
Hati Amanda sangat sakit ketika melihat Echa di mall. Dia pergi bersama Rion dan juga Riana karena ada acara ulangtahun rekan bisnis Rion yang diadakan di mall tersebut. Di belakang mereka ada juga Arya dan juga Beby.
Dia teringat akan senyum Echa yang seolah tidak mengenalnya serta ayahnya dan juga adiknya. Echa seperti orang lain di matanya.
Dengan cepat Rion menurunkan Riana. "Ri, Ayah kejar Kakak dulu, ya. Ayah mau bawa Kakak pulang, dan nanti bisa bermain bersama Ri," imbuhnya.
Riana mengangguk cepat. Dan Rion pun menyusul putrinya yang ternyata tidak pulang ke rumah mamahnya. Dia menuju taman kota dan sedang duduk seorang diri di kursi panjang.
Amanda dan juga Riana pulang ke rumahnya. Sudah beberapa bulan ini hatinya hampa. Dia merindukan sentuhan hangat suaminya. Dia rindu ingin bercerita dan juga bercanda dengan suaminya. Namun sekarang, itu hanyalah angan-angan saja. Mereka menjadi sepasang suami-istri bohongan. Pada nyatanya mereka sudah pisah ranjang lebih dari empat bulan.
Selama itu, Rion tidak pernah berbicara sepatah kata pun kepada Amanda. Apapun yang disiapkan Amanda selalu dia tolak. Dia lebih memilih membuat kopi dan makanannya sendiri. Dari pada harus dibuatkan oleh istrinya.
Istri hanyalah status untuk Amanda. Pada nyatanya, dia sudah tidak dianggap oleh Rion. Rion sudah sangat kecewa dengan sikap Amanda kepada Echa. Terlebih, kejadian tempo hari di rumah Ayanda. Semakin membuat Rion murka.
Riana seolah menjauh, bukan karena Rion menghasutnya. Tapi, ketika Riana dekat dengan ibunya, Amanda selalu membahas tentang Echa. "Ayah lebih sayang sama Kakak dibandingkan Riana." Ucapan itu yang membuat Riana selalu menolak jika bundanya mengajaknya bermain.
Sedangkan bersama ayahnya, Riana selalu bahagia ketika ayahnya memutar videonya yang sedang bercanda dengan Echa. Disitu Riana bisa melihat betapa sayangnya Echa kepadanya. Anak kecil bisa meniru dari apa yang dia lihat.
"Ri, tidur sama Bunda," ucap Amanda.
"Dak, Li mau tidul sama Mbak."
"Mbak sedang pulang kampung, Nak," imbuh Amanda.
"Li mau tama Mbak Ina," sahutnya dan berlari menuju Mbak Ina di dapur.
Rion sudah mengatakan kepada Mbak Ina untuk mengasuh Riana selagi pengasuh Riana pulang kampung. Urusan dapur dan makan Rion menyarankan untuk memesan saja. Yang penting Riana ada yang mengurus. Dan jika Riana ingin tidur di kamar Echa, biarkanlah. Hanya Riana, mbak Ina dan Rion yang boleh masuk ke kamar Echa.
Bulir bening menetes membasahi wajah Amanda. "Kamu mencuci otak putriku dengan apa Bang? Sehingga dia tidak mau bersamaku," gumamnya sambil terisak.
Setelah Echa sampai rumahnya, Rion mulai melajukan mobilnya menuju kediamannya. Hatinya sangat sesak mendengar gumaman lirih dari putrinya.
Ketika dia baru menginjakan kakinya ke lantai dalam, suara Amanda membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kenapa Abang mencoba mencuci otak putriku?" tanyanya penuh emosi.
Rion menatap tajam ke arah Amanda. "Sakit Bang rasanya dijauhi oleh putriku sendiri," sentaknya.
"Kamu bilang aku mencuci otak Riana, padahal kamu sendiri yang mencoba mencuci otak Riana untuk membenci Kakaknya. Menjauhkan Riana dari Kakaknya," pekik Rion.
"Kamu bilang sakit dijauhi anak sendiri. Bagaimana dengan perasaanku?" Kini, Rion sudah berteriak dengan urat kemarahan yang sangat terlihat jelas.
"Jika bukan karena Riana, aku pasti sudah MENCERAIKAN MU," sentaknya.
Tubuh Amanda lemah saat itu juga. Dengan lantangnya suaminya mengatakan ingin menceraikannya.
Rion keluar dari rumahnya dan menuju rumah yang dia beli secara diam-diam semenjak kepergian Echa. Hanya di rumah itu Rion akan merasa tenang. Apalagi semua foto putrinya terpasang rapih di sana. Seperti museum mini untuk Echa.
Hanya Arya yang tahu rumah ini. Di sinilah Rion menenangkan hati dan pikirannya. Di sinilah Rion meluapkan kesedihannya.
Malam ini, Rion menumpahkan semua sedihnya di dinginnya udara malam. Dia benar-benar terpukul mendengar ucapan putrinya.
"Sampai kapan Ayah harus menunggu kamu, Dek? Ayah ingin memeluk kamu, Ayah kangen kamu."
Di kediaman Gio, Echa duduk di balkon kamarnya. Kenangan manis bersama Radit terukir di sini. Bercanda dan bercerita serta ini adalah tempat di mana mereka mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
"Bhal, jika kamu ada di sini, mungkin aku tidak serapuh ini," lirihnya. Air matanya menetes begitu saja. Hubungan yang sudah terjalin kembali tapi, mengharuskan mereka untuk menjalani hubungan jarak jauh. Karena Radit harus menyelesaikan prakteknya di Ausy.
"Tata." Kata itu yang masih terukir jelas di kepalanya. Riana, adiknya memanggil Echa kakak. Ini kali pertama Echa mendengar suara bocah kecil itu yang terdengar sangat merdu di telinganya.
Tatapan Ayahnya yang sudah berkaca-kaca membuat hati Echa sangat sakit. "Bukan hanya Ayah yang tersiksa, Echa pun sama."
"Andai Ayah tidak membuat Echa kecewa. Andai Ayah meluangkan waktu sedikit saja untuk Echa, mungkin Echa tidak akan menjauhi Ayah. Echa akan memeluk erat tubuh Ayah. Menceritakan semuanya yang Echa rasakan. Patah hati yang kedua kali, menangis dan terpuruk untuk kedua kali. Tapi, itu hanya menjadi angan-angan Echa saja. Karena pada nyatanya Ayah mengacuhkan Echa." Ucapannya terdengar sangat lirih.
Gio membuka pintu kamar putrinya, namun Echa tidak ada di sana. Dan dia melihat pintu yang menghubungkan ke balkon terbuka.
Hati Gio menangis ketika putrinya sedang terisak dan terus memanggil sang Ayah. Perlahan Gio mendekati Echa dan duduk di sampingnya.
"Apa kamu merindukan Ayah?" tanya Gio.
Echa menoleh ke arah Papanya dengan berlinangan air mata. Gio tersenyum sambil mengusap air mata Echa. "Ikut Papa," ujar Gio.
"Kemana?" Gio hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya. Gio mengambilkan jaket untuk putrinya karena malam ini mereka hanya akan menggunakan motor.
"Pa, kita mau kemana?" tanya Echa di tengah perjalanan.
"Nanti kamu akan tau." Gio melajukan motornya dan tak lama motornya berhenti di sebuah rumah yang terlihat gelap. Namun, di halaman rumah itu ada mobil Ayahnya.
"Pa ...."
Gio menarik tangan Echa dan mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Echa berdiri diambang pintu dan melihat siluet seseorang yang sedang menangis tersedu. Gio menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya.
Betapa hati Echa sakit ketika melihat sang Ayah mendekap erat bantal yang bergambarkan dirinya. Di atas meja berjejer figura yang berisi foto dirinya dari kecil hingga dewasa.
"Ayah merindukanmu, Dek. Ayah sayang sama kamu. Kamu dan Riana sangat berarti untuk Ayah. Peluklah Ayah, Dek."
Mendengar ucapan Ayahnya air mata Echa lolos begitu saja. Gio merangkul pundak putrinya. "Kamu dengar kan," imbuh Gio.
"Echa belum siapa ketemu Ayah, Pa. Belum siap," lirihnya. Gio langsung memeluk tubuh putrinya. Dia tidak ingin memaksa, tapi Gio juga ingin Echa tahu jika ayahnya sangat menderita lebih dari dirinya.
"Kita pulang." Gio mengajak Echa pulang karena kondisi Echa sudah sangat pilu. Disepanjang perjalanan Echa terus terisak. Ketika sampai di rumah Ayanda langsung memeluk tubuh putrinya.
Ayanda menatap Gio dan hanya seulas senyum yang Gio tunjukkan. Ayanda mengantar putrinya ke kamarnya dan terus mendekap hangat tubuh Echa hingga dia tertidur.
Pagi harinya, tidak biasanya Echa belum turun dari kamarnya. Waktu sudah hampir jam tujuh. Ayanda bergegas ke kamar Echa dan dia terkejut ketika tubuh Echa menggigil hebat dan wajahnya pucat.
"Daddy," teriaknya.
Gio langsung berlari menghampiri istrinya diikuti si kembar dari belakang. "Echa Dad," lirih Ayanda.
Gio langsung menghubungi dokter keluarga. Dan dia melakukan pertolongan pertama pada tubuh Echa. Untuk mengompresnya dan juga menentukannya Paracetamol untuk meredakan panas ditubuhnya.
Perlahan panas Echa mereda dan matanya masih tertutup rapat. Ayanda benar-benar takut sekarang ini. Dia takut, sakit Echa kambuh lagi.
Dokter keluarga sudah datang, dan dia memeriksa tubuh Echa. Sang dokter hanya mengatakan Echa terlalu stress dan kurang istirahat. Dokter pun menyarankan agar Echa istirahat total dan bed rest.
Kondisi tubuh Echa mulai stabil, panasnya sudah menurun. Namun, dia enggan membuka mulutnya untuk makan. Tubuhnya masih sangat lemas.
"Makan dulu, Sayang." Echa menggeleng.
"Echa ingin istirahat," sahutnya.
Gio dan juga Ayanda meninggalkan Echa seorang diri. Radit berpesan untuk mengikuti semua keinginan Echa. Agar dia bisa menumpahkan semua isi hatinya.
Berkali-kali Echa selalu mengigau menyebut ayahnya. Gio dan Ayanda tidak tega dan akhirnya menyuruh Rion untuk datang ke rumah mereka.
Hati Rion sakit ketika tubuh Echa terbaring lemah dan juga wajahnya nlak pucat sekali. "Dia selalu menyebut nama lu," ujar Gio.
"Dek, bolehkah ...."
Ayanda mengangguk sebelum Rion menyelesaikan ucapannya. Perlahan Rion naik ke atas tempat tidur Echa. Mencium kening Echa sangat dalam lalu tangannya memeluk hangat tubuh Echa.
Rion pun menitikan air matanya ketika bisa memeluk tubuh putrinya. Anak yang selama ini dia rindukan. Dan Echa pun merindukan pelukan hangat sang Ayah.
Echa perlahan mengerjapkan matanya. Dilihatnya ayahnya sedang memeluk hangat tubuhnya. Echa hanya tersenyum tipis. "Echa harap ini bukan hanya sekedar mimpi," ucapnya sangat pelan. Dan dia pun terpejam lagi.
****
Hari ini Amanda memberanikan diri untuk datang ke rumah Ayanda di pagi hari. Dia ingin meminta maaf kepada semuanya.
Namun, seperti hari-hari biasanya. Semua orang di kediaman Gio seolah menutup rapat kehadiran Amanda. Apalagi semenjak kembalinya Echa, dia pun dilarang masuk.
Sorenya, Amanda menunggu Echa di depan gerbang sekolahnya. Dia benar-benar harus berbicara dengan Echa dan meminta maaf kepadanya.
Semua siswa keluar dari sekolahnya tak terkecuali Echa. Amanda melihat Echa dari kejauhan dan dia memanggil Echa. Langkah kaki Echa terhenti, dan matanya melebar ketika ibu sambungnya memanggilnya.
"Boleh Bunda berbicara sebentar," ucapnya pelan sambil memegang pergelangan tangan Echa.
"Maaf, aku harus pulang. Sopir sudah menjemputku," ketusnya.
Amanda pun tak segan berlutut di hadapan Echa membuat Echa tak enak hati.
"Tidak usah seperti itu, ikut aku kita ke cafe di sana."
Setelah tiba di sana Echa masih dengan sifat dinginnya dan Amanda sudah menatap Echa dengan mata yang nanar.
"Maafkan Bunda, Cha. Maafkan Bunda," lirihnya.
"Bunda hanya takut jika, Riana tidak mendapatkan kasih sayang seperti mu ketika kecil. Bunda takut, Ayahmu lebih menyayangimu dibanding Riana. Bunda hanya takut Cha," terangnya.
"Ketakutan Anda sungguh tidak beralasan. Katakutan Anda menandakan Anda pun ragu dengan sayang dan cinta yang Ayah saya miliki untuk Anda dan juga putri Anda."
"Padahal Anda yang tinggal 24 jam bersama Ayah saya, harusnya Anda lebih paham Ayah saya dibandingkan saya yang hanya datang paling cepat seminggu sekali," sindirnya.
"Bunda sangat menyesal, Cha," ujar Amanda.
"Tidak ada penyesalan yang datang duluan kan. Penyesalan datangnya selalu belakangan."
Amanda terdiam mendengar jawaban dari Echa. Ucapan Echa sangat datar namun, mampu menusuk hatinya.
"Sebelum bertindak harusnya Anda cari tahu dulu tentang Ayah saya. Supaya tindakan Anda tidak salah kaprah."
"Asal Anda tahu, penyesalan Anda tidak akan pernah bisa merubah yang retak menjadi utuh kembali. Tidak akan bisa merubah yang kecewa bisa bahagia lagi. Tidak akan pernah bisa."
"Meskipun ribuan maaf terlontar dari mulut Anada mohon maaf, saya anggap hanya bualan," tutur Echa.
"Karena pada dasarnya, penyakit hati yang Anda miliki tidak pernah akan sembuh hanya dengan dimaafkan oleh orang lain. Hari ini saya maafkan, besok Anda mengulang lagi. Dan seterusnya hingga Anda sendiri bosan untuk meminta maaf."
"Kenali Ayah saya, pahami sifat Ayah saya. Itu berarti Anda benar-benar menyayangi dan mencintai Ayah saya."
"Satu hal yang harus Anda ingat, saya tidaklah kekanak-kanakan hanya saja saya kurang menikmati masa kanak-kanak saya. Satu lagi, saya sudah mandiri tanpa perlu Anda minta. Coba Anda tanyakan kepada suami Anda, apa saya pernah meminta sesuatu kepadanya? Silahkan Anda tanyakan," jelasnya.
"Tuduhan Anda sangat menyakitkan hati saya. Bukankah hati yang sakit akan sulit sembuhnya? Apalagi yang menyakitinya adalah orang yang telah saya anggap sebagai ibu saya sendiri. Tapi, saya salah. Anda hanya duri dalam daging di keluarga kecil Ayah saya."
Echa pun berlalu meninggalkan Amanda. Hatinya sungguh lega meluapkan semuanya. Semua unek-unek yang dia pendam seorang diri.
Sedangkan Amanda sangat tersentak mendengar ucapan Echa. Tidak ada satu pun ucapan Echa yang bisa dia elak. Echa yang dulunya hangat kini berubah drastis. Dan dia pun enggan sekali menyebut Amanda dengan sebutan Bunda. Terlalu bagus sebutan itu.
"Neng Echa," panggil Pak Mat.
Echa pun tersenyum ke arah Pak Mat. "Kembalilah ke rumah Tuan Neng, Mbak Ina kangen sama Neng. Dia selalu menangis ketika merindukan Neng."
"Sampaikan salam aku untuk Mbak Ina. Dan katakan padanya aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Echa pun masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Dia menatap kaca luar mobil dengan tatapan tak terbaca.
Andai Bunda tidak jahat kepadaku pasti aku akan berbicara sopan kepada Bunda. Maafkan aku telah berbicara kasar, supaya Bunda tahu bahwa aku ini memiliki sisi lain. Bukan anak cengeng yang sukanya mengadu kepada orangtua ku. Dibalik kerapuhan ku, ada sisi kuat yang aku miliki dan tidak banyak orang tahu akan hal itu.
Nikmati apa yang telah Bunda tanam. Karena apa yang Bunda tanam itulah yang akan Bunda tuai. Dan itu pelajaran untuk Bunda agar Bunda merasakan bagaimana rasanya dijauhi oleh semua orang, termasuk Ayah aku. Jangan terlalu serakah, karena itu akan menjadi bom yang akan meledakkan diri Bunda sendiri.
****
Happy reading ....
Ada notif up langsung baca ya ...
Jangan ditimbun-timbun, pasti aku sedih loh. Bantu aku ngumpulin koin untuk beli skincare😁
Jangan lupa komen, like dan votenya ...
Maaf ngaret paket banget, aku kurang istirahat sayang jadi naskahnya aku bawa tidur.