Bang Duda

Bang Duda
218. Ingin Sembuh



Hari terus berganti, ujian nasiona pun akan dimulai esok hari. Radit selalu menemani Echa di setiap acara belajarnya. Supaya Echa tidak terlalu tegang menghadapi UN dan juga lulus dengan hasil yang terbaik.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Echa. "Lelah?" Echa pun mengangguk.


"Bawa relax aja, jangan tegang," ujar Radit sambil mengusap lembut rambut Echa.


Ujian pun dimulai, Echa dengan percaya dirinya mengerjakan soal ujian hingga dia menjadi murid pertama yang menyelesaikan ujian di hari pertama.


Begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Keseriusan Echa dalam belajar, niat Echa untuk menjadi yang terbaik membuat Echa dengan mudah mengerjakan soal ujian.


Hari ini hari terakhir Echa ujian. Dia dan teman-temannya yang lain merasa lega karena telah melewati ujian yang seperti uji nyali untuk mereka.


Seorang pria tampan dengan baju santai sudah menunggu Echa sambil bersandar di pintu mobil. Echa pun tersenyum ke arah Radit, dan dia pamit kepada dua sahabatnya.


"Gimana?"


"Lega," jawab Echa riang.


Mereka pun menuju ke rumah Echa, tanpa dia ketahui semua orangtuanya sudah menunggu Echa di sana.


Kejutan kecil-kecilan untuk berakhirnya UN yang baru saja Echa hadapi. Echa pun tersenyum bahagia. Dia mengusap perut Beby yang sudah mulai membuncit.


"Berapa bulan?" tanya Echa.


"Tujuh."


"Ketika kamu lahir, Kakak gak akan bisa lihat kamu. Tapi, Kakak akan sayang sama kamu sama seperti Kakak menyayangi si kembar, Riana dan Keysha," bisik Echa di samping perut Beby.


Beby mengusap lembut punggung Echa. Ada kesedihan di hati Beby ketika mendengar ucapan Echa barusan.


Setelah selesai makan dan bercengkrama, Echa masuk ke dalam kamarnya. Memejamkan matanya merasakan kebahagiaan demi kebahagiaan yang selama ini dia dapatkan dari keluarganya.


Echa terus mengingat kebahagiaan apa saja yang dia dapat selama dua bulan terakhir ini. Hingga matanya terpejam dan dia pun terlelap.


Ayanda masuk ke kamar Echa dan memandangi setiap inchi wajah Echa. Senyuman tipis melengkung di bibirnya namun, tak lama kemudian air matanya menetes.


Tidak ada seorang ibu yang sanggup menerima perpisahan dengan anaknya. Meskipun, itu hanya sebentar. Apalagi Echa yang tidak pernah jauh darinya.


# Flashback on.


Tiga setengah tahun lalu, Echa baru bangun dari tidur panjangnya. Dia harus menjalani serangkaian terapi dan pengobatan hingga dia bisa kembali normal.


Ayanda sedang menemani Echa berjemur. Echa melihat mata panda di wajah cantik sang mamah. Tubuh Ayanda pun semakin kurus.


"Mah, ketika Echa tidur. Echa mendengar jika Mamah akan ikut Echa pergi kalo Echa sampai meninggal. Apa itu benar?"


"Untuk apa Mamah hidup tanpa kamu. Kamu adalah nyawa Mamah. Jika, nyawa Mamah telah hilang raga Mamah pun harus dikubur dalam-dalam." Echa meneteskan air mata mendengar ucapan dari mamahnya.


"Jangan pernah tinggalin Mamah. Kita harus tetap sama-sama. Mamah tidak bisa hidup berjauhan dengan kamu." Ayanda pun memeluk erat tubuh Echa.


# Flashback off.


"Sekarang, kamu memilih jauh dari Mamah. Kamu akan meninggalkan Mamah," lirihnya.


Bukan hanya Ayanda yang merasakan kesedihan ini. Rion pun sama, setelah pulang kerja dia memilih pulang ke rumah barunya yang tak jauh dari rumah Gio.


Dia menatap foto demi foto yang terpajang dengan sangat rapi. Foto metamorfosis seorang Elthasya Afani. Sungguh berat hatinya melepaskan putri sulungnya ini.


"Ayah tau gak? Echa selalu membayangkan bagaimana rasanya punya seorang Ayah. Dipeluk Ayah, digendong Ayah, dimanja Ayah. Sepertinya seru deh. Dan sekarang Echa punya Ayah. Echa sama seperti teman-teman Echa yang lain. Ada Mamah, Echa dan juga Ayah."


Ucapan itu yang kini menghiasi kepala Rion. Momen di mana mereka baru kembali ke rumah yang Rion beli, kembali menjadi keluarga yang utuh. Echa duduk di pangkuannya sambil melingkarkan tangannya ke leher sang Ayah. Mencium pipi kanan dan kiri ayahnya.


"Secepat inikah kamu beranjak dewasa, Dek?" gumamnya.


Dia menatap foto mereka bertiga yang berlibur ke Disney Land. Tawa Echa mengembang dengan sempurna. Dia berada dalam pelukan hangat sang Ayah.


"Echa ingin pergi liburan liat Mickey Mouse, Minnie Mouse, Donald Duck, Princess, dan banyak lagi. Echa ingin ke sana Ayah."


Senyum tipis terukir di wajah Rion. Kali pertama mereka bertiga berlibur bersama ke Jepang. Rion sangat bahagia apalagi Echa yang tidak pernah berhenti memancarkan kebahagiaannya.


"Ayah, Echa ingin jajan."


"Ayah, Mamah marahin Echa."


"Ayah, Echa ingin tidur sama Ayah."


Kalimat demi kalimat yang pernah Echa lontarkan masih terngiang di telinga Rion. Echa yang manja dan tidak pernah lepas dari sang Ayah.


Rion teringat ketika Echa merengek ingin dibelikan gitar. Dengan senang hati Rion membelikannya sekaligus mencarikan guru untuk Echa belajar bermain gitar.


Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan untuk Rion. Banyak kegagalan dalam pertemuannya. Banyak yang membatalkan kerjasamanya. Dan malam itu dia pulang larut malam.


Ketika dia baru membuka pintu, petikan suara gitar dari tangan Echa membuatnya termenung.


Tuhan tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku terus berjanji


Tak kan khianati pintanya


Ayah dengarlah


Kan ku buktikan


Ku mampu penuhi maumu


"Selamat hari Ayah," ucap Echa seraya tersenyum.


Rion pun berhambur memeluk putrinya. "Terimakasih Ayah, sudah mau kembali ke dalam hidup Echa. Terimakasih sudah mengisi kekosongan hati Echa. Terimakasih Ayah, Echa sayang Ayah."


Bulir air mata Rion pun menetes. Kejadian sepuluh tahun yang lalu masih teringat jelas di kepalanya.


"Andaikan Ayah tidak menggoreskan luka di hatimu lagi, mungkin kamu tidak akan pergi dari Ayah. Kamu akan menuruti permintaan Ayah dan Mamah," lirihnya.


Di tempat berbeda, Echa sudah mengerjapkan matanya. Dia menatap sekeliling kamar dengan senyum yang melengkung sempurna.


"Sebentar lagi aku akan meninggalkan kamar ini," gumamnya.


Echa langsung membersihkan badannya lalu turun ke lantai bawah. Sudah ada Papanya di ruang keluarga yang sedang memperhatikan si kembar bermain.


Echa duduk di samping Gio. Die merangkul manja lengan sang Papa. "Jadilah kebanggaan Papa," ucap Gio.


"I will miss you, Pa."


"Papa juga, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik. Selalu beri kabar kepada kami semua di sini. Karena sudah pasti banyak orang yang akan sedih karena kepergian mu." Echa pun mengangguk.


"Mamah di mana Pa?" tanya Echa yang tidak melihat mamahnya.


"Di kamar, samperin gih," titahnya.


Ayanda pun pergi ke kamar sang Mamah. Pintu dibuka sangat pelan, dan Echa melihat sangat Mamah sedang duduk di samping tempat tidur dengan memegang figura di tangannya.


Perlahan Echa menghampiri sang Mamah, dan Echa mendengar isakan yang keluar dari mulut sang Mamah.


"Jangan menangis, Mah," ucap Echa yang langsung memeluk tubuh Ayanda dari samping.


"Echa akan berat meninggalkan Mamah kalo Mamah seperti ini. Echa hanya ke Canberra, Mah."


"Kamu masih ingat janji kamu kepada Mamah?" tanya Ayanda.


"Echa tidak akan meninggalkan Mamah. Echa akan selalu bersama Mamah," ucapnya dengan mempererat pelukannya.


"Kenapa kamu gak tepati janji kamu kepada Mamah?"


"Mah ...."


Echa pun menggenggam tangan sang Mamah, menatap manik mata Ayanda dengan sangat dalam.


"Echa yakin, Mamah dan Papa sudah tau semuanya dari Kakek," imbuhnya.


"Echa ingin sembuh, Mah. Echa ingin seperti anak normal pada umumnya. Echa tidak ingin terus-terusan membuat Mamah sedih karena penyakit Echa."


"Echa tidak ingin menjadi anak yang memiliki keterbatasan dalam bergerak. Echa ingin melakukan apapun. Karena selama ini banyak yang tidak boleh Echa lakukan karena penyakit yang Echa derita," ungkapnya.


Ayanda pun semakin meneteskan air mata. "Echa ingin sembuh Mah, ingin sehat lahir batin. Dan di sanalah Echa akan berikhtiar."


"Restui Echa untuk pergi jauh dari Mamah dan semuanya. Echa sedang berusaha menyembuhkan segala penyakit yang ada di tubuh Echa. Doakan Echa, supaya Echa bisa kembali ke sini lagi dengan tubuh dan hati yang sepenuhnya sembuh."


Tangis Ayanda pun pecah, dia memeluk tubuh putrinya sangat erat. "Kenapa kamu menyembunyikan sakitmu lagi? Kenapa? Kamu tidak percaya kepada Mamah?"


Echa pun menangis dalam dekapan sang Mamah. "Echa tidak ingin membuat Mamah menangisi Echa lagi. Perih hati Echa mendengar Mamah menangis ketika Echa terbaring koma. Echa mampu mendengar semuanya, tapi Echa tidak mampu untuk terbangun."


Ayanda dengan cepat mengingat kejadian itu. Di mana hatinya sangat sakit karena baru saja dikhianati, dan keesokan harinya dia mengetahui kenyataan bahwa anaknya terbaring di ranjang pesakitan. Yang membuat hatinya hancur, setelah kedatangannya Echa dinyatakan koma oleh dokter.


Bagaimana tubuhnya tidak limbung, bagaimana dia bisa kuat ketika melihat penguatnya untuk melanjutkan hidup hanya bisa memejamkan mata.


"Sudah waktunya Mamah bahagia, inilah cara Echa untuk membahagiakan Mamah. Meskipun, apa yang Echa lakukan tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang yang tulus yang Mamah berikan untuk Echa."


Gio dan si kembar menatap Ayanda dan Echa yang sedang menangis dalam kondisi berpelukan hanya terdiam. Si kembar langsung berlari menuju ke arah Mamah dan Kakaknya. Tangan mungil mereka berdua menghapus air mata yang telah membanjiri wajah Mommy dan Kakaknya.


"Don't tlai," ucap Ghassan.


"Ade tan daga Mommy Dan tata," imbuh Gatthan.


"Ban pun," timpal Ghassan.


Gio menghampiri istri dan ketiga anaknya. Lengkungan senyum terukir dari bibirnya.


"Sehatkanlah fisikmu, Sayang. Sembuhkan lah psikis mu. Papa akan menjadi orang pertama yang akan selalu mendukungmu," kata Gio.


"Makasih, Pa." Echa pun memeluk erat tubuh Gio.


Seorang pria mampu menyembunyikan rasa sedihnya. Itulah yang dilakukan oleh Gio. Padahal, dia juga sangat sedih dan tidak tega melepaskan Echa sendiri ke Ausi. Meskipun ada sang ayah yang akan menjaga Echa, masih ada kekhawatiran dan ketakutan di hati Gio. Dibalik sifat bijak Gio, ada kesedihan yang mendalam di dalam hatinya.


****


Mau tanya, apa kalian sudah bosen dengan cerita Bang Duda? secara ini udah masuk ke bab hampir 220.


Apa kalian ingin cerita ini aku End? Tapi, aku masih suka nulis cerita ini. Gimana dong ....?


Tulis jawaban kalian di komen ya ...


Mohon maaf, untuk Yang Terluka (Elthasya) aku belum bisa rutin UP. Menulis itu tidak semudah membaca, aku tidak memaksa otakku berpikir terlalu keras yang pada akhirnya akan buat badan aku menjadi drop kayak kemarin. Harap dimengerti 🙏