Bang Duda

Bang Duda
155. Ngidam Yang Adil



Wajah Gio nampak sumringah ketika menerima pesan dari sang istri. Dia pun beranjak dari duduknya membuat ketiga sahabatnya menatap aneh kepada Gio.


"Gua duluan, ya. Bini gua udah nungguin," kata Gio.


"Nungguin apaan?" tanya Arya tidak mengerti.


Gio menunjukkan isi pesan dari Ayanda membuat ketiga pria itu berdecak kesal.


"Iri lah gua," ucap Arya.


"Mana ada bini gua kayak gitu," kata Rion.


"Nawarin tapi mukanya ditekuk," ujar Azka.


Gio pun tertawa dan dia meninggalkan tiga pria galau itu. Melajukan mobilnya menuju apartmentnya dengan raut bahagia.


***


Rion telah tiba di rumah, dia membuka kamarnya melihat istrinya yang sedang meringkuk di atas tempat tidur. Rion menghampiri Amanda dan mengelus rambutnya. Dilihatnya ada jejak air mata di pipi mulus sang istri.


"Kenapa kamu nangis?" gumam kecil Rion.


Mata Amanda mulai mengerjap, perlahan mencoba membuka matanya. Mata Amanda nanar ketika melihat Rion dihadapannya.


"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit?"


Bukannya menjawab, tangis Amanda semakin keras membuat Rion benar-benar khawatir. Dia pun langsung memeluk tubuh istrinya. "Kenapa Yang? Bilang sama aku," ucap Rion.


"Abang kemana? Manda kangen," jawab Amanda dengan Isak tangis.


Rion melonggarkan pelukannya dan menatap bingung sang istri. "Kan kamu bilang Abang bau, gak mau dekat-dekat. Makanya, Abang keluar ketemu Gio, Arya sama Azka," jelas Rion.


"Tapi sekarang Manda kangen."


Rion pun tersenyum ke arah istrinya. "Ya udah, peluk Abang sini," ujar Rion.


Amanda pun berhambur memeluk tubuh Rion dengan eratnya. Membuat Rion tersenyum bahagia. Kehamilan Amanda berbeda dengan Ayanda. Dan sekarang dia harus ekstra sabar menghadapi istrinya.


"Anak Ayah, jangan nakal di perut Bunda, ya. Jangan nyusahin Bunda. Kasihan Bundanya," ucap Rion sambil mencium perut Amanda.


Mereka berdua hanya menghabiskan waktu di kamar. Terlebih Amanda yang tidak bisa jauh darinya. Jika, Rion keluar sebentar Amanda langsung menangis.


"Kalo kamu ngerasain hal yang aneh-aneh langsung bilang ke Abang, ya. Abang akan sekuat tenaga menjaga calon anak kita," ujar Rion sambil mengelus perut Amanda yang sedikit terlihat buncit.


Amanda tidak menjawab, dia terus membenamkan wajahnya di dada sang suami. Dengan tangan Rion yang tak boleh berhenti mengelus rambut sang istri.


"Bang, Manda ingin ke makam Mamih," ucapnya lirih.


"Manda kangen belaian dari tangan Mamih." Rion memeluk tubuh istrinya lalu mengecupnya dalam.


"Weekend kita ke sana," jawab Rion.


Amanda banyak bercerita tentang masa kehamilannya ini. Kemarin nafsu makannya bagus dan sudah dua hari ini dia tidak berselera makan.


"Kamu makan, Yang. Kasian loh si dedeknya kalo kamu gak makan," ujar Rion.


"Gak nafsu, Bang. Bawaannya pait mulut Mandatnya, Bang," sahut Amanda.


"Anak kita kayaknya adil ya, berbagi ngidam sama Ayah dan Bundanya."


"Iya, Manda kira Abang yang terus bakalan ngerasain ngidam. Ternyata Manda juga kebagian."


"Jangan lah Yang, aku gak bisa kerja atuh," jawab Rion.


"Gak sabar ingin melihat wajahnya, Bang," kata Amanda sambil mengusap perutnya.


"Abang mau cewek apa cowok?"


"Apa aja Yang, yang penting kamu dan si dedeknya sehat."


"Manda pengennya cewek, supaya nanti bisa dijodohin sama salah satu dari si kembar. Mereka kan bibit-bibit unggul," ujar Amanda.


"Masih aja kamu, tuh," ucap Rion sambil mencubit mesra hidung mancung Amanda.


"Bang ...."


"Ada yang mau kamu makan?" Amanda menganggukkan kepalanya.


"Mau makan apa?" tanya Rion sambil mengecup singkat bibir Amanda.


"Sushi."


"Oke." Rion beranjak dari duduknya namun, ditahan oleh Amanda.


"Ada yang mau kamu pesan lagi?"


"Manda ... em ... Manda inginnya ...."


"Ingin apa Sayang?" Rion mulai sedikit curiga dengan sikap sang istri yang tidak berani menatap suaminya.


"Manda ingin sushi dari Jepang," katanya.


"Sushi memang makanan Jepang, Sayang."


"Maksud Manda, kita belinya ke Jepang."


"What ...."


*****


Happy reading ....