Bang Duda

Bang Duda
357. Viralkan



Satria telah gagal meminta bantuan kepada Rindra yang masa lalunya sama bejatnya dengan dirinya. Dia pun pergi dengan hati yang kecewa. Ke mana lagi dia harus meminta bantuan? Berbicara langsung kepada sang Abang sungguh tidak mungkin.


Setelah kepergian Satria ada sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Rindra. Rio bersorak gembira ketika mengetahui siapa sang pemilik mobil itu.


"Om," panggilnya sambil berlari ke arah laki-laki tampan yang baru saja keluar dari mobil.


"Mau jemput Rio?" Rifal pun mengangguk.


"Aunty-nya ingin bertemu dengan Rio."


"Radit dan istrinya sudah kembali?" tanya Nesha.


"Iya, tapi istrinya lagi dirawat karena kelelahan. Makanya aku mau bawa Rio ke sana disuruh Papih," jelas Rifal.


"Apa Radit masih menghukum ku?" Kini suara Rindra yang menimpali ucapan Rifal.


"Kenapa Abang bertanya hal yang sudah Abang ketahui jawabannya," jawab santai Rifal.


"Aku ingin bertemu dengan istri dari adik ipar ku," pinta Nesha kepada Rifal.


"Belum saatnya, Mbak. Mbak tahu sendiri, bagaimana sifat Radit. Kemarahannya belum surut karena ulah suami biadad Mbak ini." Sungguh adik laknat, begitulah batin Rindra.


Selama Nesha menikah dengan Rindra, belum pernah sama sekali dia bertemu dengan Echa. Hanya Radit yang pernah dia temui, itu pun bisa dihitung dengan jari. Bukan tanpa alasan, inilah keputusan Radit.


Suatu saat aku akan membawa istriku ke hadapan kalian. Setelah rasa marah bercampur dendam dan kecewa di hatiku dan istriku menghilang.


Begitulah yang Radit katakan kepada Rindra dan juga Nesha. Mereka berdua tidak bisa membantah. Ini adalah salah satu bentuk hukuman yang Radit berikan untuk Rindra.


Di rumah sakit, Ayanda dan Giondra sedang menjenguk Echa dan juga Iyan sebelum berangkat ke kantor. Ada rasa sungkan di hati Riana ketika Giondra dan Ayanda masuk ke dalam kamar perawatan adiknya. Berbeda dengan adiknya yang terlihat sangat bahagia.


"Makasih Mommy, makasih Daddy. Udah jenguk Iyan," ucap anak itu dengan wajah yang berbinar.


"Sama-sama, Sayang." Ayanda mengusap lembut kepala Iyan.


Terlintas kesedihan di mata Iyan. Matanya mulai mengembun mendapat perlakuan seperti ini dari Ayanda.


"Andai Bunda seperti Mommy."


Gumaman yang mampu didengar oleh semua orang. Hati mereka seperti disilet. Sangat perih, dan mimik muka Rion berubah pilu.


"Iyan boleh kok anggap Mommy seperti ibu Iyan sendiri. Mommy malah senang karena Mommy memiliki anak sepintar dan setampan Iyan. Gak jauh beda sama Abang dan Kakak." Iyan segera memeluk erat tubuh Ayanda. Dan Gio mengusap lembut pundak Rion. Laki-laki memang tidak secengeng wanita. Tetapi, laki-laki juga memiliki sisi rapuh yang tidak orang ketahui.


"Boleh Mommy bicara dengan Ayah?" Rion menatap penuh tanya ke arah Ayanda. Hanya seulas senyum yang Ayanda berikan.


"Tentu saja boleh, Mommy," jawab Iyan.


"Ri ...."


"Silahkan Mommy." Riana masih sedikit takut menatap Ayanda. Apalagi, tangan Ayanda pernah menghadiahkan tamparan indah di pipinya.


"Maafkan Mommy, ya." Sebuah kalimat yang membuat Riana mendongak. Tangan Ayanda sudah berada di kepala Riana. Sentuhan lembut yang Ayanda berikan mampu membuat Riana menitikan air mata.


"Jangan nangis, Ri," cegah Ayanda.


"Bo-bolehkah Ri peluk Mommy?"


"Tentu saja." Dengan cepat Riana memeluk tubuh Ayanda dan menangis dalam pelukannya.


Benar kata Iyan, sentuhan lembut tangan Ayanda berbeda dengan sentuhan tangan sang bunda. Lebih lembut dan penuh kasih sayang.


"Maafkan Ri, Mom," lirihnya.


"Mommy bicara dulu sama Ayah, ya." Riana pun mengangguk.


"Gi ...."


"Bicaralah, gua percaya sama istri gua. Dan gua juga percaya sama lu karena lu gak akan bisa jadi pebinor dalam rumah tangga gua," potong Giondra dengan candaannya.


Ayanda dan Rion pun keluar dari kamar perawatan Iyan. Dan Ayanda mengajaknya duduk di taman rumah sakit.


"Ada apa?" Sebuah kalimat pembuka yang Rion berikan.


"Kenapa harus bertanya ada apa? Bukankah aku yang harus menanyakan bagaimana dengan dirimu, Mas?" Hanya senyum kegetiran yang menjadi sebuah jawaban.


"Aku semakin baik, Dek. Jadi, gak usah khawatir," sahut Rion.


Ayanda masih menatap mantan suaminya dengan tatapan tak terbaca. Mendengar jawaban seperti itu hatinya semakin terluka. Kemudian, Ayanda mengusap lembut tangan Rion hingga mata Rion bertemu dengan manik mata cokelat milik Ayanda.


"Apa masih mau menyembunyikan kesedihanmu, Mas. Bukankah Mas tidak bisa membohongiku?"


Tes.


Air mata Rion menetes tanpa permisi. Wajahnya tertunduk dengan suara isakan yang sangat lirih. Sungguh sakit mendengarnya.


"Hati Mas sangat hancur, Dek. Sangat hancur," lirihnya.


Sudah dapat Ayanda tebak. Itulah yang Rion rasakan.


"Selama ini hanya menangis yang Mas lakukan di ruang kerja. Ingin rasanya Mas menjatuhkan talak secepat kilat, tapi Mas melihat anak-anak."


"Hingga Mas menyimpan semua kesakitan selama dua tahun lebih seorang diri." Rion menatap ke arah Ayanda yang wajahnya sudah dibanjiri air mata. Lalu, menganggukkan kepala.


"Mas, banyak belajar dari kamu, Dek. Kamu saja mampu menyimpan kesakitan kamu bertahun-tahun. Padahal kamu seorang wanita yang memiliki kepekaan luar biasa. Kenapa Mas tidak bisa? Berkorban sedikit saja demi kebahagiaan mereka. Anak-anak Mas, yang pastinya akan sedih jika Mas berpisah dengan ibunya. Sama halnya dengan putri kita."


Ayanda sudah tidak bisa berkata apa-apa. Penjelasan yang sangat menyayat hati.


"Tapi, pengorbanan Mas ini terlalu sakit, Mas," ucap lirih Ayanda.


"Tidak apa-apa, Dek. Ini sebagai bukti jika karma berlaku. Tidak harus menunggu mati dan tidak juga seperti memakan cabe. Mas, ikhlas menerima semua ini."


"Maafkan Mas, Dek. Dulu, Mas melukai hati kamu dengan ribuan belati tajam serta peluru panas. Dan sekarang, Mas merasakan hal yang sama seperti kamu rasakan. Malah lebih parah dari apa yang sudah Mas lakukan terhadapmu."


"Test pack itu ...."


"Mas tidak sengaja menemukan benda itu di dalam laci meja ketika Mas mencari jam tangan. Pagi-pagi disuguhkan benda seperti itu rasanya ingin marah, ingin memaki. Hingga Mas menyimpan benda itu. Merenungi setiap kejadian demi kejadian yang Mas lihat dan selidiki. Di situlah, Mas berdamai dengan diri Mas sendiri."


"Mungkin Tuhan maha baik, menciptakan masalah antara Riana dan Aksa hingga terbongkar semua yang ada. Benar kata Arya, orang baik sepertimu dijodohkan dengan orang baik seperti Gio. Sedangkan orang berengsek seperti Mas dijodohkan dengan wanita diskonan yang lebih berengsek dari Mas."


"Dari perceraian kita, Mas banyak belajar. Belajar menjadi Ayah dan suami yang lebih baik lagi. Meskipun, pada akhirnya Mas malah dikhianti." Ayanda berhambur memeluk tubuh Rion. Hingga Rion tersentak.


"Menangislah Mas, aku tahu Mas tidak sekuat ini," imbuh Ayanda yang kini memeluk erat tubuh Rion.


Mendengar ucapan itu, tangis Rion pecah kembali. Benar kata Ayanda, sekarang kondisinya rapuh. Hanya pura-pura kuat agar terlihat baik-baik saja.


Ponsel Radit berdering, dahinya mengekerut ketika mendapat kiriman video dari seseorang.


Ini apa-apaan? Apa pantas mereka seperti ini. Akan aku viralkan.


...****************...