Bang Duda

Bang Duda
309. Perih Di Dada



Sudah tiga jam, Riana menunggu pesan masuk di ponselnya. Dia berharap Aksa akan menyapanya atau meminta maaf karena telah mengabaikannya sore tadi. Tapi nyatanya, tak ada pesan yang Aksa kirim untuknya. Padahal status whatsapp-nya sedang online.


"Sedingin itukah dirimu Bang?" gumamnya.


Riana terus saja menatap foto profil Aksa. Meskipun hanya siluet, di mata Riana itu sangat tampan.


Riana turun ke lantai bawah untuk makan malam. Namun, di sana hanya ada bunda dan adiknya.


"Ayah ke mana Bun?" tanya Riana.


"Ke rumah Daddy."


"Kenapa gak bilang? Ri ingin ikut ke sana." Ucapan Riana nampak menggebu-gebu.


"Kamu kenapa sih, Ri? Gak biasanya seperti ini," tanya sang bunda heran.


"Ng-nggak apa-apa, Bun. Kangen aja sama Daddy dan Mommy," sahutnya tanpa berani melihat ke arah Amanda.


"Kangen Mommy dan Daddy atau kangen salah satu dari anaknya?" goda Amanda. Wajah Riana nampak bersemu membuat Riyan berdecak kesal.


"Gantengan juga Iyan dari pada Abang dan Kakak," cicitnya.


"Emang kamu tahu Abang dan Kakak?" Riana menatap Iyan tajam.


"Tahulah, Ayah sering ajak Iyan ke rumah besar milik Daddy. Iyan sering berenang bareng Abang dan Kakak," jawab Iyan bangga.


"Tahu gak, perut Abang itu banyak tahu kotaknya. Makanya, Iyan mau rajin olahraga biar punya badan seperti Abang," ocehnya sambil menyantap makan malam.


Tahu kotak?


Pikiran Riana sudah bergerilya ke sana ke mari. Membayangkan betapa sempurnanya badan Aksa dengan kulit putihnya jika hanya memakai celana boxer.


Oh my God.


Amanda menyipratkan air ke wajah Riana yang sedang mesem-mesem seperti orang kurang waras.


"Gak usah dibayangin, masih kecil juga," omelnya.


"Ih Bunda mah, ngeganggu kesenangan anaknya aja," keluh Riana sambil memanyunkan bibirnya.


Sedangkan Aksa sedang tertawa bahagia. Dia sedang melakukan video call dengan si bocah jelmaan Echa. Siapa lagi jika bukan Beeya.


"Bang, sekali-kali ajak Bee nonton dong. Pengen gitu malam mingguan bareng cowok." Aksa tertawa mendengarnya.


"Genit banget kamu, baru juga masuk SMP," ejek Aksa.


"Biarin lah Bang, abisnya masa nonton harus sama Mamah dan Papah. Kalo gak berdua doang sama Papah, berasa baby sugar." Lagi-lagi Aksa tertawa. Mengobrol bersama Beeya hidupnya selalu berwarna. Ada saja celotehan demi celotehan yang Beeya sampaikan.


Pagi harinya, wajah Rion nampak sekali bahagia membuat semua orang terheran-heran dibuatnya.


"Ayah salah minum obat? Musam-mesem terus dari tadi," ucap Riana.


"Ayah lagi bahagia, Ri."


"Anak TK juga tahu, Ayah. Ayah senyum-senyum itu tanda bahagia," timpal Riyan sambil mengunyah roti panggang.


"Iya, Ayah kenapa sih? Katanya mau cerita pas sarapan." Amanda membuka suaranya sambil meletakkan kotak bekal makanan untuk kedua anaknya.


"Sebentar lagi Ayah akan punya cucu." Perkataan Rion membuat semua orang terdiam sejenak. Mereka masih mencerna baik-baik ucapan Rion.


"Maksudnya Echa ...."


Rion mengangguk cepat dengan lengkungan senyum yang lebar.


"Kakak hamil?" teriak Riana. Melihat ekspresi ayahnya membuat Riana melompat girang.


"Yeay akhirnya Ri punya keponakan." Bukan hanya Riana yang bahagia. Iyan pun tak kalah bahagia. "Iyan punya adik lagi," serunya.


"Alhamdulillah, Ya Allah," ucap syukur Amanda.


"Gak tanggung-tanggung, Kakak akan melahirkan tiga bayi sekaligus," tambah Rion.


"Apa?" jawab Riyan, Riana dan Amanda berbarengan.


"Tiga, Kakak hamil triplets," ungkap Rion dengan rona bahagia yang terpampang nyata.


"Itu Kakak kayak si Kety, ya," imbuh Riyan.


"Kety?" Riana tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Riyan.


"Iya, kucing kampung milik penjaga sekolah," sahut Riyan.


Riana menggeplak kepala Riyan hingga dia mengaduh. "Jangan samain Kakak sama kucing," tolak Riana.


Begitulah rasa sayang Riana terhadap Echa. Meskipun, masa kecil Riana pernah berperilaku tidak baik terhadap Echa. Nyatanya, sekarang Riana sangat menyayangi Echa.


Amanda menyerahkan dua buah kotak bekal kepada Riana. "Makasih Bunda," ucapnya.


"Salam untuk Abang, ya." Riana pun mengangguk.


Tibanya di sekolah, mata Riana berbinar ketika melihat sosok yang dia cari sedang berdiri tidak jauh darinya.


"Liat dari belakang aja ganteng banget. Apalagi di depan, bikin gua klepek-klepek," gumamnya.


Aksa sudah mulai melangkah menjauhi Riana. Riana berlari seraya memanggil namanya. "Abang."


Secara otomatis langkah Aksa pun terhenti. Dia menoleh ke asal suara. Dan Riana sedang berlari tergesa ke arahnya.


Riana pun berhenti tepat di hadapan Aksa dengan napas yang tidak teratur.


"Bang ... ni ... bekal ... buat Abang," ucapnya dengan napas tersengal.


Aksa menyerahkan botol minum ke arah Riana. Dan diambil oleh Riana dan langsung diteguknya.


"Makasih," ucap Riana sambil memberikan kembalk botol minum milik Aksa.


Aksa menatap nanar ke arah botol minumnya. Tidak setetes pun air minumnya yang tersisa. Aksa hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Ih ambil ini, Bang," titahnya.


Aksa mengambil kotak bekal makanan yang Riana berikan. "Makasih." Riana pun tersenyum manis ke arah Aksa.


Beberapa meter dari tempat Aksa dan juga Riana berada. Ada sepasang mata yang menatap mereka tajam. Apalagi, jika dilihat sepintas, Riana dan juga Aksa seperti sepasang kekasih. Sangat cocok.


"Masih gua liatin, belum gua samperin," ucapnya penuh dengan kemarahan.


"Maksudnya?"


"Semalam Abang online terus di WhatsApp. Ri, berharap kalo Abang inget sama Ri. Chat Ri, sekedar mengucapkan selamat malam atau menanyakan lagi apa," jawabnya dengan wajah sendu.


Aksa menatap aneh ke arah Riana. "Ngapain juga?" batin Aksa.


"Apa Abang lagi telponan sama pacar Abang?" tebak Riana dan menatap tajam ke arah Aksa.


Hanya seulas senyum yang Aksa berikan. Kemudian, dia mengusap lembut kepala Riana. "Abang belum punya pacar," sahut Aksa dengan tegas.


Ingin rasanya Riana melompat-lompat sambil berteriak hore saking senangnya. Tapi, dia masih waras dan ini masih area sekolah.


"Berarti, Ri masih bisa dong daftar jadi calon pacar Abang," imbuhnya. Hanya seulas senyum yang Aksa berikan. Senyuman yang membuat hati Riana lemah tak berdaya. Ingin rasanya dia mengecup bibir merah milik Aksa. Sungguh mesoem sekali otaknya.


"Hayo, kalian ngapain jalan berduaan. Pamali tau, entar orang ketiganya setan," sergah Aksa yang kini berada diantara Aksa dan juga Riana.


"Kakak setannya," timpal Riana sambil tertawa.


"Mana ada setan tampan kayak aku begini," pujinya pada diri sendiri.


Toyoran dari Aksa membuat Aksa mengaduh. "Sukurin," ledek Riana yang masih tertawa.


"Tawamu mengalihkan duniaku," goda Aska pada Riana.


"So sweet," ucap Riana sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.


"Gemes deh." Aska mencubit pipi putih milik Riana. Membuat Aksa tersenyum kecil melihatnya.


"Abang duluan, ya," pamitnya pada dua anak manusia ini.


"Lah kok ...."


"Abang ada rapat OSIS pagi," sahutnya sambil melambaikan tangan pada Riana.


Melihat punggung Aksa yang semakin menjauhi dirinya, membuat hatinya sedih. Sungguh lebay hati Riana ini. Padahal mereka masih berada di sekolah yang sama.


"Kenapa bengong?" Riana terbangun dari lamunannya mendengar ucapan Aska.


"Ayo aku anterin ke kelas." Riana pun mengangguk menyetujui ajakan dari Aska


Di ruang OSIS, Kania sudah menunggu Aksa. Dan bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat Aksa berjalan menuju ruangan ini.


"Kok tumben telat," ujar Kania ketika Aksa sudah berada di depan pintu ruangan OSIS.


"Telat dari mana, masih jam tujuh kurang kok," ketusnya.


Aksa tidak mengindahkan keberadaaan Kania. Dan dia memilih masuk ke ruangan OSIS di mana para anggota yang lain sudah menunggunya. Tanpa berlama-lama, Aksa memulai rapat tersebut. Sedangkan Kania masih mematung di ambang pintu melihat betapa berwibawanya seorang Ghassan Aksara Wiguna. Memiliki wajah yang tampan serta kharisma yang tidak ada tandingnya.


"Kamu ngapain masih berdiri di situ?" tegur Aksa. Kania yang sedang memperhatikan Aksa pun terkejut dan segera bergabung dengan para anggota OSIS yang lainnya.


Di kelas Riana, Keysha tersenyum penuh arti ke arah Aska dan juga Riana.


"Ciye, berduaan aja nih," goda Keysha.


"Nggak kok, tadi kita bertiga sama Abang. Tapi, Abang pergi duluan," jawab jujur Riana.


Tangan Aska merangkul pundak Riana dengan mesranya.


"Key, cocok gak?" tanya Aska pada Keysha.


Keysha meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dari sisi kanan hingga sisi kiri. Dan Keysha pun mengacungkan dua jempol miliknya.


"Cocok Kak," sahutnya.


"Apaan sih, Kak," ucap malu Riana. Aska pun tertawa.


"Jangan malu begitu, wajah merona kamu membuat kamu semakin cantik tahu," bisiknya.


Riana terdiam mendengarnya. Jika, Aksa yang berkata seperti ini sudah dipastikan jantung Riana akan loncat dari tempatnya. Tapi, sangat disayangkan Aska lah yang berkata seperti ini.


"Ya udah, Kakak ke kelas dulu, ya. Belajar yang benar," ucap Aska sambil mengusap lembut rambut Riana dengan senyum penuh makna.


"Kode tuh Ri," goda Keysha.


"Apa sih Key," sahut Riana.


Aku menyukai Abang, bukan Kakak, Key.


Jam istirahat tiba, Riana ingin pergi ke kelas Aksa. Ingin melihat Aksa memakan bekal yang dia berikan. Tentunya, tanpa berkata kepada Keysha. Karena jika Keysha tahu Riana akan digoda terus menerus oleh Keysha.


Riana tersenyum ke arah Aksa yang baru saja mengeluarkan kotak bekal makanan pemberian dari Riana. Sesaat kemudian, senyum itu memudar karena Aska lah yang memakan makanan itu dengan lahapnya.


Sedih sudah pasti, tak lama ponsel Aksa pun berdering dengan wajah yang terlihat sangat senang Aksa menerima panggilan telpon tersebut.


"Iya, Sayang."


Deg.


Jantung Riana terasa berhenti berdetak. Matanya mulai perih ketika mendengar ucapan Aksa yang sangat jelas di telinganya.


Riana mencoba bertahan untuk mendengarkan percakapan Aksa dari balik pintu. Kebetulan, di kelas tersebut hanya ada Aksa dan juga Aska.


"Aku udah makan kok, Sayang."


"Benarkah? Aku ikut bahagia Sayang."


"Empat bulan lagi? Kenapa harus selama itu? Padahal di sini aku sudah sangat merindukan kamu."


Sesak dan sangat sesak hati Riana mendengarnya. Air matanya mulai menganak dan dia mencoba untuk kuat.


"Orang yang pertama kali akan bahagia adalah Mommy mendengar kabar kedatanganmu ke tanah air. Perempuan cantik kesayanganku dan juga Mommy."


Tes.


Air mata Riana pun menetes, dia sudah tidak sanggup. Dan dia memilih untuk pergi dari kelas Aksa dengan rasa perih di dada.


...----------------...


Semoga terhibur ...


Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.