
Sedangkan di London, Radit menatap kesal ke arah Echa. Dan segera merampas ponsel yang sedang Echa genggam.
"Woiy, gua suaminya! Jangan ganggu!"
Echa hanya berdecak kesal melihat tingkah suaminya. "Kebiasaan deh," tegur Echa.
"Aku gak suka, Yang," ucapnya sambil memeluk erat tubuh Echa.
"Aku hanya melepas rindu, Yang."
"Aku lebih merindukan kamu dan menyayangi kamu lebih dari apapun," pungkas Radit.
Radit mulai menyingkap piyama Echa membuat Echa melebarkan matanya.
"Ay ...."
Ada rasa takut di hati Echa. Dia takut Radit akan meminta haknya. Sedangkan, Laura melarang mereka untuk melakukan hubungan suami-istri. Karena kehamilan Echa masih berada pada masa rawan. Ternyata, Radit hanya mengecup lembut perut Echa yang masih rata serta mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
"Selamat pagi anak-anak Baba. Tumbuh dan sehat di perut Bubu, ya. Dan jangan buat Bubu kewalahan, kasihan Bubunya."
Kalimat yang sangat sederhana, tapi mampu membuat hati Echa bergetar. Air matanya pun menetes begitu saja ketika mendengar ucapan suaminya kepada calon anak-anaknya.
"Baba dan Bubu sangat menanti kalian. Tumbuhlah dengan sehat, ya, anak-anak Baba. Baba dan Bubu sayang kalian," tukasnya.
Radit mengecup kembali perut Echa. Sekarang tiga kecupan yang Radit berikan. Seolah dia sedang mengecup calon bayinya satu per satu. Radit pun menutup kembali piyama milik Echa.
Ketika Radit menegakkan kepalanya, dia terkejut melihat Echa sudah berderai air mata.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya panik Radit.
Radit segera mengusap lembut air mata yang sudah membasahi pipi istrinya. Mengecup kedua kelopak mata Echa lalu naik mencium kening Echa sangat dalam.
"Apa ada yang sakit?" Echa menggeleng.
Radit memeluk Echa dengan erat begitu juga tangan Echa yang melingkar di perut Radit
"Kalo ada yang sakit bilang, ya. Jangan kamu tutup-tutupi. Karena ini bukan hanya menyangkut kamu, tapi anak-anak kita juga." Echa mengangguk mengerti dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Radit.
"Aku ingin segera melihat bagaimana rupa maha karya kita. Apa mereka mirip Bubunya atau Babanya," kata Radit.
"Mirip siapapun tidak masalah, yang penting kita harus menyelamatkan anak-anak kita dari tiga Kakek Absurb," ujar Echa dan Radit tertawa mendengarnya.
"Apa kita minta DP dulu ke mereka?" Ide gila muncul di kepalanya Echa.
"DP gimana?"
"Ke Akinya kita minta sepuluh retail Wigumart. Ke Engkongnya kita minta sepuluh toko bakery. Dan ke Opanya minta tiga rumah sakit. Tidak termasuk warisan tiga rumah sakit lainnya, gimana?"
"Cukup menguntungkan," jawab Radit seraya tertawa.
Sedangkan di kantor milik Rion, Rion terus saja bersenandung gembira. Wajahnya nampak semakin mempesona jika dia sedang bahagia. Arya baru akan tiba di kantor Rion setelah makan siang. Paginya, dia harus mengurus kantor milik Papihnya yang sedikit-sedikit sudah Tuan Antoni serahkan kepada Arya.
"Senang banget tuh romannya," ucap Arya sambil meletakkan bungkusan kopi di meja Rion.
"Iya dong, sebentar lagi gua akan punya cucu."
Arya tersedak kopi yang baru saja masuk ke dalam tenggorokannya. "Apa lu bilang?"
"Bentar lagi gua akan punya cucu," ulangnya lagi.
"Makin tua dong," ledek Arya sambil tertawa.
"Semakin tua semakin hot gua mah," pujinya pada diri sendiri.
Arya menatap Rion dengan tatapan jengah. Semakin hari tingkat kepercayaan diri seorang Rion Juanda semakin meningkat. Ya, tidak dipungkiri usianya memang sudah tidak muda tapi, wajahnya masih tampak awet muda.
"Lu tau gak, gua langsung punya tiga cucu," lanjut Rion sambil menunjukkan ketiga jarinya.
Mata Arya melebar mendengarnya. "Si Echa hamil anak orang apa anak kucing?"
Lemparan pulpen tepat mengenai mulut lemes Arya. "Jaga mulut lu, Bhaskara!" sentak Rion.
Sebenarnya tidak perlu Rion jelaskan sedetail itu pun Arya sudah paham. Ucapan Arya hanya bentuk keterkejutannya saja. Dan percuma juga jika Arya menimpali ucapan unfaedah Rion. Tidak akan selesai dan berbuntut panjang.
"Si Echa adil berarti hamilnya," tutur Arya.
"Maksudnya?"
"Dia hamil triplets, berarti dia gak mau ada drama dalam keluarga besar lu. Coba kalo dia hamil cuma ada bayi satu di dalam perutnya. Anaknya yang tersiksa, dibawa sama lu, dibawa sama Gio dan dibawa sama Om Addhitama. Lama-lama delan dia," urai Arya.
"Apaan delan?"
"Gede di jalan."
Rion mengangguk-angguk. Benar apa yang dikatakan oleh Arya. Tuhan memang adil, setelah empat tahun menunggu dan didua tahun pernikahan harus mengalami keguguran. Kini, Tuhan sudah menggantikannya dengan hadiah yang sangat tidak terkira. Echa mengandung triplets yang jarang wanita alami. Hanya wanita-wanita terpilih yang akan diberi anugerah seperti itu.
Arya sudah mengeluarkan ponselnya dan dia sedang menghubungi seseorang.
"Halo Abah." Pekikan suara yang sangat Rion kenal. Rion segera mendekat ke arah Arya. Benar saja, Arya sedang melakukan panggilan video bersama Echa.
"Abah? Emang keluarga Cemara," sungut Rion.
"Itu panggilan sayang dari anak Echa."
"Panggilan lu mah gak ada yang bener." Echa pun tertawa.
"Eh, ada Engkong."
"Buahaahaa, lu dipanggil Engkong yang katanya makin tua makin hot."
Rion menatap jengkel ke arah Arya yang sedang tertawa puas mengejeknya.
"Lu kenapa hamil cuma kembar tiga. Empat dong, biar yang satunya buat gua."
"Idih, dia kira anak Echa mainan apa," dengus Echa.
"Lu produksi lagi, ya. Ntar kalo udah launching buat gua satu."
"Astaghfirullah. Gak ada akhlak emang." Echa pun mengelus dada.
"Ntar Echa kasih buat Om satu, boneka fudu."
"Eh itu boneka santet, Bangor."
"Iya, buat nyantet Om biar malaikat Izrail cepet nyamperin Om."
"Astaghfirullah. Bocah gendeng," sarkasnya. Echa pun tertawa.
"Om, Echa kan lagi hamil. Sekarang ini Echa lagi ingin sesuatu. Tapi, inginnya dari Om," pinta Echa sambil menunjukkan puppy eyes.
"Minta apaan? Gua jabanin dah. Dari pada anak lu nanti ngiler, malu gua liatnya."
"Echa mau liat yang lagi senam aerobik."
"Ck, gampang. Kegiatan rutin tiap Minggu di lapangan dekat rumah gua sama Ayah lu itu mah. Nanti gua videoin kirim ke lu."
"Tapi ...."
Arya dan Rion mengerutkan dahinya ketika Echa tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa, Dek?" Kini Rion yang bertanya.
"Echa inginnya Om Arya ikut gabung senam sama ibu-ibu di sana. Pake celana legging ketat warna kuning. Baju ketat warna merah yang tanpa lengan sama bando warna ijo. Dan sepatu warna biru."
"What?"
...----------------...
Semoga terhibur ...
Ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.