
Siapkan mental kalian!
...****************...
"Datangkan dokter obgyn. Saya rasa dia hamil."
Sungguh perkataan yang yang membuat semua orang tersentak. Apalagi, itu terucap dari mulut Rion dengan santainya.
"Jaga ucapanmu!" bentak Satria.
Rion hanya berdecih dengan senyum tipisnya. "Dia hanya kelelahan," ujar Satria.
"Iya, kelelahan karena sering diajak terbang ke awang-awang." Sungguh celetukan yang terucap dari bibir Rion membuat Satria naik darah. Dengan cepat Satria menghampiri Rion dan tangannya sudah melayang ke atas. Dengan sigap, Radit menarik tubuh Satria agar tak melakukan tindakan kekerasan kepada ayah mertuanya.
Rion mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Dengan sedikit emosi, dia melempar alat yang seperti termometer ke atas meja.
"Aku tidak akan berbicara sembarang, jika tanpa bukti."
Semua mata tertuju pada benda yang sudah di atas meja. Addhitama segera mengambilnya dan tubuhnya limbung melihat apa yang dia pegang, memperlihatkan garis dua berwarna merah di sana.
Alat itu terlepas dari tangan Addhitama. Kecewa dan marah jadi satu. Dia tidak habis pikir dengan Satria. Adik kandungnya yang dia kira memilik pikiran yang waras ternyata sebaliknya. Hanya kebejatan yang ada di dalam pikirannya. Dan alat itu, kini digenggam oleh Radit. Radit hanya menggelengkan kepalanya. "Sampai bisa menghasilkan benih seperti ini, Om," cibir Radit.
Radit segera memberikan alat yang dia pegang ke tangan Satria. "Bertanggung jawablah, jika Om merasa melakukannya." Ucapan penuh sindiran yang Radit katakan.
Semua orang menatap marah ke arah Satria. Dan Amanda masih belum membuka matanya. Echa hanya dapat menatap wajah ayahnya dengan hati yang sakit. Ayahnya memang terlihat baik-baik saja. Tetapi, hatinya pasti sangat hancur. Yang lebih menyakitkan hati Echa, ayahnya mencari tahu bukti itu seorang diri dan menyimpannya dengan rapi.
Mata Satria pun melebar ketika melihat testpack di tangannya. "Ini hanya jebakan dari dia," tuduh Satria sambil menunjuk Rion.
Rion tidak bergeming, dia masih di posisi duduknya dengan tangan dilipat di atas dada.
"Cocok emang lu disebut Bang Sat," geram Arya yang ingin menghantam wajah Satria.
"Aku itu sudah melakukan operasi vasektomi semenjak kehilangan Amanda," kilahnya.
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Satria. Hanya Rion yang masih dengan raut wajah datar.
"Vasektomi itu tidak bisa bersifat permanen. Bukan begitu Pak Addhitama dan menantuku, Raditya?" Dua dokter itu pun mengangguk membenarkan ucapan Rion.
"Dua setengah tahun lalu. Di sebuah klub malam, ada pertemuan tak sengaja antara Satria dengan wanita diskonan itu. Wanita diskonan itu sedang frustasi karena semua kartu yang suaminya berikan dibekukan. Bukan tanpa alasan, sudah banyak kejanggalan yang suaminya temukan. Apalagi, hobi wanita diskonan itu yang selalu karaokean dan juga meminum wine."
"Karena mabuk, si wanita diskonan itu dibantu oleh Satria yang diam-diam masih memperhatikannya. Hingga, dia membawa tubuh si wanita ke sebuah hotel yang tak jauh dari klub malam. Dan apa yang terjadi? Wanita malam tetaplah wanita malam. Dengan ganasnya dia menggoda Satria dan Satria pun tidak bisa membendung hasratnya. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kejadian yang pastinya memalukan jika diketahui banyak orang. Tetapi, menimbulkan sensasi kenikmatan bagi mereka yang sedang melakukan." Sungguh Satria malu mendengar ucapan Rion.
Rion menghela napasnya sejenak. Sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ketika wanita itu sadar, bukannya merasa bersalah dia semakin menggoda. Karena menurut wanita diskonan itu Satria adalah pemuas nafsu dan juga ladang uang untuknya." Addhitama sangat tersentak mendengar pernyataan dari Rion.
"Diam-diam, Satria melakukan operasi pembukaan saluran sper-ma karena wanita diskonan itu merasa tidak terpuaskan oleh Satria. Setelah operasi berhasil, pertemuan mereka semakin intens hingga mereka berani melakukannya di rumah pribadi milik saya, kan. Seperti video yang kalian lihat itu," terang Rion.
"Pintar sekali kamu memfitnah saya," sentak Satria tak mau kalah.
"Dia istrimu pastinya itu anakmu," lanjutnya.
"Bukankah dia juga pemuas nafsumu? Sehingga kamu rela memberikan 70% hartamu kepada wanita itu." Senyum tipis terukir di bibir Rion.
Lagi-lagi Addhitama tersentak mendengarnya. Begitu juga Radit. Sedangkan yang lain sudah menatap tajam ke arah Satria.
"Bang." Suara lemah terucap dari bibir Amanda.
"Jangan pernah panggil putraku dengan sebutan itu. Karena kamu bukan lagi bagian dari keluargaku. Aku tak Sudi memiliki menantu kotor sepertimu," imbuh mamah Dina dengan emosi yang bergelora.
Air mata Amanda menetes kembali mendengar ucapan mamah Dina. Satria benar-benar tidak tega melihat Amanda yang terus-terusan menangis.
Sungguh ucapan yang sangat menyayat hati sampai ke dalam. Tajam dan pedas, perkataan yang dilontarkan oleh Nisa.
Tubuh Amanda bergetar hebat ketika melihat testpack di atas perutnya. Dan dia sangat hafal jika testpack ini adalah testpack yang ada di kamarnya.
"Jaga ucapanmu!" bentak Satria kepada Nisa.
"Kenapa saya harus jaga bicara saya? Sedangkan kalian pun tidak menjaga tindakan bodoh kalian di hadapan kami." Jawaban telak yang Nisa lontarkan.
"Selamat malam," sapa sopan seorang wanita berpakaian jas putih berhasil mengehentikan perdebatan.
"Silahkan bergabung dokter Ribka," jawab Radit. Dokter perempuan itu pun bergabung dengan mereka semua.
"Echa kenapa, Dit?" Pertanyaan dari Ayanda yang penuh dengan kekahwatiran. Hanya seulas senyum yang Radit berikan kepada mamah mertuanya.
"Ini yang akan diperiksa?" tanya dokter Ribka sambil menunjuk ke arah Echa.
"Bukan, tapi itu," tunjuk Radit ke arah Amanda. Semua orang pun tercengang dengan tindakan yang dilakukan Radit.
Tanpa mereka ketahui, Radit sudah menghubungi dokter obgyn yang sekaligus sahabatnya. Dia ingin tahu kenyataan yang sebenarnya.
Echa menatap ke arah Radit yang berada di sampingnya. Begitu juga Addhitama dan yang lainnya. Hanya Gio dan Rion yang mengukirkan senyum tipis penuh kebanggaan kepada menantu mereka.
"Tidak baik kan suudzon. Makanya Radit datangkan dokter obgyn-nya ke sini. Dan dokter Ribka pun membuka praktek tak jauh dari sini. Benar begitu, dok?"
"Benar sekali dokter Radit. Jika, ibu ini positif akan saya bawa langsung ke tempat praktek saya untuk dilakukan USG."
Tubuh Amanda semakin pucat pasi begitu juga Satria. Kenapa hal ini diungkap di depan umum di acara persidangan Akbar yang dilakukan oleh Addhitama, kakaknya sendiri.
"Apa pemeriksaannya dilakukan di kamar saja?" ucap hati-hati dokter Ribka.
"Di sini saja, dok. Semua orang ingin tahu bagaimana hasilnya. Karena ini yang sedang kami tunggu-tunggu." Sungguh perilaku Radit yang berbeda dari biasanya.
Sikap cool yang Radit miliki ternyata diimbangi dengan mulut pedas bak netizen maha benar dan maha sok tahu.
"Baiklah." Dokter Ribka pun mulai memeriksa Amanda dengan teliti.
"Kapan terakhir kali Ibu berhubungan badan dengan suami Ibu."
Duar!
Pertanyaan yang sedang ditunggu-tunggu jawabannya oleh semua orang yang berada di sana. Jantung Satria berdebar sangat kencang. Ada ketakutan di hatinya.
Karena Amanda masih diam, dokter Ribka pun melanjutkan ucapannya. "Jangan malu, Bu. Katakan saja. Karena ini masuk ke dalam prosedur pemeriksaan agar lebih akurat."
Satu detik, hening.
Dua detik, masih hening.
Tiga detik. "Semalam."
Wow!
Sungguh luar biasa jawaban Amanda dan mampu membuat semua mata orang yang berada di sana melebar dengan sangat sempurna.
...****************...
Kalo komen banyak aku Up lagi nih, kalo komen dikit sampai bertemu Senin ....