Bunda di lantai bawah.
Riana segera menuju meja makan dan disambut tertawa renyah oleh Rian.
"Kakak mau main bola apa mau sekolah? Itu rambut diapain coba? Kayak temen Iyan," ledeknya.
Riana memberengutkan wajahnya, dan dengan lembut Rion mengusap kepala putrinya. "Namanya juga MOS pasti dikerjain dulu," ucap Rion dengan lembut.
"Iya, Ayah."
Mereka pun sarapan bersama dan sesekali Iyan bercerita tentang antusiasnya ingin bertemu teman baru.
"Yah, Kakak kapan pulang ke Indonesia?"
Pertanyaan Riana membuat Rion terdiam sejenak. Rasa rindu menggebu selalu Rion rasakan ketika dia sendirian. Merelakan putri sulungnya terasa sangat berat baginya. Apalagi, suaminya membawa Echa jauh darinya. Dari Australia sekarang pindah ke London mengikuti Radit
"Nanti juga Kakak akan mengabari kita semua jika mau pulang. Kalo gak, nanti kita yang ke sana yang jenguk Kakak," jawab Amanda.
"Hore, kita akan ketemu Kakak." Rian sangat senang mendengarnya. Berbeda dengan Riana, seakan ucapan sang bunda hanya sebagai pelipur lara. Apalagi melihat wajah ayahnya yang berubah menjadi sendu.
Setelah selesai sarapan, Riana dan juga Iyan pamit kepada kedua orangtuanya.
Amanda mengusap lembut pundak Rion. Waktu empat tahun tidak membuat Rion merelakan Echa sepenuhnya.
"Nanti juga Echa akan kembali ke sini, Yah. Sebagai seorang istri, dia harus mengikuti ke manapun suaminya pergi."
Rion pamit kepada Amanda untuk pergi ke kantor. Dia masih bekerja bersama Arya. Terkadang, Arya juga sibuk mengurus perusahaan Papihnya. Pintar-pintar Arya membagi waktu.
Rion melajukan mobil ke arah komplek rumah Ayanda. Ketika dia rindu dengan putrinya, dia akan datang ke rumah itu. Rumah yang dia beli ketika Echa kabur ke Australia karena kecewa dengan Ayahnya.
Di dalam rumah, dia menatap figura besar yang berisi foto Echa dan juga Radit yang memamerkan buku nikah dengan tawa gembira.
"Kenapa kamu cepat tumbuh dewasa, Dek? Dan ditinggalkan jauh oleh kamu membuat rindu seorang Ayah terhadap anaknya semakin bergejolak. Bagaimana kabarmu, Dek?" gumamnya.
Empat tahun yang lalu ...
Anak kecil yang terlambat menerima kasih sayang, kini memakai kebaya putih cantik di tubuhnya. Senyum terus mengembang di bibirnya. Rona bahagia terpancar di wajah cantiknya. Hanya seorang pria dewasa yang menatapnya penuh kesedihan.
"Ayah di mana, Bun?"
"Ke toilet katanya," jawab Amanda dengan tersenyum bahagia melihat Echa.
"Kamu sangat cantik." Senyum merekah di bibir Echa.
"Makasih, Bunda."
Arya yang melihat Rion berada di pojokan segera menghampirinya. "Gak usah cengeng," ejek Arya.
"Gua belum siap," lirihnya.
"Anak lu juga berhak bahagia," ujar Arya.
Acara akad nikah pun dimulai. Pengantin pria beserta rombongannya sudah tiba di kediaman Gio. Kali, ini akad nikah diadakan di kediaman Gio karena tempat yang lebih luas.
Tak lama, pengantin wanita yang sangat cantik itu diapit oleh kedua wanita cantik yang tak lain Beby beserta Sheza menuju pelaminan.
Di sana sudah ada Radit bersama Addhitama dan juga Rion beserta Ayanda yang tak lain adalah orangtua kandung dari Echa.
"Sebelum acara akad nikah berlangsung, ada kalanya calon pengantin pria maupun wanita meminta restu kepada kedua orangtua masing-masing," ucap pembawa acara.
Pembawa acara menyerahkan microphone kepada Echa. Dan Echa sudah bersimpuh di hadapan Ayah dan Mamahnya.
"Ayah, Mamah yang sangat Echa sayangi dan juga cintai."
Suara yang terdengar sangat berat dan bergetar.
"Echa bersyukur dan berteimaksih kepada Allah karena Echa telah terlahir sebagai putri dari Ayah dan Mamah. Limpahan perhatian, jutaan kasih sayang serta cinta yang besar telah Ayah dan Mamah berikan dengan tulus dan tanpa pamrih kepada Echa selama ini."
"Echa menghaturkan permohonan maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan Echa baik kata-kata ataupun perbuatan yang menyakiti hati Ayah dan Mamah. Baik yang disengaja maupun tidak disengaja."
Dada Echa sudah dipenuhi rasa sesak. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.
"Hari ini, Echa memohon izin dan memohon restu untuk dinikahkan dengan laki-laki pilihan Echa. Untuk menemani perjalanan panjang hidup Echa kelak. Seorang laki-laki yang insya Allah bisa menjadi imam yang baik dan penuh kasih sayang."
Air mata Echa sudah tidak bisa tertahan, begitu juga Ayanda. Dan Rion, dia hanya diam menahan sesak di dadanya. Beginilah rasanya melepaskan putri sulungnya dan menyerahkan ke laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.
"Echa mohon doa restu kepada Ayah dan Mamah semoga kehidupan rumah tangga Echa senantiasa rukun dan damai dan diberkahi oleh Allah SWT. Amin Yaa rabbal Alamin."
Air matanya berlinang, dengan segera Amanda menyerahkan tisu kepada Echa. Agar segera menyeka air matanya. Karena akan merusak riasan wajah cantiknya. Pembawa acara menyerahkan microphone ke arah Rion.
"Elthasya Afani putri Ayah ...."
"Maafkan Ayah, Nak. Jika, selama ini kasih sayang yang Ayah curahkan untuk kamu tidaklah banyak."
Rion menghela napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. Sedangkan Echa sudah menunduk menitikan air matanya lagi.
"Maafkan Ayah, jika Ayah terlambat memberikan kasih sayang Ayah kepada kamu. Maafkan Ayah, Nak."
Echa sudah sangat terisak mendengar penuturan Ayahnya
"Ayah akan merestui dan meridhoi kamu dan calon imammu untuk berjanji dalam sebuah ikatan pernikahan. Ayah yakin, pilihanmu adalah yang terbaik untuk kamu. Dan akan memberikan kasih sayang yang lebih besar dari apa yang telah Ayah berikan."
"Ayah merestui kamu, Nak."
Echa berhambur memeluk tubuh Ayahnya dengan deraian air mata. Begitu juga Ayanda yang sudah menghabiskan puluhan lembar tisu untuk menyeka air matanya.
Dan Arya, dialah yang sangat terharu akan momen ini. Arya benar-benar menangis karena dialah yang menjadi saksi bisu perjalanan kasih sayang Rion untuk Echa.
Setelah Echa yang meminta izin, sekarang giliran Radit. Hanya saja. Radit masih bisa menahan emosinya. Sedangkan Addhitama yang menangis keras. Bayang-bayang masa lalu yang kejam terhadap Radit berputar di kepalanya.
Benar kata Genta, anak yang Addhitama abaikan. Menjelma menjadi anak yang sukses melebih kesuksesannya. Ya, Radit mampu sukses dengan kerja kerasnya sendiri.
Acara ijab kabul pun segera dimulai. Rion sudah menjabat tangan Radit. Ada hawa gugup yang menyelimuti Radit. Namun, seakan sang Mamih ada di sampingnya. Mengusap lembut bahu Radit dan mengucapkan, "kamu bisa Nak."
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Raditya Addhitama bin Addhitama dengan putri saya Elthasya Afani binti Rion Juanda dengan mas kawin uang sebesar 10 Milyar dan rumah seharga 5 Milyar serta emas seberat 100 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Elthasya Afani binti Rion Juanda dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.
"Sah."
"Alhamdulillah."
Echa dan Radit tersenyum lega. Echa mencium tangan Radit dengan sangat dalam. Kemudian, Radit mengecup kening Echa penuh dengan cinta. Dan mereka menyematkan cincin jari manis mereka bergantian. Senyum bahagia terukir jelas di wajah pengantin baru ini.
Rion menghela napas kasar. Di hari itulah dia harus melepaskan putri kesayangannya kepada Radit. Radit memang pria yang baik, tapi Radit malah membawa Echa pergi darinya. Itulah yang menambah rundung kesedihan Rion.
Rumah tangga Echa memang bahagia. Radit memperlakukannya dengan sangat baik. Hingga satu hari, Echa menelponnya dan menangis sedih.
"Echa keguguran, Yah." Itulah yang Echa ucapkan.
Tanpa pikir panjang, Rion segera terbang ke Ausi. Namun, dia beralasan kepada semuanya jika dia ada urusan ke Singapura. Kebetulan toko bakery di Singapura sedang mengalami kemajuan.
Rion tiba di kediaman Echa dan Radit di Canberra tanpa memberitahukan mereka terlebih dahulu. Radit yang baru akan berangkat ke tempat praktek, terkejut akan kedatangan Rion.
"Ayah."
"Echa mana, Dit?" Radit sangat melihat jelas kekahwatiran Rion.
Radit mengantar Ayah mertuanya ke dalam. Di mana Echa sedang terbaring.
"Dek."
Echa yang akan terpejam perlahan membuka matanya. Melihat ke asal suara dan bulir bening pun menetes begitu saja di matanya. Rion segera memeluk tubuh putrinya.
"Maafkan Radit, Ayah," sesal Radit.
"Bukan salah siapa pun. Kalian memang belum dipercaya untuk memiliki momongan," jawab Rion.
Echa semakin terisak di dalam pelukan Ayahnya. Inilah yang dibutuhkan oleh Echa. Dekapan hangat sang ayah.
"Ayah, Echa mohon jangan katakan ini pada siapapun. Biarlah nanti Echa yang mengatakannya kepada semuanya," pintanya dengan sangat lirih.
Rion menatap ke arah Radit. Tidak dipungkiri, Rion melihat kesedihan di menantu pertamanya ini.
"Iya, Sayang. Ayah tidak akan mengatakannya kepada siapapun."
Radit yang tadinya hendak pergi ke tempat praktek, akhirnya memutuskan untuk menutup tempat prakteknya hari ini dan beberapa hari ke depan. Istrinya masih sedih dan membutuhkannya untuk tempat bersandar.
Sebenarnya sudah seminggu ini Radit berada di rumah dan hanya menemani Echa. Tapi, ternyata itu tidak membuat Echa sembuh. Masih ada luka yang tak kasat mata setelah kehilangan janin yang telah mereka jaga selam empat bulan ini.
Setelah Echa merasa lebih tenang dan dia pun tertidur. Rion membawa Radit ke ruang keluarga.
"Kenapa bisa terjadi, Dit?" tanya Rion.
"Radit dan Echa sudah semaksimal mungkin menjaga calon buah hati kami, Yah. Tapi, pada malam itu Echa terpeleset di kamar mandi dan akhirnya ...."
Rion mengusap pundak Radit. Dia tahu bukan hanya Echa yang sedih. Radit pun sangat sedih.
"Padahal, kami sudah menantinya selama dua tahun," lirih Radit.
"Kamu jangan menyerah, terus berusaha. Dan jangan lupa konsultasikan semuanya kepada dokter. Ayah tidak ingin terjadi apa-apa dengan putri Ayah. Dan kamu pastikan jika, psikis Echa baik-baik saja. Ayah takut, psikisnya terguncang."
Radit mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya.
"Satu hal lagi, kalo kamu sudah tidak sabar ingin memiliki anak dan malah bermain di belakang Echa. Jangan salahkan Ayah, kalo Ayah mengambil Echa dari kamu. Dan tidak akan pernah Ayah izinkan kamu bertemu dengan Echa lagi."
Sebuah ancaman yang sungguh-sungguh yang Rion berikan kepada Radit.
"Tidak akan Ayah, jika Radit hanya mempermainkan perasaan Echa tidak akan mampu Radit menunggu Echa selama lebih dari enam tahun," jelasnya.
"Radit menyayangi Echa Ayah, apapun akan Radit lakukan untuk Echa. Sekalipun Radit harus mengeluarkan uang banyak untuk melakukan program kehamilan, itu tidak jadi masalah."
Rion tersenyum bangga terhadap Radit. Ya, selama pernikahan Echa dan Radit berlangsung hanya beberapa kali Radit cerita kepada Rion perihal Echa. Karena ketika Echa dan Radit bertengkar, mereka akan mengadu kepada keluarga pasangan mereka masing-masing.
Echa akan berkeluh kesah kepada Addhitama dan Radit akan berkeluh kesah kepada Rion dan juga Ayanda. Sehingga hubungan rumah tangga Radit dan Echa sangat harmonis sampai saat ini. Meskipun, mereka belum dikaruniai seorang anak.
"Apakah kamu sudah mengakhiri sedihmu, Dek? Ayah kangen kamu," lirihnya seraya mengusap foto anak dan menantunya.
****
London ...
(Perbedaan waktu antara London dengan Jakarta berbeda enam jam. Jakarta lebih cepat enam jam.)
Echa sedang membaringkan kepalanya di bahu Radit setelah mereka melakukan olahraga rutin di malam hari. Tak hentinya, Radit mengecup ujung kepala sang istri.
"Aku rindu Ayah dan Mamah, Ay," ucapnya.
Radit memeluk erat tubuh Echa yang memang tidak menggunakan sehelai benang pun. "Maafkan aku."
Echa tersenyum dan mengusap lembut pipi Radit. "Sebagai seorang istri aku harus mengikuti ke manapun suami ku pergi, aku harus ikut dengan kamu," sahutnya.
"Makasih, Sayang," ucapnya sambil mengecup singkat bibir Echa.
Echa masih memeluk tubuh Radit yang hanya tertutup selimut. Namun, perutnya terasa diaduk-aduk. Dan kepalanya teras berat.
Echa segera turun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Radit terkejut dan mengikuti istrinya dari belakang.
Echa sedang memuntahkan isi perutnya. Dengan telaten, Radit memijat tengkuk leher Echa. Setengah jam Echa berada di kamar mandi dan dia terkulai lemas di dada bidang Radit.
"Sayang, kamu makan apa? Kok bisa gini?" Echa hanya menggeleng.
Radit segera menggendong tubuh Echa dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia pun memakaikan piyama ke tubuh Echa.
"Aku bikin teh hangat, ya." Echa mengangguk pelan.
Tak lama, Radit kembali dengan teh hangat di tangannya. Radit membantu Echa untuk meminum tehnya.
"Udah."
Radit meletakkan tehnya di atas nakas. Dan dia naik ke atas tempat tidur memeluk tubuh lemah istrinya.
"Kamu sudah datang bulan?" tanya Radit sambil mengusap lembut kepala Echa.
Echa hanya menggeleng dan memeluk erat tubuh Radit.
"Besok lakukan test kehamilan, ya."
Mata Echa nanar mendengarnya. Radit mengecup kelopak mata Echa bergantian.
"Meskipun hasilnya negatif, aku gak akan marah. Kita masih bisa coba lagi. Dan jika dalam tahun ini tidak ada perkembangan. Kita akan lakukan program bayi tabung."
Echa mulai menitikan air mata mendengar penuturan Radit. Sudah empat tahun menikah tapi, belum dipercaya memiliki momongan sungguh pukulan berat untuk seorang wanita.
Keesokan paginya, Echa mengambil testpack di laci meja riasnya. Hanya helaan napas kasar ketika dia memandangi testpack tersebut. Sudah lebih dari lima kali ketika Echa mual-mual dan melakukan test kehamilan ternyata hasilnya negatif. Kecewa, sudah pasti.
Dengan langkah gontai, Echa menuju kamar mandi. Dia tampung urinnya lalu, dia celupkan test pack tersebut. Echa pun bergegas mandi dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Meskipun bau bumbu dapur membuatnya mual, Echa tetap mencoba bertahan. Hingga lingkaran di pinggangnya sedikit membuatnya tersentak.
Radit menangis sambil memeluk Echa dari belakang. Echa sedikit terkejut, dan langsung mematikan kompor.
"Kamu kenapa, Ay?" tanya Echa penuh kekhawatiran.
...----------------...
Semoga terhibur ...