
Endro dan istrinya meninggalkan Rion seorang diri di kontrakan tersebut. Mereka tahu Rion sedang dilanda kegalauan yang mendalam.
Kalian akan bahagia, walau tanpa Echa.
Kalimat itu yang masih terngiang-ngiang di kepala Rion. Pedih sekali hati Rion mendengarnya. Dia memang akan membawa Amanda kembali ke rumah dan akan membangun keluarga yang bahagia bersama istri dan kedua putrinya. Tapi, kenapa mereka tidak bisa bersama? Dan kenapa Echa memilih untuk melanjutkan pendidikan di belahan negara lain?
Tidak rela sebenarnya, tapi dia juga tahu bagaimana kondisi psikis Echa. Lebih dari 17 tahun ini putrinya tenggelam dalam lautan kesedihan dan kesakitan yang mendalam. Luka yang terus ditorehkan membuat luka itu tidak akan pernah sembuh.
"Apakah dengan kepergian mu akan membuat kamu bahagia? Ayah takut, jika kamu semakin menderita setelah pergi dari orang-orang yang menyayangi kamu," ucapnya sangat dalam.
Echa dan Riana, mana yang harus dia pilih? Seperti makan buah simalakama. Memilih Echa berarti Rion membiarkan putri kecilnya bernasib seperti Echa kecil. Memilih Riana, dia harus mengikhlaskan Echa untuk pergi meninggalkannya. Sungguh pilihan yang teramat sulit.
Dia tidak ingin Riana merasakan apa yang pernah Echa alami. Selama ini surat gugatan cerai dari Amanda tidak pernah dia tandatangani. Dia membiarkannya begitu saja. Karena dia juga masih sayang kepada Amanda.
Masa lalu istrinya memang kotor. Tapi, dia yakin istrinya telah berubah. Meskipun dia sempat kecewa, namun dengan melihat istrinya sekarang ini dia semakin yakin jika Amanda memanglah ibu yang baik untuk kedua putrinya.
Amanda berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dia berhak mendapatkan maaf dari semua orang. Tidak ada manusia suci di dunia ini.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Dan sekarang sudah lima jam Rion bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia sudah memutuskan, langkah apa yang akan dia ambil. Dia hanya ingin melihat kedua putrinya bahagia. Dia membawa amplop cokelat dan meninggalkan kontrakan itu.
Jam lima sore Amanda menyusuri jalan pulang. Seharian ini dia tidak fokus dengan pekerjaannya. Dia masih teringat akan perkataan Echa.
Amanda memegang dadanya yang teramat sakit. Dia ingin kembali ke rumah itu. Ingin memeluk hangat tubuh Riana. Ingin mendengarkan cerita putri sulungnya. Tapi, apakah kehadirannya diinginkan oleh suaminya? Amanda takut, jika Rion akan mengusirnya di depan Riana. Itu hanya akan meninggalkan kesedihan dan luka yang mendalam untuk Riana.
Dia merasa tidak pantas berada di sana. Di sana diperuntukkan untuk orang-orang yang memiliki hati baik seperti Echa. Bukan manusia berhati kotor seperti dirinya.
"Astaghfirullah." Istighfar dan hanya istighfar yang bisa Amanda ucapkan. Dia ingin buru-buru sampai rumah. Dia ingin bercerita panjang lebar kepada sang maha pendengar.
Menjelang Maghrib, Amanda tiba di gang kecil. Matanya memicing tajam ketika melihat mobil hitam yang tidak asing baginya. Namun, Amanda menepis semuanya. Banyak mobil yang sama, bukan hanya suaminya yang memiliki mobil seperti itu.
Langkah Amanda terhenti ketika dia melihat seseorang yang sedang berdiri mematung di depan pintu kontrakannya. Nektra mata mereka bertemu. Mata yang menyiratkan akan kerinduan yang mendalam.
Amanda mengatur napasnya sejenak. Dia meyakinkan hatinya agar tidak terlalu mengharapkan yang tidak mungkin.
Bang Rion sepertinya akan menyetujui gugatan cerai yang aku layangkan.
Amanda melihat jelas Rion sedang membawa amplop cokelat di tangan kanannya. Dengan wajah biasa, Amanda menghampiri Rion yang sedari tadi hanya menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Assalamualaikum, Bang," ucap Amanda dengan seulas senyum.
"Wa'alaikumsalam."
Amanda melirik ke arah tangan kanan Rion dan dia pun tersenyum. "Ayo, kita bicarakan di dalam."
Amanda mempersilahkan Rion masuk ke dalam kontrakannya. Hati Rion sangat sakit ketika melihat kondisi kontrakan yang dihuni oleh istrinya.
"Sebentar Bang, Manda ambilkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot. Aku ke sini mau ....."
"Syukurlah kalo Abang sudah menyetujui permohonan cerai Manda." Rion mengerutkan dahinya.
"Semoga sidang perceraian kita ce ...."
"Aku ke sini ingin mengajakmu kembali ke rumah kita," jelasnya.
Amanda nampak terdiam mendengar penuturan dari Rion. "Aku hanya membaca surat ini dan sama sekali aku tidak ingin menandatanganinya." Rion berbicara sambil mengangkat amplop di tangannya.
Amanda menatap Rion tidak percaya. "Kembalilah ke rumah kita. Anak-anak kita menunggu kamu di sana. Mereka merindukanmu, terlebih Riana."
Tidak ada jawaban dari Amanda. Tubuhnya menegang seketika. Mulutnya terkunci rapat.
"Jangan khawatir, Echa sudah memaafkan mu. Begitu juga Ayanda dan juga yang lainnya. Mereka hanya kecewa, pada dasarnya mereka juga teramat menyayangimu dan juga Riana," terang Rion.
Tangis Amanda pun pecah dan dia hanya bisa menunduk dalam. Tangan Rion memeluk erat tubuh Amanda. Menumpahkan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Tangan Amanda pun membalas pelukan dari Rion.
"Maafkan Abang, Sayang. Abang hanya tidak ingin melihat Echa terluka lagi. Abang hanya ingin melindungi Echa."
"Manda yang salah, Bang. Manda yang terlalu takut. Padahal Abang tidak akan pernah membeda-bedakan kasih sayang Abang untuk kedua putri Abang. Maafkan Manda, Bang."
Mereka pun berpelukan dengan penyesalan yang mendalam. Mereka sadar, mereka masih saling mencintai. Mereka masih ingin saling memiliki.
Rion memutuskan untuk menginap di kontrakan Amanda. Sebelumnya, Amanda melapor kepada pemilik kontrakan jika, Rion adalah suaminya dan dia akan menginap untuk malam ini. Dan keesokan harinya Amanda pamit kepada pemilik kontrakan. Sebelum pamit, Rion memberikan beberapa lembar uang kepada si ibu pemilik kontrakan. Dan barang-barang milik Amanda di kontrakan, Amanda berikan kepada ibu kontrakan. Meskipun barangnya tidak mahal tapi berguna untuk mereka kalangan menengah ke bawah.
Siang harinya Amanda dan Rion meninggalkan Kota Bogor. Rion mengajak Amanda ke sebuah toko baju Muslim.
"Abang malu Manda pakai baju ini?" Rion pun hanya tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya.
"Istri seorang owner toko Bakery terkenal harus berkelas," bisiknya. Amanda memutar bola matanya jengah.
Setelah memilih beberapa gamis dan juga sepatu, mereka keluar dari toko itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Rion mengajak Amanda jalan-jalan terlebih dahulu melepas rasa rindu yang selama ini dia tahan.
"Besok, Endro akan tarik berkas yang sudah kamu masukkan ke pengadilan." Amanda pun tersenyum.
Mereka terus bergandengan tangan menyusuri tempat hiburan. Tawa yang lebih dari lima bulan ini mereka simpan, kini mereka keluarkan dan tunjukkan. Mereka sangat amat bahagia, seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.
Sore hari mereka tiba di Jakarta. Amanda disambut hangat oleh Mbak Ina dan juga Mbak Ira. Amanda ingin sekali memeluk putri kecilnya.
"Neng Riana dibawa Bu Ayanda ke rumahnya," imbuh Mbak Ira.
Wajah Amanda berubah sendu. "Kita jemput Riana ke sana. Tapi, Abang mau mandi dulu." Amanda pun mengangguk pelan.
Senyum lebar tersungging di bibirnya. Kamar yang dulu hanya dihuni oleh dirinya kini akan dihuni olehnya dan suaminya.
Lingkaran tangan di pinggang Amanda membuatnya terlonjak. Namun, keterkejutan itu berubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Amanda membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya dengan penuh cinta.
Mata mereka saling terkunci, entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah berpagutan. Saling mengecap manisnya bibir masing-masing. Saling membalas kerinduan yang telah menggebu.
Semuanya harus terlepas ketika ponsel Rion berdering. Dan Amanda memilih untuk membersihkan badannya. Amanda sudah rapi, ada ketakutan di hatinya. Terlebih Arya mengatakan jika di rumah Ayanda sedang ada acara pesta kecil-kecilan.
"Jangan takut, Sayang. Percayalah, mereka sudah memaafkan kamu. Mereka bukan orang jahat," imbuh Rion.
Rion dan Amanda sudah sampai di kediaman Ayanda. Rion terus menggenggam tangan Amanda yang sudah dingin. Rion tahu istrinya ini takut. Takut semakin dibenci oleh Ayanda dan juga yang lainnya.
Kehadiran Rion yang membawa Amanda membuat semua mata orang yang berada di sana tercengang, sedikit tak percaya.
"Bunta," teriakan Riana membuat mata Amanda berkaca-kaca.
Riana berlari ke arah Amanda lalu memeluknya. "Li tanen Bunta. Hiks ...."
"Bunda juga sangat merindukan kamu, Ri," ucapnya dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung.
Semua orang menatap haru ke arah Riana dan juga Amanda. Ada lengkungan senyum yang menghiasi bibir anak gadis yang sedang berdiri di pintu penghubung.
"Kamu bahagia?"
"Sangat bahagia," jawabnya dengan air mata yang sudah menetes.
****
Apa kalian juga bahagia?
Bahagiaku adalah ketika kalian tidak menimbun-nimbun cerita Bang Duda yang sudah up untuk dibaca.
Kesetiaan kalian adalah bayaran termahal untukku.
Tetap setia pada karyaku ya ... dan ketika ada notif UP langsung baca jangan ditimbun-timbun.