Bang Duda

Bang Duda
153. Apa Yang Terjadi?



Tangan Arya sudah memegang apa yang sudah tegang. Dengan sengaja Arya menggesek-gesekkannya dipintu masuk lubang kenikmatan hingga Beby Mendes*h semakin kencang.


Arya mulai menghentakkan tongkatnya namun, seperti ada penghalang untuk tongkatnya itu menggarap ladang yang sudah basah.


"Sayang, ini akan sakit. Tahan sebentar ya," bisik Arya.


Tongkat Arya sudah tak sabar ingin menikmati ladang basah di dalam sana. Seolah memanggil-manggil tongkat itu agar segera cepat masuk ke dalam sana.


Hentakan kedua membuat Beby menjerit menahan sakit. Sedangkan si tongkat ajaib itu sedang termenung di dalam sana. Meraskan atmosfer yang menggugah nafsu. Arya mengusap air mata Beby dan mengecupnya dengan lembut. Perlahan si tongkatnya bermain maju mundur di dalam ladang yang sudah benar-benar basah.


Kesakitan yang Beby rasakan kini berubah menjadi kenikmatan luar biasa. Desah*n yang keluar dari mulut Beby menjadi penyemangat untuk Arya agar lebih bermain cantik di dalam sana. Tongkatnya seolah diperlakukan lembut dan dipijat-pijat manja di dalam sana. Decitan demi decitan menambah riuh suasana di dalam kamar. Erangan, lenguhan dan desah*n bersahutan menjadi melodi yang terdengar sangat merdu untuk mereka yang sedang menikmati surga dunia.


Sekarang, Arya mengubah posisinya. Beby yang berada di atas. Melihat pinggul Beby yang terus bergoyang mengikuti irama kenikmatan membuat Arya Mendes*h nikmat.


"Yang, aku ...."


Arya langsung merobohkan tubuh istrinya yang sedang berada di atas. Kini, Arya berpacu lebih cepat lagi dan Beby pun terus Meleng*h menikmati hentakan demi hentakan dari tongkat Arya yang membuat dinding di dalam sana bergetar hebat.


Tongkat ajaib Arya semakin tak tahan karena menerima pijatan yang membuat si tongkat itu tidak bisa menahan air ajaib yang dia punya.


Erangan panjang pun keluar dari bibir Arya. Arya pun terkapar di samping Beby. Begitu pun Beby yang sudah lemas tak berdaya.


Arya memeluk tubuh Beby tanpa penghalang benang sehelai pun. "Makasih, Sayang. Sudah menjaga kehormatan mu untukku." Beby pun tersenyum manis ke arah Arya dan menelusupkan wajahnya ke dada Arya.


Ada pergerakan aneh yang Beby rasakan di bawah sana. Ketika Beby lihat, tongkat ajaib suaminya sudah menjulang tinggi kembali. "Sentuhan kulit kamu langsung membuat dia bangun," ucap Arya dengan suara parau.


Beby pun akhirnya melayani suaminya kembali. Berbagai gaya mereka praktekan. Sudah kesekian kalinya Beby mengerang keras. Namun, sentuhan dan hentakan tongkat ajaib Arya terus membuat Beby merasakan kenikmatan yang tiada Tara.


Dan pukul 02.10 pagi mereka baru selesai melakukan pelampiasan malam pertama yang tertunda dan terganggu. Dengan Beby yang sudah berada di alam mimpi.


Arya tersenyum puas ketika melihat tubuh mulus dan putih Beby banyak terdapat stempel merah dan bahkan ada yang sampai kebiruan. Seolah dia ingin menegaskan pada dunia bahwa Beby hanya miliknya. Dia lah pemilik tubuh Beby.


Bias sinar mentari masuk ke dalam celah-celah ventilasi udara di kamar Arya. Mata Arya mengerjap pelan dan mencoba membuka matanya. Di sampingnya, sosok wanita pemilik hatinya masih terlelap di bawah selimut. Wajah cantiknya seperti putri tidur membuat Arya semakin jatuh cinta kepada Beby. Kulit putih, bibir sedikit tebal dan bulu mata yang lentik membuatnya semakin cantik.


Gerakan Beby membuat Arya tersenyum, terlebih istrinya sudah membuka matanya. Meskipun, ada sirat kelelahan di matanya.


"Maaf," ucap Arya dan langsung mencium kening Beby sangat dalam.


"Mau makan apa?"


"Mau aku bantuin?" Beby pun menggelengkan kepalanya.


"Kalo udah selesai, panggil aku, ya."


Lima belas menit berselang, panggilan dari kamar mandi membuat Arya bangun dari duduknya. Arya membawa tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Dengan telaten Arya memakaikan baju di tubuh Beby.


"Masih sakit?" tanya Arya.


"Sedikit, tapi badanku remuk," keluhnya lagi.


"Ya udah, kamu istirahat aja, ya. Aku mandi dulu, abis itu aku buatin sarapan untuk kamu." Sebelum ke kamar mandi Arya mengecup kening Beby dengan penuh cinta. Beby merasakan cinta yang benar-benar tulus yang Arya berikan.


Setelah selesai mandi, Arya turun ke dapur. Menyiapkan sarapan dan juga susu untuk istri tercintanya.


"Anak Mamih mana?" Suara yang sangat Arya kenali dan entah kenapa Arya merasa kesal dengan suara itu.


"Aku kan anak Mamih. Mamih amnesia?"


"Anak durhaka kamu, ya." Telinga Arya kembali menjadi sasaran kemarahan sang Mamih.


"Di mana menantu cantik Mamih?" Nyonya Reina bertanya tanpa melepaskan jeweran di telinga Arya. "Lepasin dulu, sakit," pinta Arya.


Nyonya Reina melepaskan tangannya, matanya mengintimidasi sang putra. "Di kamar, dia lemas karena kelelahan," terang Arya.


"Kok bisa kelelahan? Emang berapa kali permainan kalian?" Nyonya Reina menajamkan matanya ke arah Arya.


"Ck, cuma sedikit Mih ...."


"Cuma tujuh kali.


"Arya ...."


****


Happy reading ...