Bang Duda

Bang Duda
250. Loncer (Musim Kedua)



Bugh!


Suara benturan tubuh seseorang di dalam kamar mandi terdengar. Ayanda sudah mendorong tubuh suaminya ke tembok dengan menarik kemeja suaminya. Dengan mata yang teramat menakutkan.


"Wow jangan terlalu agresif dong Mom. Biar Daddy aja yang agresif. Lihat Mommy yang kicep-kicep aja membuat Daddy semakin melenguh," tutur Gio.


"Gak lucu," desis Ayanda yang semakin menarik kerah kemeja Gio.


"Jelaskan ke Mommy Dad ...."


Gio sudah membekap bibir istrinya dengan bibirnya. Gio semakin dalam mengecup bibir Ayanda dengan tangannya yang semakin erat merengkuh pinggang sang istri.


Dengan sedikit pemaksaan, akhirnya Ayanda mau membuka mulutnya dan membalas ciuman Gio. Hingga Ayanda melupakan marahnya.


Lima menit sudah mereka berpagutan, akhirnya mereka melepaskan ciuman panas mereka karena sudah kehabisan oksigen.


Gio pun tersenyum ke arah sang istri dengan bibir yang sangat basah. Apalagi tangan Ayanda sudah berpindah merangkul leher Gio.


"Tidak akan yang bisa menggoda Daddy, Sayang. Hanya Mommy yang selalu membuat hati Daddy berdegup dengan cepat." Gio menarik tubuh Ayanda dan memeluknya. Ayanda bisa merasakan detak jantung Gio yang terasa semakin cepat.


"Bagian tubuh Daddy yang mana yang dia sentuh? Biar Mommy hapus jejak itu."


Di lain tempat.


"Kamu kira Gio orang yang mudah untuk kamu taklukan? Apalagi dengan iming-iming tubuh kamu itu." Suara Rion terdengar menggelegar di telinga Vera.


"Sebelum kamu menggoda lebih baik kamu berkaca," pekik Rion.


"Mampukah kamu bersaing dengan istrinya?"


Para polisi yang berada di sana pun mengangguk setuju. Gio bukanlah suami yang jelalatan. Dia tetap bisa menjaga matanya dari wanita-wanita penggoda yang lebih seksi dan cantik dari istrinya.


Itulah salah satu kunci kesuksesan Gio karena setia terhadap istri. Kali ini, Rion menatap tajam ke arah Dea. Dia mulai bangkit dari duduknya dan menuju ke tempat Dea berada. Dea hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Sudah dibantu tapi semakin tak tau diri. Ckckck."


"Mau kamu apa?" bentak Rion.


Suara yang sangat menyeramkan. Suara yang membuat wanita itu semakin menunduk dalam.


"Kamu tau, wanita yang sedang kamu hadapi itu bukan wanita lemah. Dia hanya menguji dirimu, tapi kamu malah tak tau diri," ujar Rion.


Ayanda dan Gio sudah selesai dengan urusan mereka. Gio sudah berganti pakaian, semuanya sudah diganti termasuk **********.


"Mas serahkan sama kamu, Dek," imbuh Rion sambil menatap tajam trio busuk hati.


Ayanda pun melepaskan genggaman tangan Gio dan menghampiri Vera. Dia sudah meletakkan tangannya di atas dada.


"Lihat aku," pinta Ayanda. Vera malah semakin menunduk.


"Lihat aku!" pekiknya.


Vera memberanikan diri untuk menatap Ayanda. Wajah cantiknya sangat terpancar namun, ada aura kemarahan yang besar yang Ayanda pancarkan.


Plak!


Vera yang ditampar, semua pria yang berada di sana sontak memegang pipi mereka secara bersamaan. Suara pendaratan yang sempurna malah membuat mereka ngilu.


"Tanganmu terlalu lancang untuk menyentuh suamiku," kata Ayanda.


"Suami Anda yang menggoda saya, Nyonya." Serigai licik muncul di wajah Vera sambil memegang pipi kanannya.


Ayanda tersenyum tipis dan ujung matanya menatap tajam seperti bambu runcing ke arah Gio. Gio mulai menatap Rion dan Remon bergantian. Namun, mereka berdua kompak mengangkat bahu.


"Anda kira saya akan terpengaruh dengan Anda? Saya percaya dengan suami saya," tegasnya.


"Dan kamu," sentak Ayanda.


"Aku sudah membantumu, apa masih kurang bantuan yang aku berikan?" lirih Ayanda.


"Ma-maafkan aku," sahut Dea.


"Jika hanya dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya, tidak akan ada yang namanya penjara," balas Ayanda.


Dea hanya terdiam tak bisa menjawab sahutan Ayanda. "Jika kamu hanya mengikuti nafsumu, tidak akan pernah ada ujung dan titik temunya."


Dea pun terisak, otaknya mulai memutar adegan-adegan kebaikan Ayanda.


"Air matamu ini hanya air mata penyesalan sesaat. Esoknya kamu akan lakukan kesalahan itu lagi dan lagi," ucap Ayanda.


"Dan kamu," tunjuk Ayanda kepada Putri.


"Jika kamu ingin memiliki banyak uang dan diakui oleh orang lain, buatlah berita yang bermutu. Bukan malah membuat berita yang murahan seperti itu," cibir Ayanda.


Di rumah, Aska sedari tadi mengurung diri di kamar. Aksa hanya menatap kasihan kepada sang adik, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Aksa pun hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya seraya menembakkan bola basket ke ring.


Kamu jangan kaget, ketika kamu sudah mulai mengerti pasti akan ada badai yang akan mencoba meruntuhkan orangtua kita. Kamu harus kuat, jangan terbawa badai itu. Apalagi angin yang hanya membawa kabar tidak jelas.


"Ya, Abang mengerti Kak," gumamnya.


Aksa lebih kuat perasaannya dibanding dengan Aska. Jadi, dia tidak akan pernah down ketika mendengar kabar semenyakitkan apapun.


Dengan keringat bercucuran, Aksa mengambil air minum ke dapur. Sayup-sayup dia mendengar apa yang tengah digosipkan oleh para ART di rumahnya.


"Gak nyangka ya, suaminya lagi ke Singapura malah asik-asik sama mantan suami."


"Ketauan banget ya, gila harta. Mana dua-duanya kaya." Begitulah gosip para ART di rumah Gio. Dan itu sangat terdengar jelas di telinga si Abang.


Aksa hanya menggelengkan kepalanya dan membawa air minum itu ke halaman belakang.


Ibumu cuma seorang pelakor!


Hanya helaan napas kasar yang bisa Anda hembuskan. "Kak, Abang mencoba untuk kuat dengan berita ini, tapi Adek ...."


Setelah dari kantor polisi, Gio, Ayanda, Remon, serta Endro mampir ke kedai kopi sejenak. Ayanda masih menatap sengit ke arah Gio.


"Mas, katakan apa yang dikatakan oleh wanita itu benar Gio yang menggodanya?" Rion pun mengangguk. Begitu juga Remon dan juga Endro.


Mata Ayanda semakin tajam menatap Gio dan Gio hanya menatap kesal ke arah tiga pria yang berada di hadapannya ini. Bukannya bicara sesuai fakta malah membalikkan fatka yang ada.


"Gak Mom, sumpah. Daddy hanya sedikit menggoda eh dianya yang gak punya rem," sanggah Gio.


"Lepas!" Ayanda melepaskan tangannya dari rangkulan Gio.


"Tadi lebih dari gitu tuh," ucap Rion sambil menatap tangan Gio yang sudah merengkuh pinggang istrinya.


"Naik ke paha, dada dan ...."


Ayanda menarik kerah kemeja Gio dengan kasar dan Mata Ayanda mulai menampakkan aura setannya.


"Jangan pernah main-main denganku, Giondra," katanya dengan penuh penekanan.


Rion, Remon, dan Endro pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Gio yg tegas dan galak seperti menjadi anak kucing yang manis. Istrinya menarik kerahnya, menghempaskan tangannya secara paksa pun Gio tidak membalas. Dia hanya patuh dengan wajah yang seakan memohon ampun.


"Nggak Bu Bos," sangkal Remon.


"Gio suami setia kok, Dek. Digoda sedemikian rupa pun dia tidak akan bergeming." Ucapan Rion diangguki oleh Endro.


"Tuh denger Mom. Mungkin, kalo Rion yang digoda auto manggut-manggut. Dia kan mur dilehernya udah loncer jika ngeliat cewek bening dikit juga."


"Sia lan." pekik Rion.


***


Happy reading