
Tanpa sepengetahuan Riana, Rion mengundang Echa, Iyan dan juga Radit ke apartment. Riana yang awalnya terlihat bahagia kini bertanya-tanya. Ketika sang kakak berkata, "ada apa, Ayah?"
"Tunggulah sebentar, Ayah mau mandi dulu. Dan Ayah sudah memesan makanan untuk kita makan malam," jawab Rion santai.
Tidak bagi Riana, Echa dan Iyan. Mereka merasa ada yang aneh dengan ayah mereka. Echa menatap Radit, hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Radit. Bukannya Radit tidak ingin berterus terang. Alangkah baiknya, ayah mertuanya yang mengatakan semuanya. Karena bukan hak Radit dalam masalah ini.
Riana mengikuti ayahnya untuk berganti pakaian dan mereka menyantap makan malam terlebih dahulu sebelum Rion berterus terang kepada semuanya. Setelah makan malam selesai, mereka berbincang di ruang tamu.
"Ada apa, Ayah?" Echa sangatlah peka akan tingkah laku sang ayah.
Rion menarik napas dalam sebelum dia berbicara. "Besok, bunda kalian akan menikah."
Hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada satu buah kata pun yang terucap dari bibir ketiga anak Rion.
"Secara agama, Ayah kan sudah bercerai dengan Bunda kalian. Hanya tinggal menunggu pengesahan oleh negara," jelas Rion.
Rion menatap ketiga anaknya dengan perasaan yang teramat bersalah. Bibirnya ingin berdusta, tapi hati kecilnya mengatakan tidak.
"Kita tidak boleh egois. Ada nyawa yang sedang dikandung oleh Bunda kalian. Dia juga berhak mendapatkan sebuah pengakuan dari kedua orangtuanya. Kita tidak bisa melarang."
"Ayah tidak apa-apa. Ayah sudah ikhlas, Ayah bahagia meskipun tanpa seorang pendamping. Hidup dengan kalian adalah kebahagiaan yang Tuhan berikan untuk Ayah."
Echa, Riana dan Iyan tidak bisa memendung rasa haru mereka. Mereka pun memeluk tubuh Rion. Sedangkan Radit hanya menghela napas kasar. Menjadi seorang ayah sekaligus ibu adalah hal yang tidak mudah. Apalagi, Rion harus mendapatkan luka yang sangat menganga.
"Tetaplah berada di samping Ayah. Sampai Ayah menutup mata," pinta Rion pada anak-anaknya.
"Echa tidak akan meninggalkan Ayah. Echa akan selalu ada di samping Ayah. Menemani Ayah dan memberikan kebahagiaan untuk Ayah. Echa janji, Echa tidak akan membuat Ayah sedih lagi. Sudah waktunya, kesedihan Ayah berganti dengan kebahagiaan," terangnya dengan suara berat karena menangis.
Riana dan Iyan tidak bisa berkata apapun. Mereka berdua hanya bisa menangis. Keterkejutan mereka menambah rasa sedih di hati mereka masing-masing. Apalagi Riana, hancur dan kecewa jadi satu. Hanya rasa benci yang mendominasi hatinya sekarang ini.
"Jangan menangis. Hapus air mata kalian. Ayah tidak ingin melihat kalian rapuh seperti ini. Anak-anak Ayah harus kuat. Apapun cobaan yang Tuhan berikan kepada kita. Jika, kita tetap bersama-sama. Pasti kita mampu melalui cobaan ini." Senyum penuh kepalsuan tersungging di bibir Rion.
Ketika anak-anaknya rapuh, dia tidak boleh lemah. Dia harus lebih kuat dan menjadi pahlawan untuk anak-anaknya. Meskipun, air mata, keringat dan darah mengucur deras dia akan tetap berjuang untuk mengurus mereka bertiga. Sudah cukup, Rion menjadi manusia bodoh. Ayah yang kejam. Dan sekarang, dia hanya ingin menjadi pelindung untuk anak-anaknya. Meskipun, berdiri hanya dengan satu kaki tanpa seorang istri. Dia akan buktikan bahwa dia mampu dan sanggup menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anaknya.
"Ayah, bolehkah besok Ri bertemu dengan Bunda? Ri, janji ini pertemuan terakhir Ri dengan Bunda," pintanya dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.
"Iyan juga ingin bertemu Bunda, Ayah," ucap Iyan dengan terisak.
Riana menatap wajah ayahnya yang sedang dilanda keraguan. "Jika, Ayah tidak mengijinkan. Ri, gak apa-apa, kok," lanjut Riana seraya tersenyum.
"Iyan juga gak akan maksa, Ayah. Iyan gak mau lihat Ayah sedih."
"Ayah akan mengantar kalian untuk melihat Bunda kalian." Terpaksa, itulah yang Rion lakukan.
"Kakak, Iyan mau tidur di sini, ya. Iyan mau tidur bareng Kak Ri dan juga Ayah. Iyan gak mau liat mereka sedih dan menangis ketika mau tidur," ujar Iyan dengan wajah polosnya.
Hati Echa sangatlah sakit mendengar ucapan adik bungsunya ini. Sedari tadi dia tak berhenti menangis. Membayangkankesakitan dan kesedihan mendalam yang adiknya rasakan.
"Jangan menangis terus, Dek. Kasihan anak-anak kamu," ucap Rion sambil mengelus perut Echa.
"Tidak selamanya, laki-laki itu harus kuat. Jika, lelah boleh sesekali menangis. Karena itu adalah hal yang wajar," bisik Radit.
Rion menatap sendu ke arah Radit. Seakan Radit tahu semua apa yang sedang dia rasakan.
"Keep strong, demi kami anak-anakmu, Ayah."
Sungguh perkataan Radit membuat air mata Rion runtuh begitu saja. Untung saja, Echa sudah terlebih dahulu menjauhi pintu apartment karena harus menerima panggilan telepon.
"Ketika Radit diposisi Ayah, belum tentu Radit bisa sekuat dan setegar Ayah. Kami akan selalu ada untuk Ayah. Sampai kapanpun."
Rion berhambur memeluk tubuh menantunya. Menumpahkan semua rasa sedih dan sakitnya yang selama ini dia pendam seorang diri. Dan kali ini, apa yang dia pendam Rion luapkan dalam tangisan.
"Makasih, Dit. Makasih."
Setelah Echa dan Radit pulang, Rion menyusul kedua anaknya ke kamar yang di tempatinya. Kamar yang memiliki tempat tidur king size.
"Kenapa belum tidur?"
"Kita nunggu Ayah," sahut Iyan.
Rion menghampiri Riana dan juga Iyan yang sudah ada di atas tempat tidur. "Ayah tidur di tengah," titah Iyan. Rion pun menuruti perintah sang putra. Setelah tubuh Riono terbaring, kedua anaknya memeluk tubuh Rion dengan sangat erat. Menenggelamkan wajah mereka ke bagian sisi tubuh Rion.
"Apa kalian sedih?" Kedua anaknya tidak menjawab. Hanya isakan uang menjadi jawaban dari mereka.
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah. Ayah sudah berusaha untuk mempertahankan semua. Tetapi, Ayah tidak bisa hidup dalam sebuah pengkhianatan yang teramat menyakitkan," lirih Rion.
Iyan menegakkan kepalanya lalu mengusap air mata sang ayah dengan ibu jarinya. "Iyan tidak menyalahkan Ayah. Ayah tidak salah," ucap Iyan dengan suara berat.
"Ri, juga tidak menyalahkan Ayah. Ri, hanya marah pada takdir. Kenapa begitu kejam memisahkan Ayah dan Bunda ketika Ri dan Iyan sudah lahir ke dunia."
"Puluhan tahun membina rumah tangga tidak menjamin rumah tangga itu bertahan sampai maut yang memisahkan. Semuanya sudah Tuhan tentukan. Jadi, kita hanya bisa mengikuti skenario yang sudah Tuhan tuliskan," jelas Rion.
Mereka bertiga tertidur setelah lelah menangis. Riana dan Iyan masih setia memeluk tubuh ayahnya dari sisi kiri dan kanan. Seolah mereka yang akan menjaga Rion selamanya.
Pagi menjelang, Riana dan Iyan sudah siap untuk pergi ke acara pernikahan sang bunda. Namun, Rion sengaja berangkat sedikit siang karena dia tidak ingin kedua anaknya semakin terpuruk. Tentu saja, Rion ditemani oleh Arya.
"Apa kalian yakin?" tanya Arya. Kedua anak Rion pun mengangguk. Mobil melaju ke kediaman Satria. Ketika mereka turun dari mobil, langkah Riana dan Iyan terhenti di ambang pintu ketika para saksi mengatakan kata sah. Dan laki-laki yang memakai pakaian senada dengan sang bunda mencium penuh cinta kening Amanda.
Tes.
Bulir bening jatuh kembali di pelupuk kedua anak manusia yang tidak berdosa.
...----------------...
Feel-nya dapat gak sih? 🤧