Bang Duda

Bang Duda
322. Kakek Genta (Musim Kedua)



Genta sedang memandangi foto Echa di ruang kerjanya. Bibirnya terangkat dengan sempurna ketika melihat foto Echa waktu kecil. Anak perempuan yang manis, memakai dress warna pink dikuncir dua dengan poni. Giginya yang belum sempurna menambah kegemasan pada wajah Echa kecil.


Genta teringat pada pertemuan awal dengan Echa. Deru mesin mobil berhenti di halaman rumah yang cukup luas. Genta sedang asyik menyesap kopi sambil memegang koran di tangannya. Namun, matanya melebar ketika Giondra masuk ke rumah dengan membawa anak kecil di gendongannya.


"Anak siapa itu?"


Sebuah kalimat yang terdengar sangat membentak sehingga membuat anak perempuan yang berada di dalam gendongan Gio terbangun. Dengan lembut, Gio mengusap lembut punggung anak itu. Kemudian, dia pun terlelap kembali.


Tanpa Genta sadari, di belakang Gio ada seorang wanita cantik yang sedang menunduk. Wanita itu seperti takut dengan Genta.


"Siapa kamu?"


Wanita itu menegakkan kepalanya. Genta sedikit terkejut dengan penglihatannya.


"Giandra," gumamnya.


"Dia bukanlah Giandra. Dia Ayanda," ujar Gio sambil meletakkan Echa kecil di atas sofa.


"Gi, minta ijin untuk memberi tempat tinggal sementara untuk Ayanda dan juga putrinya. Kasihan mereka, hari sudah sangat malam. Tidak baik untuk kesehatan. Apalagi, dia membawa anak kecil."


Ucapan panjang lebar dari Gio tidak diindahkan oleh Genta, Tapi, Gio tetaplah Gio. Dia membawa Ayanda ke kamar tamu. Genta pun tidak bisa menolak. Apalagi, mata Ayanda sangat mirip dengan mendiang putrinya. Sedikit mengobati kerinduan terhadap putrinya.


Genta memanggil Gio kembali untuk duduk bersamanya di sofa. Genta menatap tajam Gio, menginginkan sebuah penjelasan dari putranya.


"Nanti juga Ayah jatuh cinta sama mereka."


Hanya kalimat itu yang Gio katakan. Lalu, dia pergi meninggalkan ayahnya seorang diri diruang tamu.


Keesokan paginya, kebiasaan Genta setelah solat subuh dia akan bersandar di kursi malas sambil menikmati udara di pagi hari yang masih gelap di halaman belakang. Mata Genta terpejam, menikmati hembusan angin dingin dan suara burung yang berkicauan.


Merasakan sentuhan halus dari tangan yang mungil. Genta membuka matanya. Cengiran khas anak kecil diberikan oleh Echa untuk Genta.


"Ma-ma-mam."


Genta pun tersenyum mendengar ocehan bocah ini. "Kamu lapar?" Echa pun mengangguk.


Genta menggendong tubuh mungil Echa dan dia membuatkan roti panggang isi cokelat dan keju. Setelah selesai, mereka berdua kembali ke halaman belakang. Echa duduk di pangkuan Genta dengan melahap roti buatan Genta.


"Enak?" Echa mengangguk sambil menunjukkan ibu jarinya. Genta tersenyum bahagia melihatnya.


"Ibumu ke mana?"


"Awoh." Tangan Echa memperagakan gerakan ketika sholat.


Lagi-lagi Genta dibuat tertawa oleh anak kecil ini. Dia membayangkan, jika Giandra dan juga cucunya masih hidup, pasti rumah ini tidak sepi.


"Pa-pa."


Genta terkejut dengan panggilan Echa kepadanya. "Bukan Papa, tapi Ka-kek."


"Ka-kek," ulang Echa. Genta mengangguk sambil tersenyum.


Echa turun dari pangkuan Genta. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap lekat ke arah Genta.


"Ka-kek." Senyuman bahagia Echa berikan kepada Genta. Dan Echa meraih tangan Genta lalu menciumnya. Sungguh berdesir hati Genta dibuatnya. Anak usia dua tahun sudah diajarkan seperti ini. Sungguh luar biasa.


Sedangkan Ayanda sedang sibuk mencari Echa. Dia takut, Echa tersesat di rumah yang sangat besar ini. Samar-samar dia mendengar suara putrinya sedang tertawa. Ayanda segera menghampiri ke asal suara. Dilihatnya, Echa sedang bermain kuda-kudaan dengan Genta. Senyum tersungging di bibir Ayanda. Dan air mata pun menetes membasahi pipinya. Hanya kata andaikan yang berada di dalam benak Ayanda.


"Ma-mah."


Echa meminta turun dari tubuh Genta, dia segera berhambur memeluk tubuh mamahnya. Dan Genta melihat ada bekas air mata di wajah Ayanda.


"Kemarilah."


Ayanda masih ragu, apakah dia harus mendekat atau menolak. Dengan meyakinkan hatinya, dia mendekat ke arah Genta dan duduk di hadapan Genta.


"Tinggallah di sini."


Sebuah kalimat yang membuat Ayanda tersentak. Apa maksudnya? Dia adalah orang baru tapi, kenapa bisa semudah ini pria ini menerima kehadirannya.


"Ta-tapi ...."


"Kamu sedang butuh pekerjaan kan. Kamu bisa bekerja disalah satu toko retail milik saya yang tak jauh dari sini. Biarkan anak kamu bersama saya dan menemani saya di rumah besar ini. Saya kesepian."


Kata-kata terakhir itu yang membuat hati Ayanda terenyuh. Ayanda pun segera menyetujuinya. Ketika Ayanda bekerja, Echa akan bermain bersama Genta. Ruang berkumpul yang jarang dipakai diubah menjadi ruang bermain. Segala aneka mainan pun ada di sana. Lengkap, dan Echa sangat senang dibuatnya.


Kehadiran Echa membuat para pelayan dan pekerja di rumah besar itu tersenyum bahagia. Tuan mereka yang hari-harinya akan dihabiskan di kantor atau bermain golf. Sekarang dia memiliki mainan baru di rumah. Anak kecil yang Tuhan kirimkan untuk mengubah kekosongan hatinya.


Bukan hanya Genta yang merasakan hal seperti itu. Semenjak Echa datang, Gio yang biasanya pulang larut malam dan jarang pulang ke rumah besar. Kini, selalu pulang lebih awal dan akan menghabiskan waktunya bersama Echa. Bermain, menonton film kartun dan juga bercanda. Sungguh perubahan yang sangat luar biasa.


Kemudian, Genta beralih pada foto di mana Echa tengah terbaring koma. Wajahnya berubah murung.


"Ketika kamu seperti ini, Kakek lah yang sangat merasa takut. Kakek takut, kamu seperti anak Kakek," lirihnya.


Mata Genta menyusuri foto Echa yang harus menjalani terapi demi terapi karena sudah sebulan koma. Dan semua itu tak luput dari pantauan Genta. Karena Genta adalah orang yang senang hanya meninjau dari belakang.


Kakinya bergeser sedikit demi sedikit. Hingga Genta berhenti di depan foto wisuda Echa. Cucunya sangat cantik mengenakan baju toga.


"Kakek, Echa lulus."


Seruan itulah yang Genta dengar dari mulut Echa. Wajah Echa yang sangat bahagia terpampang jelas. Echa tak hentinya memeluk tubuh Kakeknya. Karena di Canberra dia hanya tinggal bersama Genta.


"IPK Echa, Echa persembahkan untuk Kakek."


Sungguh terenyuh hati Genta mendengarnya. Cucunya sangat tulus menyayanginya. Tak ayal, Genta sering memarahi Echa jika Echa terlalu santai dalam pendidikannya. Peraturan ketat yang Genta buat pun mampu Echa jalankan dengan baik.


"Kerja yang benar. Jangan santai-santai."


Kalimat itulah yang Genta berikan kepada Echa ketika Echa mulai bekerja di perusahaan milik Genta. Awal-awal Echa bekerja, tentu saja tekanan batin. Karena Echa baru tahu sisi lain dari kakeknya. Tapi, dia tetap bertahan demi mendapatkan ilmu di perusahaan tersebut. Meskipun, tekanan cukup banyak ternyata upahnya pun tidak main-main. Itulah yang membuat Echa senang bekerja di sana.


"Bisa gak sih, galaknya dikurangin. Lama-lama Echa jantungan dengar bentakan Kakek terus."


Begitulah gerutuan Echa kepada Genta jika sudah berada di rumah. Genta sangat profesional, masalah pekerjaan tidak akan dia bawa ke rumah. Jika, di rumah, dia tetaplah seorang kakek yang selalu memanjakan cucunya.


Sekarang, pandangan Genta pada satu foto besar yang terpajang di sana. Foto pernikahan Echa dengan lelaki pilihannya. Senyum bahagia menghiasi bibir Genta.


"Kamu terlalu cepat dewasa, Cha."


Sebuah kalimat yang Genta katakan karena sekarang dia merasa kesepian.


"Kakek, restui pernikahan Echa dengan laki-laki yang Echa pilih. Laki-laki yang sudah sangat Kakek kenal. Dan insha Allah laki-laki itu akan menjadi imam yang baik untuk Echa."


Kalimat permohonan ijin sebelum Echa menikah, sungguh menusuk hati Genta. Hati kecilnya tidak ingin melepaskan cucu kesayangannya. Tapi, dia juga tidak boleh egois. Echa perlu bahagia apalagi pendampingnya itu laki-laki yang sudah masuk ke dalam daftar calon cucu menantu Genta. Siapa lagi jika bukan Raditya Addhitama.


"Kakek yakin, kamu akan bahagia bersama suamimu." Seulas senyum terukir di bibirnya.


Genta melihat di atas mejanya ada sebuah amplop cokelat. Dibukanya amplop itu. Senyum terus mengembang di wajah Genta. Dan haru pun tidak bisa dia tahan.


Sebuah foto USG yang memperlihatkan tiga janin di sana. Sungguh keajaiban yang dirasakan Genta. Dan ada sepucuk surat di dalam sana.


Teruntuk Kakek.


Allah mengirimkan hadiah yang luar biasa indahnya untuk Echa dan juga Radit. Bukan hanya satu yang Allah titipkan, melainkan tiga janin yang harus Echa jaga sekarang. Ini semua berkat doa Kakek. Masih ingat, kan. Ketika Echa sedih pasca keguguran. Kakek bilang, kalo anak Echa itu gak meninggal. Tapi, disimpan oleh Allah untuk dititipkan lagi nanti bersama janin-janin yang lainnya.


Ya, janin-janin. Berarti lebih dari satu. Ucapan adalah doa dan doa Genta dikabulkan oleh Allah. Doa dua tahun lalu yang baru dikabulkan sekarang. Begitulah Allah menguji umatNya. Dan tidak ada yang mustahil bagi Allah jika sudah berkehendak. Bukankan setelah kesedihan pasti akan ada kebahagiaan?


Genta menghela napas lega. Kebahagiaan anak dan cucunya sudah mereka dapatkan. Tugasnya sudah hampir selesai. Tapi, Allah masih mengizinkan Genta untuk berada di dunia.


"Tidak ada alasan tidak tenang ketika aku pergi nanti," gumamnya.


"Tuan, pesawat sudah siap."


...----------------...


Kalian udah pada bosen ya? 🤧