Bang Duda

Bang Duda
360. Jangan Menghindar (Musim Kedua)



"Aku tidak akan merebut hak asuh anak-anak kamu, Bang. Aku hanya ingin kamu tidak menceraikan aku. Dan aku akan melepaskan mereka. Aku janji, aku akan menggugurkan anak yang sedang aku kandung ini. Dan kita bisa hidup bersama-sama lagi."


"Wanita gila, sungguh gila!" seru seseorang yang sudah berada di belakang Radit dengan wajah yang sudah memerah.


Amanda tersentak melihat orang yang menakutkan bagi dirinya ada di depannya sekarang.


"Apa karena aku sudah jatuh miskin hingga kamu rela mengancam keselamatan anak-anakmu? Di mana otakmu Amanda?" geram Satria yang sudah mengepalkan tangan.


"Jangan mendekat! Atau akan ku bunuh anak ini," seru Amanda.


Satria tidak mengindahkan ucapkan Amanda. Dia terus mendekat ke arah Amanda.


"Berengsek! Kau akan mencelakai anakku," bentak Rion kepada Satria.


Dan pisau sudah ada di atas kulit leher Iyan. Iyan hanya bisa pasrah dengan wajah yang sudah memucat bak mayat hidup. Apalagi darah di tangannya masih saja menetes.


Satria benar-benar keras kepala, dia semakin mendekat dan mendekat.


"Tancapkan pisau itu! Jika memang kamu ingin dicap sebagai pembunuh," ucap Satria santai.


"Dan aku adalah orang pertama yang akan melemparmu ke penangkaran buaya untuk dijadikan santapan lezat para buaya-buaya kelaparan." Mata tajam dan sangat mengancam.


Amanda mencoba untuk tidak goyah. Dia semakin menempelkan pisau itu di leher Iyan. Dan Echa sudah menangis tak henti melihat adiknya yang sudah pucat pasi dengan pisau di lehernya.


"Ba ...."


"Kamu tenang aja, ya. Aku yakin Iyan akan selamat." Kalimat penenang setenang yang Radit ucapkan.


"Aku tidak takut," sahut Amanda.


"Sakit Bunda," ucap pelan Iyan yang kini hendak terpejam.


"Jangan tidur Iyan," seru Rion.


"Buka matamu, Iyan." Panik, itulah yang Echa rasakan.


Secepat kilat, pisau itu sudah terjatuh ke lantai. Dan Satria membopong paksa tubuh Amanda agar tidak bisa kabur.


"Selamatkan anakmu," titah Satria pada Rion.


Rion segera menghampiri Iyan dan memanggil dokter. Air mata Rion menetes ketika ucapan pelan Iyan terdengar. "Iyan sudah tidak sanggup, Ayah."


"Iyan anak kuat, Iyan harus bisa bertahan. Ayah tidak ingin kehilangan Iyan," jawab Rion yang sudah dibanjiri air mata.


Echa bangkit dari kursi roda membuat suaminya sedikit khawatir. Echa menggenggam tangan Iyan dengan air mata yang tidak bisa berhenti. Diletakkannya tangan Iyan di atas perutnya. Dan calon anak-anak Echa merespon sentuhan tangan Iyan.


"Iyan bisa rasakan kan. Adik-adik Iyan sangat ingin bertemu dengan Iyan. Bertahanlah demi mereka. Mereka akan sangat sedih ketika mereka lahir tidak ada Iyan di samping mereka." Seulas senyum hadir di wajah pucat Iyan.


"Iyan anak yang kuat, Iyan akan menjadi pelindung untuk adik-adik Iyan ketika dia lahir." Derai air mata mengiringi setiap kalimat yang terucap.


"Iyan a-kan ber-ta-han. Mes-ki sa-kit."


Siapa yang tidak menangis mendengar ucapan Iyan. Tak lama dokter segera memeriksa kondisi Iyan. Butuh waktu satu jam untuk memastikan Iyan baik-baik saja. Wajah pucat Iyan mulai menghilang. Dan sekarang dia sudah terlelap.


"Kenapa dia bisa ke sini Ayah?" tanya Radit. Rion hanya menggeleng.


Sedangkan Echa tengah memeluk Riana. Bagaimana pun sikap Riana dulu terhadap Echa, tidak mampu menghilangkan rasa sayang Echa kepada adik perempuannya ini.


"Kita harus memindahkan perawatan Iyan," ucap Rion tanpa mengalihkan pandangannya kepada putra bungsunya.


"Rumah sakit ini tidak aman untuk Iyan," lanjutnya.


"Rawat Iyan di rumahku, Mas. Itu akan lebih aman. Dan Daddy-nya anak-anak sudah menyiapkan dokter terbaik untuk memeriksa Iyan." Sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi Rion sekarang.


"Aku pun sudah menyiapkan dokter kandungan untuk Echa. Dan dia juga harus dirawat di rumah. Hingga kondisinya stabil."


"Untuk Riana, aku sudah meminta salah satu psikiater terbaik untuk menyembuhkan trauma yang dia derita. Pastinya, penyembuhan Riana dibantu oleh menantu kita, Raditya."


"Tapi, Dek ...."


"Anggap saja ini bantuan dariku, Mas. Tinggallah di rumahku untuk sementara hingga rumah anak kita selesai direnovasi. Kamar di rumahku sangat banyak. Sayang kan, jika tidak digunakan."


"Ikuti aja tawaran Mamah, Yah. Ini untuk kebaikan Iyan. Echa tidak ingin kita kecolongan lagi. Nyawa Iyan yang akan jadi taruhannya," imbuh Echa.


Ayanda datang di saat yang tepat. Apalagi, dia mendengar sendiri dari Satria yang baru saja berpapasan dengan dirinya dan menceritakan semuanya. Karena Satria lebih dulu mengunci Amanda di dalam mobil.


Setelah pulang dari rumah sakit. Ayanda dan Gio memang berniat untuk memindahkan perawatan Iyan dan juga Echa ke rumah mereka. Tentu saja agar mereka bisa mengontrol putri mereka serta Iyan yang sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Dan Gio sudah menghubungi beberapa dokter terbaik untuk merawat Echa dan juga Iyan.


Untuk masalah Rion dan Riana tinggal di rumahnya, itu inisiatif Ayanda. Nanti bisa dia bicarakan kembali dengan Gio. Karena dia yakin, Gio tidak akan menolaknya. Karena sejak awal mereka menikah, Gio sudah menganggap Rion seperti keluarganya sendiri.


Sore ini, Iyan dan Echa dipindahkan ke rumah besar milik Ayanda dan juga Giondra. Dua kamar yang ada di rumah Ayanda disulap seperti kamar perawatan VVIP. Semua fasilitas ada di sana.


"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Rion.


"Ini permintaan Daddy-nya anak-anak. Dia ingin mengutamakan kenyamanan Iyan."


"Kalau begitu, sebutkan berapa biaya per hari yang harus Mas keluarkan untuk menyewa kamar ini?" Kata Rion. Hanya tertawa renyah yang menjadi jawaban dari Ayanda.


"Mas ini, kayak ke siapa aja. Aku dan Gio ikhlas membantu, Mas. Yang terpenting, Mas percepat perceraian Mas. Agar anak-anak bisa memulai hidup mereka yang baru. Benar begitu Riana?" Riana pun mengangguk. Kemudian, memeluk tubuh Ayanda dengan sangat erat.


"Kamu istirahat, ya. Kamarmu di samping kamar ini."


"Ri, tidur di sini aja, Mom. Ri, ingin menemani Ayah dan juga Iyan." Ayanda tersenyum lebar mendengarnya. Lalu, mengusap lembut kepala Riana dengan penuh cinta.


"Jika, kamu lapar. Pergilah ke ruang makan. Di sana sudah banyak makanan yang tersedia." Riana pun mengangguk patuh.


Setelah Ayanda pergi, Riana hanya membayangkan jika dirinya terlahir dari rahim Ayanda sudah pasti dia akan menjadi anak uang sangat bahagia. Namun, itu hanya angan saja. Pada nyatanya, dia terlahir dari rahim seorang ibu yang tidak memiliki hati. Dan hanya mementingkan harta.


Riana melihat langkah kaki ayahnya yang hendak keluar. "Ayah mau ke mana?" tanya Riana.


"Ayah ingin membuat kopi."


"Ayah tunggu saja di sini, biar Ri yang buatin kopi untuk Ayah," tawar Riana.


Riana pun menuju dapur dan mencari kopi. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika semua kopi tersedia di dapur Mommy-nya.


"Minimarket di dalam dapur ini mah," gumamnya seraya terkekeh.


Cemilan lengkap pun tersedia. Aneka minuman dingin pun ada. Membuat Riana berdecak kagum.


Ketika Riana sudah selesai membuatkan kopi untuk ayahnya. Dia berniat untuk mengambil minuman dingin untuk dirinya. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang laki-laki yang dia kagumi. Dia memilih untuk membalikkan badannya dan menjauhinya. Karena dia sadar, dia tidak pantas untuk laki-laki itu.


Riana segera membawa secangkir kopi keluar dari dapur. Namun cekalan tangan seseorang membuat langkahnya terhenti.


"Jangan menghindar."


...****************...


Komen banyak Up lagi nih ...


Bab ini komen di atas 60 dalam waktu 3 jam aku ngebut nih 😜