Bang Duda

Bang Duda
365. Cinta atau Iba? (Musim Kedua)



Di lain tempat, ada sebuah percakapan sebelum perpisahan yang cukup mengharu biru untuk Rion dan juga Iyan. Meskipun masih tinggal di Kota yang sama, tapi berada tidak dalam satu rumah yang sama sudah pasti akan ada kesedihan yang mereka rasakan.


"Maaf, Ayah. Iyan ingin tinggal bersama Kakak," lirih bocah berumur delapan tahun.


"Gak apa-apa, Iyan. Nanti ayah dan Kak Ri akan main ke sini kok. Dan Iyan juga harus mau nginap sesekali di apartment yang Ayah tempati."


"Pasti, Ayah. Iyan sayang Ayah." Kalimat yang sederhana, tapi mampu membuat orang yang mendengarnya menitikan air mata.


"Kapan Mas akan pindah?" tanya Ayanda setelah menyeka ujung matanya.


"Sore ini, setelah Mas jemput Riana, Mas akan mengemasi barang di rumah dan dipindahkan ke apartment Radit," sahutnya.


"Tidak Ayah, biarkan Echa yang menyiapkan segala kebutuhan Ayah dan Riana. Echa tidak ingin Ayah masuk ke dalam rumah itu," ujar Echa yang kini sudah memeluk tubuh Rion.


Bagaimana pun, rumah itu menyimpan banyak kenangan pahit. Echa tidak ingin ayah dan kedua adiknya terluka kembali. Cukup dulu, dia yang masih bertahan dengan luka yang tidak pernah ada obatnya.


"Sebelum Mas ke apartment, Mas pulang dulu ke sini. Nanti kita semua akan mengantar Mas ke sana," ucap Ayanda.


Hanya seulas senyum yang Rion tunjukkan. Dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dan anak-anaknya dengan tulus adalah hal yang sangat membahagiakan. Perpisahannya dengan Ayanda tidaklah menimbulkan sebuah kebencian dan permusuhan. Malah sebaliknya, kekeluargaan yang sangat erat mereka jalin hingga hampir dua puluh tahun setelah perceraian.


Rion dapat tersenyum, berbeda dengan seorang remaja laki-laki yang enggan melajukan motornya karena ingin mencuri dengar apa yang dikatakan oleh para orang dewasa.


"Ck, cepetlah Bang berangkat. Keburu telat ini," ucap sang adik yang berwajah sama dengannya.


Decakan kesal yang menjadi sahutan dari Aksa. Dan dia pun melajukan motornya menuju sekolah. Sedangkan Echa menatap Riana dengan tatapan menyelidik.


"Kamu masih punya hutang sama Kakak," imbuh Echa. Riana pun mengangguk.


Mereka pun menuju kantor dan sekolah masing-masing. Kecuali Radit yang akan menemani istrinya mencari perlengkapan Ayah mertua dan juga adik iparnya. Echa berniat untuk membelikan segala kebutuhan Ayah dan adiknya dengan barang baru.


Seperti biasa, setelah mengantar Iyan, Rion melajukan mobilnya ke sekolah Riana yang tak jauh dari sekolah Iyan.


"Jangan pulang dulu sebelum Ayah jemput." Riana pun mengangguk mengerti setelah mencium tangan ayahnya.


"Hati-hati Ayah." Lambaian tangan Riana dibalas dengan senyuman oleh sang ayah.


Riana memasuki gerbang sekolah dengan langkah seperti biasa. Namun, ada seseorang yang mencekal tangannya dan menariknya ke belakang sekolah. Hanya tatapan tajam yang orang itu berikan.


"Apa pindah dari rumah Mommy keinginanmu?" selidik Aksa.


"Ayah tidak ingin lebih merepotkan Mommy. Mommy sudah terlalu baik membantu Ayah dan keluarganya," jawabnya jujur.


"Pasti ini permintaanmu kan?" tebak Aksa.


Riana mengumpulkan keberaniannya seraya memejamkan mata. Setelah keberaniannya terkumpul, Riana menatap manik mata Aksa yang sedang meminta jawaban.


"Ri, tidak pantas tinggal bersama kalian. Kalian terlalu baik terhadap, Ri. Padahal, Ri sudah banyak menyakiti kalian."


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Riana?" tanya Aksa dengan nada suara sedikit meninggi.


"Memang begitu kenyataanya, Bang. Selama ini, Ri sudah jahat sama Abang dan juga Kakak. Apalagi Kak Echa. Ri, juga sadar, jika selama ini Ri sudah salah memendam perasaan untuk Abang. Karena Ri memang tidak pantas untuk Abang. Apalagi menjadi bagian dari keluarga Abang. Orang baik akan mendapat jodoh yang baik pula, tidak seperti Ri," terangnya sambil tersenyum penuh arti.


"Ri, tidak nyaman dengan sikap Abang yang berbeda. Ijinkan RI pergi dari kehidupan Abang. Dan mengubur perasaan yang Ri miliki untuk Abang. Anggaplah Ri sebagai adik Abang. Sama halnya Ri juga akan selalu menganggap Abang sebagai Kakak laki-laki, Ri. Seperti Bang Radit."


"Ri, mau ke kelas. Permisi Bang."


Riana pun meninggalkan Aksa yang masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Ada sedikit rasa sakit yang Aksa terima dari ucapan Riana.


"Cinta dan iba itu beda tipis." Suara mengejek yang terlontar dari mulut kembarannya.


"Adek tahu, Abang itu cuma kasihan sama nasib Riana. Makanya Abang ingin jadi pelindung untuk Riana." Hanya tatapan datar yang Aksa tunjukkan kepada Aska.


"Abang pastikan dulu, perasaan Abang itu cinta atau iba. Jangan nantinya Abang malah nyakitin Riana."


Otak Aksa mulai mencerna ucapan dari adiknya. Apa dia hanya iba terhadap nasib Riana? Tapi, kenapa rasanya begitu sakit ketika Riana mengatakan ingin pergi dari hidupnya.


"Bukan hanya Daddy yang akan marah. Kak Echa akan memakan Abang secara bulat-bulat jika itu sampai terjadi." Aska menepuk pundak Aksa lalu meninggalkannya.


Sebuah rasa yang tiba-tiba datang. Padahal, dulu Aksa enggan menanggapi perasaan Riana terhadapnya. Anak perempuan yang pantang menyerah, kini sudah berubah. Ketika masalah orang tuanya muncul. Di mata Aksa, Riana menjelma seperti sang Kakak. Yang bersembunyi di balik sebuah kebahagiaan dan senyuman yang semu.


Seperti biasa, Key dan Riana menuju kantin ketika istirahat tiba. "Gua bakal kangen dong sama lu," ucap Key dengan nada melow.


"Lebay," sahut Riana dan mendapat cebikan bibir dari Keysha.


"Kan lu bisa datang ke apartment Bang Radit. Nanti sore juga Mommy dan Daddy akan mengantar gua dan Ayah ke apartment Bang Radit."


"Gua ikut, ya." Riana pun mengangguk dengan senyuman yang merekah.


Mereka menikmati bakso yang mereka pesan. Tiba-tiba, Key menyenggol tangan Riana sehingga Riana menoleh ke arahnya. Riana hanya memanyunkan bibirnya menunjuk ke arah depan meja mereka. Sudah ada Aksa dan Ziva yang sedang bercengkrama.


"Kenapa? Biarin aja," jawabnya santai.


"Gak marah? Gak cemburu?" Riana hanya menggelengkan kepalanya.


"Gua hanya ingin belajar yang benar dan dapat nilai yang bagus. Tujuan gua sekarang hanya ingin buat Ayah dan Kakak gua bangga." Key menatap Riana dengan tatapan sendu


Meskipun Riana tidak mengatakan apapun. Key dapat merasakan bahwa sahabatnya ini sangat terluka akan perpisahan kedua orang tuanya.


"Ri ...."


"Gua baik-baik aja kok, Key." Senyum penuh kebohongan yang Riana tunjukkan. Apalagi, ayahnya sudah mengganti ponsel Riana dan juga Iyan dengan ponsel yang baru. Seolah membuang kenangan dengan sang ibu.


Key segera memeluk tubuh Riana. Dia tahu, inilah yang Riana butuhkan. Air mata Riana sudah mulai menggenang, sebisa mungkin dia tahan supaya tidak kebanjiran. Ini adalah sekolah, dia tidak ingin masalah keluarganya diketahui oleh orang banyak.


Ada sepasang mata yang sedari tadi hanya fokus menatap ke arah Riana dan juga Keysha. Hatinya seakan ikut terluka melihat raut wajah Riana yang berubah mendung.


"Apa aku hanya iba kepadamu, Ri?"


...****************...


Komen dong komen ...


Yang selalu jadi ghost readers, tunjukkan dirimu ...