Bang Duda

Bang Duda
368. Menempuh Hidup Baru (Musim Kedua)



Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Maharani binti Suseno dengan emas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.


"Sah," jawab para saksi.


Ada kebahagiaan yang menyelimuti orang-orang yang berada di sana. Namun, ada dua anak manusia yang sedang menyaksikan secara langsung pernikahan ibunya dengan kesedihan yang mendalam. Bulir bening tak kuasa mereka bendung ketika melihat seorang laki-laki yang bersanding dengan sang bunda di depan penghulu mengecup kening orang yang telah melahirkan mereka. Sedangkan Rion, dia menatap Riana dan Iyan dengan penuh kesedihan. Terlalu sakit melihat pemandangan kedua anaknya.


Riana dan Iyan hanya mematung dengan perasaan yang bergejolak. Sedih, sakit, kecewa dan marah jadi satu. Ketika mereka masih menyimpan luka, sang bunda malah seperti tak menghiraukan mereka. Ketika Amanda hendak mencium tangan Addhitama, langkahnya terhenti ketika melihat kedua permata hatinya sedang membeku dan menitikan air mata.


"Riana ... Iyan." Air mata lolos begitu saja tatkala melihat kedua anaknya menyaksikan ijab kabulnya dengan pria lain.


Amanda menghampiri Riana dan juga Iyan. Para tamu undangan pun mulai bertanya-tanya. Siapa anak-anak itu?


"Anak-anak Bunda," kata Amanda yang sudah berlinang air mata.


"Makasih atas segala sakit yang Bunda berikan untuk Ri dan juga Iyan. Ini terakhir kalinya, Ri memanggil Bunda dengan sebutan Bunda. Mulai hari ini, esok dan seterusnya, ibu Ri adalah Ayah. Lelaki yang masih sanggup menjadi ibu dan ayah untuk Ri dan juga Iyan. Lelaki tangguh dan kuat yang Ri miliki. Dan mencoba masih setia meskipun Bunda sejak lama berpaling dari Ayah."


"Selamat menempuh hidup baru, semoga Bunda berbahagia dan tolong lupakan Ri. Anggap saja, Ri sudah mati seperti hati Ayah yang sudah mati karena Bunda. Ri, janji tidak akan mengganggu hidup Bunda dengan suami baru Bunda. Ri, percaya suatu saat karma akan datang menjemput Bunda."


Akhir kalimat yang sarat akan sumpah dari seorang anak yang sudah frustasi akan luka yang terus ditorehkan. Bukannya kejam, Riana berbicara kenyataan. Riana meninggalkan Amanda dengan sejuta luka yang sudah pasti tidak akan pernah bisa sembuh dalam waktu yang singkat. Ketika Riana terus berjalan dengan kepala menunduk, dia menabrak tubuh kekar seseorang. Kepalanya menegak dan air matanya semakin berjatuhan.


"Sini, Nak." Riana berhambur memeluk tubuh Rion dengan derasnya air mata yang mengalir.


"Sakit Ayah, sakit."


Sebuah kalimat yang menjadi jawaban atas apa yang Riana pendam selama ini. Sangat menyayat hati Rion dan Arya. Bukan hanya sang ayah yang menyalurkan ketenangan. Tangan Arya sudah memberikan sentuhan lembut di kepala Riana.


"Kamu masih memliki tiga ibu yang sangat menyayangi kamu. Ada Mommy, Mamih Sheza dan juga Mamah Beby. Kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang, Ri. Kasih sayang Bundamu akan terkalahkan oleh kasih sayang mereka. Percaya sama Papah," ucap lembut Arya.


Sedangkan Iyan, dia hanya tersenyum ke arah Amanda.


"Iyan ikut bahagia. Satu pinta Iyan, menjauhlah dari kami. Kami akan hidup bahagia tanpa Bunda. Iyan punya Kak Echa yang seribu kali lebih baik dari Bunda. Dan pastinya, Iyan akan mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah Iyan dapatkan dari Bunda." Amanda semakin terisak.


"Jangan menangis Bunda. Air mata Bunda tidak akan pernah bisa mengubah semua yang hancur menjadi utuh kembali. Yang sakit kembali sembuh, karena itu sangat mustahil. Kesakitan Kakak, Iyan dan juga Ayah adalah penyakit tak kasat mata. Hanya bisa dirasakan tanpa bisa disentuh. Dan obatnya, hanya sebuah keikhlasan."


"Sekali lagi, semoga Bunda berbahagia dengan dedek bayi di dalam perut Bunda. Dan Iyan juga akan lebih bahagia dengan adik-adik Iyan yang ada di dalam perut Kak Echa." Senyum tulus Iyan berikan kepada Amanda. Kemudian, Iyan pun membalikkan badannya menjauhi Amanda.


Hancur, itulah yang Amanda rasakan. Mimpinya seakan menjadi kenyataan. Kedua anaknya meninggalkannya. Dan sekarang, dia hanya hidup dalam sebuah kontrak pernikahan.


Rion dan Arya mengantar Riana dan Iyan masuk ke dalam mobil. Tetapi, mereka kembali lagi ke dalam rumah Satria. Arya menepuk pundak Rion ketika melihat Amanda yang sedang menangis di pelukan Satria.


"Selamat atas pernikahan kalian." Sebuah ucapan yang terdengar sangat tulus. Dan Rion mengulurkan tangannya kepada Satria dan disambut olehnya.


"Didiklah istrimu, karena aku telah gagal mendidiknya."


Jleb.


Ucapan yang sangat menembus jantung dan hati Amanda. Sakit rasanya, apalagi Rion hanya menjabat tangan Satria tanpa mau menjabat tangannya.


Rangkaian kalimat yang sangat amat menyakitkan dan membuat Amanda tertunduk perih.


"Gua harap, lu gak cepet-cepet dapat karma. Biar lu masih bisa menikmati surga dunia," ejek Arya.


Tidak mampu Amanda menegakkan kepalanya di hadapan dua pria yang seolah menghakiminya. Sudah cukup hatinya hancur mendengar ucapan kedua anaknya. Sekarang, dua pria ini seakan ingin melihatnya menjadi butiran debu.


"Radit tidak ke sini?" tanya Rion kepada Addhitama.


"Tidak, dia ingin menghargai perasaan istrinya. Bagaimana pun, istrinya menjadi prioritas Radit sekarang. Dia tidak mau psikis istrinya terguncang dan berimbas pada kandungan." Rion mengangguk mengerti.


"Maafkan saya, Rion," seal Addhitama.


"Anda tidak salah, Pak. Ini sudah suratan takdir saya. Doakan saya supaya saya bisa menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk anak-anak saya. Saya percaya, kehadiran cucu-cucu saya nanti akan menghilangkan rasa sedih di hari ini."


Addhitama menepuk pundak Rion. "Saya bangga padamu."


Rion dan Arya pun meninggalkan kediaman Satria. Arya melajukan mobil itu ke sebuah rumah mewah.


"Kita jenguk Kakak, Kakak nangis terus katanya." Riana dan Iyan pun segera mengakhiri lamunan mereka.


Sebelum turun dari mobil, Iyan dan Riana menyeka wajah mereka dengan tisu basah. Agar tidak terlihat mereka habis menangis.


"Ayo," ajak Rion.


Riana dan Iyan pun melangkah lebih dulu dan terkejutnya mereka ketika semua orang berkumpul di sana. Dan menyambut mereka dengan senyuman yang merekah.


"Kakak," panggil Riana dan juga Iyan yang segera memeluk tubuh Echa yang sedang duduk di sofa.


"Jangan nangis terus," pinta Iyan.


"Kami gak apa-apa kok, Kak," ucap Riana.


Ayanda menatap ke arah Rion hanya tatapan pilu yang Rion tunjukkan.


"Bolehkah Mommy memeluk kalian?" tanya Ayanda.


Tanpa menjawab, dua anak itu segera berlari dan memeluk tubuh Ayanda dengan begitu erat.


"Kalian anak-anak hebat. Mommy yakin, setelah kesedihan ini akan ada kebahagiaan yang luar biasa yang akan kalian dapatkan."


"Jangan pernah merasa jika kalian sudah tidak memiliki ibu. Ada Mommy yang akan menjadi ibu pengganti untuk kalian. Mommy akan memberikan kasih sayang yang sama kepada kalian. Seperti Mommy memberikan kasih sayang kepada Kak Echa, Abang dan juga Kakak Aska. Mommy sayang kalian, Mommy ingin kalian tumbuh menjadi anak-anak yang hebat."


...****************...


Komen yang banyak ....