
Di Bandung.
Para orang suruhan Gio sudah mencari Echa ke semua rumah sakit yang ada di Kota maupun daerah terpencil di Bandung. Namun, hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan Echa. Laporan dari mereka membuat Gio mengerang kesal. Meminta bantuan ayahnya pun tidak mungkin. Genta sedang sibuk mencari tahu tentang peneror perusahaannya.
Gio hanya mengurut keningnya yang terasa pusing. Sedari pagi belum ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya. Remon sudah memesankan makanan untuk atasannya ini.
"Makan dulu, Bos. Tadi, Bu Bos menanyakan keberadaan kita," lapornya.
Tidak ada jawaban dari Gio. Dan dia mulai menyentuh makanan yang sudah ada di depannya dengan tak berselera. Namun, dia sadar, dia tidak boleh sakit. Dia harus mencari Echa dan membawanya kembali ke rumah. Banyak orang yang menanti Echa di sana.
"Dokter Giondra," sapa seorang perempuan cantik.
Gio menoleh ke asal suara, awalnya Gio memicingkan mata tapi, akhirnya dia tersenyum ke arah perempuan cantik itu. "Dokter Kania," ucap Gio.
"Kirain udah lupa sama gua," ejek Kania.
Gio pun hanya tertawa. Kania adalah teman kuliah Gio ketika menempuh ilmu kedokteran. Mereka juga praktek di rumah sakit yang sama. Gio, Kania serta Eki. Tiga dokter yang terbilang banyak tingkah pada waktu itu. Namun, mereka juga memiliki kemampuan yang sangat luar biasa sehingga rumah sakit besar itu selalu membutuhkan tenaga mereka.
"Udah gak praktek di rumah sakit internasional?" Kania menggeleng.
"Gua ikut suami ke Bandung, terus buka klinik juga," jelasnya.
Gio yang manggut-manggut mendengar cerita Kania. "Gua bangga sama lu sekarang, jadi pria sejati yang memasang badan untuk istri," sanjungnya.
"Kewajiban suami melindungi istri, kan. Itulah komitmen gua. Apalagi istri gua adalah wanita yang udah gua tunggu lebih dari 10 tahun. Apapun akan gua lakuin untuk dia," sahut Gio.
"Speechless sumpah. Aura lu benar-benar semakin terpancar ketika lu udah punya anak dan istri," puji Kania lagi.
Gio hanya tersenyum, tidak ada yang menyangka Playboy cap kuda ngangkang menjadi pria sejati setelah menunggu jandanya istri orang.
"Lu lagi ada kerjaan di sini?"
"Gua lagi cari a ...."
Ponsel Kania berdering, dahinya mengkerut ketika melihat nomor yang menghubunginya. Kepanikan muncul di wajah Kania.
"Iya, saya segera ke sana."
"Sorry Ndra, gua harus ke klinik," imbuhnya. Gio pun mengangguk mengerti. Keselamatan pasien adalah hal utama untuk seorang dokter.
***
Radit masih menggenggam tangan Echa. Wajah pucatnya masih terlihat. Dia tidak tega untuk membangunkan Echa. Padahal Echa belum makan sama sekali.
"Sayang, makan dulu, ya," ucap lembut Radit ketika Echa mulai sedikit membuka matanya.
Radit membantu Echa untuk duduk. Dan Radit membuka steroform yang berisi bubur ayam. Ya, karena Echa belum boleh makan makanan yang sulit dicerna oleh lambung.
Baru tiga suap, Echa menghentikan makannya. Dia menggeleng karena perutnya terasa diaduk-aduk. Mual yang Echa rasakan. Echa meraih selang infus dengan perlahan dia menuju kamar mandi. Echa mengeluarkan apa yang baru saja dia makan.
Radit dengan sigap membopong tubuh Echa dan menidurkannya kembali di atas ranjang pesakitan. Radit dengan telaten mengusap lembut keringat yang kini membanjiri wajah Echa. Radit sangat melihat jelas, Echa meringis kesakitan dengan memegangi perutnya,
"Sayang," ucap Radit sambil mengusap lembut rambut Echa.
Bulir bening pun menetes di ujung mata Echa. Sungguh sangat sakit, tapi dia tidak mau membuat Radit semakin khawatir.
"Aku tau Yang, kamu lagi nahan sakit di perut kamu," kata Radit.
Echa pun menatap Radit dan seketika Radit memeluk tubuh Echa. "Sakit," rintih Echa.
"Sabar ya, aku udah menghubungi dokter Eki."
Bukan hanya dokter Eki yang Radit hubungi. Tapi, sang Papih pun Radit hubungi. Dan Addhitama meminta Radit untuk mendampingi Echa terus. Dan dia akan segera menuju ke Bandung.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan klinik kecil. "Makasih, Ndra. Gua duluan." Kania bergegas turun karena sedari tadi Kania berteriak agar Remon lebih cepat lagi mengemudi. Pasiennya sangat membutuhkannya.
Namun, kandung kemih Gio sedang tidak bisa diajak kompromi. Mobil yang baru melaju pun menepi kembali. "Saya masuk ke klinik Kania dulu. Numpang kamar mandi."
Gio masuk ke dalam klinik Kania yang terlihat sangat sepi. Tidak dia pedulikan, Gio mencari kamar mandi untuk mengeluarkan air kemihnya. Setelah lega dan semua simpanan air dia keluarkan, Gio keluar dari kamar mandi. Dia melihat Kania yang tengah panik dengan ponsel di telinganya.
"Kenapa lu?" Kania terlonjak dan ponselnya hampir terjatuh karena mendengar suara yang bertanya kepadanya.
"Kumpret, gua kira jurig," ucap Kania.
Tanpa berpikir panjang, Kania langsung menarik tangan Gio untuk masuk ke dalam kamar perawatan. "Bantu pasien gua."
Tidak ada penolakan dari Gio dan dia terus mengikuti langkah Kania. Gio menajamkan penglihatannya ketika melihat sosok lelaki yang tidak asing baginya sedang membopong tubuh seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Setelah lelaki meletakkan perempuan yang dia bopong, Gio hampir tidak percaya dan dia mencoba untuk mendekat.
"Echa," panggilnya.
Radit dan Echa pun menoleh ke asal suara. Radit melebarkan matanya ketika melihat Gio yang sudah menghampiri mereka. Dan Echa dengan kondisi lemahnya dapat melihat papanya meskipun pandangannya sudah kabur.
"Pa-pa." Mata Echa pun terpejam dan Radit serta Gio terlihat panik. Gio membawa tubuh putrinya keluar dari mobil diikuti oleh Radit dan Kania.
"Cepetan Mon," seru Gio.
Wajah panik, takut dan juga sedih nampak jelas di wajah Gio. Dia hanya bisa bersandar di dinding dengan membentur-benturkan kepala bagian belakang ke dinding.
"Maafkan Papa, Sayang. Maafkan Papa," lirihnya.
Tak terasa pertahanan Gio pun runtuh. Bulir bening menetes dari ujung matanya. Guratan penyesalan dan rasa bersalah nampak terlihat jelas di wajah Gio. Radit dan Remon serta Kania hanya memandang iba kepada Gio.
"Sudah lebih dari 15 tahun, saya tidak melihat wajah ini. Dan malam ini, wajah itu Anda tunjukkan kembali kepada saya," ucapnya pelan.
Di lain Kota, perasaaan Ayanda malam ini sungguh sangat tidak karuhan. Dia terus mengingat putrinya. Bayang-bayang Echa koma, menghiasi kepalanya. Ayanda mencoba untuk menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak apa yang sedang dia pikirkan.
Ayanda kembali menatap si kembar, tersimpan luka dan trauma di hati kedua putranya. Dan bagaimana dengan Echa putri sulungnya? Air matanya menetes lagi. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Echa ketika lehernya terkena sayatan pisau tajam serta tusukan pisau runcing di bagian perutnya. Bagiamana Echa bisa pura-pura baik-baik saja di hadapan mereka? Air matanya semakin mengalir deras.
"Kak, kenapa kamu harus seperti ini? Kenapa kamu gak bilang jika, kamu juga terluka parah? Kenapa Kak?" ucapnya sangat lirih.
Aksa yang mendengar ucapan sang Mommy pun terbangun. Betapa sakit dan sedihnya hati Aksa ketika dia melihat Mommy-nya mengeluarkan air mata sepilu itu.
"Harusnya Abang yang kena pisau itu, harusnya Abang yang terkena luka parah. Bukan Kakak,'" ucap Aksa.
Ayanda memeluk tubuh Aksa. Dia sudah tidak bisa menutupi rasa sedihnya lagi. "Kakak hampir saja dilecehkan oleh orang-orang jahat itu," imbuhnya.
Hati Ayanda semakin sakit mendengarnya. "Abang dan Adek disuruh pergi tapi kami ingat pesan Daddy. Kakak memang selamat dari ketiga pria itu. Tapi, demi untuk melindungi Abang dan Adek Kakak terkena pukulan dan juga tusukan. Bawa pulang Kakak Mom, Abang ingin bertemu Kakak," lirihnya.
Remuk, hancur, dan sakit sangat Ayanda rasakan. Ketika Echa membutuhkan perlindungan, seakan dia menutup mata. Seolah kesalahan ada pada Echa. Padahal Echa korbannya, Echa yang menjadi sasaran dari tiga orang jahat itu.
Kembali ke Bandung.
Dokter masih melakukan penanganan terhadap Echa. Gio serta yang lainnya hanya bisa menunggu. Tatapan sedih Gio sangat terlihat jelas. Sedari tadi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Setelah dua jam, dokter keluar dan menemui Gio. "Kita harus melakukan endoskopi serta tes laboratorium. Serta Rontgen untuk lebih memastikan luka di lambungnya."
"Lakukan yang terbaik." Dokter pun hanya mengangguk dengan mantap menjawab permintaan Gio.
Echa terlebih dahulu dibawa ke ruang perawatan hingga dia sadar total. Barulah akan dilakukan beberapa tes untuk memeriksa penyakitnya.
Gio menatap nanar ke arah putrinya. Dia masih memandang lekat wajah pucat Echa dengan selang infus di tangannya. Matanya tertuju pada hecting di leher. Dengan pelan, Gio menyibakkan kerah baju Echa. Sungguh luka yang cukup panjang.
"Bukan hanya itu luka yang Echa dapatkan." Gio menatap Radit dengan wajah sendu.
"Angkatlah baju Echa," titah Radit.
Hanya bulir bening yang menjadi ungkapan sedih dan penyesalan yang tidak bisa Gio utarakan. Terlalu emosi membuatnya tidak bisa menahan diri.
"Bagaimana dia mencoba baik-baik saja dengan luka parah seperti ini?" tanya Gio kepada Radit.
"Echa hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Segala sakit yang sedang dia rasakan dia abaikan. Yang terpenting kalian," sahut Radit.
Ribuan kata maaf sudah terucap dari mulut Gio. Dia terus menggenggam tangan Echa dan memandang wajah putrinya yang sangat lemah.
"Akan ada trauma baru karena Echa hampir saja dinodai oleh ketiga pria tersebut," jelas Radit.
Mata Gio melebar, tangannya mengepal keras. Dan kali ini dia tidak akan tinggal diam. Siapapun dalangnya harus mendapatkan balasan yang setimpal.
Perlahan tangan Echa bergerak. Matanya mulai membuka. Terlihat samar-samar wajah sang Papa. Namun, lama-kelamaan wajah itu mulai terlihat jelas.
"Pa-pa."
"Maafkan Echa."
Di dalam kondisi seperti ini, Echa masih merasa bersalah, Padahal dia yang menjadi korban yang sesungguhnya.
"Tidak, Sayang. Papa yang harusnya minta maaf. Maafkan Papa," ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipi Gio.
"Papa jangan nangis, Echa gak apa-apa. Yang penting si kembar selamat," imbuhnya.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kamu yang terluka parah, tapi kamu yang pergi dari Papa?"
Echa menggeleng lemah. "Echa tidak pergi, Echa sedang memulihkan diri. Echa tahu, Papa dan Mamah pasti kecewa dengan Echa, Echa tidak ingin menambah beban Mamah dan Papa jika, Echa memperlihatkan sakit Echa."
"Kamu anak Papa, Papa berhak tau atas diri kamu. Jangan pernah sembunyikan apapun dari Papa. Papa sayang sama kamu, rasa kecewa Papa terhadap kamu tidak akan pernah bisa merubah rasa sayang Papa sama kamu. Wajar kalo orangtua kecewa, tapi rasa sayang terhadap putrinya masih akan tetap ada dan melekat di hati seorang Ayah."
Bulir bening pun menetes begitu saja membanjiri wajah Echa. Echa sangatlah beruntung memiliki ayah sambung seperti Gio. Kania ikut menitikan air mata mendengar ungkapan tulus dari Gio.
Gio menghapus air mata di wajah cantik Echa. Lalu dia mengusap lembut rambut putrinya.
"Kamu masih tetap gadis kecil Papa yang harus selalu Papa jaga. Hingga nanti Papa melepaskan kamu kepada seseorang yang benar-benar akan menggantikan tugas Papa untuk menjaga kamu."
****
Ada notif Up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun...
Kalian udah bosen ya sama cerita ini? Komen kalian semakin ke sini semakin sedikit. Dan yang biasa rajin komen pun seolah menghilang.
Sedih loh rasanya 🤧