
Suara derap kaki dengan langkah lebar membuat ketiga siswa itu sangat ketakutan. Sedangkan di belakang mereka, Echa sedang mencoba untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria paruh baya.
"Tidak apa-apa, Pak," jawabnya.
Echa melihat ke arah orang yang membantunya dan senyuman bahagia melengkung indah di bibir mungilnya.
"Miss you, so much," ucap Echa.
"Kakek juga merindukanmu," balas Genta.
Sheryl dan kedua temannya syok melihat apa yang mereka saksikan. Mereka juga mendengar jika Genta menyebut dirinya Kakek.
"Mati lah kita," ucap salah seorang teman Sheryl.
Genta menatap tajam ke arah tiga siswa yang hampir mencelakai cucu kesayangannya. Dengan gerakan mata, ajudannya mampu mengerti apa yang diinginkan oleh Genta.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Genta yang melihat Echa menggunakan pakaian bebas.
Echa hanya menggelengkan kepalanya seraya menunduk dalam. Genta merengkuh pinggang cucunya hingga terdengar ringisan.
"Kenapa?" tanya Genta.
Echa hanya diam, dan tanpa banyak bertanya Genta membawa tubuh Echa ke ruang UKS. Semua murid dan para guru yang melihat kedekatan Echa dan juga pemilik yayasan hanya berbisik-bisik ria. Membuat Genta jengah.
Genta meminta dokter pribadinya untuk datang secara langsung ke sekolah miliknya. Dia ingin memastikan kondisi cucunya.
"Echa tidak apa-apa, Kek," ucap Echa.
Bukan Genta namanya jika tidak keras kepala. Dokter pribadi Genta pun tiba di ruang UKS. Dokter memeriksa tubuh Echa. Ketika memeriksa bagian belakang. Genta terkejut melihat memar di pinggang Echa. Dokter menekan memar di punggung Echa dan Echa pun menjerit kesakitan.
"Kita harua melakukan visum, saya pastikan memar ini diakibatkan karena dorongan yang sangat keras dan pinggangnya menghantam benda tumpul yang keras," jelas dokter pribadi Genta.
Genta mengangguk pelan, menandakan dia setuju dengan yang dikatakan oleh dokter pribadinya. Ajudannya berbisik kepada Genta. Genta pun meninggalkan Echa dan juga dokter pribadinya di ruang UKS.
Genta mendengar perdebatan yang cukup sengit dari arah dalam. Dengan segera, dia membuka pintu ruangan kepala sekolah. Semua mata tertuju kepada seseorang yang baru saja masuk. Semua guru dan kepala sekolah yang berada di ruangan kepala sekolah menundukkan kepalanya.
"Om Genta," sapa Rion.
Kepala sekolah dan juga guru BP yang ada di ruangan itu tercengang mendengar sapaan dari wali murid di depannya. Apalagi mereka melihat ketua yayasan tersenyum ke arah Rion.
"Jadi, yang sedang berdebat itu kamu Rion dengan bapak kepala sekolah," ujar Genta. Dan Rion hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Genta kepada Rion.
Baru saja Rion hendak menjawab pertanyaan Genta, kepala sekolah sudah menyambar terlebih dahulu.
"Maaf, Pak Genta. Wali murid ini hanya tidak menerima anaknya di skorsing," jelas kepala sekolah. Rion hanya mendelik kesal ke arah kepala sekolah. Di sampingnya, Amanda selalu jadi pawang untuk mengontrol emosi Rion.
"Skorsing?" tanya Genta lagi.
"Ya, karena putrinya telah menjambak putri saya dan juga membanting ponsel milik anak saya," jelas kepala sekolah dengan percaya diri.
"Anak saya tidak mungkin membanting ponsel milik anak Bapak jika tanpa alasan. Coba lihat ini," ucap Rion seraya menunjukkan ponsel Echa yang layar LCD-nya rusak parah.
"Jika, hanya ponsel seperti itu saya juga tidak akan menskorsing anak Bapak. Tapi ponsel anak saya itu ponsel UImahal," cela kepala sekolah. Genta hanya tersenyum tipis mendengar ucapan kepala sekolah.
Rahang Rion mulai mengeras dan tangannya mulai terkepal. Ingin rasanya Rion menonjok habis kepala sekolah ini.
"Tapi Bapak harus lihat, ada luka di pinggang Echa. Dan saksi mata mengatakan, jika putri Bapak lah yang mendorong putri saya hingga terbentur keras dan pinggangnya mengenai ujung meja," ungkap Amanda.
Genta terdiam mendengar penuturan dari istri Rion. Dia menyambungkan setiap kejadian yang tadi dilihatnya.
Guru BP hanya menunduk dalam ketika Genta menatapnya lekat. Ada kecurigaan di wajah Genta.
Perdebatan antara kepala sekolah dan Rion masih saja terjadi. Genta terus menatap dingin ke arah guru BP. Tak lama ajudan Genta menggiring tiga siswa ke hadapan Genta. oKepala sekolah membelalakkan matanya ketika melihat Sheryl berada di antara tiga siswa itu.
"Apa ada yang kenal dengan tiga siswa ini?" Kepala sekolah hanya terdiam tak mau mengakui Sheryl sebagai anaknya di hadapan pemilik
"Dia yang kemarin bertengkar dengan Echa," ucap Rion dengan tangan yang sudah menunjuk ke arah Sheryl.
"Ayah," panggil Echa yang didampingi seorang dokter.
"Kamu kenapa ke sini?" tanya Rion. Amanda langsung aja mendekat ke arah Echa dan mengajaknya duduk.
Genta menengadahkan tangannya kepada salah satu ajudannya. Dan ajudan itu menyerahkan selembar kertas dan juga bolpoin.
"Ini cukup untuk mengganti sepuluh ponsel milik putrimu, yang telah dirusak oleh cucuku," ucap Genta. Dan menyerahkan selembar cek kepada Kepala sekolah dengan nominal dua ratus lima puluh juta.
Kepala sekolah sangat syok mendengarnya. Sudah dipastikan setelah ini dia akan di depak dari sekolah ini.
"Tuan, bukan hanya di pinggang luka yang Echa dapatkan tapi di pipi juga ada," ungkap sang dokter.
Amanda langsung memeriksa pipi Echa, terlihat luka merah dan sedikit memar. Amanda menatap Echa dengan harapan Echa akan memberitahukan apa yang terjadi. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Echa.
"Apa yang kalian lakukan dengan cucuku?" bentak Genta.
"Kakek, no," ucap Echa.
Dengan menahan sakit Echa menghampiri Genta dan memeluknya. "Sudah, Kek. Echa tidak apa-apa," jelas Echa.
"Apa salahmu? Kenapa mereka begitu kejam terhadapmu?" tanya Genta.
"I'm the child of the broken home," jawab Echa getir.
Genta memeluk tubuh cucunya. "Meskipun kamu anak dari orangtua yang tidak utuh, masih ada Papa Gi yang menyayangi kamu, Mamah dan Ayahmu yang selalu tulus menyayangi kamu dan juga istri dari Ayahmu yang sayang kamu. You're a very lucky child," jelas Genta dan langsung memeluk tubuh cucu kesayangannya.
Guru BP, Kepala sekolah dan juga ketiga siswa itu hanya menunduk dalam. Mereka takut menghadapi pemilik yayasan yang terbilang tegas dan keras.
Genta menyuruh Echa untuk pulang bersama ayahnya dan beristirahat di rumah. Genta akan menghukum mereka karena telah menyalahi aturan.
Di dalam mobil Echa hanya menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Sesekali Rion melihat Echa dari spion depan.
"Dek, kenapa kemarin ketika kamu difitnah kamu hanya diam saja?" tanya Rion.
"Untuk apa Echa menjawab? Toh, sekalipun Echa benar tetap saja akan disalahkan oleh mereka yang berkuasa," jelas Echa dengan mata tertutup rapat.
Amanda hanya tersenyum mendengar jawaban Echa. Tiba sudah mereka di rumah. Dengan telaten Amanda membantu Echa berjalan hingga menuju kamarnya.
Rion masuk ke dalam kamar Echa. Dia menatap Echa dengan wajah bersalah.
"Maafkan, Ayah," kata Rion.
Echa hanya tersenyum dan mencium kedua pipi ayahnya. "Mamah selalu bilang, jangan pernah menjawab atau menyanggah nasihat Ayah. Mau Echa benar atau salah, ketika dinasehati oleh Ayah Echa harus menundukkan kepala," ujarnya.
Rion mendekap hangat tubuh putrinya dan mencium puncuk kepalanya. Dia sangat bangga dengan sikap Echa sekarang. Ayanda dan Gio telah merubah Echa yang manja menjadi Echa yang dewasa.
"Istirahat, ya. Ayah berangkat kerja dulu," pamit Rion. Echa hanya menganggukkan kepala.
Rion beralih kepada Amanda. "Jaga Echa, Abang berangkat ya," pamitnya juga. Kemudian mengecup kening Amanda.
Setelah Rion pergi hanya ada Echa dan juga Amanda. Amanda menaikkan selimut ke atas tubuh Echa.
"Istirahat, ya. Kalo butuh apa-apa panggil Tante di bawah," ucap Amanda lembut.
Amanda pun meninggalkan Echa namun, tangannya ditarik oleh Echa. "Makasih," ucapnya.Amanda hanya tersenyum hangat ke arah Echa.
"Sayangilah Echa seperti anak Tante sendiri," pinta Echa dengan nada lirih.
Amanda pun memeluk tubuh Echa dan tak terasa air matanya menetes.
"Insha Allah Tante akan menyayangi kamu seperti Papa Gi yang menyayangi kamu dengan tulus," ucap Amanda dengan memeluk erat tubuh Echa.
***
Happy reading ...