Bang Duda

Bang Duda
21. Ungkapan



Setelah Ayanda menceritakan semuanya, sikap Echa tidak berubah kepada siapapun. Dia mengerti bagaimana sulitnya berada di posisi mamahnya. Dan dia juga sangat paham bagaimana perasaan ayahnya karena mamahnya terlalu sibuk mengurus dirinya waktu kecil. Sehingga mengabaikan ayahnya. Semua terjadi karena Echa. Jika Echa dilahirkan sehat seperti anak yang lain mungkin keluarganya akan masih tetap utuh.


Echa hanya menganggap semua ini adalah takdir Tuhan yang harus dia, mamahnya dan juga ayahnya lalui. Ini semua skenario Tuhan untuk keluarganya. Mereka hanya bisa mengikuti alur cerita yang sudah Tuhan rancang. Dan untuk wanita perusak rumah tangga orangtuanya, Echa tidak marah. Karena dia tahu jika ayahnya tidak membalas perasaan wanita itu, ini semua tidak akan terjadi. Ya, nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah hancur lebur tidak bisa kembali utuh lagi.


Sekarang, Echa hanya merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Memiliki dua ayah dan satu ibu yang sangat menyayanginya. Dia berharap, ayahnya akan segera memiliki pendamping hidup seperti mamahnya. Dan jika Echa boleh meminta. kirimkan wanita yang baik hati seperti papanya yang tidak hanya mencintai ayahnya saja tapi juga bisa menyayanginya. Doa yang sederhana.


Semuanya sudah kembali pulih, Gio sudah beraktifitas seperti biasanya. Meskipun semua pekerjaannya dia bawa ke rumah dan merombak ruang kerjanya menjadi mini kantor untuknya bekerja. Semuanya Gio lakukan untuk menjaga istrinya dan kandungannya. Dokter menghimbau jika Gio maupun Ayanda harus lebih extra menjaga janin yang ada di kandungan Ayanda. Sekali lagi kena benturan akan dipastikan bayinya tidak akan selamat.


Sore hari, Echa sudah berada di apartment Papanya. Dia masuk ke kamar mamahnya, dilihatnya mamahnya sedang asyik menonton televisi. "Mah," panggil Echa.


Ayanda baru tersadar akan kedatangan Echa. "Sini, Dek," pintanya.


Echa duduk disamping mamahnya dan mengelus perut mamahnya. "Cepatlah lahir ke dunia, kakak kesepian di sini," ucapnya pada perut Ayanda yang sedikit membuncit. Hanya senyum yang terukir dari bibir Ayanda.


"Echa tidur di tempat Ayah, ya." Izin Echa.


"Ayah kan tidur di rumah, Dek. Di sana ada Nenek," ujar Ayanda.


Ayanda berbicara seperti itu karena dia tahu Echa sedang tidak berbicara dengan Neneknya karena masalah wanita sexy yang akan dijodohkan dengan mantan suaminya.


"Echa tidak akan memperdulikan Nenek. Echa ingin tidur bareng Ayah. Echa hanya kangen Ayah," tukasnya.


"Ya sudah, kamu tidur di rumah Ayah. Tapi ingat, jangan ada acara kabur-kaburan lagi," jawab Papanya yang baru saja masuk ke kamar.


"Laksanakan Papa," sahut Echa bersemangat.


"Mamah belum mengizinkan loh," balas Ayanda.


"Jika Papa sudah mengizinkan, secara otomatis Mamah juga akan bilang iya. Bener kan Pa?" ujarnya sambil melihat ke arah Papanya yang sudah duduk disamping mamahnya. Gio hanya menganggukkan kepala sedangkan Ayanda melirik Gio tidak suka.


"Jangan marah dong." Gio memeluk tubuh Ayanda diikuti Echa yang tak kalah ingin memeluk tubuh mamahnya. "I love you so much, Mamah," ungkapnya dan mencium pipi mamahnya.


Menjelang Maghrib Echa sudah dijemput oleh Rion. "Tumben kamu mau tidur di rumah," ucap Rion heran.


"Kangen sama Ayah," jawabnya dengan senyuman manis.


Tibalah mereka di kediaman Rion, Echa hanya berjalan mengikuti ayahnya. Tidak menghiraukan Neneknya yang sedang berada di ruang tamu.


Echa masuk ke kamar ayahnya, sedangkan Rion masuk ke kamar atas. Masih ada setumpuk pekerjaan yang harus dia kerjakan. Satu jam sudah dia berada di ruang kerja. Rion pun beranjak dari ruang kerjanya.


"Belum tidur, Dek?" tanya Rion yang baru saja masuk ke kamarnya. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Echa.


Rion naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh putrinya. Pelukan ayahnya dibalas tak kalah erat.


"Ayah, Echa ingin Ayah bahagia seperti Mamah," imbuhnya.


Rion hanya terdiam, dia memandang wajah Echa. Hanya garis senyum yang Echa perlihatkan.


"Siapapun jodoh Ayah, berjanjilah pada Echa. Jangan pernah Ayah sakiti lagi seperti Ayah menyakiti Mamah. Cukup Mamah yang tersakiti oleh Ayah, jangan ada korban lagi," pintanya seraya menggenggam tangan ayahnya.


"Sudah saatnya Ayah juga bahagia. Sudah saatnya Ayah move on dari Mamah."


"Dek, maafkan Ayah yang sudah menghancurkan semuanya. Maafkan Ayah," jawabnya dengan mata yang sudah nanar.


Echa hanya tersenyum mendengarnya. "Ini sudah jalan Tuhan. Mamah dan Ayah hanya dijodohkan hanya sementara tidak untuk selamanya. Dan sekarang Mamah telah mendapatkan jodoh yang sangat luar biasa yang Tuhan persiapkan, yaitu Papa."


"Jika Echa dilahirkan sehat seperti anak-anak yang lain, mungkin kita masih bersama sama Mamah," terangnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Rion berhambur memeluk tubuh putri kecilnya, yang kini sudah beranjak remaja. "Kita masih tetap bersama sampai kapan pun. Hanya saja status Ayah dan Mamah yang berbeda," balas Rion dengan suara yang berat.


Sebenarnya Rion tak kuasa menahan sesak di dadanya mendengar ungkapan dari putrinya. Jika waktu bisa dia putar, dia hanya ingin membahagiakan Echa dan Ayanda. Saat ini, hanya tersisa penyesalan yang tidak akan ada habisnya.


"Echa tahu sekarang Ayah sedang dekat dengan Tante Sheza," ucap Echa setelah melepaskan pelukan ayahnya.


Rion membelalakkan matanya tak percaya. Ternyata Echa mengetahui hubungannya dengan Sheza.


"Tante Sheza wanita baik dan juga lembut seperti Mamah. Jika Ayah serius dengannya, lanjutkan hubungan Ayah ke jenjang yang lebih serius. Tapi, jika hanya untuk menyakiti hati Tante Sheza lebih baik Ayah tinggalkan. Echa tahu, masih ada rasa antara Ayah dan Tante Dinda."


Mulut Rion seolah membeku. Dia sama sekali tidak bisa meimpali ucapan Echa. Apa yang diucapkan putrinya semuanya benar. Apakah ini yang namanya ikatan batin seorang anak dengan ayahnya? Mengetahui segalanya tanpa harus berbicara atau memang Echa yang sangat peka.


"Echa hanya mendukung Ayah bersama wanita pilihan Ayah. Yang penting Ayah bahagia. Setelah Ayah menikah dan memiliki istri baru, Echa hanya berharap jangan pernah berubah dalam memberikan kasih sayang terhadap Echa. Ayah adalah pahlawan bagi Echa sampai kapan pun." Echa memeluk tubuh Ayahnya dengan air mata yang sudah tak tertahan.


Baru kali ini Echa bisa mengungkapkan isi hatinya kepada Ayahnya. Dia ingin bersikap terbuka seperti kepada Papanya.


"Ayah akan menikah dengan wanita yang sayang sama kamu juga. Ayah janji itu," ucapnya pada Echa.


"Echa akan memegang janji Ayah, tapi Echa juga memperbolehkan Ayah untuk melanggar janji. Utamakan kenyamanan dan hati Ayah. Echa sebagai anak yang akan selalu turut bahagia jika melihat Ayah bahagia. Ketika istri Ayah tidak bisa menyayangi Echa seperti anaknya sendiri itu tidak masalah. Yang penting Ayah selalu menyayangi Echa. Itu sudah lebih dari cukup," jelasnya dengan senyuman tipis di bibirnya.


Rion terperangah dengan ucapan panjang lebar dari putrinya ini. Baru kali ini Echa mengungkapkan isi hatinya secara gamblang. Echa benar-benar sudah menjelma menjadi gadis remaja yang berpikiran dewasa.


"Jangan pernah iri dengan kedekatan Echa dengan Papa. Sesungguhnya Echa sangat menyayangi Ayah dan juga Papa. Dua lelaki hebat dalam hidup Echa," ungkapnya.


"Echa sayang Ayah." Echa berhambur memeluk tubuh ayah dengan sangat erat. Rona bahagia nampak sekali di wajah Rion. Dalam hati, Rion berdoa agar suatu saat nanti dipertemukan dengan sosok wanita yang baik hati dan mampu menerimanya dan juga anaknya. Terlebih masa lalunya yang kelam.


*****


Happy reading ....