
"Lepas, Bang," pinta Riana.
Aksa pun mulai melepaskan genggaman tangannya. Menatap Riana dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Ri, mohon ... ijinkan Ri untuk melupakan Abang. Ri, ingin fokus dengan cita-cita Ri," jelasnya.
"Abang gak bisa lupain kamu, Ri," sahut Aksa kekeh.
"Sekarang memang belum bisa. Besok, lusa pasti bisa kok lupain Ri. Begitu juga Ri. Kita fokus pada mimpi kita masing-masing. Kita masih terlalu muda untuk memikirkan perihal cinta. Masa depan kita masih panjang, dan jangan dibuang percuma hanya untuk cinta monyet belaka."
"Ri, harap, ini pertemuan kita yang terakhir kalinya, ya, Bang. Ijinkan RI melupakan semua tentang Abang. Menguburnya dalam-dalam. Anggap aja dulu Ri masih kekanak-kanakan. Memaksakan perasaan yang Ri miliki kepada Abang." Riana pun pergi meninggalkan Aksa yang mematung sambil menggendong Aleesa. Ucapan yang sungguh menusuk ulu hatinya.
Aksa menghela napas kasar. Setelah memberikan Aleesa kepada Rion, Aksa bergegas pulang ke rumah. Masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan orang yang sedang berada di ruang tamu.
Tangan Aksa mulai mengemasi barang-barang miliknya. Dan hari ini juga dia akan bertolak ke London lagi. Terlalu sakit jika diabaikan oleh Riana.
"Dad, siapkan pesawat pribadi. Abang mau berangkat ke London," ucap Aksa bisa sambungan telepon.
Baru saja Gio ingin membuka mulutnya sambungan telepon diputus sepihak oleh Aksa. Sehingga membuat Gio sedikit khawatir. Tanpa berpikir panjang, Gio meraih kunci mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah.
"Loh kok udah pulang?" tanya Ayanda. Gio tidak menghiraukan ucapan sang istri. Dia lebih memilih masuk ke kamar Aksa.
"Ada apa?" tanya Gio yang duduk di samping Aksa.
"Selama enam tahun kuliah di London. Abang memutuskan untuk tidak akan pernah pulang ke Indonesia. Jika, Daddy dan Mommy rindu sama Abang. Temui Abang di sana," terangnya dengan mimik sendu.
"Kenapa? Kasih alasan ke Daddy," tanya Gio.
"Abang ingin melupakan seseorang yang sampai saat ini masih ada di dalam pikiran Abang. Namun, dia meminta Abang untuk tidak menemuinya lagi. Abang rasa, ini jalan yang terbaik," lirih Aksa.
"Jika, memang kalian ditakdirkan berjodoh. Ketika kalian dipisahkan oleh jarak dan waktu. Pasti nanti kalian akan dipertemukan kembali. Dan sebaliknya, jika kalian tidak berjodoh hubungan yang sudah terjalin lama pun bisa putus begitu saja."
"Bang." Suara Ayanda terdengar bergetar. Aksa tersenyum ke arah sang mommy dan memeluknya.
"Mommy bisa menemui Abang kapanpun Mommy mau. Ijinkan Abang untuk hidup mandiri. Sambil membuang rasa yang Abang miliki untuk wanita yang sudah menutup hatinya untuk Abang," terangnya kepada Ayanda.
"Pulanglah setahun sekali, Bang," pinta Ayanda dengan berderai air mata. Dengan cepat Aksa menggeleng.
"Tidak, Mom. Abang akan kembali setelah kuliah Abang selesai. Itu sudah keputusan Abang," katanya.
Ayanda hanya menghela napas kasar dan mau tidak mau dia harus menyetujui keinginan anaknya.
"Pesawat satu jam lagi siap," ucap Gio. Aksa pun mengangguk patuh.
Aksa memandangi figura yang berada di atas nakas. Senyum ceria dirinya dan Riana tunjukkan ketika masih duduk di bangku putih biru.
"Aku janji, ketika kuliahku selesai dan mampu memimpin perusahaan Kakek. Aku akan mengejar kamu meskipun sampai ke ujung dunia."
"Tunggu aku, nanti aku akan menjemput kamu dan membawa ku ke depan orang tuaku dan orang tua kamu untuk meminta restu."
...****************...
Ini akhir dari kisah Riana dan Aksa. Lebih lengkapnya ada di sini 👇
Terbit Awal Juli.