Bang Duda

Bang Duda
122. Buka Puasa



Mon maap, kalo kemarin bahasa sundanya sedikit kasar.🙏 Maklumlah aku mah bukan orang Sunda alus 😁


Note :


Baca disamping pasangan masing-masing.


...****************...


Tiga hari sudah berlalu, hari ini Juna diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia pun bersiap untuk kembali ke Aceh. Sekeras apapun Amanda melarang tapi, Juna memiliki watak yang sangat keras. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya.


"Kamu salah melangkah, Jun," ucap Marta dengan tatapan sendu.


Juna hanya tersenyum tipis mendengar perkataan kakak iparnya ini. Dia memberitahukan Marta jika, hari ini dia akan kembali menetap di Aceh. Tanpa rasa malu, Juna menceritakan semuanya tentang perasaannya terhadap Ayanda. Ada gurat kecewa di wajah Marta.


"Kamu boleh mencari pengganti Meera tapi, jangan menjadi perusak rumah tangga orang lain."


"Pilihlah wanita yang memang benar-benar sendiri. Mau gadis atau janda yang terpenting kamu nyaman menjalani hubungan itu."


Juna menganggukkan kepala dan akhirnya memeluk tubuh Marta. Hanya Marta yang masih menganggapnya keluarga setelah kepergian Ameera untuk selamanya.


Kini, sudah waktunya Juna berangkat ke Bandara. Dia hanya diantar oleh Amanda seorang diri. Karena suami Amanda sedang berada di luar kota begitu pun Marta yang harus kembali ke kantor.


Juna memeluk tubuh Amanda sangat erat lalu, mencium kening adiknya sangat lama. Hingga air mata Amanda menetes begitu saja. Kebahagiaan bertemu dengan kakaknya kini harus berakhir. Amanda kembali menjadi anak sebatang kara.


"Kita masih di negara yang sama, Nda. Kak Jun janji, akan sering menengokmu."


Ucapan Juna hanya dijawab dengan anggukan oleh Amanda. Juna semakin menjauhi Amanda membuat air matanya semakin deras mengalir. Baru saja bertemu tapi harus terpisah kembali.


Di apartment, hanya guratan wajah kecewa yang terlihat di wajah cantik Ayanda. Suaminya kembali mengundur kepulangannya karena harus mengurus perusahan lain yang berada di Singapura.


Bukan hanya Ayanda yang merasakan kecewa. Selama penerbangan dari Australia menuju Singapura wajah sendu Gio sangat terlihat. Istrinya bilang tidak apa-apa tapi, dia tahu istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mon, kamu atur semua pertemuanku pada hari ini juga. Setelah itu kita langsung kembali ke Jakarta. Aku tidak mau membuat istriku kecewa lagi dan lagi."


Remon hanya menganggukkan kepala. Hari ini Remon benar-benar harus bekerja ekstra. Delapan pertemuan dalam satu hari membuat Remon memijat pangkal hidungnya karena belum apa-apa sudah merasa pusing.


Di luar kota, Rion terus memaki Arya karena hari ini dia belum bisa kembali ke Jakarta. Masih ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan di sana. Membuat Rion uring-uringan karena dia sudah tidak tahan ingin segera buka puasa namun, harus tertunda lagi dan lagi.


Wajah lelah, letih, lesu sudah nampak pada wajah Remon namun, tidak dengan Gio. Seakan tubuh Gio memiliki banyak baterai cadangan yang tidak pernah lemah.


📩 "Cepatlah pulang Daddy, Mommy kangen."


Ya, karena pesan itulah yang membuat Gio memiliki kekuatan lebih dan tenaga ekstra untuk menyelesaikan pertemuan demi pertemuan dalam satu hari. Dia hanya ingin pekerjaannya cepat selesai dan kembali ke Jakarta menemui istri dan anak-anaknya.


Pukul 00.47 selesai lah sudah pertemuan Gio dengan para kliennya. Hatinya sangat lega dan langsung menyuruh Remon untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Malam ini juga mereka akan kembali ke Jakarta.


Tubuh Remon kini sudah seperti tulang ayam lunak. Ingin rasanya dia rebahan di kasur nan empuk namun, apalah dayanya hanya sebagai kacung untuk Gio. Jadi, dia harus menuruti semua perintah atasannya.


Jam 03.40 Gio tiba di apartment. Dia membuka pintu pelan, dilihatnya Ayanda sedang tertidur dengan memeluk guling. Gio hanya menghela napas kasar dan rasa bersalah kini memenuhi hatinya.


Gio naik ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati dan menyingkirkan guling yang sedang dipeluk oleh istrinya. Kini, dia yang memeluk tubuh Ayanda.


"Maafkan Daddy."


Gio mengecup kening Ayanda dan juga mengecup singkat bibir istrinya. Memandangi wajah istrinya yang kini nampak tirus karena terlalu lelah mengurus si kembar seorang diri. Dan juga mata panda yang kini menghiasi wajah cantiknya karena kurang tidur.


Cahaya pagi mulai masuk ke dalam celah jendela kamar. Ayanda membuka matanya pelan, kaget bercampur bahagia yang dia rasakan. Suaminya sudah berada di hadapannya.


Ayanda mencium lembut bibir Gio. Hingga sang pemilik bibir menarik tubuh Ayanda dan melum*tanya dengan ganas. Pertukaran saliva terus mereka lakukan meskipun oksigen sudah sedikit menipis namun, tak mereka hiraukan. Hingga tangisan salah satu dari si kembar berhasil menghentikan aktifitas melepas rindu suami-istri ini.


Ayanda mengangkat tubuh Gathan dan mulai membuka kancing piyama untuk menyusui putranya.


"Sayang, hari ini kita ke dokter kandungan ya," ucap Gio seraya memeluk tubuh Ayanda dari belakang.


"Kita konsultasi alat kontrasepsi apa yang harus Mommy gunakan. Agar Daddy tetap bisa menggarap Mommy tanpa membuat Mommy hamil lagi."


Ayanda memukul tangan Gio yang melingkar di perutnya. "Daddy sudah tidak tahan Mom."


Setelah kedua putranya mandi dan tampan, Ayanda tak hentinya menciumi pipi gembul kedua putranya.


"Mom, pengasuh si kembar sudah ada di depan."


"Pengasuh?" tanya Ayanda.


"Iya, kan Daddy kemarin bilang setelah Daddy kembali ke Jakarta akan ada pengasuh untuk si kembar. Tenang Mom, mereka sudah melalui seleksi yang ketat kok."


Ayanda hanya menuruti saja apa yang dikatakan suaminya. Ingin rasanya menolak tapi, dia juga lelah mengurus si kembar seorang diri.


Ayanda dan Gio sudah tiba di rumah sakit. Dan meninggalkan si kembar dengan pengasuh mereka. Mereka menemui dokter Sarah yang sekarang praktek di Jakarta.


"Sembarang lu, anak gua masih merah."


"Ya, terus?"


"Gua mau konsultasi alat kontrasepsi apa yang bagus untuk istri gua pake tanpa harus ada efek sampingnya."


Sarah menjelaskan satu per satu alat kontrasepsi yang ada. Ayanda dan Gio hanya mendengarkan dengan seksama.


Setelah acara konsultasi selesai dan obat sudah ada di tangan. Gio melajukan mobil bukan ke arah apartment mereka.


"Dad, mau kemana kita?"


"Ke hotel, Sayang"


"Tapi ...."


Gio mencium bibir Ayanda sangat lama meskipun hanya menempel saja. "Daddy rindu."


Gio langsung turun dari mobil karena mereka sudah tiba di hotel. Gio menggandeng tangan Ayanda dan masuk ke dalam kamar yang memang khusus untuk pemilik hotel.


Gio langsung menarik tubuh istrinya hingga terjatuh di pangkuannya. Deru napas yang bernafsu sangat Ayanda rasakan. Dengan cepat Gio mengecup bibir Ayanda, menggigitnya pelan dan melum*tanya. Lidahnya kini menyusuri rongga mulut Ayanda. Belitan demi belitan lidah tak terelakan. Tangan Gio pun sudah menyingkap mini dress yang Ayanda gunakan.


Dari bibir kini turun ke leher, mengecup dan menjil*t leher istrinya dengan penuh cinta dan meninggalkan tanda-tanda cinta di sana membuat Ayanda kini mendesah nikmat.


Tangan Gio sudah masuk ke dalam dua gundukan yang kini semakin membesar dan dia pun memainkannya. Sedangkan bibirnya terus menghujani bibir Ayanda dengan ciuman.


Sekarang hanya menyisakan bra dan juga CD di tubuh istrinya. Membuat Gio semakin liar, tangannya membuka pengait bra dan yang satunya lagi sudah mengelus area tersensitif istrinya.


"Daddy." Suara parau istrinya terdengar sangat menggoda di telinga Gio.


Gio membaringkan tubuh istrinya di sofa, membuka bagian penutup bawah. Menciumi setiap inchi tubuh istrinya tanpa terlewat. Menyusu layaknya si kembar pun sudah dia lakukan dan dia menikmati asi yang keluar ketika dia menghis*p put*ng istrinya.


Mata Gio berbinar melihat area segitiga istrinya. Dia sedikit melebarkan kaki Ayanda. Membenamkan wajahnya di sana. Lidahnya memainkan daging kecil dan sesekali menghis*pnya hingga desahan demi desahan istrinya terdengar lagi dan lagi.


Kini lidahnya menyusuri lubang kenikmatan istrinya. Membuat tubuh istrinya mengerang keras menandakan dia mencapai puncak kenikmatan. Gio tersenyum karena goa milik istrinya sudah sangat basah dan akan membuat ularnya masuk dengan lancar jaya.


Gio kembali mencium bibir istrinya lagi, dan kini mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.


Benda tumpul nan berbahaya di bawah sana sudah meronta-ronta ingin masuk ke dalam goa kenikmatan. Ayanda hanya menganggukkan kepala ketika Gio meminta izin.


Dengan pelan Gio memasukkan kepala pusakanya, hingga membuat istrinya sedikit menjerit. Gio menghentikannya sejenak. Ketika dirasa istrinya sudah siap kembali Gio memasukkan pusakanya dengan perlahan tapi pasti hingga pusakanya masuk dengan sempurna.


Desah*n demi desah*n bersahutan menandakan mereka sangat menikmati permainan satu sama lain. Terlebih jika Ayanda berada di atas membuat Gio semakin menggila begitu juga istrinya pasti tidak akan bisa menahan apa yang ingin dia keluarkan.


"Daddy ...."


"Keluarkan Mom." Gio menarik dagu istrinya melum*t bibir istrinya dengan penuh nafsu.


Keringat yang mengucur deras tak mereka indahkan. Hanya suara decitan peraduan kulit dan juga alunan suara yang dihasilkan oleh pusaka emas yang sedang masuk ke dalam gua yang penuh dengan lendir menjadi backsound aktifitas mereka.


Meskipun sudah berkali-kali mencapai klimaks tapi, Ayanda masih mampu meladeni permainan suaminya yang terbilang lama. Sudah hampir dua jam namun, suaminya tak kunjung mencapai klimaks.


Sudah berbagai gaya mereka lakukan, dari 69, doggy style, cicak nemplok di dinding tapi belum ada tanda-tanda Gio mencapai klimaks. Kejantanan suaminya patut diacungi jempol. Kini, tubuh Ayanda sudah tidak berdaya karena sudah lebih dari tujuh kali dia mencapai klimaks. Gio semakin mempercepat ritmenya hingga erangan keras keluar dari mulutnya.


Gio tersenyum melihat istrinya yang sudah terkapar tidak berdaya dan mencium keningnya sangat dalam lalu mencium bibir Ayanda.


"Makasih Mommy."


Gio menaikkan selimut ke tubuh polos istrinya yang sudah dipenuhi lukisan abstrak hasil karyanya. Membiarkan istrinya istirahat karena sudah dipastikan dia akan menyerang istrinya kembali.


Benar saja, baru saja Ayanda membuka mata senyum mesum Gio sudah Ayanda lihat. Tanpa aba-aba Gio menyerangnya. Tak sampai situ saja, acara mandi-memandikan pun menjadi kegiatan yang sangat lama karena Ayanda harus meladeni napsu suaminya yang tidak pernah ada habisnya.


Kegiatan itu berakhir ketika senja mulai menampakkan wajahnya pada langit. Ayanda sudah tidak bisa bangun dan harus dibopong oleh Gio.


"Daddy mah keterlaluan," omel Ayanda.


"40 hari tidak tersalurkan Mom. Wajarlah," ucapnya sambil menyuapi istrinya.


Karena saking sibuknya mereka melepas rindu dan menyelami surga dunia mereka lupa jika mereka sudah melewati makan siang.


"Buka puasanya sangat nikmat ya, Mom," goda Gio.


Ayanda hanya menatap suaminya dengan tatapan kesal membuat Gio semakin gemas dan mendekap erat tubuh istrinya. Tak lupa mengecup ujung kepala istrinya.


Meskipun hampir dua tahun menjalani rumah tangga, gelora napsu mereka masih seperti pengantin baru. Permainan ranjang menjadi menu wajib setiap hari untuk mereka berdua.


Itulah yang membuat rasa cinta Gio kepada Ayanda semakin bertambah tiap harinya. Begitu juga Ayanda, perlakuan manis dari Gio dan juga Gio selalu memanjakannya membuat Ayanda jatuh cinta semakin dalam kepada Giondra.